Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan tujuh pedang naga part 7
Jauh di seberang samudra, di daratan Eropa yang berkabut, sebuah tragedi besar baru saja meletus. Di dalam aula batu yang dingin di Kingdom of England, aroma kematian tercium tajam di antara puing-puing kastel yang hancur.
Seorang ksatria agung dengan baju besi perak yang perkasa tampak berlutut, napasnya tersengal. Di depannya, dua sosok misterius berselimut jubah hitam dengan aksen emas berdiri dengan sangat angkuh. Salah satu dari mereka mencengkeram leher sang ksatria dengan satu tangan, mengangkat tubuh berat itu hingga kakinya tak lagi menyentuh lantai.
"Jadi ini yang kau sebut sebagai kebanggaan tanah Britania?" bisik sosok misterius itu dengan suara yang terdengar seperti gesekan batu makam. "Kau tidak layak menyimpan kekuatan sebesar ini. Excalibur... atau haruskah aku memanggilnya dengan nama aslinya: Pedang Naga Cahaya?"
Tangan lainnya memegang pedang suci yang memancarkan sisa-sisa cahaya emas yang memudar.
"Katakan padaku," lanjut sosok itu sambil mempererat cengkeramannya hingga sang ksatria terbatuk darah. "Apakah naga cahaya ini akan tetap bersinar saat ia berlumuran darah pemiliknya sendiri?"
Tanpa menunggu jawaban, sosok misterius kedua bergerak secepat kilat. Dengan satu tusukan telak menggunakan bilah hitam pendek, ia menghujam dada sang ksatria. CRASSS! Baju besi baja yang terkenal tak tertembus itu hancur berantakan, tertembus hingga ke punggung. Sang ksatria tewas seketika, matanya terbelalak melihat pedang legendarisnya kini jatuh ke tangan kegelapan.
Pedang Excalibur—pusaka naga ketiga—telah resmi direbut.
Di saat yang bersamaan, jauh di dalam perut bumi Nusantara, ketenangan di alam dimensi naga mendadak sirna. Sang Hyang Antaboga yang sedang melingkar tenang tiba-tiba membuka matanya yang merah delima.
Tubuh raksasanya bergetar hebat. Ia meraung, sebuah suara yang tidak terdengar oleh telinga manusia, namun menggetarkan sukma setiap pemegang pedang naga yang tersisa.
"Satu cahaya telah padam..." gumam Antaboga, suaranya dipenuhi kecemasan yang mendalam. "Excalibur telah jatuh. Keseimbangan di belahan dunia barat telah runtuh."
Antaboga mengepakkan sisik-sisiknya, menciptakan badai api di alam sukma. Ia bisa merasakan energi Naga Cahaya yang suci kini mulai tertelan oleh kegelapan yang sama yang dibawa oleh Yamata no Orochi.
"Lin Feng!" seru Antaboga, mencoba mengirimkan gelombang peringatan melalui ikatan batin mereka. "Waktumu semakin sempit! Musuhmu tidak hanya tujuh pendekar dari timur itu, tapi sebuah kekuatan global yang mulai bergerak secara serentak. Jika kau tidak segera menguasai harmoni penuh, kau akan menjadi target selanjutnya dari para pembantai naga ini!"
Lin Feng yang sedang duduk bermeditasi tiba-tiba memegang dadanya. Ia tersedak, merasakan rasa sakit yang luar biasa di ulu hatinya, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja ditusukkan ke jantungnya.
"Mas Lin! Ada apa?" seru Joko yang langsung berlari mendekat.
Lin Feng menatap telapak tangannya yang gemetar. "Sesuatu yang buruk baru saja terjadi, Joko... jauh di tempat yang tidak kuketahui. Aku merasakan satu kekuatan naga telah menghilang dari dunia ini."
Ki Ageng Bang Wetan yang berdiri di dekat pintu gubuk menatap langit yang tiba-tiba berubah mendung di siang bolong. "Goncangan batin... berarti pedang ketiga telah ditemukan. Dunia sedang menangis, Lin Feng. Perburuan ini telah menjadi pertempuran global."
Angin di lereng Gunung Penanggungan mendadak berhenti berdesir. Suasana menjadi sunyi senyap, seolah alam semesta sedang menahan napas. Tiba-tiba, cahaya keemasan yang sangat terang memancar dari Pedang Naga Bumi, menyelimuti Lin Feng, Ki Ageng Bang Wetan, Rangga Satya Anugara, dan Joko.
Dalam sekejap mata, kesadaran mereka terenggut. Mereka tidak lagi berada di depan gubuk kayu, melainkan berdiri di atas hamparan kabut abadi yang berdenyut seperti jantung bumi.
"A-apa itu?! Tempat apa ini?! Setan! Jurig!" teriak Joko sambil melompat dan bersembunyi di belakang punggung Rangga. Matanya melotot hampir keluar saat melihat sosok raksasa muncul dari balik kabut.
Sesosok naga raksasa dengan sisik sekeras berlian dan mata merah sedalam samudra muncul di hadapan mereka. Itulah Sang Hyang Antaboga.
"Jaga lisanmu, Anak Muda. Ini adalah ruang suci sukma naga," suara Antaboga menggelegar, membuat lutut Joko lemas hingga ia jatuh terduduk.
"Ampun, Mbah Naga! Ampun! Jangan makan saya, daging saya alot!" racau Joko sambil menutup matanya rapat-rapat, sementara Rangga Satya Anugara hanya bisa tertegun kaku, mencengkeram hulu goloknya dengan tangan yang sangat dingin.
"Tenanglah, Joko. Dia adalah pelindung tempat ini," ucap Lin Feng menenangkan, meski ia sendiri merasakan kegelisahan yang luar biasa dari sang naga.
Antaboga menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang sangat berat. "Kupanggil kalian semua ke sini karena keseimbangan dunia baru saja menderita luka yang sangat dalam. Di tanah yang jauh, di daratan Barat yang dingin, Pedang Naga Cahaya: Excalibur telah direbut oleh tangan kegelapan."
Ki Ageng Bang Wetan melangkah maju, wajahnya penuh keprihatinan. "Excalibur... pedang yang sering dibicarakan para pedagang dari negeri jauh itu?"
"Benar," jawab Antaboga. "Excalibur adalah pedang naga ketiga. Ia adalah simbol kedaulatan dan kebenaran mutlak. Dalam legenda mereka, siapa pun yang mampu mencabut dan memiliki pedang itu, maka ia ditakdirkan untuk menjadi Raja yang tak tertandingi. Pedang itu bukan sekadar senjata, melainkan mandat langit untuk memimpin sebuah bangsa."
Antaboga menggeram, hembusan napasnya menciptakan riak api di udara. "Namun kini, mandat itu telah dirampas. Raja yang memilikinya telah tewas tertusuk, dan cahaya Excalibur kini mulai meredup, dipaksa melayani nafsu kehancuran yang sama dengan Yamata no Orochi."
Lin Feng mengepalkan tangannya. "Jika Excalibur jatuh, berarti sudah ada dua pedang naga yang berada di bawah pengaruh kegelapan."
"Tepat," sahut Antaboga. "Para pemburu itu bergerak serempak di seluruh penjuru dunia. Mereka ingin mengumpulkan ketujuh pedang naga agar tidak ada lagi raja atau pemimpin yang bisa menentang mereka. Jika mereka berhasil mengumpulkan sisanya, maka dunia akan dipimpin oleh satu tiran yang memiliki kekuatan naga penghancur."
Rangga Satya Anugara, yang mulai bisa menguasai dirinya, bertanya dengan suara tegas, "Lalu apa yang harus kami lakukan? Kami hanya manusia biasa, sementara mereka adalah pembunuh yang memiliki pedang terkutuk."
Antaboga menatap Rangga. "Kekuatan pedang naga tidak hanya terletak pada bilahnya, tapi pada ikatan antara sang naga dan para pelindungnya. Kalian adalah kawan-kawan dari pemegang Naga Bumi. Kesetiaan dan keberanian kalian adalah bagian dari kekuatan Lin Feng."
Seketika, cahaya di alam sukma itu mulai memudar, menandakan mereka akan kembali ke dunia nyata.
"Waspadalah," pesan terakhir Antaboga bergema. "Kematian Excalibur akan membawa utusan-utusan baru ke tanah ini. Mereka tidak akan lagi datang sebagai ninja yang bersembunyi, melainkan sebagai penakluk yang haus akan takhta."
BRETT!
Kesadaran mereka kembali ke raga masing-masing. Joko langsung tersungkur di tanah, terengah-engah. "Ubi... aku butuh ubi... itu tadi benar-benar naga asli! Besar sekali!"
Lin Feng menatap ke langit barat yang kini tampak merah seperti darah. "Excalibur sudah jatuh. Rangga, kita tidak punya waktu lagi. Kita harus menemui Mahapatih Gajah Mada sekarang juga. Majapahit bukan lagi sekadar pelabuhan bagi mereka, tapi medan perang utama."