NovelToon NovelToon
ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / CEO / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jensoni Ardiansyah

Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK YANG DISEMBUNYIKAN

Arka tidak pernah benar-benar menghilang.

Ia hanya memindahkan pusat kendali.

Pagi itu, sebuah gedung tua di pinggir kota kembali bernapas setelah bertahun-tahun mati. Tidak ada papan nama. Tidak ada resepsionis. Hanya satu lantai yang menyala, di mana Arka duduk sendirian di depan layar-layar yang menampilkan potongan data lama—dokumen yang seharusnya sudah terkubur.

Salah satunya bertanggal enam tahun lalu.

Nama di pojok file itu membuat rahangnya mengeras.

Laras.

Bukan Nayla.

Bukan istrinya sekarang.

Melainkan wanita pertama yang pernah tahu terlalu banyak—dan tidak mau diam.

“Status terakhir?” tanya Arka tanpa menoleh.

“Masih sama,” jawab pria di belakangnya. “Tidak ada kemunculan publik. Tidak ada data kematian. Secara hukum… dia hilang.”

Arka menatap layar lebih lama dari yang ia mau akui.

Laras bukan sekadar kesalahan masa lalu.

Ia adalah bukti bahwa sistem bisa retak—bahkan oleh satu orang.

Dan Nayla… terlalu mirip dengannya.

Di sisi lain kota, Nayla duduk berhadapan dengan wanita yang semalam meneleponnya.

Mereka bertemu di tempat yang tidak tercatat—sebuah ruang baca kecil milik komunitas lama yang sudah lama tidak aktif. Wanita itu gemetar saat membuka tasnya dan mengeluarkan map cokelat lusuh.

“Ini bukan semua,” katanya pelan. “Tapi ini cukup buat nunjukkin… Ark tahu sejak awal. Dan dia nutupin.”

Nayla tidak langsung membuka map itu.

Ia menatap wajah wanita itu lebih dulu.

“Kamu tahu risikonya,” kata Nayla. “Begitu ini keluar, tidak ada jalan balik.”

Wanita itu mengangguk, air matanya jatuh.

“Saya capek takut.”

Nayla membuka map.

Dan di halaman ketiga, ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya menegang.

Nama Laras.

Bukan sebagai korban.

Bukan sebagai tersangka.

Melainkan sebagai saksi internal.

Tanggalnya cocok.

Tandatangannya asli.

Nayla menutup map perlahan.

Jadi itu sebabnya.

Bukan karena Arka tidak peduli.

Bukan karena ia kehilangan Nayla.

Tapi karena bayangan lama mulai bergerak lagi.

Malamnya, Nayla berdiri di depan jendela apartemennya. Kota berkilau di bawah, tak tahu apa-apa tentang benang-benang yang sedang ditarik di balik layar.

Ia memegang ponsel.

Satu pesan masuk.

Nomor tersembunyi.

Kamu sedang membuka pintu yang dulu tidak sempat ditutup.

Hati-hati dengan apa yang keluar.

Nayla tidak membalas.

Ia hanya menulis satu kalimat di catatan pribadinya:

Arka tidak takut padaku.

Dia takut pada apa yang dulu gagal ia hancurkan.

Arka menutup laptopnya pelan, seolah suara klik kecil itu bisa membangunkan sesuatu yang telah lama ia kubur.

Pesan yang dikirim ke Nayla tadi bukan ancaman.

Ia tidak butuh itu.

Itu peringatan—bukan untuk Nayla, tapi untuk dirinya sendiri.

Ia berjalan ke jendela gedung tua itu. Dari lantai atas, kota tampak seperti papan catur raksasa. Lampu-lampu bergerak seperti bidak yang tak sadar sedang dimainkan.

“Laras bukan orang biasa,” gumam Arka, lebih pada dirinya sendiri.

Dulu, ia mengira begitu.

Enam tahun lalu, Laras hanyalah analis data internal—cerdas, terlalu cermat, dan punya kebiasaan buruk: mencatat semuanya. Ia tidak percaya pada instruksi lisan. Ia percaya pada jejak.

Dan Ark Corporation saat itu sedang membangun sesuatu yang seharusnya tidak pernah punya arsip.

Flashback itu datang tanpa izin.

Malam di ruang arsip bawah tanah Ark.

Lampu neon dingin.

Laras berdiri di depan layar, ekspresinya tidak panik—justru terlalu tenang.

“Kamu tahu ini ilegal,” katanya waktu itu, menatap Arka lurus. “Bukan abu-abu. Hitam.”

Arka tidak menyangkal.

“Aku juga tahu kamu belum lapor,” balasnya.

Laras tersenyum kecil. Bukan senyum kemenangan. Lebih seperti kekecewaan.

“Aku nunggu kamu,” katanya. “Aku pikir kamu beda.”

Kalimat itu—yang sampai sekarang masih menghantam lebih keras daripada teriakan.

Arka kembali ke masa kini saat ponselnya bergetar.

“Pergerakan Nayla meningkat,” lapor orangnya. “Dua saksi baru masuk. Satu mantan staf keuangan, satu lagi… koneksi lama Laras.”

Jari Arka mengepal.

Jadi bukan kebetulan.

Laras tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya menanam benih—dan Nayla adalah tanah suburnya.

“Jangan sentuh Nayla,” kata Arka dingin. “Belum.”

“Belum?” ulang anak buahnya ragu.

“Kalau kita sentuh dia sekarang,” lanjut Arka, “dia akan berubah dari ancaman jadi simbol. Dan Darma cukup bodoh untuk melakukan itu.”

Ia memutus sambungan.

Arka tahu satu hal yang Darma tidak tahu:

kebenaran tidak perlu diumumkan untuk menyebar.

Cukup diberi satu orang yang tepat.

Dan Nayla… terlalu tepat.

Di apartemennya, Nayla duduk di lantai dengan map Laras terbuka di depannya.

Ia membaca ulang halaman itu untuk keempat kalinya.

Laras tidak pernah tercatat sebagai korban.

Tidak ada laporan hilang resmi dari Ark.

Tidak ada investigasi internal.

Seolah-olah seseorang menghapus statusnya dengan sengaja, bukan keberadaannya.

Nayla menutup mata.

“Jadi kamu tidak mati,” bisiknya. “Kamu disembunyikan.”

Ia mulai menyusun ulang potongan waktu.

Tahun Laras menghilang—adalah tahun Arka tiba-tiba menikah kontrak dengannya.

Tahun Ark merapikan wajah publiknya.

Tahun Darma naik posisi.

Terlalu rapi untuk kebetulan.

Malam semakin larut.

Nayla menyalakan laptop dan membuat folder baru.

Nama folder itu singkat.

LARAS.

Di bawahnya, ia menulis satu kalimat pembuka:

Jika kau sengaja menghilang, maka kau pasti ingin ditemukan—oleh orang yang tepat.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia terjebak dalam pernikahan kontrak itu, Nayla menyadari sesuatu yang membuat dadanya menghangat sekaligus dingin.

Arka tidak menikahinya hanya untuk citra.

Ia menikahinya

untuk mengulur waktu.

Karena selama semua mata tertuju pada Nayla—

tidak ada yang mencari Laras.

Dan sekarang…

permainan waktu itu hampir habis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!