NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Cukup, Aisyah! jangan teruskan

"Aku tidak menganggapmu barang rampasan!" bentak Ayden frustrasi, suaranya meninggi memenuhi ruangan luas tersebut. "Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu, Aisyah! Kenapa kau tidak bisa mengerti?! Kenapa kau terus menghukumku dengan kebisuanmu?!"

"Mencintaiku?" Aisyah menatap lurus ke dalam manik mata Ayden dengan sorot mata yang setajam belati. "Cinta macam apa yang berakar dari dendam kesumat? Kau menghancurkan duniaku, membunuh mimpiku, lalu menuntutku untuk berterima kasih atas kehangatan palsu yang kau berikan?"

"Aku tahu aku salah!" teriak Ayden putus asa, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. "Aku dibesarkan oleh kepedihan masa lalu! Tapi aku sudah mencoba mengubah semuanya!"

"Monster sejati tidak akan pernah sadar bahwa ia sedang menghancurkan dirinya sendiri sampai ia mendapati cermin di hadapannya telah pecah berkeping-keping," ucap Aisyah pelan, namun setiap kata yang meluncur dari bibirnya menghujam ulu hati Ayden tanpa ampun.

"Cukup, Aisyah! Jangan teruskan!" jerit Ayden yang kehilangan kendali atas emosinya.

Didorong oleh rasa frustrasi yang teramat sangat dan keputusasaan yang meluap-luap, Ayden mengangkat vas bunga kristal mahal yang berada di atas meja di dekatnya dan membantingnya sekuat tenaga ke dinding.

Prang!

Pecahan kristal berserakan menghiasi lantai marmer, menciptakan suara bising yang memecah kesunyian malam. Aisyah sama sekali tidak bergeming. Ia tidak terlonjak, tidak menutup telinganya, dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia hanya menunduk sejenak menatap serpihan kaca di lantai, lalu kembali menatap Ayden dengan pandangan mati rasa yang sama.

Ayden terengah-engah, menatap istrinya dengan mata terbelalak ngeri melihat reaksi dingin tersebut. "Kenapa... kenapa kau tidak takut padaku? Kenapa kau tidak berteriak?"

"Untuk apa aku berteriak?" tanya Aisyah hambar. "Rasa takut itu sudah mati sejak lama, Ayden. Yang ada di hadapanmu sekarang bukan lagi seorang istri yang bisa kau gertak, melainkan cangkang kosong yang kehilangan jiwanya."

"Jangan katakan itu..." bisik Ayden lemah, lututnya terasa lemas melihat ketidakpedulian mutlak di wajah istrinya.

"Kau berhasil mendapatkan segalanya, Ayden," lanjut Aisyah tanpa memedulikan rintihan suaminya. "Perusahaan ayahku hancur, keluargaku musnah, dan ragaku berada di bawah kekuasaanmu. Tapi kau gagal menguasai jiwaku. Jiwaku sudah terbang jauh ke tempat di mana cengkeraman tanganmu tidak akan pernah bisa menjangkaunya."

"Aku tidak ingin cangkang kosong, Aisyah! Aku ingin kau yang dulu!" rintih Ayden, menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di lantai di dekat pecahan kaca, tidak peduli jika serpihan tajam itu melukai kulitnya. "Katakan apa yang harus kulakukan agar kau mau kembali bernyawa!"

Aisyah menatap pria yang sedang bersimpuh di kakinya itu dengan senyuman paling menyayat hati yang pernah ada. "Waktu tidak bisa diputar kembali, Ayden. Kau tidak bisa menghidupkan abu yang sudah menjadi arang."

Ayden menggelengkan kepalanya panik, air matanya tumpah membasahi pipinya yang menegang. "Pasti ada jalan... kita bisa mulai semuanya dari awal. Kumohon, Aisyah..."

"Tidak ada jalan lain," jawab Aisyah tegas, suaranya tetap mengalun datar tanpa emosi. "Kita adalah dua orang asing yang saling membunuh di bawah atap yang sama. Dan malam ini, batas kewarasan itu benar-benar telah runtuh sepenuhnya."

Ayden mendongak, menatap wajah pucat istrinya dengan dada yang sesak oleh penyesalan yang membakar. "Apakah kau benar-benar sudah menyerah padaku, Aisyah?"

"Aku tidak menyerah, Ayden," sahut Aisyah pelan, membalikkan badan perlahan untuk melangkah meninggalkan ruang tamu. "Aku hanya melepaskan diri dari sebuah pertarungan yang memang tidak pernah bisa dimenangkan oleh salah satu dari kita."

"Mau ke mana kau?!" seru Ayden panik, buru-buru bangkit dan meraih pergelangan tangan istrinya.

Aisyah menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh. "Ke kamar. Di mana tempatku seharusnya berada sebagai tahananmu."

Ayden melepaskan pegangannya perlahan, membiarkan Aisyah melangkah menjauh menaiki tangga menuju lantai atas. Di tengah reruntuhan vas kristal dan serpihan emosinya sendiri, Ayden menyadari bahwa ia telah menang dalam pertempuran balas dendam, namun kekalahan telak dan kesepian abadi kini menjadi takdir mutlak yang harus ia tanggung seumur hidupnya.

***

Deru jam dinding kuno di sudut ruang tamu utama berdetak pelan, mengiringi keheningan malam yang terasa begitu pekat dan menyesakkan. Di dalam kamar utama penthouse yang mewah itu, remang cahaya lampu tidur menyinari lantai marmer dingin. Aisyah berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka, dengan gerakan tenang namun pasti memasukkan beberapa helai pakaian sederhana ke dalam sebuah koper kecil berwarna hitam. Tidak ada isak tangis yang keluar dari bibirnya, tidak pula ada keraguan di manik matanya yang memantulkan bayangan kosong.

"Tinggal di tempat ini hanya akan memperpanjang siksaan psikologis bagi kita berdua," bisik Aisyah pada dirinya sendiri, suaranya begitu lirih namun sarat akan ketegasan mutlak. Ia menyadari bahwa sisa-sisa kewarasannya akan sepenuhnya terkikis jika ia terus bertahan di bawah atap yang sama dengan pria yang telah merenggut sekaligus menghancurkan seluruh kehidupannya.

Setelah memastikan semua barang bawaannya yang sedikit itu tertata rapi, ia menutup koper kecil tersebut dan mengancingkannya. Aisyah mengambil mantel wol tebalnya, mengenakannya dengan tenang, lalu melangkah perlahan menuju pintu kamar utama. Tangannya terulur memutar gagang pintu dan menariknya terbuka lebar.

Namun, langkah kakinya seketika terhenti.

Di ambang pintu, sosok Ayden sudah berdiri melintang menghalangi jalannya. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang bagian kerahnya terbuka, dengan lengan baju yang digulung sekenanya. Kantung mata yang menggelap serta rambut yang sedikit berantakan memperlihatkan betapa kacaunya kondisi batin pria itu selama beberapa hari terakhir. Ayden menatap koper kecil di tangan Aisyah dengan sorot mata yang menggelap, memancarkan perpaduan antara kepanikan instan dan amarah posesif yang membara.

"Mau kemana kau, Aisyah?" tanya Ayden dengan suara berat yang bergetar tertahan, menembus keheningan lorong kamar.

Aisyah tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa secercah rasa gentar. "Aku ingin pergi, Ayden. Perjalanan kita di tempat ini sudah selesai."

Ayden melangkah maju selangkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya bercampur dengan udara malam yang dingin. "Pergi? Kau pikir kau bisa melangkah keluar dari rumah ini begitu saja tanpa izinku?"

"Apakah aku memerlukan izin dari seorang tahanan penjara untuk menghirup udara di luar?" balas Aisyah dengan nada datar, tanpa intonasi kemarahan, yang justru membuat Ayden merasa dihantam oleh palu tak kasat mata.

"Aku bukan penjahatmu, Aisyah!" sergah Ayden, suaranya meninggi namun tertahan di tenggorokan. "Dan rumah ini bukanlah penjara! Ini adalah rumah kita!"

"Rumah?" Aisyah tersenyum tipis, sebuah senyuman hampa yang tidak sampai ke matanya. "Tempat di mana dua orang asing saling membunuh secara perlahan di balik tembok-tembok kemewahan bukanlah rumah, Ayden. Itu adalah makam tempat raga kita dikuburkan hidup-hidup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!