Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Penghakiman Sekte
Pintu Aula Agung terbuka perlahan.
Suara engselnya bergema panjang, memantul di ruang luas yang sunyi. Cahaya dari luar masuk sebentar, lalu tertelan oleh bayangan pilar-pilar batu tinggi yang menjulang seperti penopang langit palsu. Xu Tian melangkah masuk dengan kaki pincang, setiap langkah terasa berat dan tidak seimbang.
Darah di pelipisnya sudah mengering, meninggalkan garis gelap yang kasar. Jubahnya kusut, robek di beberapa bagian, bernoda merah kecokelatan. Setiap tarikan napas membuat dadanya nyeri, seolah ada sesuatu di dalam yang retak dan belum kembali ke tempatnya.
Ia tidak dibantu.
Dua murid penjaga berjalan di belakangnya, bukan untuk menopang, melainkan memastikan ia terus maju.
Di depan, Aula Agung terbentang luas. Lantainya licin dan bersih, terlalu bersih untuk seseorang yang baru saja jatuh bersimbah darah. Di ujung aula, sebuah panggung batu bertingkat berdiri megah. Di sana, para tetua sekte telah duduk berjajar.
Wajah-wajah tua itu tenang.
Tidak ada keterkejutan. Tidak ada keprihatinan.
Tatapan mereka jatuh pada Xu Tian seperti seseorang menilai barang yang dikembalikan dalam kondisi rusak—bukan dengan amarah, melainkan dengan ketidakpedulian dingin.
Xu Tian berhenti di tengah aula.
Kakinya gemetar kecil, namun ia memaksa dirinya berdiri tegak. Ia tidak menunduk. Bukan karena keberanian, melainkan karena ia terlalu lelah untuk peduli pada sopan santun yang tidak akan menyelamatkannya.
“Sidang tetua Sekte Awan Giok,” ucap salah satu tetua di tengah, suaranya tenang dan jelas, “dimulai.”
Tidak ada palu. Tidak ada teriakan.
Hanya satu kalimat, dan suasana langsung membeku.
“Xu Tian,” lanjut tetua itu, “kau dipanggil ke sini untuk memberikan klarifikasi atas insiden duel disiplin yang terjadi hari ini.”
Kata insiden terdengar ringan.
Xu Tian menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
Tetua itu melirik ke arah seorang pria yang berdiri sedikit di samping panggung. Pengawas duel. Jubahnya masih sama seperti di arena. Bersih. Rapi. Tidak ada setitik darah pun.
“Silakan laporkan,” kata tetua itu.
Pengawas melangkah maju setengah langkah. Ia menangkupkan tangan dengan sopan. “Duel dilaksanakan sesuai prosedur sekte,” katanya. “Berdasarkan laporan pelanggaran batas oleh murid luar Xu Tian terhadap murid inti Zhao Heng.”
Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata.
“Duel bertujuan untuk pendisiplinan dan penegasan hierarki. Selama duel, tidak ditemukan pelanggaran aturan. Zhao Heng bertindak sesuai kapasitasnya sebagai murid inti.”
Xu Tian mendengar kata-kata itu dengan jelas.
Tidak ada satu pun yang menyebut perbedaan tingkat kultivasi. Tidak ada yang menyebut provokasi. Tidak ada yang menyebut bahwa ia nyaris tidak diberi kesempatan untuk menolak.
“Luka yang diderita Xu Tian,” lanjut pengawas, “merupakan akibat dari ketidakmampuannya sendiri dalam menghadapi duel.”
Beberapa tetua mengangguk pelan.
Seolah laporan itu masuk akal.
“Apakah ada korban jiwa?” tanya tetua lain dengan nada datar.
“Tidak,” jawab pengawas. “Duel dihentikan sesuai aturan.”
Xu Tian hampir tertawa.
Hentikan.
Ia teringat tubuhnya terlempar, darah mengalir di bawah kepalanya, dan arena yang sunyi tanpa satu pun orang mendekat. Kata itu terasa asing di telinganya.
Tetua di tengah kembali berbicara. “Xu Tian,” katanya, “kau telah mendengar laporan pengawas. Apakah ada hal yang ingin kau tambahkan?”
Kesempatan bicara itu terdengar seperti kemurahan hati.
Xu Tian menarik napas. Rasa sakit di dadanya membuatnya terbatuk pelan. Ia menahan diri, lalu membuka mulut.
“Duel itu,” katanya, suaranya serak, “tidak pernah benar-benar memberiku pilihan.”
Salah satu tetua mengangkat alis. “Maksudmu?”
“Jika aku menolak,” lanjut Xu Tian pelan, “itu akan dianggap pembangkangan. Jika aku diam, itu dianggap setuju. Aku—”
“Cukup,” potong tetua lain.
Nada suaranya tidak keras, namun cukup untuk menghentikan Xu Tian di tengah kalimat.
“Kau sedang mencoba mengalihkan tanggung jawab,” katanya. “Aturan sekte jelas. Setiap murid bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.”
Xu Tian terdiam.
Tetua di tengah menatapnya dengan mata setengah menyipit. “Apakah kau menyangkal bahwa kau telah melanggar batas dengan bersikap tidak pantas terhadap murid inti?”
Xu Tian mengepalkan tangannya. “Aku tidak pernah—”
“Kami tidak menanyakan niatmu,” sela tetua itu. “Kami menilai akibat.”
Ia melanjutkan dengan nada tenang, “Akibat dari sikapmu adalah terganggunya keteraturan sekte. Itu fakta.”
Beberapa tetua lain mengangguk.
Xu Tian merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan. Setiap kata yang ia siapkan terasa sia-sia sebelum sempat keluar.
“Zhao Heng,” kata tetua lain, seolah berbicara pada ruang kosong, “adalah murid inti. Putra Ketua Sekte. Tindakannya mencerminkan otoritas sekte.”
Kalimat itu tidak ditujukan langsung pada Xu Tian, namun ia tahu maknanya.
“Jika ada gesekan,” lanjut tetua itu, “maka pihak yang melanggar batas lah yang harus dikoreksi.”
Xu Tian mengangkat kepala sedikit. “Jika duel itu adil,” katanya lirih, “aku mungkin menerima hasilnya. Tapi—”
“Adil?” ulang seorang tetua perempuan dengan senyum tipis yang dingin. “Keadilan di sekte ini adalah kepatuhan pada aturan. Bukan perasaan pribadi.”
Kalimat itu jatuh seperti vonis awal.
Xu Tian terdiam lagi.
Ia menyadari bahwa setiap upayanya untuk menjelaskan hanya akan dipelintir menjadi pengakuan bersalah yang berbeda bentuk.
Pengawas duel kembali berbicara, seolah menambahkan penutup. “Perlu saya tambahkan,” katanya, “bahwa selama duel, Xu Tian menunjukkan sikap keras kepala dan menolak menyerah meski sudah jelas berada di posisi kalah. Itu memperparah kondisinya sendiri.”
Salah satu tetua mengangguk puas. “Itu menunjukkan kurangnya kesadaran diri.”
Xu Tian menutup mata sejenak.
Ia tidak merasakan marah. Tidak juga sedih.
Hanya hampa.
Ketika ia membuka mata kembali, pandangannya jatuh ke kursi tertinggi di tengah panggung. Kursi itu lebih besar, lebih tinggi, dan masih kosong. Namun keberadaannya terasa paling berat di antara semuanya.
Ketua Sekte belum berbicara.
Namun keheningannya saja sudah cukup untuk menekan seluruh aula.
Tetua di tengah menarik napas pelan. “Baik,” katanya. “Kami telah mendengar laporan dan klarifikasi.”
Ia menatap Xu Tian sekali lagi, seolah menilai sesuatu yang sudah tidak penting.
“Sidang akan berlanjut ke tahap penilaian.”
Keheningan di Aula Agung menjadi lebih pekat.
Tidak ada satu pun tetua yang langsung berbicara. Mereka saling bertukar pandang singkat, bukan untuk berdiskusi, melainkan memastikan bahwa pemahaman mereka sudah sejalan. Xu Tian berdiri di tengah aula, napasnya masih berat, tubuhnya terasa semakin dingin seiring waktu berlalu.
Akhirnya, tetua di tengah kembali angkat suara.
“Setelah meninjau laporan pengawas,” katanya, “serta mempertimbangkan perilaku dan sikap Xu Tian selama berada di sekte, kami sampai pada kesimpulan.”
Kata kesimpulan itu membuat jantung Xu Tian berdetak sekali lebih keras, lalu kembali datar.
“Xu Tian telah berulang kali menunjukkan ketidakmampuan memahami posisinya sebagai murid luar,” lanjut tetua itu. “Ia melanggar tata tertib tidak tertulis, menciptakan gesekan dengan murid inti, dan mencoreng wibawa sekte.”
Bahasanya halus.
Isinya mematikan.
“Selain itu,” sambung tetua lain, “ketidakpatuhannya terhadap hasil duel disiplin menunjukkan kurangnya kesadaran diri dan potensi membahayakan keteraturan di masa depan.”
Xu Tian mendengarkan tanpa ekspresi.
Setiap kata terasa seperti dicetak sebelumnya, dibacakan kembali tanpa perlu perasaan.
“Dengan demikian,” kata tetua di tengah, “kami menilai bahwa Xu Tian tidak lagi layak diperlakukan sebagai murid biasa.”
Beberapa tetua mengangguk pelan.
Xu Tian tidak terkejut.
Ia sudah tahu, sejak ia melangkah pincang memasuki aula ini, bahwa hasilnya tidak akan berbeda.
“Hukuman yang akan dijatuhkan,” lanjut tetua itu, “bertujuan untuk menjaga nama baik sekte dan memberi contoh yang jelas.”
Ia berhenti sejenak.
“Mulai hari ini, Xu Tian akan dikenai tindakan disipliner berat.”
Tidak ada detail.
Namun kata-kata itu cukup.
Xu Tian merasakan berat di dadanya bergeser. Bukan karena takut. Melainkan karena sesuatu yang terakhir di dalam dirinya akhirnya benar-benar lepas.
Ia mengangkat kepala sedikit. “Apakah,” katanya pelan, “pendapatku masih diperlukan?”
Beberapa tetua saling pandang.
Tetua perempuan dengan senyum tipis itu menjawab, “Pendapatmu sudah kami dengar.”
Kalimat itu menutup segalanya.
Xu Tian menunduk sedikit, bukan sebagai tanda hormat, melainkan refleks kelelahan. Lututnya hampir tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri.
Di bangku-bangku samping aula, beberapa murid berdiri sebagai saksi. Wajah mereka datar. Tidak ada yang berani menunjukkan ekspresi berlebihan. Mereka menyaksikan bukan sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari sistem yang sedang bekerja.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada suara.
Aula terasa luas dan kosong.
“Pelaksanaan hukuman akan diumumkan secara terpisah,” kata tetua di tengah. “Xu Tian akan tetap berada di bawah pengawasan hingga keputusan final dijalankan.”
Xu Tian mendengar kata pengawasan itu dengan jelas.
Ia tahu artinya.
Ia bukan lagi murid.
Ia adalah masalah yang harus ditangani.
Tetua itu mengangguk kecil. “Sidang ini—”
Suara itu terhenti.
Semua tetua mendadak berdiri.
Gerakan itu serempak, nyaris tanpa suara. Kursi-kursi batu bergeser sedikit, lalu sunyi kembali.
Xu Tian merasakan tekanan yang berbeda, lebih berat dari sebelumnya.
Kursi tertinggi di tengah panggung kini tidak lagi kosong.
Ketua Sekte Awan Giok telah duduk di sana.
Ia tidak muncul dengan langkah besar. Ia tidak memberi pengumuman. Namun kehadirannya saja sudah cukup membuat udara di aula terasa lebih dingin.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi. Rambutnya disisir rapi, jubahnya sederhana namun membawa aura kekuasaan yang tidak bisa disamakan dengan para tetua lain.
Semua mata tertuju padanya.
Ketua Sekte mengangkat tangannya sedikit.
Para tetua kembali duduk, kepala mereka sedikit menunduk.
Xu Tian berdiri kaku.
Ia tidak pernah berbicara langsung dengan pria ini sebelumnya. Namun sejak pertama kali memasuki sekte, nama itu selalu hadir di atas segalanya, seperti hukum alam yang tidak bisa dilawan.
Ketua Sekte menatap Xu Tian.
Tatapan itu tidak tajam. Tidak juga dingin.
Kosong.
Seolah ia sedang melihat sesuatu yang sudah diputuskan sejak lama.
“Aku telah mendengar laporan,” katanya.
Suaranya rendah, tenang, dan membuat setiap sudut aula menangkapnya dengan jelas.
“Dan aku telah mendengar kesimpulan para tetua.”
Ia berhenti sejenak.
Xu Tian merasakan detak jantungnya melambat.
Ketua Sekte melanjutkan, “Namun ada satu hal yang perlu aku sampaikan secara pribadi.”
Kalimat itu saja sudah cukup membuat udara membeku.
Para tetua tidak bergerak. Para murid menahan napas.
Xu Tian berdiri di tengah aula, tubuhnya lemah, darah kering masih menempel di wajahnya, menunggu kata berikutnya.
Ketua Sekte mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Xu Tian,” katanya, menyebut nama itu untuk pertama kalinya, “kau harus memahami satu hal.”
Aula Agung benar-benar sunyi.
Bahkan napas terasa terlalu keras.
“Di Sekte Awan Giok,” lanjutnya, “aturan bukan dibuat untuk melindungi semua orang.”
Ia berhenti.
Dan pada jeda itulah, bayangan nasib Xu Tian terasa jatuh sepenuhnya, gelap dan tak terhindarkan.