Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ujian Formasi Ganda
Malam setelah simulasi kelima yang akhirnya berhasil mereka selesaikan dengan rapi, Chu Feng masih terjaga di kamarnya, pikirannya dipenuhi rasa puas yang jarang sekali ia rasakan—bukan kepuasan karena menang sendirian, melainkan kepuasan karena menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Hei bergelung di sampingnya, sesekali mendengus pelan dalam tidurnya, seolah turut merasakan ketenangan yang menyelimuti tuannya malam itu. Tombak Awan Kelabu tersandar di dinding dekat ranjang, bilahnya berkilau samar di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kecil kamarnya.
"Kau tersenyum lagi," komentar suara di dalam dirinya, nada geli yang sudah menjadi ciri khasnya setiap kali menangkap perubahan suasana hati Chu Feng.
Aku hanya memikirkan hari ini, Chu Feng membalas dalam hati, masih terjaga meski tubuhnya lelah. Rasanya berbeda, menyelesaikan sesuatu bersama orang lain, bukan sekadar sendirian seperti biasanya.
"Perasaan yang wajar," suara itu menjawab, nadanya lebih lembut dari biasanya. "Bahkan seseorang dengan warisan sebesar dirimu tetap membutuhkan orang lain di sekitarnya. Itu bukan kelemahan, Pangeran Ketujuh—itu salah satu bentuk kekuatan yang paling sering diremehkan."
Chu Feng memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap dalam-dalam sebelum akhirnya tertidur, tidak menyadari bahwa keesokan harinya, ujian yang jauh lebih berat sudah menanti mereka.
Pagi itu, ketika kelima anggota tim berkumpul seperti biasa di lapangan latihan khusus, mereka disambut dengan pemandangan yang tidak terduga—bukan hanya Tetua Wang yang menunggu, melainkan juga Tetua Feng dan Tetua Mei, masing-masing berdiri dengan ekspresi serius yang jauh berbeda dari suasana latihan santai hari-hari sebelumnya.
"Hari ini," kata Tetua Feng, melangkah maju dengan sikap tegas khas seorang ahli pedang, "kalian akan menghadapi ujian yang berbeda. Bukan lagi melawan boneka latihan sederhana, melainkan melawan kami bertiga secara langsung, dalam simulasi formasi ganda."
Gumaman cemas menyebar di antara kelima murid itu. Melawan tiga tetua sekaligus, bahkan dalam simulasi latihan, adalah tantangan yang jauh melampaui apa pun yang pernah mereka hadapi sejauh ini.
"Jangan khawatir," Tetua Mei menambahkan, senyum tipis terlihat di wajahnya yang biasanya tenang, "kami tidak akan menyerang dengan kekuatan penuh. Tapi kami ingin menguji sesuatu yang lebih penting dari sekadar kekuatan mentah—bagaimana kalian beradaptasi ketika formasi yang sudah kalian latih tidak lagi berjalan sesuai rencana."
Chu Feng saling melirik dengan Liu Bo, keduanya menyadari bahwa ujian ini akan menguji bukan hanya kekuatan fisik, melainkan fleksibilitas dan kemampuan berpikir cepat di bawah tekanan—sesuatu yang belum pernah benar-benar mereka latih secara mendalam.
Simulasi dimulai dengan formasi standar yang telah mereka kuasai—Chu Feng dan Liu Bo di depan, dua penopang tengah di posisi mendukung, Jiang Rou di belakang mengatur sinyal formasi. Namun tidak butuh waktu lama sebelum Tetua Feng, dengan kecepatan yang jauh melampaui simulasi boneka latihan sebelumnya, menerobos masuk ke tengah formasi mereka, memisahkan Chu Feng dari sisa tim dengan satu gerakan cepat.
"Formasi kalian terlalu kaku!" seru Tetua Feng, pedangnya berkelebat cepat namun terkendali, jelas sengaja tidak menggunakan kekuatan penuh meski tekanannya tetap terasa nyata. "Musuh sesungguhnya tidak akan menunggu kalian bersiap!"
Chu Feng, terpisah dari timnya, merasakan insting lama untuk bertarung sendirian mulai muncul kembali—namun kali ini, ia menahan diri, mengingat pelajaran dari hari-hari sebelumnya. Alih-alih memaksakan diri melawan sendirian, ia berteriak memberi sinyal pada Jiang Rou.
"Aku terpisah! Butuh dukungan formasi darurat!"
Jiang Rou, meski sedikit terkejut dengan situasi yang tidak terduga, bergerak cepat mengaktifkan pola formasi cadangan yang belum pernah mereka uji sebelumnya—sebuah formasi sederhana namun efektif untuk menarik kembali anggota tim yang terpisah, memperkuat jalur energi di antara mereka meski jarak fisik memisahkan.
Sensasi hangat yang familiar menjalar dari tulang belakang Chu Feng ketika formasi darurat itu mulai bekerja, memberinya sedikit tambahan kecepatan untuk melompat kembali ke arah timnya, menghindari serangan lanjutan Tetua Feng dengan margin yang tipis namun cukup.
Di sisi lain lapangan, Tetua Mei mulai menguji dua penopang tengah dengan serangkaian ilusi formasi yang membingungkan, memaksa mereka mengandalkan komunikasi verbal dengan Liu Bo untuk tetap terkoordinasi meski penglihatan mereka sempat terganggu. Liu Bo, yang biasanya lebih mengandalkan kekuatan fisik dibandingkan strategi, kini dipaksa berpikir cepat, mengarahkan kedua rekannya dengan instruksi singkat namun jelas—sebuah peran kepemimpinan kecil yang belum pernah benar-benar ia jalani sebelumnya.
Simulasi itu berlangsung hampir dua puluh menit penuh—jauh lebih lama dan lebih melelahkan dibandingkan simulasi-simulasi sebelumnya, menguras tidak hanya qi mereka namun juga ketahanan mental untuk terus beradaptasi di tengah kekacauan yang sengaja diciptakan ketiga tetua.
Ketika akhirnya Tetua Wang mengangkat tangannya, menghentikan simulasi dengan sebuah tanda formasi sederhana, kelima murid itu ambruk kelelahan di tanah, napas mereka memburu namun wajah mereka—meski penuh peluh—menunjukkan sesuatu yang baru: kepercayaan diri yang telah teruji, bukan sekadar dilatih.
"Cukup baik," komentar Tetua Feng, mengangguk puas meski nada suaranya tetap tegas seperti biasa. "Kalian tidak sempurna—masih ada banyak celah dalam koordinasi kalian. Tapi kalian menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada kesempurnaan: kemampuan beradaptasi ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan."
Tetua Mei mengangguk setuju, matanya menatap Jiang Rou dengan bangga. "Formasi daruratmu bekerja dengan baik, Jiang Rou. Improvisasi semacam itu tidak diajarkan di kitab manapun—itu murni hasil pemahaman mendalam tentang timmu sendiri."
Jiang Rou tersipu sedikit mendengar pujian itu, namun cepat mengalihkan pandangan ke arah Chu Feng. "Aku tidak akan bisa melakukannya kalau Chu Feng tidak segera memberi sinyal. Kepercayaan itu berjalan dua arah."
Chu Feng tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang tidak biasa menjalar di dadanya—bukan lagi rasa hormat semata terhadap kemampuan Jiang Rou, melainkan pengakuan tulus bahwa keberhasilan hari ini adalah hasil kerja sama, bukan pencapaian individu siapa pun.
Malam harinya, ketika kelima anggota tim duduk bersama di dapur umum sekte, menikmati makan malam yang terasa lebih lezat dari biasanya berkat rasa lelah yang memuaskan, Liu Bo tiba-tiba angkat bicara.
"Aku baru sadar sesuatu hari ini," katanya, nada suaranya lebih serius dari biasanya. "Selama ini aku selalu berpikir kekuatanku terletak pada seberapa keras aku bisa memukul atau seberapa cepat aku bisa menyerang. Tapi hari ini, aku justru merasa paling berguna saat memberi instruksi pada yang lain, bukan saat menyerang sendirian."
"Itulah intinya," Zhao Lin menjawab, tersenyum bijak seperti biasa. "Kekuatan sejati sebuah tim bukan soal siapa yang paling kuat secara individu, melainkan bagaimana setiap orang menemukan peran yang paling tepat untuk dirinya, lalu mempercayakan peran lain pada rekan-rekannya."
Chu Feng mendengarkan percakapan itu sambil mengunyah pelan, pikirannya melayang pada tujuh belas tahun kehidupannya di istana—bertahun-tahun bersembunyi sendirian, mempercayai tidak seorang pun sepenuhnya karena takut dikhianati atau dimanfaatkan. Di sini, di sekte kecil yang jauh dari kemewahan istana, ia justru menemukan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki sebelumnya—kepercayaan yang tulus, dibangun bukan dari kepentingan politik, melainkan dari kerja keras dan pengorbanan bersama.
"Kau semakin jauh dari topeng yang dulu kau kenakan," komentar suara di dalam dirinya, nada hangat yang jarang sekali terdengar. "Perjalanan ini mengubahmu, Pangeran Ketujuh—dan menurutku, perubahan ini adalah salah satu hal terbaik yang bisa terjadi padamu."
Chu Feng tersenyum dalam hati, menatap keempat rekan timnya yang kini tertawa bersama membahas rencana latihan esok hari. Dua bulan menuju kompetisi masih terbentang panjang di hadapan mereka, dengan segala tantangan dan bahaya yang mungkin masih tersembunyi di baliknya—namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kerajaan Chu, ia merasa benar-benar tidak sendirian dalam menghadapinya.