Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11
Udara luar basah bekas hujan, bau tanah dan alkohol dari bar masih nyampur. Langit kota Lavender abu-abu, dengan angin yang dingin tapi lembap.
Lyra sempat ngos-ngosan pas berhasil keluar dari bar itu, sepatunya nyiprat lumpur. Di belakang bangunan, terbentang ladang kecil peternakan tua yang sebagian udah ditinggalin.
Kuncinya masih di tangan. Napasnya berat.
> “Oke… tinggal cari jalan keluar, tinggal cari jalan keluar…”
Tapi langkahnya terhenti waktu suara berat itu kedengeran lagi dari arah belakang.
Suara sepatu menghantam tanah basah.
> “Cepat juga kau belajar mencuri,”
suara Kaon serak, tapi ada nada geli yang nyelip di situ.
Lyra refleks mundur, tapi tanah di bawah kakinya lembek.
Kaon muncul dari balik bayangan bar, satu sisi wajahnya masih belepotan darah, napasnya berat tapi tangannya stabil.
Tatapannya nembus, dingin tapi gak sepenuhnya marah. Lebih kayak predator yang nikmatin permainan.
> “Kau pikir bisa kabur dari aku, hm?”
“Aku cuma mau pulang!” seru Lyra, nada suaranya campur antara takut dan capek.
“Pulang?” Kaon maju satu langkah, suaranya menurun jadi rendah. “Sayangnya, kau udah melangkah terlalu jauh buat itu.”
Lyra spontan lempar kunci ke arah rumput dan nyoba lari tapi sebelum sempat berbelok, tangan Kaon nyambar pergelangan tangannya.
Cepat. Kuat.
Lyra nyentak, tapi genggamannya keras banget sampai sendinya bunyi.
> “Lepas!”
“Tenang,” katanya pelan, tapi nadanya malah bikin bulu kuduk Lyra berdiri. “Aku gak akan nyakitinmu…”
“Kau barusan nyulik aku dan ngejar aku di tengah ladang!”
“…itu sebelum aku tahu siapa kau sebenarnya.”
Nada itu berubah. Bukan ancaman lebih kayak keheranan dingin. Kaon ngeliat mata Lyra lama banget, kayak lagi nyari sesuatu di sana.
Udara makin dingin, suara jangkrik makin jelas.
Dan entah kenapa, Lyra ngerasa detik itu… Kaon bukan cuma sekadar pembunuh atau anggota organisasi aneh itu.
Dia tahu sesuatu. Sesuatu yang bahkan Lyra sendiri belum tahu soal dirinya.
---
---
Sirene polisi meledak di kejauhan nyaring, memantul di antara bangunan tua Lavender yang udah setengah roboh. Lampu biru-merah menyapu ladang yang masih basah, menyilaukan mata Lyra.
Dia langsung refleks nyari arah suara Kaon barusan. Tapi kosong.
Gak ada bayangan.
Gak ada napas.
Gak ada bekas langkah di tanah.
Padahal, baru beberapa detik lalu genggaman tangannya masih di pergelangan Lyra.
Sekarang lenyap. Seolah angin yang barusan nyentuhnya pun gak pernah ada.
Lyra berdiri di tengah ladang itu, baju putihnya kotor lumpur, rambutnya nempel di wajah, kuncinya entah di mana.
Lampu mobil polisi makin deket.
Dan dari dalam mobil yang berhenti di jalan kecil itu
Normeen Magnus turun, jas hitamnya masih rapi, tapi pandangannya nyerempet langsung ke Lyra.
> “Raven?” suaranya datar, tapi ada nada kaget kecil di situ. “Apa yang kau lakukan di Lavender jam segini?”
Lyra hampir gak bisa jawab. Napasnya masih berat, matanya nyari ke segala arah, masih berharap Kaon muncul lagi.
“Aku… tersesat.”
Magnus mendekat, nyorotin wajah Lyra pakai senter. Ada lumpur, ada bekas darah di lengannya bukan darahnya sendiri.
Dua polisi lain di belakangnya mulai nyebar, ngeriksa sekitar.
> “Tersesat?” Magnus ulang pelan, satu alisnya naik. “Tersesat di daerah dengan catatan kriminal tertinggi di sektor Barat? Menarik.”
Nada sinis itu bikin Lyra mau marah, tapi dia terlalu capek.
> “Aku gak mau denger ceramah, aku cuma mau pulang.”
“Ya, dan aku gak mau nemuin kau di TKP begini lagi,” Magnus nyaut cepat. “Masuk mobil. Aku antar.”
Dia ngasih isyarat ke bawahannya buat beresin lokasi, sementara Lyra dengan kepala masih berat dan lutut masih gemetar jalan ke arah mobil patroli. Di belakang, suara radio polisi nyampur sama angin malam.
Sebelum naik, Lyra nengok ke arah ladang.
Sekilas, dia ngerasa ada bayangan di antara pohon bukan polisi, bukan warga.
Siluet tinggi dengan gerakan pelan, seolah lagi ngeliatin balik.
Tapi waktu Lyra kedip, bayangan itu udah gak ada.
Magnus ngeliat tatapan Lyra di kaca spion pas mobil mulai jalan.
> “Ada yang ngikutin kau?”
Lyra diem. Cuma ngegenggam jaketnya lebih kenceng.
“…mungkin cuma angin.”
Tapi di luar jendela, dari balik hutan lavender yang pekat, ada pantulan merah kecil.
Cahaya dari mata Kaon.
Masih di sana.
---
Mobil patroli Magnus berhenti di depan gedung besar dengan logo Cyber Enforcement Central kantor pusat kepolisian dan unit investigasi. Gedungnya menjulang dingin, kaca-kaca hitamnya mantulin cahaya sirene yang udah mulai redup.
Lyra turun pelan, kakinya masih agak goyah. Magnus cuma ngangguk ke petugas di depan pintu.
> “Bawa dia ke ruang istirahat sementara. Jangan interogasi dulu.”
Polisi muda yang nyambut Lyra keliatan agak canggung kayak belum terbiasa ngadepin orang seberantakan itu. Baju Lyra kotor, ada darah kering di tangannya, dan matanya kosong kayak orang yang baru keluar dari mimpi buruk.
Dia digiring lewat koridor panjang, lampu neon di atas kepala berkedip pelan. Di ujung koridor, bukan ruang tahanan yang kelihatan tapi semacam ruang penginapan kecil dengan papan nama bertuliskan:
> Haven Room Temporary Shelter for Missing Persons
Ruangan itu hangat, beda jauh dari suasana dingin kantor polisi. Ada sofa abu-abu, rak buku, dispenser air, bahkan meja kecil dengan vas bunga plastik. Di pojok, seorang perempuan paruh baya berdiri nyambut Lyra dengan senyum lembut.
> “Kasihan sekali, pasti malamnya berat, ya?” katanya pelan.
“Saya Kaka, pengelola Haven Room. Kamu bisa panggil aku ‘Kaka’ aja.”
Nada suaranya kayak ibu yang nenenangin anak yang baru kehilangan arah.
Dia nyodorin selimut tebal dan segelas air hangat.
Lyra cuma bisa ngangguk dan duduk.
Tangannya gemetar pas nerima gelas itu.
> “Kalau kamu butuh ganti baju, kamar di ujung udah disiapin. Di sini aman, gak usah takut. Polisi gak bakal ganggu dulu.”
“Makasih…” suara Lyra nyaris cuma bisikan.
Kaka duduk di seberang, matanya lembut tapi penuh rasa ingin tahu.
> “Kamu dari mana sebelum ditemukan?”
“Aku gak tahu… aku cuma bangun di tengah ladang. Ada seseorang bersamaku tapi…”
“Dia hilang?”
“Iya.”
Kaka diam sejenak.
> “Itu sering terjadi,” katanya pelan, seolah ngomong ke dirinya sendiri. “Orang-orang muncul di Lavender, sendirian. Kadang mereka lupa nama, kadang lupa arah. Tapi kamu beda kamu masih ingat semuanya, kan?”
Lyra menatap Kaka lama.
> “Iya. Tapi… kayaknya aku gak seharusnya di sana.”
Kaka tersenyum samar.
> “Tak ada yang seharusnya di Lavender, sayang.”
Lampu gantung di atas meja sempat bergetar sedikit seolah ada hembusan angin yang gak semestinya masuk ke dalam ruangan tertutup itu.
Dari luar, Magnus berdiri di balik kaca satu arah, ngeliatin interaksi mereka.
> “Dia bukan orang biasa,” gumamnya ke petugas di sebelah. “Periksa koordinat GPS waktu kami temukan dia. Dan… kirim tim ke Lavender. Pastikan gak ada yang tersisa di sana.”
Petugas itu angguk, tapi sebelum berbalik, Magnus nambah satu kalimat lagi:
> “Oh, dan satu lagi cek kamera pengintai di sekitar ladang. Aku pengen tahu siapa yang bareng dia.”
Di layar CCTV yang baru nyala, ada satu frame kabur banget.
Siluet tinggi, mata merah menyala, cuma setengah badan yang kelihatan.
Magnus ngelihat lama.
> “…apa pun itu, dia balik ke Lavender malam ini.”