Bagaimana perasaanmu jika tiba-tiba ada yang datang ke rumahmu dan melamarmu?
Apa yang akan kamu lakukan?
Menolakkah? Atau menerimanya?
Inilah yang dialami oleh Jiana Calysta Pranaja. Ia tiba-tiba dijodohkan oleh orang yang tidak ia kenal.
Bagaimana kisahnya?
Simak yukk❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Raka baru selesai meeting dengan kliennya. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak. Raka mengeluarkan ponselnya. Ternyata ponselnya ia matikan dari tadi siang.
"Tuan, apakah kita akan kembali sekarang?" tanya Farrel setelah mengemas semua berkasnya.
"Ya," jawab Raka. Mereka menuju parkiran. Raka dan yang lainnya sudah berada di mobil. Farrel mulai melajukan mobilnya kembali ke kantor.
Raka tersentak saat baru menghidupkan ponselnya, terdapat puluhan pesan dari Jiana. Bahkan beberapa panggilan tak terjawab. Ia menepuk dahinya, baru ingat jika hari ini dirinya berjanji untuk menjemput dan menemani Jiana jalan-jalan.
"Astaga, bagaimana aku jadi lupa. Pasti saat ini Jiana marah padaku. Raka, bagaimana kamu bisa melupakan istrimu sendiri!" gerutu Raka dalam hatinya.
Ia mendial ponselnya menghubungi Jiana. Ia berharap Jiana tidak menunggunya di kampus. Tetapi sialnya, Jiana tidak menjawab panggilan teleponnya.
"Farrel, kita ke kampus Jiana sebentar," ujar Raka. Farrel mengangguk dan melajukan mobilnya menuju kampus.
Raka masih berusaha menelepon Jiana. Ia kali ini benar-benar bersalah pada Jiana. Teleponnya berdering tapi tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, ia memilih untuk mengirimkan pesan.
"Sayang, lagi di mana? Kenapa tidak menjawab teleponnya?" ujar Raka dalam pesan tersebut lalu mengirimnya ke nomor Jiana.
Sedangkan Jiana hanya melirik ponselnya yang sedari tadi berdering tanpa ada keinginan untuk menjawabnya. Entah kenapa, Jiana merasa kesal dan marah pada Raka.
Mereka sampai di depan kampus. Raka meminta Farrel untuk menjalankan mobilnya sampai di depan fakultas Jiana. Setelah sampai, Raka langsung keluar dan mencari keberadaan Jiana.
"Ke mana dia? Apa dia sedang sibuk? Aku harap demikian. Jika tidak, dia pasti akan semakin membenciku," gumam Raka dan menuju kelas untuk mencari Jiana.
Setelah lelah berkeliling namun tidak menemukan Jiana. Raka berhenti sejenak di bangku yang terletak di pinggir taman.
"Ke mana lagi aku harus mencarimu sayang?" gumam Raka. Ia benar-benar merasa bersalah.
Raka kembali ke mobil dengan muka masam. Tak ada semangat dalam dirinya. Dengan gontai, Raka masuk ke dalam mobil.
"Tuan, kita mau ke mana lagi?" tanya Farrel hati-hati. Ia tahu suasana Raka sedang tidak baik.
"Kembali ke kantor dulu," ucap Raka. Farrel mengangguk dan kembali melajukan mobilnya menuju kantor.
"Apakah dia sudah pulang ke rumah lalu ketiduran?" pikiran Raka masih berkelana.
"Farrel, berhenti!" ucap Raka tiba-tiba. Ia seperti melihat Jiana dari seberang kafe itu. Raka langsung membuka mobilnya. Ia berlari masuk ke dalam kafe untuk memastikan jika Jiana berada di dalam.
"Sayang," ucap Raka sambil berjalan pelan ke arah meja Jiana. Jiana menatap ke sumber suara. Ia terkejut Raka sudah berdiri di depannya.
Raka langsung menarik Jiana dan memeluknya dengan erat. Bahkan ia tak peduli dengan tatapan orang-orang yang berada di kafe saat itu.
"Maaf," ucap Raka lirih. Jiana hanya diam dan tak membalas pelukan itu.
"Kenapa tidak menjawab teleponku? Aku begitu khawatir padamu sayang," ujar Raka sambil menangkup wajah Jiana. Ia mengecup sekilas kening Jiana dengan lembut.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Jiana malas.
"Kamu marah sama aku?" tanya Raka kembali.
Jiana hanya menatap tajam Raka. Kemudian ia mengambil tas dan ponselnya dan pergi meninggalkan Raka.
"Hei, tunggu dulu!" ujar Raka sembari menarik tangan Jiana namun buru-buru ditepis olehnya. Jiana langsung berlari menjauh dari Raka.