SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PULANG KE CHANG'AN
Gerbang selatan Chang'an terbuka lebih lebar daripada yang Ruyin ingat.
Atau mungkin yang berubah adalah dirinya. Delapan tahun lalu ia meninggalkan kota ini dari balik tirai kereta yang tertutup rapat, dan yang tersisa dalam ingatannya hanyalah bau obat, suara roda yang tak henti-henti, dan tangan seorang pelayan tua yang terus menggenggam pergelangannya seolah ia bisa lenyap kapan saja.
Kini tirai kereta itu terangkat separuh. Ruyin duduk tegak, kedua tangan terlipat di pangkuan, dan memandangi antrean pedagang yang menunggu giliran masuk. Keranjang sayur, peti kain, kandang bebek, seorang penjual manisan yang meneriakkan harganya pada siapa pun yang lewat. Semuanya tampak biasa. Terlalu biasa untuk kota yang katanya menyimpan seluruh rahasia kekaisaran.
"Nona Kedua, sebentar lagi kita tiba."
Suara itu milik Bibi Qin, pelayan yang menemaninya sepanjang perjalanan dari Selatan. Ruyin hanya mengangguk.
Sudah lima belas hari mereka menempuh jalan, dan selama itu Ruyin belajar satu hal tentang Bibi Qin: perempuan itu tidak pernah menjawab pertanyaan yang tidak ia kehendaki. Ketika Ruyin bertanya apakah rumah keluarga Shen masih memiliki pohon osmanthus di halaman timur, Bibi Qin menjawab dengan panjang lebar tentang kebun itu. Ketika Ruyin bertanya mengapa ia dipulangkan tepat di awal musim gugur, bukan musim semi seperti rencana semula, Bibi Qin sibuk merapikan selimut.
Ruyin tidak mendesak. Ia sudah lama belajar bahwa orang yang dipaksa menjawab akan berbohong lebih rapi.
Roda kereta berderak melewati gerbang. Seorang prajurit penjaga menoleh sekilas ke arah mereka. Biasanya penjaga gerbang hanya memeriksa lambang di kereta dan melambaikan tangan. Tetapi prajurit ini menatap lambang keluarga Shen, lalu menatap tirai yang terbuka separuh, lalu menatap wajah Ruyin lebih lama dari yang sopan.
Ia tidak memberi hormat. Ia hanya berbalik dan berbicara pelan kepada rekannya.
Ruyin menurunkan tirai.
"Ada apa, Nona?" tanya Bibi Qin.
"Tidak ada." Suaranya datar. "Aku hanya merasa kota ini lebih ramai dari yang kuingat."
Itu bukan kebohongan, tapi juga bukan seluruh kebenaran. Ruyin menyimpan tatapan prajurit itu di tempat yang sama dengan hal-hal kecil lain yang sudah ia kumpulkan sejak surat pemanggilan itu tiba: stempel yang terlalu rapi, bahasa yang terlalu sopan, dan kenyataan bahwa surat itu datang tanpa ada seorang pun di rumah Selatan yang diminta pendapatnya.
Delapan tahun ia tinggal di sebuah rumah sunyi di tepi sungai, ditemani tabib tua dan pelayan yang jarang bicara. Tidak ada yang pernah menjelaskan mengapa ia harus tinggal di sana selain kata "sakit". Tidak ada yang pernah menjelaskan penyakit apa. Dan anehnya, tidak pernah sekali pun tabib itu mengubah ramuannya, bahkan ketika ia sudah bertahun-tahun merasa sehat.
Dulu ia mengira itu kebetulan.
Kini, melihat Chang'an menyambutnya dengan cara yang terlalu tenang, ia mulai ragu.
———
Kediaman keluarga Shen berdiri di Distrik Timur, tidak terlalu dekat dengan istana, tidak terlalu jauh dari pasar. Letak yang cermat, seperti segala hal yang dipilih keluarga pejabat yang tidak ingin terlalu menonjol namun juga tidak boleh dilupakan.
Gerbang merahnya sudah dicat ulang. Dua singa batu di kiri dan kanan tampak sama seperti dulu, hanya lumutnya yang lebih tebal. Di bawah atap gerbang, berderet para pelayan dengan kepala tertunduk. Mereka tidak tersenyum, tapi juga tidak tampak asing. Mereka terlalu rapi, seakan sudah berdiri di sana sejak fajar.
Seorang lelaki muda melangkah maju sebelum kereta benar-benar berhenti.
Shen Yucheng.
Ruyin mengenalinya hanya dari matanya. Delapan tahun telah menambah tinggi tubuhnya dan mempertajam garis rahangnya, tetapi mata itu tetap sama, hangat dan agak terlalu cepat berkaca-kaca. Ia mengenakan jubah biru gelap, dan Ruyin menangkap bahwa ujung lengannya sedikit kusut, seolah ia sempat meremasnya berulang kali selagi menunggu.
"Ruyin."
Hanya itu yang ia ucapkan. Namun cara ia mengucapkannya membuat dada Ruyin terasa aneh. Bukan hangat, bukan juga dingin. Lebih seperti seseorang yang menekan bagian tubuh yang sudah lama tidak ia sadari memar.
"Kakak." Ruyin turun dengan bantuan Bibi Qin, lalu membungkuk memberi salam. "Aku pulang."
Yucheng tidak menjawab dengan kata. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu adiknya, ringan, seperti memastikan ia benar-benar nyata. Jari-jarinya sempat gemetar sebelum ia menariknya kembali.
"Kau kurus," katanya akhirnya. Suaranya sedikit serak. "Selatan tidak memberimu cukup makan?"
"Selatan memberiku cukup banyak hal," jawab Ruyin tenang. "Hanya tidak memberiku kabar."
Senyum Yucheng goyah sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut kaget, cukup lama untuk Ruyin perhatikan.
"Ayah terlalu sibuk," katanya cepat. "Dan Ibu... Ibu tidak pandai menulis surat. Masuklah dulu. Ibu sudah menunggumu sejak pagi."
Sejak pagi. Ruyin mengulang kalimat itu dalam hati sambil melangkah melewati gerbang. Surat pemanggilan hanya memberi tahu bahwa ia akan dijemput bulan ini. Tidak ada tanggal pasti. Bagaimana mungkin seseorang menunggu sejak pagi untuk kedatangan yang tidak diketahui harinya?
———
Nyonya Lin menunggu di aula utama.
Ia mengenakan pakaian warna kelabu muda dengan sulaman bunga plum yang nyaris tak terlihat, rambutnya disanggul sederhana, hanya dihiasi satu tusuk konde giok. Ruyin ingat ibunya sebagai perempuan yang tidak pernah berteriak, bahkan ketika marah. Kini ia melihat bahwa ingatan itu benar. Perempuan di hadapannya duduk begitu tenang hingga justru terasa seperti sedang menahan sesuatu yang berat.
"Ibu."
Ruyin berlutut dan memberi hormat dengan dahi menyentuh punggung tangan.
Beberapa saat tidak ada jawaban. Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, ia mendapati ibunya sedang menatapnya. Bukan menatap seperti seorang ibu yang menemukan kembali anaknya, melainkan seperti seseorang yang sedang mencocokkan sesuatu dengan gambaran yang sudah lama tersimpan.
"Bangunlah," kata Nyonya Lin lembut.
Lalu ia tersenyum. Senyum itu sempurna, dan karena itulah Ruyin tahu senyum itu dipersiapkan.
"Perjalananmu pasti melelahkan. Aku sudah meminta dapur menyiapkan sup jahe. Kamarmu juga sudah dirapikan. Semuanya sama seperti dulu."
"Semuanya?" tanya Ruyin.
"Ya. Aku tidak mengubah apa pun."
Ada jeda kecil. Ruyin melihat jari-jari ibunya yang bertaut di pangkuan mengencang sedikit sebelum kembali rileks.
"Terima kasih, Ibu," ucap Ruyin. "Kalau begitu aku akan merasa seperti tidak pernah pergi."
Wajah Nyonya Lin tidak berubah. Namun cangkir teh di tangannya bergeser sedikit, hampir tumpah, sebelum ia menegakkannya kembali.
Yucheng yang berdiri di sisi ruangan berdeham pelan. "Ruyin pasti letih. Biarkan dia beristirahat dulu, Ibu."
"Tentu." Nyonya Lin mengangguk. "Pergilah."
Saat Ruyin berbalik, ia mendengar ibunya berbicara lagi, nyaris berbisik, seolah tidak ditujukan kepada siapa pun.
"Syukurlah kau masih mengenali jalan pulang."
Ruyin berhenti sesaat. Hanya sesaat. Lalu ia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.
———
Kamarnya berada di halaman barat, dengan jendela menghadap kolam kecil yang kini dipenuhi daun teratai layu. Semuanya memang terawat. Ranjang berukir, meja rias dengan cermin tembaga, rak kecil berisi gulungan buku. Bahkan kain sutra di atas bantal masih berbau cendana, seolah baru kemarin dijemur.
Terlalu bersih untuk kamar yang ditinggalkan delapan tahun.
Ruyin berjalan perlahan mengelilingi ruangan itu. Ia menyentuh pinggiran meja, membuka laci rias, memeriksa isi rak. Jari telunjuknya tidak menemukan debu sedikit pun. Di salah satu laci terdapat sisir kayu dan sehelai pita merah yang sudah memudar. Ia mengambil pita itu, mengusapnya dengan ibu jari.
Ia tidak mengingatnya.
Itu bukan hal yang aneh. Ia baru berusia sebelas tahun saat pergi, dan sebelas tahun terlalu muda untuk mengingat semuanya. Tapi ada sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang tidak bisa ia tunjuk dengan jari. Seperti mencoba mengingat nama seseorang yang sudah di ujung lidah.
"Nona." Bibi Qin muncul di ambang pintu membawa nampan. "Sup jahe sudah datang."
"Letakkan di meja."
Pelayan itu menurut. Ia menata mangkuk, sendok, dan sepiring kecil kue kacang hijau dengan gerakan hati-hati. Ruyin memperhatikan bahwa Bibi Qin tidak sekali pun menatap ke arah rak buku.
"Bibi."
"Ya, Nona?"
"Kapan kamar ini terakhir dibersihkan?"
Bibi Qin terdiam lebih lama daripada yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu.
"Tadi pagi, Nona. Nyonya memerintahkannya sendiri."
"Dan sebelum itu?"
"Setiap hari, Nona. Sejak Nona berangkat."
Setiap hari, selama delapan tahun, untuk kamar yang tidak ditempati siapa pun.
Ruyin mengangguk seakan jawaban itu sudah cukup. Ia mengambil sendok dan menyesap sup yang masih mengepul. Rasanya hangat dan sedikit pedas, tepat seperti yang ia sukai. Dan itu juga mengganggunya, karena ia tidak pernah memberi tahu siapa pun di rumah ini bahwa ia lebih suka jahe dengan sedikit lada.
———
Malam turun pelan-pelan.
Setelah makan malam yang berlangsung dalam percakapan sopan dan kosong, Ruyin kembali ke kamarnya dan menyuruh semua pelayan pergi. Ia duduk di tepi jendela, memandangi bayangan pohon di halaman yang bergoyang tertiup angin.
Dari kejauhan terdengar bunyi genta penjaga malam. Lalu sunyi.
Ia mengambil kotak kecil dari dalam bungkusannya, satu-satunya barang yang tidak pernah ia biarkan disentuh siapa pun selama perjalanan. Isinya sederhana: beberapa surat dari tabib tua di Selatan, sebuah cincin giok milik almarhum gurunya, dan secarik kertas catatan perjalanan yang diberikan petugas pos di setiap pemberhentian.
Ia membuka catatan itu dan membaca ulang urutan kota yang telah ia lewati.
Jingzhou. Wuling. Hanshui. Luoyang.
Lalu ia berhenti.
Delapan tahun lalu, ketika ia dikirim ke Selatan, ia pasti melewati jalur yang sama dalam arah sebaliknya. Dan meskipun ingatannya tentang perjalanan itu kabur, ada satu hal yang selalu tertinggal dengan jelas: sebuah jembatan batu panjang di atas sungai berarus deras, tempat kereta mereka berhenti semalam karena badai.
Ia tidak melewati jembatan semacam itu dalam perjalanan pulang kali ini.
Bukan hanya itu. Dalam catatan delapan tahun lalu yang pernah ia lihat di rumah Selatan, kota pemberhentian pertama adalah Yingchuan. Kota itu tidak ada dalam urutan perjalanannya kali ini, dan tidak ada pula jalur yang bisa menghubungkan Chang'an ke Selatan tanpa melewatinya.
Ruyin menutup kertas itu perlahan.
Mungkin ia keliru. Mungkin ingatan sebelas tahun memang tidak bisa diandalkan. Mungkin jalurnya diubah karena banjir atau pembangunan.
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh semua kemungkinan itu: mengapa, untuk pertama kalinya sejak ia berangkat dari Selatan, ia merasa seolah baru saja diantar pulang dengan sengaja melewati jalan yang berbeda.
Ia meniup lilin dan berbaring tanpa memejamkan mata.
Menjelang tengah malam, ketika seluruh kediaman sudah sunyi, terdengar ketukan sangat pelan di pintu. Bukan ketukan pelayan. Terlalu ragu, terlalu pelan.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ruyin bangkit, mengenakan jubah luar, dan membuka pintu.
Lorong kosong. Lentera di ujung koridor bergoyang pelan. Di ambang pintu, tepat di tempat yang akan terinjak siapa pun yang keluar, tergeletak sehelai pita merah yang sudah memudar.
Pita yang sama dengan yang tadi ia temukan di laci rias, yang sore tadi ia kembalikan ke tempatnya dengan tangannya sendiri.
Ruyin berdiri membeku.
Di ujung pita itu, tersulam dengan benang yang lebih gelap, terdapat satu karakter kecil yang tidak ia lihat sebelumnya:
Pulang.