NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Pembantaian Benteng Lingnan

Deru terik api membakar kayu benteng di pintu masuk Kota Tambang Lingnan. Asam mesiu hitam bercampur amis darah kental memenuhi udara pagi yang dingin. Tiga ribu prajurit zirah berat Pasukan Serigala Hitam yang dipimpin Tie Shan merangsek masuk bagaikan gelombang baja kehitaman, meremukkan barisan perisai tembaga prajurit Sekte Cakar Iblis di pelataran luar.

Hujan panah api buatan Feng Ni menghujani menara-menara pengawas dari puncak tebing basal. Gudang penyimpanan bubuk mesiu di sudut barat meledak hebat. Dentuman dahsyat menggoncangkan tanah, melempar puluhan prajurit musuh hingga tewas menghantam dinding batu.

Di atas tangga batu pualam yang menuju kediaman utama benteng, Master Yan Leng berdiri kaku dengan jubah hitam berujung kain sutra merah. Tangan kanannya menggenggam Pedang Cakar Kembar yang memancarkan pendar hijau pekat. Wajah tuanya yang penuh kerutan membeku murka menatap kehancuran barisan pertahanannya.

"Anjing-anjing perbatasan!" raung Master Yan Leng kencang. Suaranya bergema nyaring membawa getaran tenaga dalam tingkat tinggi. "Kalian pikir sanggup menginjakkan kaki di tanah Lingnan ini?"

Ma Huang melangkah menembus kepulan asap hitam yang membakar pelataran. Jubah kulit serigala kelabunya melambai kencang ditiup angin panas. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya terangkat miring, meneteskan uap racun Ular Hijau dan leburan asam rawa yang berdesis kental.

Prajurit Sekte Cakar Iblis yang mencoba menghalangi langkah Ma Huang roboh satu per satu. Setiap tebasan mendatar Pedang Tulang Hitam memotong leher dan dada musuh tanpa ada yang mampu menahan bobot kejam Inti Bencana.

Ma Huang menghentikan langkahnya lima depa di bawah anak tangga pualam. Sepasang matanya yang berkilat merah mengunci kaku sosok Master Yan Leng.

"Yan Leng," kata Ma Huang dingin. Suaranya memotong ketegangan di tengah riuh jeritan perang. "Lima belas tahun lalu kau menyepakati pembantaian Keluarga Ma bersama Tuan Kota Jian."

Master Yan Leng terkekeh parau dengan tawa penuh nada penghinaan. Ia melangkah tiga anak tangga turun mendekati Ma Huang. "Keluarga Ma terlalu bodoh karena menyimpan Segel Besi Hitam tanpa kekuatan yang cukup. Ayahmu mati membusuk di lumpur, dan kau akan menyusulnya hari ini!"

Master Yan Leng menjejakkan kaki kanannya kencang ke atas tangga batu. Pualam tebal retak berhamburan saat tubuhnya meluncur melesat ke bawah bagaikan kilat hijau. Pedang Cakar Kembar di tangannya dilancarkan mendatar, mengincar leher dan tenggorokan Ma Huang secara bersamaan.

Tebasan senjata ganda itu membawa gelombang angin racun Mayat Hitam yang sangat pekat. Rumput liar dan kayu di sekitar tangga batu menghitam melepuh seketika.

Ma Huang tidak bergeming. Ia memiringkan badannya dua jengkal ke kanan. Pedang Tulang Hitam diputarnya melingkar di depan dada, menangkis sabetan ganda Master Yan Leng dari samping.

Tinggg! Cring!

Benturan keras logam memercikkan gelombang bunga api kebiruan yang meledak di udara subuh. Daya dorong tenaga dalam Master Yan Leng membuat ubin pualam di bawah telapak kaki Ma Huang retak ambles tiga jengkal.

Ma Huang memutar pergelangan tangan kirinya kencang-kencang. Asam racun rawa yang meresap di dalam Pedang Tulang Hitam merembes cepat saat kedua senjata beradu kaku.

Srettt!

Bilah Pedang Cakar Kembar milik Master Yan Leng terkikis kehitaman. Lapisan baja tempa pilihan itu melunak kasar oleh dampak racun korosif milik Ma Huang.

Master Yan Leng terperanjat. Rasa menyengat membakar merambat cepat menembus pergelangan tangan kanannya, membekukan aliran darah menuju siku. Ia melompat mundur lima langkah ke belakang untuk memutus kontak senjata.

"Racun rawa..." desis Master Yan Leng dengan napas memburu. "Kau menyerap uap beracun dari Rawa Tengkorak?"

Ma Huang tidak menjawab. Ia menjejakkan kakinya kencang ke atas anak tangga pualam. Langkah kakinya tak terdengar saat tubuhnya meluncur mendatar memotong jarak berdiri Master Yan Leng dalam sekedip mata.

Pedang Tulang Hitam diayunkannya miring dari atas ke bawah, membawa seluruh bobot tenaga dalam Inti Bencana Hitam-Keemasan.

Master Yan Leng menggeretakkan giginya kencang. Ia mengyilangkan kedua bilah Pedang Cakar Kembar di atas kepala untuk menahan hantaman dahsyat Ma Huang.

Brak! Krak!

Dentuman keras menggoncangkan seluruh tangga batu pualam. Gelombang tenaga dalam yang terpental meremukkan pilar batu di samping mereka hingga roboh berhamburan.

Lutut kiri Master Yan Leng terperosok ambles menembus lantai batu akibat beban berat pukulan Ma Huang. Tulang paha dan persendian kakinya berderak kencang menahan tekanan luar biasa tersebut.

Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam sembilan puluh derajat. Sisi tumpul pedang hitam dihantamkannya kencang ke arah rusuk kiri Master Yan Leng.

Master Yan Leng memiringkan badannya cepat, membiarkan hantaman pedang Ma Huang meremukkan zirah bahu kirinya. Pada saat bersamaan, tangan kiri Master Yan Leng merogoh bagian dalam jubah sutranya, menyemburkan gumpalan jarum rahasia berlengan lima yang terpasang di lengan bajunya.

Cring!

Lima jarum tembaga beracun meluncur nyaring dari jarak setengah depa, mengincar dada dan mata Ma Huang secara mendadak.

Ma Huang mengangkat telapak tangan kanannya melintang di depan wajah. Hawa dingin pekat dari Jalur Darah Pemakan Bencana meledak keluar, membekukan udara di sekitarnya menjadi kristal racun yang tebal.

Lima jarum tembaga membentur lapisan kristal racun tersebut, patah berkeping-keping sebelum sempat menyentuh jubah serigala Ma Huang.

Master Yan Leng membelalak lebar. Wajah tuanya pucat pasi tanpa tersisa warna kehidupan. Ia mencoba memutar badannya untuk melompat mundur ke dalam aula utama benteng.

Ma Huang melesat maju menekan tanpa memberikan ruang melarikan diri. Tumit kaki kirinya dihantamkannya kencang ke dada Master Yan Leng.

Bummm!

Zirah besi di dada Master Yan Leng hancur berkerutup. Tubuh Ketua Sekte Cakar Iblis itu terlempar sepuluh langkah ke dalam aula utama, menghantam pilar kayu jati hingga patah terbelah dua sebelum roboh telentang di atas lantai batu.

Master Yan Leng memuntahkan gumpalan darah hitam yang kental. Kedua tangannya gemetar kaku, sementara pembuluh darah di dadanya menghitam oleh pengaruh racun Ular Hijau.

Ma Huang melangkah kaku memasuki aula utama benteng. Ujung Pedang Tulang Hitam yang meneteskan darah kental ditunjukkannya tepat di depan tenggorokan Master Yan Leng.

"Siapa pimpinan tertinggi Aliansi Istana Naga Merah?" tanya Ma Huang kaku. Suaranya membekukan udara di dalam aula.

Master Yan Leng terbatuk keras, memuntahkan darah bercampur pecahan tulang rusuknya. Sepasang matanya yang liar menatap Ma Huang dengan raut ketakutan yang pekat.

"Pangeran Zhao Xu..." bisik Master Yan Leng parau dengan sisa tenaganya. "Pangeran Zhao Xu dari Ibu Kota Provinsi... Dialah yang menginginkan Segel Besi Hitam... Kau tidak akan pernah sanggup menyentuh Ibu Kota..."

Ma Huang menggerakkan Pedang Tulang Hitam melintang dalam satu tebasan cepat tanpa ragu.

Srettt!

Bilah pedang hitam memotong leher Master Yan Leng secara sempurna. Darah segar menyembur basah membasahi lantai batu aula. Ketua Sekte Cakar Iblis itu tewas seketika di atas pilar jati yang hancur.

Di luar benteng, suara pertempuran perlahan meredup. Tie Shan memimpin prajurit Serigala Hitam membantai sisa-sisa pengawal benteng yang kehilangan pimpinan.

Tie Shan melangkah memasuki aula utama dengan kampak kembar baja hitam yang lumuran darah kental. Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan Ma Huang. "Kota Tambang Pertama Lingnan telah jatuh sepenuhnya ke tangan kita, Tuan Muda!"

Feng Ni melangkah masuk mengikuti dari belakang, menyapu sisa darah di jemari tangannya. "Seluruh lima kota tambang di wilayah ini telah terisolasi total. Perbekalan besi meteorit dan gudang senjata musuh kini menjadi milik Pasukan Serigala Hitam."

Ma Huang menyarungkan Pedang Tulang Hitam kencang-kencang. Tangannya merogoh lipatan jubah Master Yan Leng, menarik keluar peta wilayah Provinsi Lingnan bertinta emas dan surat perintah berstempel Istana Naga Merah.

Tatapannya membeku dingin menatap nama Pangeran Zhao Xu yang terukir di atas kertas kain sutra merah tersebut.

Pintu menuju Provinsi Lingnan telah terbuka lebar, namun perang sesungguhnya melawan dalang tertinggi pembantaian Keluarga Ma baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!