NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tuuut... Tuuut...
Panggilan di-loudspeaker agar semua orang bisa mendengar.
Setelah nada dering ketiga, panggilan itu akhirnya diangkat.
Klik.
"Halo? Paman? Kan sudah kubilang jangan pernah menghubungiku lagi!"
"Aku tidak sudi meminjamkan uang sepeser pun padamu, dasar tua bangka pelit!"
Suara bentakan keras dari seberang sana langsung memenuhi ruang tunggu rumah sakit.
Maya dan Rina langsung terkejut mendengar kata-kata kasar itu.
Dimas menelan ludah dan membalas dengan sopan.
"Maaf Mas Hendra, ini Dimas, anak kosnya Pak Rahman."
"Pak Rahman sekarang sedang kritis di rumah sakit terkena serangan jantung."
"Dokter butuh keluarga untuk mengurus administrasi dan persetujuan rawat inap," jelas Dimas cepat.
Hening sejenak dari seberang sana.
Lalu terdengar suara tawa mengejek yang sangat dingin.
"Hahahaha, masuk rumah sakit?"
"Baguslah kalau orang tua kikir itu akhirnya mau mati juga."
"Mas Hendra kok bicaranya begitu? Beliau kan paman Mas sendiri," tegur Budi tidak terima.
"Kalian tidak tahu siapa dia yang sebenarnya!"
"Dia punya banyak kontrakan dan uang di brankasnya, tapi waktu ibuku sakit keras dulu, dia tidak mau meminjamkan uang sedikit pun!"
"Biarkan saja dia mati sendirian di sana."
"Jangan harap aku mau datang apalagi membayar biaya rumah sakitnya!"
Tut tut tut.
Panggilan dimatikan secara sepihak dengan sangat kasar.
Keempat anak kos itu terdiam mematung menatap layar ponsel yang kembali gelap.
Mereka tidak menyangka keluarga Pak Rahman menaruh dendam yang sebegitu besarnya.
Rina kembali menangis, kali ini karena merasa sangat kasihan.
"Pak Rahman itu orang kaya, punya banyak rumah dan uang."
"Tapi ternyata hidupnya sangat kesepian, tidak ada satu pun keluarga yang peduli padanya," isak Rina.
Maya menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena sering membenci bapak kosnya itu.
"Pantas saja bapak selalu perhitungan dan gila uang."
"Mungkin hanya uang yang selama ini menemaninya di masa tua," gumam Maya sedih.
Budi mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sudah, jangan pada nangis di sini."
"Kalau keluarganya tidak mau urus, biar kita yang urus bapak kos kita ini," ucap Budi mantap.
"Tapi Mas Budi, dokter tadi bilang butuh uang deposit kamar."
"Biaya rawat inap di sini mahal, saya belum punya uang," kata Dimas malu-malu.
Budi mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Hari ini aku baru gajian dari pabrik."
"Aku pakai gajiku dulu untuk bayar depositnya."
"Mas Budi yakin? Itu kan uang makan Mas Budi sebulan," tanya Maya khawatir.
"Tidak apa-apa, Pak Rahman pernah kasih bonus ke tukang bangunan waktu atap kamarku bocor."
"Bapak juga diam-diam belikan mesin uap buat anak Rina tanpa marah-marah."
"Sekarang giliran kita yang balas budi sama bapak," jawab Budi sambil berjalan menuju ruang administrasi.
Beberapa jam kemudian, Rahman perlahan membuka matanya.
Bau obat-obatan yang menyengat langsung menusuk hidungnya.
Tetes tetes.
Suara cairan infus jatuh perlahan di sebelah ranjangnya.
"Aku di mana ini?" gumam Rahman dengan suara parau.
Ting!
[Sisa Umur Pengguna: 15 Hari 15 Jam 10 Menit.]
Layar biru itu kembali muncul di hadapannya, mengingatkan Rahman pada kenyataan pahit yang menimpanya.
"Sialan, umurku benar-benar dipotong dua puluh hari oleh sistem rusak ini," batin Rahman merutuk kesal.
Ia menoleh ke samping dan terkejut melihat ruangannya.
Ini adalah kamar rawat inap kelas dua yang fasilitasnya lumayan bagus.
Ada TV, AC, dan sofa kecil di sudut ruangan.
"Kamar bagus begini pasti harganya mahal sekali!"
"Siapa yang berani-beraninya memasukkanku ke rumah sakit elit begini?!" teriak Rahman marah.
Bahkan saat baru bangun dari koma pun, yang pertama kali ia pikirkan adalah tagihan.
Suara teriakan serak itu membuat Budi dan Dimas yang tertidur di sofa langsung terbangun.
Maya dan Rina yang baru kembali dari kantin rumah sakit juga bergegas masuk.
"Pak Rahman sudah sadar!" seru Rina lega.
Rahman melotot menatap keempat penyewanya yang berkumpul mengelilingi ranjangnya.
"Kalian semua bolos kerja dan kuliah hah?!"
"Ngapain kalian di sini? Mau minta diskon sewa karena aku sedang sakit?" tuduh Rahman galak seperti biasa.
Maya tidak marah mendengar tuduhan itu, gadis itu malah tersenyum sedih.
"Bapak ini aneh, sudah hampir mati masih saja memikirkan uang sewa."
"Kalian tidak usah pedulikan aku, cepat panggil dokter!"
"Aku mau pulang sekarang juga, aku tidak mau bayar biaya kamar mahal ini!" Rahman berusaha melepas jarum infusnya.
Budi langsung menahan tangan Rahman dengan lembut tapi kuat.
"Bapak jangan banyak bergerak, jantung bapak masih lemah."
"Bapak tenang saja, uang muka kamar dan perawatannya sudah saya bayar lunas tadi."
Rahman langsung terdiam dan menatap Budi dengan pandangan tidak percaya.
"Kamu... kamu bayar pakai uangmu sendiri?"
"Kamu itu buruh pabrik yang makannya saja sering ngutang di Mpok Siti!" ucap Rahman keheranan.
"Gaji saya baru turun hari ini, Pak."
"Hitung-hitung ini balasan karena bapak sudah memperbaiki atap kamar saya kemarin," jawab Budi santai.
Rahman tertegun.
Selama puluhan tahun hidupnya, belum pernah ada orang di luar keluarganya yang mau berkorban uang demi dirinya.
Apalagi dari seorang penyewa yang sering ia bentak dan ia tagih dengan kejam.
"Lalu siapa yang hubungi keponakanku?"
"Pasti dia tidak mau datang kan?" tanya Rahman dengan nada yang tiba-tiba merendah.
Dimas mengangguk pelan.
"Maaf Pak, tadi saya yang telepon Mas Hendra."
"Beliau bilang... beliau sedang sibuk kerja jadi tidak bisa datang."
Dimas terpaksa berbohong agar bapak kosnya tidak sedih mendengar hinaan keponakannya tadi.
Namun Rahman bukanlah orang tua bodoh.
Ia tersenyum getir dan menatap langit-langit kamar rawat inap.
"Kamu tidak usah berbohong, Dimas."
"Aku tahu persis dia pasti menyumpahiku agar cepat mati."
"Aku memang pantas dibenci oleh keluargaku sendiri."
Suara Rahman terdengar sangat rapuh dan kesepian.
Mendengar nada suara yang menyedihkan itu, Rina tidak bisa menahan tangisnya lagi.
"Bapak tidak sendirian kok."
"Kami semua anak kos bapak akan bergantian menjaga bapak di sini sampai sembuh."
"Iya Pak, bapak kan tuan tanah kami yang paling berwibawa."
"Kalau bapak sakit, nanti tidak ada yang menakuti preman pasar lagi," canda Maya mencoba mencairkan suasana.
Rahman menatap satu per satu wajah penyewanya.
Ada rasa hangat yang tidak pernah ia rasakan menyelimuti dadanya yang tadi sakit.
Mereka bukan darah dagingnya, tapi mereka ada di saat ia berada di titik terendahnya.
Ting!
[Peringatan Sistem: Misi Sampingan Penebusan Dosa telah aktif.]
[Target: Kembalikan uang deposit rumah sakit milik Budi sebesar dua kali lipat setelah pengguna keluar dari rumah sakit.]
[Hadiah: Tambahan umur 3 hari.]
[Kegagalan: Serangan jantung ringan akan kembali kambuh.]
Rahman membaca notifikasi itu tanpa merasa marah sedikit pun.
Kali ini, ia bahkan tidak peduli dengan pengurangan umur atau serangan jantung.
Ia benar-benar ingin mengembalikan uang Budi, murni dari dalam hatinya sendiri.
"Kalian ini benar-benar sekumpulan penyewa yang merepotkan."
"Baiklah, aku akan diam di sini sampai besok."
"Tapi ingat, uang sewa bulan ini tetap tidak ada diskon!" tegas Rahman mengalihkan rasa harunya.
Keempat anak kos itu kompak tertawa pelan.
Mereka sudah sangat hafal dengan gengsi bapak kos mereka yang setinggi langit itu.
Di balik mulut pedasnya, mereka tahu Rahman perlahan mulai membuka hatinya untuk mereka.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...