Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad Antara Takut dan Lega
Pagi itu Ballroom The Langham tidak pernah sesakral itu.
Semua dinding kaca menghadap ke Jakarta yang masih berkabut. Di dalam, semua serba putih. Mawar putih impor bertengger di setiap sudut, anggrek bulan menjuntai, dan kain sutra tipis menggantung dari langit-langit setinggi 10 meter seperti tirai surga. Aroma melati dan kayu cendana menguar pelan, menenangkan.
Tidak ada tamu. Hanya keluarga inti dan saksi. Meja akad dari kayu jati tua sudah siap, di atasnya ada kotak bludru berisi mas kawin.
Dan di depan meja itu, sudah berdiri seorang pria.
Brayen Lucian Alkantara.
CEO yang biasanya kejam itu pagi ini terlihat berbeda. Ia mengenakan tuxedo warna Broken White yang dijahit sempurna mengikuti tubuhnya yang tinggi gagah. Jasnya jatuh pas di bahu bidangnya, kancing obsidian di dadanya berkilau, dasi kupu-kupu putih patah menambah kesan mahal dan berwibawa. Rambutnya yang biasanya berantakan karena kerja, kini disisir rapi ke belakang, hanya beberapa helai yang jatuh di dahi, membuatnya terlihat gugup. Terlihat... manusia.
Tangannya mengepal. Bukan karena marah. Tapi karena ia menahan degup jantungnya yang tidak pernah sekeras ini, bahkan saat ia mengakuisisi perusahaan triliunan rupiah.
Lalu pintu besar ballroom terbuka perlahan.
Semua orang menoleh. Dan semua napas tertahan.
Isyana Maldeva.
Brayen Lucian Alkantara bersumpah, seumur hidupnya ia tidak pernah melihat pemandangan seindah ini.
Isyana mengenakan kebaya modern mode sabrina. Kebaya itu dijahit pas di badannya yang indah. Warna broken white nya senada dengan tuxedo Brayen, bertabur payet kristal halus yang dijahit satu per satu seperti embun pagi. Model sabrina nya terbuka dengan anggun, memperhatikan bahu dan lehernya yang jenjang, putih bersih, tulang selangkanya terlihat samar begitu indah dan rapuh. Kebaya itu memeluk pinggang rampingnya, lalu jatuh menyatu dengan kain batik tulis berwarna gading keemasan yang dililit sempurna.
Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai panjang pagi ini. Tidak disanggul berat. Hanya dibiarkan jatuh bebas, hitam legam, bergelombang lembut hingga ke pinggang. Dan di atas kepalanya, menghiasi rambut terurai itu, ada tiara kecil yang sangat cantik. Bukan mahkota besar yang norak, hanya tiara tipis bertabur kristal yang berkilau setiap terkena cahaya lampu kristal di atas. Tiara itu membuat Isyana terlihat seperti seorang putri yang akhirnya pulang.
Di tangan kanannya, ia memegang buket kecil mawar putih.
Ia berjalan. Pelan. Sangat pelan. Setiap langkahnya ragu, seperti takut lantai marmer di bawahnya akan retak.
Pak Albert berjalan di sampingnya, menjadi wali. Wajah ayahnya pucat, matanya sembab menahan tangis dan rasa bersalah bertahun-tahun.
Brayen Lucian Alkantara tidak bisa berkedip.
Leher jenjang itu. Bahu halus yang terekspos kebaya sabrina itu. Rambut panjang terurai dengan tiara kecil itu. Ya Tuhan... ini Isyana Maldeva. Model yang biasanya ia lihat di atas catwalk dengan gaun mahal, kini berdiri menuju tempat akad nikah untuk menjadi istrinya.
Istrinya.
Kata itu menghantam dada Brayen Lucian Alkantara lebih keras dari apapun.
Isyana akhirnya sampai. Ia berdiri di samping Brayen. Jaraknya hanya satu jengkal. Brayen bisa mencium wangi rambut Isyana. Wangi melati yang lembut. Wangi yang tiba-tiba terasa lebih mahal dari semua parfum di dunia.
Penghulu tersenyum.
"Ananda Brayen Lucian Alkantara bin Louis Alkantara, sudah siap?"
Brayen menelan ludah. Suaranya yang biasanya dingin dan memerintah, pagi ini serak.
"Siap."
"Ananda Isyana Maldeva, walinya sudah siap?"
Pak Albert mengangguk dengan air mata yang sudah menggenang.
"Siap, Pak Penghulu."
Khutbah nikah dibacakan. Suaranya sahdu, tentang sakinah, mawaddah, warahmah. Tentang bagaimana pernikahan adalah ibadah terpanjang.
Isyana menunduk. Bahunya yang indah dalam kebaya sabrina itu naik turun karena menahan napas. Tiara kecil di kepalanya sedikit bergetar.
Lalu saatnya ijab.
Pak Albert menarik napas panjang. Ia genggam tangan putrinya untuk terakhir kali sebagai seorang ayah yang menyerahkan.
"Ananda Brayen Lucian Alkantara bin Louis Alkantara," suara Pak Albert pecah dan bergetar hebat, "Saya nikahkan dan saya kawinkan putri kandung saya, Isyana Maldeva binti Albert Prasetya, kepada engkau dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian dan uang logam mulia 100 gram dibayar tunai."
Hening. Hening yang begitu panjang.
Satu detik bagi Isyana terasa seperti seumur hidup.
Jantungnya berdegup kencang di balik kebaya sabrina yang pas di badannya. Ia takut. Sangat takut. Apakah setelah ijab ini ia akan disakiti lagi? Apakah Brayen Lucian Alkantara yang kejam ini akan sama jahatnya dengan Rina? Apakah kontrak 1 tahun harus punya anak itu akan menjadi neraka baru?
Tapi di sisi lain, ada rasa lega yang begitu besar hingga dadanya sesak. Lega karena mulai detik ini, ia tidak akan pernah lagi melihat wajah Rina yang membentak, tidak akan lagi gaunnya disobek, tidak akan lagi tidur di gudang. Ia bebas. Akhirnya bebas dari rumah Rina.
Air matanya menetes. Satu tetes. Jatuh di atas payet kebayanya.
Brayen Lucian Alkantara melihat tetes itu.
Dengan suara yang tegas, jelas, lantang, menggema ke seluruh ballroom, ia menjawab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Isyana Maldeva binti Albert Prasetya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Seketika...
"SAH!" ucap saksi serempak.
"SAH!" ucap penghulu.
Sah. Resmi.
Isyana Maldeva kini resmi menjadi Nyonya Isyana Maldeva Alkantara.
Tangis Isyana yang ia tahan pecah seketika. Bukan tangis meraung. Tapi tangis lirih, bahunya berguncang dalam kebaya sabrina nya, rambut panjangnya yang terurai dengan tiara kecil itu ikut bergetar. Ia menangis antara takut dan lega. Takut apakah nanti dia akan disakiti atau dicintai? Lega karena sudah terlepas dari penderitaan di rumah Rina.
Melihat itu, Brayen Lucian Alkantara tidak peduli lagi dengan semua gengsi CEO kejamnya.
Perlahan, dengan tangan besarnya yang biasanya kejam, ia mengulurkan tangan, menghapus air mata di pipi Isyana dengan ujung jarinya. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut merusak makeup natural Isyana dan tiara kecilnya.
"Jangan menangis," bisik Brayen Lucian Alkantara, begitu pelan hanya Isyana yang dengar. Suaranya pecah, lembut, bukan lagi suara CEO kejam. "Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh menyentuhmu. Bahkan aku pun tidak akan berani menyakitimu, Isyana Maldeva."
Isyana mendongak. Mata sembabnya bertemu dengan mata Brayen Lucian Alkantara yang sejak tadi terpesona melihat kecantikannya pagi itu. Leher jenjangnya masih naik turun karena isak.
Di mata Brayen, untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kekejaman. Ia melihat janji. Janji penjagaan.
Di pagi yang paling sahdu itu, dengan kebaya modern sabrina yang pas di badan indahnya yang memperlihatkan bahu dan leher jenjangnya, rambut terurai panjang dengan tiara kecil, dan Brayen Lucian Alkantara dengan tuxedo Broken White yang gagah, akad itu selesai.
Dengan kecupan Brayen Lucian Alkantara di kening Isyana Maldeva
Dua manusia yang dipertemukan oleh kontrak 1 tahun, kini terikat oleh kalimat suci. Bukan karena cinta. Belum.
Tapi takdir baru saja mulai memihak pada Isyana Maldeva.