Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Sejak hari pernikahan itu, rumah yang dulu terasa hangat bagi Dera berubah menjadi tempat yang paling ingin ia hindari. Tidak ada lagi rasa nyaman, dan tidak ada lagi suara tawa yang membuatnya merasa pulang ke rumah. Setiap sudut rumah justru menjadi pengingat bahwa hidupnya telah direnggut oleh orang-orang yang paling ia percaya.
Yang paling menyakitkan adalah Dera masih tinggal di rumah yang sama dengan mereka. Setiap pagi, ia harus melihat Galih. Pria yang dulu datang ke rumah itu sebagai calon suaminya, kini datang sebagai suami kakaknya.
Setiap pagi pula, Dera harus melihat Vivian tersenyum manja kepada pria yang seharusnya menjadi pendamping hidupnya. Pemandangan itu perlahan mengikis hati Dera.
Pagi itu, Dera sedang duduk sendirian di meja makan. Ia hanya membuat secangkir teh dan mengambil sepotong roti. Tidak ada selera untuk makan.
Tap
Tap
Dari arah tangga terdengar suara langkah kaki seseorang. Dera tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Karena dari suaranya dia sudah bisa menebak siapa orang tersebut.
"Pelan-pelan, Sayang." ucap Galih.
Dera menegang mendengarnya.
Beberapa detik kemudian, Vivian muncul bersama Galih. Vivian mengenakan pakaian rumahan dengan satu tangan memegang perutnya yang masih terlihat rata.
Galih berjalan di sampingnya. Tangannya bahkan melingkar di pinggang Vivian.
Dera menundukkan wajah. Namun suara Vivian membuat telinganya tetap menangkap semuanya.
"Galih, aku ingin sarapan bubur." mintanya manja.
"Baik. Kamu duduk saja. Biar aku yang ambil."
"Tapi aku ingin kamu yang menyuapi." Vivian tersenyum manja.
Galih membalas senyuman itu. "Iya, Sayang."
Dera menggenggam sendoknya erat. Dulu, panggilan itu ditujukan kepadanya. Pria itu pernah membisikkan kata itu ketika mereka membicarakan rumah yang ingin mereka bangun setelah menikah.
Kini semua kata-kata itu diberikan kepada perempuan lain. Dan perempuan itu adalah kakaknya sendiri.
"Dera." Suara ibunya membuat Dera tersadar.
"Kamu tidak sarapan?" lanjutnya bertanya.
Dera menggeleng. "Sudah." jawabnya singkat.
"Baru makan roti sedikit." ucap Eni.
"Aku tidak lapar." kata Dera.
Eni melirik ke arah Vivian dan Galih, lalu kembali menatap Dera. "Dera, jangan seperti ini terus."
Dera tersenyum hambar."Seperti apa, ma?" tanya Dera menatap ibunya.
"Kamu harus menerima kenyataan, Dara. Galih bukan suami mu, dia sudah menjadi suami kakakmu" ucap Eni tidak berperasaan.
Dera menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah menerimanya" ucapnya.
"Kalau sudah menerima, kenapa setiap hari wajahmu seperti orang paling menderita di dunia?" cemoohnya.
Dera terdiam. Beberapa saat kemudian, ia meletakkan sendoknya. "Karena memang aku yang paling menderita di rumah ini, Bu."
Eni langsung terdiam.
Galih yang mendengar percakapan itu juga menundukkan wajahnya.
Dera menatap mereka satu per satu."Aku tidak meminta Kak Vivian pergi. Aku tidak meminta kalian menceraikan mereka. Aku bahkan tidak pernah meminta Galih kembali kepadaku." Suaranya mulai bergetar. "Aku cuma minta satu hal." lanjutnya.
"Apa?" tanya Eni.
"Jangan paksa aku melihat semuanya." jawab Dera.
Vivian menundukkan kepala.
Dera tertawa kecil, tetapi air mata mulai memenuhi matanya."Setiap kali aku keluar kamar, aku melihat kalian." ucapnya sambil menatap Galih. "Setiap kali aku duduk di ruang tamu, aku melihat kalian."
Kemudian pandangannya berpindah kepada Vivian."Setiap kali aku makan, aku mendengar kalian memanggil satu sama lain dengan panggilan yang dulu hanya milikku."
Galih menghela napas."Dera, aku minta maaf."
Dera langsung menatapnya."Jangan. Kau tidak perlu minta maaf"
"Aku benar-benar—"
Air mata Dera jatuh."Kata maafmu sudah terlalu sering kudengar sampai sekarang tidak ada artinya."
Galih terdiam.
Dera berdiri dari kursinya. "Aku pernah mencintaimu, Galih." Suasana meja makan mendadak sunyi. "Aku bahkan pernah berpikir bahwa kamu adalah orang yang akan menemaniku sampai tua."
Dera mengusap air matanya."Aku membayangkan kamu yang menungguku pulang kerja. Aku membayangkan kita bertengkar soal hal-hal kecil. Aku membayangkan kita punya anak."
Tatapannya beralih kepada Vivian."Tapi ternyata semua bayangan itu sekarang menjadi milik kakakku."
Vivian mulai menangis."Dera..."
"Jangan panggil aku seperti itu." Suara Dera bergetar."Setiap kali Kakak memanggil namaku, aku selalu teringat kalau Kakak adalah orang yang mengambil semuanya dariku."
Vivian menutup mulutnya, menahan tangis. "Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu."
Dera tersenyum getir."Tapi pada kenyataannya kakak melakukannya"
Vivian tidak mampu menjawab.
Dera berjalan meninggalkan meja makan. Namun sebelum sampai ke tangga, ia mendengar suara Galih.
"Dera."
Langkah Dera berhenti.
"Kalau aku bisa mengulang waktu, aku ingin mengatakan—"
"Jangan katakan apa pun." potong Dera sebelum Galih menyelesaikan ucapannya.
Dera menoleh. Matanya sudah penuh air mata.
"Karena kalau kamu mengatakan bahwa kamu menyesal, aku akan berharap."
Galih terdiam.
Dera menarik napas panjang. "Aku tidak mau berharap lagi." Ia mengusap air matanya. "Harapan itu yang membuatku bertahan sampai sekarang. Padahal setiap hari aku harus melihat kenyataan bahwa pria yang kucintai tidur di kamar yang sama dengan kakakku."
Galih terlihat terpukul.
Dera tersenyum pahit."Jadi tolong, Galih. Jangan membuatku semakin sulit melupakanmu."
Dera kemudian menaiki tangga. Begitu sampai di kamar, ia langsung menutup pintu.
Tubuhnya bersandar di balik pintu. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Dera menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terdengar oleh siapa pun. Namun beberapa menit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
"Dera, ini mama."
Dera tidak menjawab.
"Dera, buka pintunya."
Tetap diam.
"Dera..."
Akhirnya Dera berkata dengan suara serak.
"Apa, ma?"
"Mama ingin bicara."
"Besok saja."
"Kamu tidak boleh terus seperti ini."
Dera tertawa getir. "Kalau begitu, mama mau aku bagaimana?"
Tidak ada jawaban.
Ceklek....
Dera membuka pintunya menatap mamanya yang berdiri di hadapannya. "Aku harus tersenyum ketika melihat mereka? Aku harus ikut bahagia ketika melihat Kak Vivian diperlakukan seperti seorang istri oleh pria yang dulu akan menikah denganku?"
Eni menundukkan kepalanya "Mama tahu ini sulit."
"Tidak ma" Dera menggeleng. "Mama tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini".
"Mama tahu kamu sakit." ucap Eni.
"Tidak." Dera mengusap pipinya."Kalau mama tahu, mama tidak akan menyuruh mereka tinggal di sini."
Eni terdiam. Dia tidak mengizinkan Vivian tinggal di rumah Galih. Dia tidak tahu keputusannya itu justru membuat putri bungsunya semakin tersakiti.
"Rumah ini sudah bukan rumahku lagi."
"Dera..."
"Di rumah ini, aku cuma orang yang harus mengalah." Dera menatap ibunya dengan tatapan penuh luka. "Ketika Kak Vivian hamil, aku yang harus mengalah. Ketika Galih menikahi Kak Vivian, aku yang harus mengalah. Ketika semua uang yang aku keluarkan untuk pernikahan mereka digunakan, aku juga yang harus mengalah."
Air mata Dera mengalir deras."Jadi sebenarnya... kapan aku boleh memikirkan diriku sendiri, ma?"
Pertanyaan itu membuat Eni tak mampu berkata-kata. Dera menarik napas panjang. "Aku bukan marah karena mereka bahagia. Aku hanya sedih karena kebahagiaan mereka dibangun dari kehancuran hidupku."
Eni akhirnya memeluk Dera. Namun Dera tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya tetap kaku. Matanya menatap kosong ke arah luar jendela. Di halaman, Dera kembali melihat Galih dan Vivian.
Galih sedang membantu Vivian mengenakan sandal.
Dera segera memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihatnya kedekatan mereka.
*
*
Malam itu, Dera duduk sendirian di tepi ranjang.
Rumah sudah mulai sepi. Namun suara tawa Galih dan Vivian dari kamar mereka masih terdengar samar.
Dera menarik selimut dan menutup telinganya, tetapi suara itu tetap terasa ada di kepalanya.
Ia memejamkan matanya, lagi-lagi air matanya kembali mengalir. "Berapa lama lagi aku harus seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Dera menatap koper yang tersimpan di sudut kamar. "Sepertinya aku harus pergi dari sini" gumamnya.
Jika mereka ingin bahagia tanpa dirinya, biarlah.
Dera akan mencari kebahagiaannya sendiri.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa