Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Memancing Mereka Saling Menggigit
Aldi menunggu Nadia mandi sebelum mengambil ponselnya.
Ia tahu enam digit kode layar karena Nadia sering membukanya di depan wajahnya. Selama ini Aldi tidak pernah peduli. Mereka sama-sama berbohong dalam ukuran kecil dan menganggap itu bagian dari kerja sama.
Pesan anonim semalam mengubah ukuran kebohongan itu.
Di folder percakapan yang disembunyikan, ia menemukan nama kontak `C-P`. Isinya puluhan pesan berbahasa Inggris dan beberapa dokumen pembayaran dari Cheron Parfums.
Nilai kontrak sebenarnya hampir tiga kali lipat dari angka yang Nadia tunjukkan di kafe.
Aldi membaca pembagian dana.
Ada jadwal transfer bertahap, biaya laboratorium, dan bonus eksklusivitas yang tidak pernah Nadia sebut. Dalam satu pesan, Nadia bahkan meminta tiket satu arah setelah pembayaran akhir. Tujuannya disamarkan, tetapi tanggal keberangkatan hanya empat hari setelah penyerahan formula.
Di folder lain, Aldi menemukan foto identitasnya sendiri dan dokumen perusahaan lamanya. Semua sudah disiapkan untuk menjadikan transaksi seolah dilakukan atas nama Aldi jika Cheron menuntut.
Kemarahan menghapus sisa rasa bersalah.
Ia membuat salinan bukan untuk menyerahkan diri, melainkan untuk menekan Nadia. Namun setiap foto yang disimpan juga mengikat namanya pada rencana yang sama.
Namanya tidak tercantum.
Nadia berencana menerima seluruh pembayaran melalui rekening luar, melunasi sebagian utang ibunya, lalu pergi setelah formula dikirim. Pesan terakhir menyebut Aldi sebagai `local contact yang bisa dikorbankan jika ada masalah`.
Suara air berhenti.
Aldi cepat memotret layar dengan ponselnya sendiri, mengirim salinan ke surel baru, lalu menaruh perangkat Nadia di tempat semula.
Ketika Nadia keluar, ia tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
"Hari ini kita ambil formula kedua," kata Nadia. "Nilainya lebih tinggi."
"Berapa?"
"Dua kali yang pertama."
Aldi menatap wajahnya. "Yakin cuma dua kali?"
Nadia berhenti mengeringkan rambut. "Maksudmu?"
"Nggak ada. Aku cuma mau semuanya tertulis."
Untuk pertama kalinya, Nadia menyadari Aldi mungkin tidak sebodoh yang ia kira.
***
Rabu siang, kabar tentang proyek `Arunika Reserve` beredar melalui jalur yang sangat terbatas.
Seorang koordinator vendor menerima memo resmi bahwa folder uji baru memerlukan pengecekan kompatibilitas. Memo itu sah, tetapi tidak memberi izin mengunduh formula. Dalam percakapan makan siang yang direkam atas persetujuannya sendiri, koordinator tersebut menyebut nama proyek ketika Nadia terus bertanya tentang pekerjaan premium.
"Katanya nilainya lebih besar dari lini melati-cendana," ujar koordinator.
"Aku cuma perlu tahu jadwal desain," jawab Nadia.
"Desain belum mulai. Dan kartu vendor kita nggak punya akses formula. Jangan cari masalah."
Nadia tertawa kecil. "Santai. Aku nggak akan menyentuh apa-apa."
Empat jam kemudian, gateway K-17 mencoba membuka folder itu.
Di ruang audit, kepala IT melihat notifikasi pertama.
"Dia masuk ke halaman indeks."
Bu Ratna mengangkat tangan. "Jangan lakukan apa pun. Pastikan sistem nyata tetap terpisah."
Liana berdiri di belakang layar. Jantungnya berdetak cepat, tetapi wajahnya tenang.
Percobaan kedua meminta token.
Percobaan ketiga memakai cache curian yang sama.
Folder terbuka.
Satu file `ARUNIKA_MASTER.pdf` disalin. Penanda digital unik menempel pada salinan tersebut, mengikatnya pada waktu, gateway, dan sesi perangkat.
Liana melihat garis kemajuan bergerak dari nol hingga seratus persen.
Dalam kehidupan pertama, ia pernah berdiri di depan layar serupa saat formula orang lain dituduhkan kepadanya. Waktu itu ia tidak mengerti mengapa jejak digital bisa berbohong. Sekarang ia tahu setiap sistem memiliki konteks: perangkat, jaringan, waktu, dan orang yang memegang akses.
Satu nama pengguna tidak pernah cukup untuk menceritakan seluruh kebenaran.
Ia memotret bukan layarnya, melainkan papan audit yang menunjukkan dua saksi dan nomor perkara internal. Semua tindakan harus bisa diulang dan dijelaskan oleh orang selain dirinya.
"Tercatat," kata kepala IT.
Bu Ratna memeriksa nilai hash dan meminta auditor kedua menandatangani log. "Sekarang tunggu ke mana file bergerak."
Liana mengembuskan napas perlahan.
Mereka tidak membuat Nadia mencuri. Mereka hanya memberi nama pada pintu yang sengaja ia cari dan merekam saat ia memilih membukanya.
***
Malamnya, Nadia mengirim sampel formula itu ke Cheron melalui portal transfer perusahaan luar negeri.
Ia menambahkan catatan bahwa formula tersebut adalah proyek paling rahasia Tan Group. Penanda digital ikut terkirim. Sistem audit mencatat tujuan domain tanpa membuka isi komunikasi pribadi yang berada di luar kewenangan mereka.
Aldi duduk di meja makan, mengawasi.
"Kapan uangnya masuk?"
"Setelah laboratorium mereka memeriksa."
"Aku mau lihat kontrak asli."
"Nanti."
"Kenapa nanti?"
Nadia menutup laptop. "Karena aku yang melakukan semua pekerjaan. Kamu cuma membawa nama dan beberapa kontak. Jangan tiba-tiba merasa penting."
"Tanpa aku, kamu nggak tahu apa-apa soal divisi parfum."
"Tanpa aku, utangmu tetap menenggelamkanmu."
Aldi berdiri. "Dan tanpa uang Cheron, arisan ibumu akan menyeret kita semua."
Wajah Nadia berubah.
"Jangan bawa Ibu."
"Orang-orang sudah mulai menagih di Instagram. Aku lihat komentarnya."
Ponsel Nadia berdering. Ibu Nadia menelepon untuk ketujuh kali hari itu. Dua puluh tiga anggota arisan menuntut pembayaran. Tiga orang sudah mengunggah bukti transfer dan menyebutnya investasi bodong.
Nadia menolak panggilan.
"Begitu uang masuk, semuanya selesai," katanya.
Aldi tidak percaya lagi.
Ia diam-diam menyalakan perekam suara di saku.
***
Kamis sore, Liana menyusun bukti terbaru di kantor Bu Ratna.
Log gateway, salinan hash file umpan, tujuan pengiriman, dan pernyataan sukarela koordinator vendor disimpan terpisah. Tidak ada satu pun berasal dari pembobolan ponsel Nadia oleh tim mereka.
"Aldi mungkin juga menyimpan bukti sendiri," kata Liana.
Renard yang berdiri di dekat jendela menoleh. "Kenapa?"
"Kalau merasa dikhianati, dia selalu mencari cara agar kesalahan terlihat lebih besar di pihak orang lain."
"Kamu mengenalnya sangat baik."
"Terlalu baik."
Keheningan singkat lewat. Renard tidak menggali masa lalu itu.
Liana mengirim ringkasan resmi kepadanya.
`Jaringnya hampir penuh.`
Renard membaca, lalu memandang perempuan yang tenang di depan tumpukan bukti. Cara Liana menahan emosi, membaca risiko, dan tetap memberi lawan pilihan untuk menghancurkan dirinya sendiri terasa sangat akrab.
Seperti seseorang yang selalu membiarkan Renard memilih berhenti dalam kegelapan.
Ponsel Bu Ratna berbunyi.
Sebuah surel diteruskan oleh kuasa hukum Cheron yang merespons jalur resmi Tan Group.
`Sampel telah diterima. Namun hasil laboratorium menunjukkan ini bukan formula produksi yang valid. Jika pengiriman ini merupakan penipuan, kami akan menuntut ganti rugi sepuluh kali nilai kesepakatan.`
Di tempat lain, Nadia membaca surel yang sama.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
Ia menelepon Aldi. Tidak diangkat.
Ia menelepon kontak Cheron. Sambungan ditolak.
Lalu Ibu Nadia mengirim foto kerumunan kecil di depan pagar rumah, masing-masing membawa bukti transfer dan menuntut uang kembali.
Untuk pertama kalinya, tiga kebohongan Nadia bertabrakan pada hari yang sama.
Formula palsu. Pembagian uang palsu. Janji arisan palsu.
Tidak ada lagi tempat aman untuk menyimpan semuanya.