Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN BARU. DI MULAI.
Air mataku menetes membasahi pipi, tanganku yang gemetar meraih Serpihan abu berwarna hitam arang terbang terbawa angin. Rumah ini, bangunan sederhana di ujung kompleks yang menjadi saksi bisu awal mula kehidupan baruku di zaman modern.
kini hanya tersisa dinding dinding bata yang menghitam Bagiku seseorang yang pernah hidup di masa dinasti ratusan tahun lalu, di mana sebuah tempat tinggal adalah lambang perlindungan dan ketenangan, rumah penuh canda tawa bersama alex dan puri .
melihatnya membuatku hancur berkeping-keping dadaku terasa sesak bagai 1000 jarum mencap di jantung.
Di rumah inilah Puri mengajariku cara menggunakan benda-benda aneh abad ini, di sini pula Alex sering mendengus kesal namun tetap melindungiku, dan di sini aku belajar mengartikan apa itu keluarga.
"Naya..." Suara Ayah terdengar begitu lembut di dekat telingaku. Usapan tangannya di pundakku terasa begitu hangat, sebuah pelukan hangat dari sosok Tuan Ajimo Skyvi yang kini bukan lagi sekadar nama besar di layar televisi, melainkan seorang ayah yang utuh untukku.
"sudah naya jangan bersedih Bangunan memang hancur,Tapi kenangan dan jiwa dari rumah ini tidak akan bisa terbakar".
ujar tuan ajimo memberiku kekuatan
"Aku tahu, Ayah... Aku hanya terkejut. Seandainya malam itu Alex dan Puri terlambat beberapa menit saja keluar dari rumah ini..." Aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku. Membayangkan kedua sahabatku terjebak di dalam kobaran api yang dikirimkan oleh anak buah Hans membuat tenggorokanku tersumbat.
Vanka melangkah perlahan mengelilingi rumah dan benda benda yang sudah hangus, Sepatu kulitnya yang mengkilap kini tertutup debu abu.
Ia berjongkok, memungut sebuah bingkai foto yang pinggirannya telah melengkung dan menghitam karena panas api. Dengan hati-hati, jemarinya mengusap kaca foto yang retak, memperlihatkan gambarku, Puri, dan Alex yang tersenyum kaku saat pertama kali kami mengambil foto bersama di kampus.
"Hans ingin menghancurkan segala hal yang berharga untuk kalian sebelum dia tertangkap," gumam Vanka. Ia berdiri, lalu memutar tubuhnya menghadap kami. Tatapan matanya yang tajam dan dingin tiba-tiba melunak saat manik matanya bertemu dengan mataku. Ada keraguan di sana, namun juga keberanian yang amat sangat.
Vanka menghela napas panjang, merapikan jas hitamnya sebelum berbicara. "Paman, Naya... tidak ada alasan lagi bagi kalian untuk mencari tempat tinggal lain. Rumah ini membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk direnovasi, dan keselamatan kalian tetap menjadi prioritas utama.
Kembali ke apartemenku. Tempat itu aman, dan aku... aku sangat senang jika kalian tetap berada di sana". ujar vanka.menawarkan perlindungan.
Aku menatap Vanka, Kalimat yang baru saja ia ucapkan menjawab tatapan yang tertahan ya ia berikan padaku di apartemen tadi pagi.
Tatapan yang seolah enggan melepas kami pergi.
Tuan Ajimo mengamati Vanka sejenak, lalu tersenyum tipis. Pengalaman belasan tahun menjadi pemimpin besar YOY Entertainment tentu membuatnya bisa membaca raut wajah anak muda di depannya ini dengan sangat mudah.
"Terima kasih, Vanka. Kebaikanmu sungguh tidak ternilai. Tapi setelah konferensi pers hari ini selesai, aku harus menyelesaikan banyak hal di YOY Entertainment dan merebut kembali semua aset keluarga Skyvi yang sempat dikuasai Hans. Kita akan membicarakan tempat tinggal setelah semuanya stabil."
Vanka mengangguk hormat. "Tentu, Paman. Namun untuk saat ini, mohon izinkan aku tetap menjaga kalian".
terdengar suara yang keluar dari benda pipih milik vanka, ia merogoh saku jasnya, melihat nama yang tertera di layar, lalu mengangkatnya dengan sigap. "Ya, apa ada kendala?"
Wajah Vanka berubah serius saat mendengarkan penjelasan dari pengacara Frans di balik telepon.
"Baik, kami sudah di jalan kembali. Amankan area belakang gedung YOY Entertainment."
Vanka mematikan sambungan telepon dan menatap kami.
"Paman, Naya... Pengacara Frans dan tim pengawal sudah bersiap di gedung YOY Entertainment. Para wartawan dari berbagai media nasional dan internasional sudah memadati area aula utama. Konferensi pers akan dimulai dalam empat puluh lima menit."
"Baiklah," sahut Ayah tegas. Aura ketakutan dan penderitaan selama belasan tahun disekap Hans seolah luruh seketika, berganti dengan karisma seorang pemimpin besar Skyvi Group.
"Mari kita hadapi mereka. Sudah waktunya dunia tahu siapa pemilik sah YOY Entertainment yang sebenarnya."
Kami kembali masuk ke dalam mobil.
Aku duduk di kursi belakang bersama Ayah, sementara Vanka mengemudikan mobil menerobos jalanan kota yang kian ramai. Sepanjang perjalanan, pikiranku berkecamuk kepalaku terasa penuh. Berita tentang kejahatan Hans, penangkapan artis Mely Adyan, hingga kemunculan kembali Ayah benar-benar menjadi badai terbesar tahun ini,.keadaan yang tidak aku bayangkan.
Gambar-gambar di TV 62 inci tadi pagi kembali terbayang di benakku, seolah olah semua memenuhi pikiranku Betapa mengerikannya dunia modern ini di balik gemerlap panggung hiburan, ada rumah bordil, perdagangan manusia, dan penyekapan ilegal yang tersembunyi begitu rapi.
Setelah satu jam perjalanan, mobil kami melaju memasuki area parkir khusus VIP di bagian belakang gedung YOY Entertainment. Gedung pencakar langit yang megah itu tampak dikepung oleh puluhan mobil siaran luar ruang (OB Van) dengan logo-logo stasiun TV ternama. Ratusan wartawan dan kilatan kamera terlihat memadati pintu depan.
Pintu mobil dibuka dari luar oleh dua orang pengawal bertubuh tegap berpakaian setelan hitam. Pengacara Frans sudah menunggu di sana, serta puri yang sudah menyiapkan pakaianku untuk konferensi pers bersama ayah, tangan pengecara penuh tumpukan berkas yang di pegangnya, didampingi oleh Alex yang tampak sibuk mengarahkan beberapa staf kreatif penyiaran.
"Tuan Ajimo!" Frans membungkuk hormat. "Semua dokumen pemulihan hak milik dan bukti pemalsuan jabatan oleh Hans sudah kami serahkan ke pihak kepolisian dan otoritas bursa saham. Hari ini, secara hukum dan publik, posisi Anda sebagai pimpinan tertinggi YOY Entertainment akan dipulihkan sepenuhnya". dengan rasa hormat pengacara frans rekan sekaligus orang kepercayaan keluarga skyvi.
"Bagus sekali, Frans,". ucap Ayah seraya memeluk rekanya itu.
Puri langsung membawaku ke ruang rias untuk mengganti pakain, puri menyiapkan Dress panjang tanpa lengan berbahan sutra dengan warna merah menyala, serta high hils yang membuat tampilan kakiku semakin jenjang, terlihat di raut wajahnya tampak lelah namun matanya berbinar lega. "naya usaha kau tidak sia sia aku turut bangga".
aku tersenyum melihat wajah puri yang begitu tulus," tidak puri ini usaha kits semua".
kami keluar dari ruang ganti , ayah yang sudah memakai setelan jas hitam membuatnya semakin terlihat gagah.
"Naya! Paman! Alex baru saja membersihkan sisa-sisa dokumen ilegal Hans dari server pusat. Tidak ada lagi celah bagi pihak Hans untuk mengelak!"
Puri kemudian menepuk pundakku pelan berbisik, "Naya, soal rumah kita... vanka sudah memberitahuku. Jangan sedih, Yang penting kita semua selamat. Lagipula,"
Puri melirik Vanka yang sedang berdiri di sampingku, lalu berbisik semakin pelan, "sepertinya ada yang sangat tidak rela kalau kau pindah jauh-jauh dari apartemennya."
"Puri..." bisikku malu membalas tepukan pundaknya, aku menunduk menyembunyikan rona merah di pipiku.
alex tiba tiba datang
"Semua jajaran direksi dan awak media sudah menunggu di aula lantai tiga, Tuan," ujar Alex memotong percakapan kami, suaranya terdengar sangat profesional dan tegas.
Ayah menatap kami satu per satu. "Mari kita masuk."
Kami berjalan beriringan menyusuri lorong megah berlantai marmer. Di sepanjang dinding, terpajang poster-poster artis papan atas di bawah naungan YOY Entertainment. Aku menatap salah satu poster besar yang memperlihatkan foto Mely Adyan, perempuan yang dulunya dipuja jutaan penggemar, namun kini namanya hancur seketika karena keterlibatannya dalam jaringan kejahatan Hans. Betapa fana dan penuh kepalsuan dunia hiburan ini jika tidak dilandasi kebenaran.
Pintu ganda berukuran besar di ujung lorong dibuka oleh pengawal. Seketika itu juga, suara riuh ratusan manusia dan kilatan cahaya kamera yang membabi buta menyambut kedatangan kami. Seribu Flash lampu kamera menyilaukan mata, membuatku sempat merasa pening, dan teringat saat Sekandal yang mengatas namakanku. aku memejamkan mata sejenak karena belum terbiasa dengan riuhnya teknologi penangkap gambar ini.
Ayah melangkah maju dengan tenang menuju podium utama, sementara Frans, Alex, Vanka, Puri, dan aku berdiri mendampingi di sisi panggung.
Ayah menyesuaikan letak mikrofon di depannya. Riuh suara wartawan yang saling berebut melempar pertanyaan mendadak senyap saat Ayah mulai mengangkat tangannya. Suasana aula menjadi sangat hening, penuh antisipasi.
"Selamat pagi kepada seluruh rekan media dan masyarakat," suara Ayah bergema kencang melalui pengeras suara, tenang namun penuh wibawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Selama tujuh belas tahun, saya dihilangkan dari dunia. Nama saya dipalsukan, hak-hak saya dirampas, dan perusahaan yang saya bangun digunakan untuk menutupi kejahatan yang sangat keji oleh orang yang paling saya percayai."
Ayah berhenti sejenak, menatap lurus ke arah puluhan kamera yang menyiarkan secara langsung ke seluruh negeri.
"Namun hari ini, Ajimo Skyvi telah kembali. Kejahatan telah terungkap, hukum sedang berjalan, dan saya berjanji akan membersihkan seluruh kebusukan yang ditinggalkan oleh Hans di dalam YOY Entertainment, dan saya akan mengenalkan calon perwaris dan putri tunggal dari Ajimo skyvi, Naya skyvi. dan Terima kasih kepada putri saya, Naya skyvi serta orang-orang pemberani yang berdiri di samping saya hari ini, yang telah berjuang membawa saya keluar dari kegelapan." lalu ayah memanggilku, aku melangkah menuju panggung dimana ayah sedang berdiri.
Gemuruh tepuk tangan dan ribuan kilatan kamera kembali memenuhi ruangan. Aku melirik Ayah dengan rasa haru yang membuncah. Di sampingku.
Meskipun rumah kami di ujung kompleks telah hangus menjadi abu, dan masa laluku yang suram di zaman dinasti telah tertinggal jauh di belakang, aku tahu satu hal: di dunia yang baru dan asing ini, aku telah menemukan takdir, keadilan, dan keluarga yang sesungguhnya.
Bersambung..