NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.7. The Mark of the Sun

Theo terbangun dari pingsannya, merasakan ada yang berubah dari dalam tubuhnya tapi bau dari ruangan di sekitarnya membuat perhatiannya teralihkan.

“HUPP!” Theo menahan mualnya.

‘Liiy, bukankah kata bau terlalu lembut untuk menggaini. Bahkan di kehidupanku yang lalu tidak akan seperti ini,’ ucap Theo mencoba protes.

Tapi tidak ada jawaban darinya. Theo merasa bingung karena terasa sunyi.

“HUPP!” mualnya sudah tidak tertahankan.

“Sial aku harus cepat membersihkan tempat ini.” gumam Theo, lalu mulai bergerak membersihkan ruangan itu sendiri. Dia terlalu malu kalau ada orang yang melihat ruangannya seperti itu.

.

.

Waktupun berlalu, malampun datang. Kamar Theo sekarang sudah bisa disebut kamar lagi, dan Theo sedang berganti pakaiannya saat Edric masuk kamarnya.

“Ah, maafkan saya tuan karena lupa mengetuk pintu terlebih dulu,” ucap Edric, membungkuk memberi hormat.

“Tidak masalah, aku baru mandi. Jangan terlalu dipikirkan,” Theo menjawab dengan tenang.

“Ada apa?” tanya Theo.

“Yang Mulia memanggil anda tuan muda,” jawab Edric.

“Ayah? Kenapa malam-malam begini?” tanya Theo bingung.

“Hamba juga tidak tahu tuan, tuan muda disuruh menghadapnya sendiri” jawab Edric.

Theo hanya diam, perasannya mengatakan ini akan merepotkan.

“Baiklah, aku akan ke sana,” ucap Theo, merapikan pakaiannya.

“Baik, tuan.” jawab Edric, tapi tak langsung pergi, dia mengendus-endurs udara kosong di kamar itu.

“Tuan muda, maaf atas kelancangan saya lagi,” ucap Edric, wajahnya ragu.

“Ada apa lagi?” tanya Theo

“Apa di kamar ini menyimpan bangkai?” Edric bertanya tanpa basa-basi, dan sedikit menutupi hidungnya.

Mendengar hal itu wajah Theo langsung panik. “Ah a-apa maksudmu Edric, apa aku terlihat seperti orang yang suka menyimpan bangkai?” kata Theo dengan [a

“Ah, maafkan saya tuan maksud saya...”

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku akan ke ruangan ayahku, kau bisa tinggal di sini dan cek bangkai itu,” ucap Theo melangkah cepat pergi dari kamarnya.

Meninggalkan Edric yang kebingungan.

.

.

.

Di ruangannya. Regnar berdiri menghadap jendela, menatap langit luar yang sunyi. Wajahnya datar, tapi matanya penuh dengan ketegasan.

Tak lama, pintu di belakangnya terbuka perlahan.

Theo melangkah masuk dan menutup pintunya, lalu menunduk memberi horamat.

“Salam Yang Mulia,” ucap Theo.

“Bukankah kau harusnya memanggilku ayah?” tanya Regnar cepat, lalu berbalik dan menatap Theo.

‘Ah, benar juga,’ ucap Theo membatin. Lalu dia menunduk lagi. “Salam ayah,”

Regnar masih berdiri menatap Theo. Mengamatinya dari atas sampai bawah, Regnar mengukur kekuatan Theo.

Theo menyadari itu, dia hanya berdiri tenang dan menatap Regnar.

“Apa pelatihanmu berjalan lancar?” tanya Regnar.

“Ya, Edric cukup baik saat melatih,” jawab Theo singkat.

Mendengar jawaban itu, membuat Regnar tersenyum.

‘Bocah ini memang sudah berubah,’ ucap Regnar membatin.

Regnar berjalan lalu duduk di kursinya.

“Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu?” tanya Regnar.

“Apa ayah rindu padaku?” tanya balik Theo.

“Sekarang kau juga berani bercanda di hadapanku,” ucap Regnar tenang.

‘Ugh, pria tua yang kaku!’ Theo membatin dengan kesal. Dia menggelengkan kepalanya cepat.

“Dalam enam bulan, kakakmu akan di kirim ke Akademi Aurelius,” jelas Regnar.

“Aurelius?” tanya Theo bingung.

“Itu Akademi yang ada di kekaisaran Luminara,” jelas Regnar.

“Bukankah itu sangat jauh, kenapa harus mengirimnya sampai kesana?” tanya Theo lagi.

“Karena dia akan lebih aman di sana,” jawab Regnar dengan singkat, yang membuat Theo semakin bingung.

“Apa maksudnya?” Theo bertanya dengan kebingungan, tapi Regnar hanya diam tidak menjawab.

Melihat itu, Theo hanya bisa mendengus pelan.

“Apa aku juga akan ikut?” tanya Theo lagi.

“Tidak, kau akan tetap berlatih seperti biasa,” jawab Regnar.

“Kenapa? Apa aku terlalu lemah? Kenapa hanya kakak yang dikirim?” cecar Theo.

Regnar hanya diam, tapi dia mengeluarkan auranya terfokus pada Theo berniat menekannya. Mendapat tekanan itu, Theo hanya bisa diam dan menahan kakinya agar tidak melangkah mundur. Memang bukan tekanan kuat karena Regnar menahan kekuatannya.

Perlahan aura itu hilang.

Theo terengah, mencoba mengatur napasnya.

“Memang siapa yang akan bisa mengajari anak umur enam tahun yang bisa menahan kekuatan tingkatan Bearer?,” tanya Regnar.

Theo tersenyum kecut, masih mengatur napasnya. Tapi dia tersadar akan satu hal, bahwa pria yang ada di depannya—sangatlah kuat.

“Lalu apa aku akan berlatih terus di bawah Edric?” tanya Theo.

“Berlatihlah sampai umur sepuluh, lalu putuskan apapun yang kau mau.” ucap Regnar, nadanya tenang, tapi wajahnya menunjukkan kesungguhan.

Theo yang melihat itu mulai larut dalam pikirannya, tanpa bisa berkata apapun dia berpamitan dengan ayahnya lalu keluar ruangan.

Melihat pintu tertutup, Regnar tersenyum lebih lebar.

“Apa kau lihat ayah? Cucumu benar-benar mengerikan,” ujar Regnar pada ruangan yang kosong.

.

.

.

Theo berjalan perlahan. Pikirannya penuh dengan sesuatu, lalu dia berhenti dan memandang gerbang istana.

Tiba-tiba suara dari Lily membuyarkan lamunannya.

[TING]

“Pembaruan telah selesai. Selamat tuan.”

‘Hei bocah, dari mana saja kau sejak tadi? Tunggu, bukankah sekarang nadamu terdengar berbeda?’ tanya Theo.

Tapi belum sempat Lily menjawab, di gerbang ada pergerakan. Sebuah kereta kuda dengan bendera berlambang matahari dengan mata di tengahnya berjalan masuk.

[TING]

“Tuan. Untuk kedepannya, saya harap anda menghindari mereka sebisa mungkin”

Mendengar itu Theo hanya diam.

Tanpa diberi tahupun Theo merasa terganggu saat melihat lambang itu.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!