Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Yang Mencekik
Bunyi alarm dari HP jadul merek Samsung lipat di atas meja kayu berdering nyaring, memecah keheningan kamar. Pukul setengah lima pagi. Eda cepat-cepat menjangkau benda pipih itu lalu mematikan tombolnya sebelum suaranya makin bising dan membangunkan orang-orang di rumah sempit ini.
Ia bangkit perlahan dari kasur busa tipis yang sudah mengempis di bagian tengah. Otot-otot punggungnya terasa kaku dan pegal. Eda memutar lehernya ke kiri dan ke kanan sampai terdengar bunyi gemertak pelan. Baju tidurnya yang lecek berbau minyak angin tipis. Rasa lelah seolah sudah mengendap lama di dalam tulangnya, tidak pernah benar-benar hilang meskipun ia sudah memejamkan mata semalaman.
Sebagai seorang guru PPPK yang baru dua tahun menikmati status ASN, setelah hampir sepuluh tahun kerja bagai kuda jadi honorer dengan gaji tiga ratus ribu per bulan yang cuma cukup buat beli bensin dan mi instan—pagi Eda tidak pernah dimulai dengan ketenangan.
Dari arah dapur, bunyi spatula stainless beradu dengan teflon tua sudah terdengar nyaring. Bau tumisan bawang putih dan cabai rawit menyengat hingga menerobos celah di bawah pintu kamar. Agus, suaminya, muncul di ambang pintu beberapa menit kemudian. Pria itu memakai celana training lecek berwarna biru dongker dan kaus oblong putih yang bagian lehernya sudah agak molor. Tangannya yang agak gemetar membawa segelas air hangat.
"Sudah bangun, Ed? Kopi sama sarapan sebentar lagi siap di depan," kata Agus. Suaranya datar, tanpa nada atau ekspresi wajah yang berarti. Tipikal rutinitas yang sudah mendarah daging selama lima belas tahun pernikahan mereka.
"Iya, Gus. Makasih," jawab Eda serak. Ia menerima gelas itu, meneguk air hangatnya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Eda memperhatikan punggung suaminya yang kembali melangkah menuju dapur. Laki-laki itu berjalan agak miring karena keluhan sakit pinggang dan masalah prostat yang belakangan ini sering kambuh.
Lima belas tahun menikah, rumah tangga mereka memang sunyi dari suara tangisan bayi. Rahim Eda divonis sulit hamil oleh dokter spesialis. Dulu, di tahun-tahun awal pernikahan, mereka sudah mencoba berobat ke mana-mana mulai dari dokter ternama, jamu-jamuan pahit, sampai urut ke dukun beranak di ujung kampung. Semuanya ludes memakan tabungan Eda tanpa hasil. Tetangga dan kerabat sempat sibuk berbisik-bisik dan menatap Eda dengan tatapan kasihan, tapi lama-lama mereka capek sendiri. Namun jujur saja, bukan lagi ketiadaan anak yang membuat dada Eda terasa sesak dan berat belakangan ini. Masalahnya jauh lebih rumit, lebih menggerogoti jiwa dan pikirannya setiap hari.
Belum sempat Eda selesai mengikat rambut dan merapikan tempat tidur, suara berisik dari ruang tengah sudah mulai sahut-sahutan. Ibu Ratna, ibunya yang sudah sepuh, batuk-batuk kecil sambil menyeret kursi plastik. Tidak lama kemudian, suara pintu kamar sebelah berderit keras. Doni kakak laki-laki Eda yang kerjanya serabutan dan lebih sering menganggur keluar kamar sambil menggendong anaknya yang masih balita. Disusul Rini, istrinya, yang sibuk mengomel mencari kaos kaki seragam sekolah anak sulung mereka.
"Bisa diam tidak, sih?! Pagi-pagi sudah bikin kepala pusing saja!" omel Rini keras-keras pada anaknya yang mulai menangis karena rewel.
Sejak Eda resmi menerima SK PPPK dua tahun lalu, rumah kontrakan sempit berukuran enam kali sembilan meter ini praktis berubah fungsi menjadi tempat menampung seluruh keluarga. Gaji Eda yang tiap bulan masuk ke rekening bank bukan lagi cuma milik dia dan Agus. Uang jutaan rupiah itu langsung ludes dalam hitungan hari. Dipotong cicilan bank yang sengaja diambil untuk menutup utang-utang lama keluarga, bayar tagihan listrik rumah, belanja dapur harian Ibu Ratna, sampai uang jajan dan buku sekolah keponakan-keponakannya.
Eda di rumah ini bukan diperlakukan seperti anak atau adik yang disayangi. Ia lebih mirip mesin ATM berjalan yang tidak boleh rusak dan tidak boleh kehabisan uang.
Pukul setengah enam lewat sedikit, Eda sudah rapi dengan seragam dinas cokelat mudanya. Bahan kainnya terasa agak kaku karena disetrika terlalu kering. Di meja makan kayu yang agak goyang legoknya, Agus menyodorkan sepiring nasi goreng telur.
"Nanti pulang sekolah mampir ke warung depan ya, Ed. Gas LPG di dapur sudah mau habis, sekalian belikan rokok aku satu bungkus," kata Agus santai sambil mengunyah nasi gorengnya sendiri.
Eda menghentikan suapannya. Sendok di tangannya berdenting pelan saat menyentuh piring kaca. Tenggorokannya mendadak gatal dan kering. Ia melirik tas kerjanya yang tergeletak di kursi sebelah, teringat isi dompetnya yang cuma tersisa dua lembar uang dua puluh ribuan dan beberapa keping uang logam.
Awal bulan baru berjalan seminggu, tapi gajinya sudah habis tak berbekas karena baru saja dipotong otomatis oleh koperasi sekolah dan utang bank.
"Gus... uangku bulan ini sudah tipis banget," ujar Eda pelan. Suaranya sangat hati-hati, mencoba tidak memicu konflik. "Potongan bank lagi besar karena ada penyesuaian bunga, terus kemarin Mama minta uang seratus ribu buat beli obat batuk dan kontrol ke klinik. Kalau harus beli rokok lagi..."
Kalimat Eda sengaja menggantung di udara. Matanya menatap wajah Agus, menunggu reaksi yang sebenarnya sudah bisa ia tebak luar kepala.
Seketika itu juga, suasana di meja makan berubah mencekik. Raut wajah Agus yang tadinya datar langsung berubah keruh dan gelap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Agus mendorong piring makanannya yang belum habis hingga tergeser kasar. Ia berdiri, menyambar piring kotor Eda dan piringnya sendiri, lalu melangkah lebar-lebar menuju tempat cuci piring di sudut dapur.
Srettt! Kringgg!
Agus memutar keran air kencang-kencang. Air menyembur deras, menghantam piring seng dan teflon hingga cipratannya membual ke mana-mana, membasahi kaus oblong putih dan lantai dapur. Ia mencuci piring dengan gerakan kasar, membanting peralatan dapur satu per satu ke rak pengering dengan bunyi mendenting keras.
Aksi silent treatment dimulai lagi.
Eda memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang terasa menyiksa dada. Ia sudah hafal mati dengan tabiat suaminya ini selama lima belas tahun hidup bersama. Agus memang suami yang rajin. Pria itu tidak gengsi menyapu lantai, mencuci baju, sampai memasak air dan nasi di dapur. Tapi kalau egonya tersenggol sedikit saja—terutama kalau urusan uang rokok atau permintaannya tidak dituruti—Agus langsung berubah menjadi batu yang dingin dan membekukan suasana.
Agus bisa diam seharian penuh. Tidak akan mau menatap mata Eda, tidak mau menyapa, dan sengaja membuat suara-suara bising saat mengambil barang hanya untuk menunjukkan kemarahannya. Dia akan membuat seluruh isi rumah terasa kaku, dingin, dan menekan mental Eda sampai Eda sendiri yang akhirnya menyerah, meminta maaf, dan mengalah memberikan uang.
Eda berdiri dari kursinya. Ia tidak mencoba membujuk Agus seperti yang biasa ia lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Rasa lelah yang teramat sangat membuat hatinya tawar. Ia menyambar tas kerjanya, memakai sepatu pantofel hitamnya yang agak mengelupas di bagian ujung, lalu berjalan keluar rumah tanpa menguapkan salam. Ia tahu, kalaupun ia memberi salam, Agus tidak akan sudi membalasnya.
Di teras depan yang sempit, Eda berdiri sejenak menghirup udara pagi yang agak lembap. Suara riuh kendaraan dari jalan raya mulai terdengar dari kejauhan.
Sambil membetulkan letak peniti jilbabnya yang agak longgar, Eda menatap lurus ke arah jalanan gang yang penuh dengan genangan air sisa hujan semalam. Hatinya bertanya-tanya, sebuah pertanyaan lama yang makin hari makin nyaring bergema di kepalanya:
Agus ini sebenarnya suami yang dikirim Tuhan untuk mendampingi hidupku... atau cuma beban tambahan yang sengaja kupelihara untuk menyiksaku pelan-pelan sampai mati?