Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-3
Dentang lonceng penanda jam istirahat siang bergema di seluruh penjuru Mahardika Tower. Hazel mengusap keringat kecil di pelipisnya setelah selesai mengelap deretan kaca jendela lobi. Perutnya sudah menyuarakan protes sejak satu jam yang lalu. Dengan senyum sumringah, ia mengekor di belakang Akbar menuju kafetaria karyawan yang terletak di lantai dua.
Kafetaria siang itu tampak bising dan padat. Bau harum kuah kaldu gurih, ayam goreng rempah, dan sambal terasi langsung menyambut indra penciuman Hazel, membuat liurnya hampir menetes.
"Wah, Mas Akbar! Bau kaldunya bikin iman Hazel goyah nih," seloroh Hazel sembari menepuk perutnya sendiri dengan gaya dramatis.
Akbar tertawa kecil melihat tingkah polos gadis di sampingnya. "Tenang, Hazel. Di sini makanan subsidized, harganya miring tapi rasanya jempolan. Kamu mau makan apa? Nanti Mas yang traktir buat rayain hari pertamamu."
"Beneran, Mas? Wah, jangan bercanda, nanti Hazel pesan porsi dua piring lho!" balas Hazel dengan mata berbinar-binar.
Tak lama kemudian, mereka bergabung di satu meja panjang bersama Vita dan Luna yang sudah lebih dulu duduk. Di depan Vita sudah tersedia sepiring penuh nasi uduk dengan lauk lengkap, sementara Luna hanya menyesap salad buah dengan gaya anggun yang terkesan dipaksa.
"Wajahmu gembira amat, Anak Baru. Habis nemu uang jatuh di koridor, ya?" tembak Vita ceplas-ceplos begitu Hazel menarik kursi plastik di sampingnya.
Hazel menyeringai lebar. "Lebih dari nemu uang, Mbak Vita! Nemu kebaikan hati Mas Akbar yang mau mentraktir saya semangkuk bakso urat super jumbo!"
Vita terkekeh menyemburkan sedikit renyah kerupuknya. "Dasar kelakuan! Baru sehari kerja sudah pinter milih korban traktiran. Tapi bagus deh, energi kamu butuh banyak buat ngadepin debu-debu lantai atas."
Makan siang berlangsung hangat dan riuh. Keramahan Hazel yang tanpa sekat, diselingi celetukan-celetukan konyolnya yang jenaka, berhasil memancing tawa lepas dari Vita.
Bahkan beberapa kali Vita sampai menepuk meja karena tak kuat menahan tawa mendengar cerita Hazel sewaktu SMA yang pernah tersangkut di pagar sekolah demi mengejar tukang batagor.
Namun, suasana cair itu tak menyentuh Luna sedikit pun. Wanita itu hanya mengaduk-aduk potongan pepaya di mangkuknya dengan raut wajah makin masam.
Dalam hatinya, rasa iri membakar perlahan. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Luna untuk bisa diterima dan diajak mengobrol santai oleh tim, tetapi gadis polos tak berpengalaman ini hanya butuh waktu setengah hari untuk merebut perhatian semua orang.
"Nih, Hazel. Daging baksonya dimakan yang banyak. Kamu itu badannya kecil banget, nanti kalau kena angin AC lantai dua belas bisa mabuk," ujar Akbar perhatian. Pria itu menyendokkan dua butir bakso halus dari mangkuknya sendiri dan memindahkannya ke mangkuk Hazel, lengkap dengan potongan tahu goreng.
"Eh? Mas Akbar, kok baksonya dikasih ke Hazel semua? Nanti Mas makan apa?" Hazel terbelalak ragu.
"Mas masih ada mie dan sayurannya. Lagipula, Mas seneng liat kamu makan lahap begini," sahut Akbar lembut, menatap Hazel dengan binar mata yang berbeda ada rasa kagum dan protektif yang terpancar jelas di sana.
Vita yang melihat interaksi itu langsung menyenggol lengan Hazel dengan kedipan mata goda. "Uhuy! Ada yang perhatiannya ugal-ugalan nih! Awas Hazel, ntar ada yang keselek gara-gara iri!"
Luna yang merasa tersindir langsung membanting sendok plastiknya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Aku sudah selesai. Mau balik ke pantry duluan," potong Luna dingin tanpa memandang siapa pun, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan meja begitu saja.
Hazel mengedipkan mata bingung melihat punggung Luna yang menjauh. "Mbak Luna kenapa, ya? Makanan saladnya kurang manis apa gimana?"
"Biarin aja, dia emang suka gitu kalau kumat gengsinya," kibas Vita santai. "Lanjut makan, Hazel!"
Setelah jam istirahat usai, mereka kembali ke ruang kerja OG di area belakang. Di sana, Luna sedang berdiri membelakangi pintu, merapikan deretan botol pembersih dengan gerakan kasar.
Matanya yang tajam menatap bayangan Hazel dari cermin kecil di dinding. Rasa tidak sukanya kini bukan lagi sebatas anggapan anak baru yang tidak kompeten, melainkan rasa terancam yang mendalam.
Akbar menghampiri Hazel yang sedang mempersiapkan troli kebersihan untuk sesi sore. "Hazel, besok pagi kamu langsung standby jam tujuh di lantai dua belas, ya. Nanti Mas antar buat briefing area kerja Tuan Mahrup."
Hazel mengangguk mantap. "Siap, Mas Akbar! Hazel bakal bikin ruangan Tuan CEO mengilap sampai lalat aja terpeleset kalau hinggap!"
Di sudut ruangan, Luna menyunggingkan senyum sinis yang tersembunyi. Lihat saja besok, Hazelia. Lantai dua belas bukan tempat buat cewek tengil kayak kamu. Sekali kamu bikin kesalahan di depan Tuan Mahrup, kariermu bakal tamat sebelum dimulai.