Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Bandit
"Kalian tunggu di sini..."
Sang kusir melangkah turun dari kereta lalu berjalan menghampiri sekumpulan orang yang mendirikan kemah di tengah rapatnya pepohonan. Tebakan kami meleset jauh; tempat itu bukanlah desa atau permukiman, melainkan hanya titik kumpul beberapa kelompok orang.
Tapi tak lama kemudian—
"Hei, apa-apaan yang kalian lakukan?!" teriak pria tua itu mendadak.
"Lyan, kau mendengar suara keributan di luar?" tanya Steven menoleh padaku.
"Sepertinya ada masalah di luar sana."
Saat menyibak jendela kereta, kami mendapati sang kusir sudah disekap. Menyadari keberadaan kami, beberapa pria bersenjatakan pedang dan panah langsung melangkah mendekat dengan posisi siap menyerang. Sementara itu, beberapa wanita menarik sang kusir secara paksa ke arah belakang perkemahan.
"Tebakan kita salah!" seruku. "Ini sarang bandit!"
"Bagus! Inilah saatnya aku beraksi!" seru Sandra antusias sambil menarik pedang dari sarung pedangnya. "Aku sudah muak dengan kebosanan sepanjang jalan ini!"
"Tung—"
"Mau tunggu apa lagi, Lyan?! Jangan bilang kau berniat membiarkan orang tua menyedihkan itu tewas di tangan mereka?!"
Sebelum gadis itu melompat keluar, aku menyambar pergelangan tangannya.
"Bukan begitu. Aku cuma mau memberikan buff padamu."
Aku menyalurkan arus Mana ke dalam tubuhnya lalu melepaskannya. Sandra menggerakkan pergelangan tangannya sejenak, lalu menatapku.
"Terima kasih! Kalau begitu, ayo kita habisi para bandit tak berguna ini!"
Sandra melompat menerjang dan langsung melancarkan tebasan cepat.
"Argh!" jerit salah seorang bandit saat lengannya tertebas. Bandit lainnya bergegas maju untuk membantu rekannya yang terluka.
"Beri aku buff juga, Lyan!" pinta Steven.
Usai menyalurkan Mana ke tubuh Steven, aku mengangguk pelan. Ia pun melompat turun dari kabin untuk menyusul Sandra ke garis depan.
Aku sendiri memilih tetap berada di dalam kereta, sudah bisa menebak bagaimana pertempuran ini akan berakhir.
"... Kemari kalian!" tantang Sandra bersemangat.
Enam orang bandit langsung mengurungnya sekaligus. Namun, Sandra berhasil menahan gempuran senjata mereka menggunakan pedang barunya yang telah diperbaiki.
"Biar kubantu!" seru Steven berlari mendekat usai merobohkan dua bandit yang nyaris menebas punggung adiknya.
"Jangan ganggu mangsaku!" teriak Sandra kesal.
Tanpa memedulikan protes adiknya, Steven mengayunkan pedang dan menebas bandit yang sedang diincar Sandra. Merasa jengkel, Sandra refleks menendang Steven hingga terdorong ke arah rombongan bandit lain, membuat kakaknya itu kelabakan menahan serangan mendadak.
Melihat situasi mereka berdua mulai kacau, aku menghela napas dan melangkah turun untuk turun tangan. Namun, baru saja kakiku memijak tanah, Steven berhasil merobohkan salah satu bandit musuh.
Seketika itu juga, seluruh bandit yang tersisa mendadak menjatuhkan senjata mereka ke tanah, lalu berlutut dan bersujud massal di hadapan kami.
"Hah...?"
"Terima kasih! Terima kasih banyak!" teriak salah seorang bandit yang sebelumnya sempat menyerang kami. "Kami... kami selama ini dikendalikan olehnya!" tunjuk pria itu dengan tangan gemetar ke arah mayat laki-laki berjubah yang baru saja dirobohkan oleh Steven.
"Tanpa bantuan kalian, kami pasti akan terus terjebak dalam ilusi mengerikan itu!" sambung pria lain di sebelahnya. "Kami bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika kalian tidak muncul... Ooh, di mana Frederica?! Istriku pasti mengalami nasib serupa!"
Rombongan pria yang tadinya garang itu mendadak berhamburan ke segala arah, panik mencari kelompok wanita. Bersamaan dengan kekacauan itu, kami bertiga melangkah menghampiri pria yang masih menundukkan kepala dan gemetar di tanah. Steven merengkuh pundaknya perlahan, membantunya untuk berdiri.
"... Jadi, kalian benar-benar tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan selama ini?" tanya Steven memastikan.
Pria itu menyapu keringat di dahi usai berdiri tegak. "Tidak! Kami sebenarnya sadar sepenuhnya, tapi tubuh kami seperti terikat... kami sama sekali tidak bisa mengendalikan diri sendiri!"
"Di mana para wanita membawa kusir kami?" potongku cepat.
"Mereka membawanya ke kastil tua di ujung sana," tunjuk pria itu ke arah reruntuhan bangunan di balik pepohonan. "Mereka membawanya ke sana untuk disiksa, dipaksa menerima 'Pesan Ilahi' yang terus digaungkan oleh pria yang baru saja kalian bunuh."
Didera rasa penasaran yang membuncah, aku melangkah menghampiri mayat berjubah tersebut. Aku berlutut lalu menyingkap kain penutup wajahnya. Betapa terkejutnya aku saat mendapati pola melingkar aneh di pupil matanya—pola mata yang persis sama dengan milik Lyzeas!
Tepat saat suara langkah kaki Sandra dan Steven mendekat ke posisiku, aku bergegas merapatkan kelopak mata pria itu.
"Ada apa, Lyan?" tanya Steven heran melihat tingkahku.
"Sepertinya kita harus bergegas menjemput kusir kita. Pria berjubah ini... bukan satu-satunya di daerah ini!" balasku berusaha tenang.
"Apa?!" seru Sandra terkejut.
"Benar!" potong pria bandit yang kami selamatkan tadi, membenarkan perkataanku. "Sebelum aku terpengaruh sihir hipnotis itu, aku sempat melihat ada lebih dari selusin pria berjubah seperti dia di sekitar sini. Dan satu lagi... lambang itu!"
"Lambang?" bisikku melirik kembali ke arah mayat.
Menoleh ke jubah pria itu, aku baru menyadari keberadaan sulaman berbentuk lambang Matahari. Tepat saat aku hendak mengamati detailnya lebih dalam, suara teriakan Sandra memecah fokusku.
"Lyan! Steven! Cepat, kita harus jalan sekarang sebelum kusir tua itu kenapa-napa!" teriak Sandra dari kejauhan.
Tanpa membuang waktu, aku segera merobek bagian kain jubah yang terukir lambang Matahari tersebut, lalu menyembunyikannya dengan rapi di balik saku bajuku untuk diperiksa lebih lanjut nanti.
Bersambung...