Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - MISI PEMBERSIHAN
Matahari makin terik saat Range Rover hitam anti peluru melesat membelah jalanan menuju sektor selatan. Kali ini Kael nggak bawa Maybach, mobil elegan itu terlalu mencolok dan nggak cocok buat dipakai ke medan tempur. Di kursi penumpang depan, Valeria duduk santai sambil ngecek ulang magasin di kedua pistol Glock-19 miliknya. Bunyi logam yang beradu terdengar renyah memenuhi kabin mobil.
"Berapa banyak tikus Viper yang biasanya jaga di gudang sektor selatan?" tanya Valeria santai, matanya fokus masukin peluru satu per satu ke dalam magasin.
"Kalau mereka baru saja mengambil alih wilayah itu dari Marco pagi ini, kemungkinan besar mereka menempatkan satu peleton penuh untuk berjaga. Sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang. Dipimpin oleh salah satu anjing suruhan mereka, kemungkinan si Rex atau si Botak Igor," lapor Kael tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Tangan Kael memutar setir dengan luwes, menyelip di antara truk-truk kontainer besar yang mulai mendominasi jalan raya pelabuhan.
"Dua puluh sampai tiga puluh orang? Kurang banyak buat pemanasan pagi ini," dengus Valeria meremehkan.
Wanita itu memasukkan kembali magasin ke dalam pistolnya dengan bunyi *klik* yang mantap. Dia melirik ke arah Kael. Pria itu kelihatan sangat tenang, seolah mereka cuma mau mampir ke *drive-thru* restoran cepat saji, bukan mau ngebantai puluhan orang bersenjata.
"Kita masuk lewat pintu depan, Val?" tanya Kael memastikan, nada suaranya seolah lagi nanya mau pesan kopi rasa apa.
"Tentu saja. Sang ratu nggak pernah masuk lewat pintu belakang," jawab Valeria dengan senyum sinisnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, SUV hitam itu berbelok masuk ke area pelabuhan kargo terbengkalai di ujung selatan. Aroma garam laut bercampur bau amis ikan dan oli bekas langsung tercium saat AC mobil dimatikan. Kael memarkirkan mobil itu di balik tumpukan kontainer karatan, cukup tersembunyi dari pandangan gudang nomor 7B yang jadi target mereka.
Gudang itu kelihatan kotor dan sepi dari luar, tapi dari balik kaca jendela yang kusam, ada bayangan orang-orang yang lagi wara-wiri bawa senjata api.
Kael turun lebih dulu, mengedarkan pandangan ke sekeliling bak predator yang lagi memetakan wilayah buruannya. Dia merapikan jas abunya, lalu mencabut pistol Glock dari balik bajunya.
Valeria menyusul turun. Angin laut yang kencang langsung meniup rambut *ponytail*-nya. Blazer putih gading yang dia pakai kelihatan sangat kontras dengan lingkungan kumuh pelabuhan. Tapi justru itu yang bikin auranya makin mengerikan. Dia menonjol, menantang, dan nggak kenal takut.
"Dua penjaga di pintu utama. Masing-masing bawa senapan serbu *AK-47*," bisik Kael melaporkan situasi setelah mengintip dari balik kontainer.
"Bisa urus mereka tanpa suara? Aku mau kasih kejutan buat yang di dalam," pinta Valeria menoleh ke arah Kael dengan tatapan menggoda.
"Sesuai keinginan Anda, Nyonya," balas Kael patuh.
Pria jangkung itu nggak pakai pistolnya. Dia malah merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebilah pisau tempur hitam legam. Dalam hitungan detik, Kael melesat dari balik kontainer layaknya bayangan. Gerakannya terlalu cepat buat ditangkap mata telanjang.
Valeria cuma berdiri santai sambil melipat tangan di dada, menonton pertunjukan *bodyguard* kesayangannya.
Penjaga pertama bahkan belum sempat berkedip saat tangan besar Kael membekap mulutnya dari belakang, disusul gerakan kilat pisau tempur yang memotong urat lehernya dengan rapi. Darah muncrat, tapi Kael dengan sigap menahan tubuh penjaga itu biar nggak jatuh berdebum.
Penjaga kedua baru mau noleh sambil buka mulut buat teriak, tapi Kael langsung melempar pisaunya tepat menancap di tenggorokan pria itu. Tepat sasaran. Pria kedua itu tersedak darahnya sendiri dan ambruk.
Kael mencabut pisaunya, mengelap darahnya ke baju si penjaga, lalu menoleh ke arah Valeria. Dia ngasih isyarat anggukan pelan. Jalan udah bersih.
Valeria tersenyum puas. Dia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan santai mendekati pintu baja gudang yang sedikit terbuka. Suara *heels* merahnya beradu dengan aspal beton, nyiptain irama kematian yang pelan tapi pasti.
Kael berdiri di sebelah pintu, siap mendobrak.
"Siap, Kael?" bisik Valeria memegang kedua pistolnya, posisi tangannya menyilang di depan dada.
"Selalu siap untuk Anda, Val," jawab Kael serak.
Dengan satu tendangan keras dari kaki panjang Kael, pintu baja itu terbuka lebar hingga menabrak dinding di belakangnya dengan suara *BAM* yang memekakkan telinga.
Semua aktivitas di dalam gudang langsung berhenti. Sekitar dua puluh pria berwajah sangar yang lagi sibuk membongkar peti senjata ilegal serempak menoleh ke arah pintu masuk. Mata mereka melotot kaget melihat seorang wanita cantik berjas putih berdiri di ambang pintu dengan gaya bak model papan atas.
"Permisi, ada paket balasan dari Ratu," sapa Valeria dengan nada riang, senyum iblis terukir manis di bibirnya.
Sebelum para bajingan Viper itu sempat mencerna ucapan Valeria, wanita itu langsung mengangkat kedua tangannya dan menarik pelatuk.
*DOR! DOR! DOR!*
Tiga peluru melesat tajam. Tiga kepala anak buah Viper meledak dalam hitungan detik.
"Sialan! Itu Valeria! Bunuh dia!" teriak seorang pria botak berbadan gempal dari lantai dua gudang. Igor.
Kepanikan langsung pecah. Suara rentetan tembakan balasan memekakkan telinga, peluru-peluru beterbangan ke arah pintu masuk. Tapi Valeria dan Kael udah bergerak lebih cepat.
Valeria melakukan gerakan *roll* ke balik tumpukan peti kayu di sebelah kiri, sementara Kael melompat ke balik pilar beton di sebelah kanan.
"Sektor kanan bersih, Val!" teriak Kael menembakkan tiga peluru ke arah sekelompok preman yang mencoba merangsek maju. Ketiganya ambruk dengan lubang peluru tepat di jantung. Kael bener-bener mesin pembunuh berdarah dingin. Tembakannya nggak pernah meleset satu senti pun.
"Aku urus yang kiri!" balas Valeria antusias.
Adrenalin membuat darahnya mendidih. Dia mengintip dari balik peti kayu, melihat dua preman maju bawa *shotgun*. Dengan santai Valeria mengarahkan pistol kirinya, menembak lutut preman pertama sampai dia menjerit jatuh, lalu menggunakan pistol kanannya untuk menembus tenggorokan preman kedua.
Bau tajam bubuk mesiu dan amis darah mulai memenuhi seluruh ruangan. Suara desingan peluru yang menabrak logam dan kayu terdengar seperti musik orkestra di telinga Valeria. Dia sangat menikmati ini. Ini adalah dunianya.
"Ugh, kemeja sutraku kena cipratan darah!" gerutu Valeria sebal saat melihat setitik noda merah di kemeja dalamnya.
"Nanti saya belikan selusin yang baru di Milan, Nyonya! Menunduk!" seru Kael dari seberang ruangan.
Valeria langsung menundukkan kepalanya secara refleks.
*ZRAAAK!*
Rentetan peluru dari senapan mesin memotong habis ujung peti kayu tempat Valeria sembunyi tadi. Kael nggak tinggal diam. Pria itu melompat keluar dari balik pilar, berlari miring di tempat terbuka sambil menembak membabi buta ke arah pria pemegang senapan mesin di lantai atas. Dua peluru Kael bersarang telak di kepala penembak itu. Mayatnya jatuh terjungkal dari lantai dua menghantam tumpukan tong besi.
Kerja sama mereka terlalu sempurna. Mereka berdua berdansa di tengah hujan peluru dengan ritme yang mematikan. Kalau Kael menutupi *blind spot* di belakang, Valeria akan menghabisi area depan. Nggak ada satu pun celah buat musuh masuk.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dua pertiga dari anggota Viper di dalam gudang itu udah jadi mayat. Lantai beton dipenuhi genangan darah kental dan selongsong peluru yang berserakan di mana-mana.
"Maju woi! Maju! Masa sama satu cewek dan cecungnya aja kalian takut!" teriak Igor panik dari balik ruang kaca di lantai atas. Bos kecil itu mulai keringat dingin ngelihat pasukannya dibantai kayak bebek.
Tinggal tersisa lima orang preman yang bersembunyi di balik sebuah truk kargo di tengah ruangan. Mereka terlalu takut buat keluar menembak.
Valeria memberi isyarat tangan ke arah Kael. Dua jari menunjuk ke depan, lalu satu jari melingkar. Kael mengangguk paham. Manuver mengapit.
Valeria berjalan santai dari sisi kiri, menembak tangki bensin sebuah mobil *forklift* yang ada di dekat para preman itu untuk mengalihkan perhatian. Saat kelima preman itu kaget dan menoleh ke kiri, Kael muncul dari sisi kanan layaknya hantu.
*DOR! DOR! DOR!*
Kael mengeksekusi empat dari mereka dalam waktu kurang dari tiga detik. Preman kelima, yang memegang pistol dengan tangan gemetar parah, menjatuhkan senjatanya dan langsung berlutut nangis-nangis minta ampun.
"Jangan bunuh saya! Ampun!" jerit preman itu ketakutan sampai mengompol.
Valeria berjalan mendekat, menendang jauh pistol preman itu dengan ujung sepatunya. Dia berdiri menjulang di depan pria malang tersebut, menodongkan moncong pistol yang masih berasap panas tepat ke dahinya.
"Kamu, lari ke atas dan seret bos botakmu turun ke sini sekarang," perintah Valeria dingin. "Atau aku bolongi kepalamu sekarang juga."
Preman itu mengangguk panik berkali-kali. "B-baik, Nyonya! Baik!"
Dia buru-buru berdiri dan lari terbirit-birit menaiki tangga besi menuju ruang kaca di lantai dua. Terdengar suara keributan, pukulan, dan akhirnya preman itu menyeret Igor yang meronta-ronta turun ke lantai bawah. Igor jatuh tersungkur tepat di ujung sepatu hak tinggi Valeria.
"Halo, Igor," sapa Valeria manis banget.
Igor mendongak menatap Valeria. Wajah sangarnya udah hilang, diganti sama raut ketakutan yang luar biasa. Di sebelahnya, Kael berdiri dengan mata membunuh yang menyorot tajam, siap merobek lehernya kapan aja Valeria memberi perintah.
"V-Valeria... Nyonya Valeria, i-ini perintah langsung dari pusat! Saya cuma pion, Nyonya!" gagap Igor mencoba mencari alasan.
"Oh, aku tahu kamu cuma pion. Pion jelek dan nggak berguna," cibir Valeria.
Dia berjongkok sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Igor. Tangan kirinya menjambak kerah baju kotor pria botak itu.
"Siapa yang antar kotak berisi tangan itu ke kantorku pagi ini?" tanya Valeria dengan suara yang pelan dan mengancam.
"Itu ide bos besar! Demi Tuhan, Nyonya! Mereka mau mancing amarah Nyonya biar Nyonya keluar dari gedung utama dan datang ke sini," jelas Igor sambil gemetar hebat.
Mendengar itu, alis Kael langsung bertaut. Firasat pria itu mendadak jadi sangat buruk. Kalau ini cuma pancingan, berarti pembantaian di gudang ini terlalu mudah. Ada sesuatu yang nggak beres.
"Pancingan?" guman Valeria mengernyitkan dahi.
"I-iya! Bos bilang, kalau Nyonya datang ke sini... Nyonya nggak akan pernah bisa pulang lagi," bisik Igor dengan suara bergetar.
Mata elang Kael langsung membelalak. Insting bertahannya yang udah terasah selama puluhan tahun di dunia bawah sadar bereaksi hebat. Pria itu memutar badannya menatap ke arah celah atap gudang yang terbuka karena tembakan tadi. Dari jarak sejauh ini, mata tajam Kael menangkap kilatan pantulan cahaya *scope* senapan laras panjang dari gedung seberang.
Seorang *sniper*. Targetnya tepat di punggung Valeria.
"Val, awas!" teriak Kael kalap.