NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rem mendadak

Guno kembali duduk bersama Tama. Parahnya, Guno justru duduk dengan santai, menghiraukan tatapan para murid yang bisa dibilang sudah sangat marah. Baru kali ini ada guru dengan kelakuan seperti Guno. Sementara itu, Tama hanya bisa diam dengan sisa tangisnya. Ia pasrah jika suatu saat nanti dipanggil oleh guru BK atau bagian kesiswaan.

Guno mengambil jajanan yang dibawanya. Ia makan sambil sesekali menawari Tama, namun gadis itu menolak dengan gelengan kepala. Karena Tama terus menolak, Guno akhirnya memaksa dengan cara menyuapinya. Awalnya Tama tetap menolak, tetapi Guno terus merayu.

"Ayolah, jangan begitu. Saya bawakan ini khusus untuk kamu" bujuk Guno.

Merasa tersudut dan terlanjur malu karena ditonton banyak orang, akhirnya Tama membuka mulut dan menerima suapan Guno.

"Nah, begitu dong! Susah banget disuruh makan dari tadi" ucap Guno puas.

Murid-murid yang melihat pemandangan itu akhirnya membubarkan diri, membiarkan mereka berdua makan di dalam kelas.

...******************************...

Jam pelajaran berakhir. Kini saatnya seluruh warga sekolah pulang ke rumah masing-masing. Kejadian suap-suapan di kelas tadi ternyata tidak berakhir begitu saja. Guno, kini menghampiri Tama yang tengah berdiri mematung ditrotoar, ia kebingungan karena dijauhi teman-temannya.

"Cantik!" sapa Guno.

Tama langsung menoleh

"Pulang sama siapa?" tanyanya.

"Sendiri" ucap Tama singkat.

"Mau Bapak antar?"

"Tidak usah Pak! Saya masih punya kaki, masih bisa jalan sendiri"

"Tapi kamu butuh kendaraan, tidak mungkin jalan kaki sampai rumah"

"Sudah ya, Pak. Saya mau pulang!"

Tama bergegas pergi. Ia berjalan setengah berlari karena takut Guno akan mengejarnya lagi. Guno yang merasa diabaikan pun mendengus kesal! Harga dirinya merasa terinjak.

"Dasar cewek sialan! Lihat saja nanti, kalau sampai tergila-gila jangan salahkan aku!" gumam Guno sinis.

Masih penasaran, Guno mengikuti Tama dari kejauhan agar tidak ketahuan. Sekitar seratus meter kemudian, ia melihat Tama tengah berbicara dengan seorang siswa kelas XII IPA 1 bernama Iwan. Mereka tampak sedang berdebat serius. Guno bersembunyi di balik pohon besar yang rindang untuk menguping. Suara Iwan yang meledak-ledak membuat tangis Tama pecah.

"Gimana ceritanya kamu bisa dekat sama Pak Guno? Kamu mau dijemput dia, tapi kalau aku yang jemput selalu nolak. Kenapa? Biar enggak ketahuan kayak gini?" bentak Iwan.

"Kamu jangan marahi aku! Aku juga tidak tahu, aku tidak punya hubungan apa-apa sama dia!" tangis Tama sesenggukan.

"Kalau tidak ada hubungan, kenapa bisa dijemput? Berarti kamu sudah bawa dia ke rumah kan? Terus tadi makan bareng di kelas? Kamu tahu tidak, meski satu sekolah tidak ada yang tahu kita pacaran, temanku yang satu kelas denganmu selalu laporan, gerak-gerikmu, cara bicara kamu, semuanya!"

"Aku juga tidak tahu, sumpah! Dia tiba-tiba datang ke rumah, salaman sama Ibu, lalu paksa aku naik mobilnya. Aku mau menolak bagaimana? Dia pintar bicara di depan Ibu!" bela Tama.

Iwan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis.

"Gila, kamu pintar banget cari alasan!"

Tama mengerenyitkan keningnya

" Aku gak begitu Iwan! "

" Kalau kamu dijemput pak Guno, mungkin aku bisa ngerti sekalian lewat atau sekalian jalan pagi. Tapi, kalau sekalian lewat juga gak masuk akal sih orang beda arah. Ya kan? "

Tama membulatkan matanya "Loh? Jadi selama ini kamu tidak percaya padaku?".

"Tidak! Buat apa? Kejadian kalian berduaan itu bukan cuma sekali. Kita yang seumuran saja sembunyi-sembunyi, tapi kamu sama bapak-bapak malah pamer?"

Iwan menyisir rambutnya dengan tangan karena frustrasi. Secara tidak sengaja, matanya menangkap bagian tas Guno yang menyembul dari balik pohon besar.

"Selingkuhanmu itu sedang menguping obrolan kita!" tunjuk Iwan ketus.

Tama menoleh dan menyadari keberadaan Guno. Ia mengembuskan napas berat sembari mengusap air mata. Iwan yang sudah terlanjur muak langsung naik ke motornya, memakai helm, dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

"Loh? Iwan! Iwan!" Tama berteriak sambil mengejar, namun Iwan menghiraukannya.

Tama putus asa. Ia terduduk di trotoar, menutup wajah dengan kedua tangan sembari menangis tersedu-sedu. Kendaraan berlalu lalang tanpa ada yang peduli. Guno hanya memperhatikan Tama dari jauh tanpa niat mendekat.

...***************************...

Guno mengendarai mobilnya dengan sedikit rasa bersalah, namun obsesinya jauh lebih besar. Ia justru mengeluarkan ponsel dan mengunggah sesuatu ke akun media sosialnya.

"Maaf Sayang, jika selama ini aku mengganggumu. Aku janji akan pergi, TAMARA."

Dalam hitungan menit, notifikasi membanjiri ponselnya. Banyak murid sekolah yang ikut berkomentar. Ada yang menggoda, ada pula yang menyemangati Guno agar tidak menyerah.

Guno membaca komentar-komentar itu sambil menyetir. Namun, saat pandangannya kembali ke jalan, ia tersentak. Di tengah jalan, Iwan sudah berdiri menghadang laju mobilnya. Guno menginjak rem secara mendadak.

"Iwan!" teriak Guno.

Iwan hanya menatapnya dengan tatapan tajam yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!