NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 STRATEGI SUNYI DI RIMBA BORNEO

Udara pagi di kawasan industri "PT Borneo Green Wood" terasa begitu berat, pekat oleh uap kelembapan hutan hujan tropis Kalimantan dan sisa-sisa abu pembakaran hitam yang masih menempel di beberapa sudut dinding gudang dari insiden teror beberapa malam lalu. Di sebuah pondok pengawas tua dan lapuk yang terletak tersembunyi di tepi batas konsesi pabrik—jauh dari kebisingan gedung administrasi utama "Raka Ardian dan Arga" duduk bersila berhadap-hadapan di atas selembar tikar usang yang mulai berserabut.

Di hadapan mereka berdua, terbentang lebar sebuah peta topografi kertas berukuran besar yang memuat detail rinci denah kawasan pabrik, alur jalan logistik kayu, kontur perbukitan curam, hingga titik-titik koordinat strategis tempat kelompok preman bayaran musuh biasa mendirikan pos persembunyian.

Meskipun kekasih mereka masing-masing Nadia dan Min-ji saat ini sedang menikmati ketenangan mutlak, udara sejuk pegunungan, dan pemandangan air danau yang jernih di Lakeside Green Resort yang berjarak puluhan kilometer dari zona merah konflik, Raka tahu betul bahwa waktu mereka tidak banyak.

Kelompok preman liar pimpinan algojo Jaka dan dalang intelektual di baliknya, yaitu pengusaha serakah Pak Prabowo, tidak akan pernah tinggal diam setelah upaya pembakaran fasilitas pabrik sebelumnya mengalami kegagalan total akibat perlawanan sengit Arga. Mereka pasti sedang merencanakan gelombang serangan susulan yang jauh lebih besar, brutal, dan terorganisir untuk menghancurkan seluruh aset perusahaan secara permanen.

"Bagaimana hasil pemantauanmu di sekitar perkampungan dan jalur logistik sebelah barat semalam, Arga?" tanya Raka dengan suara tenang namun penuh wibawa, jemarinya yang lentik menunjuk ke sebuah titik merah di peta bertanda dusun transmigrasi terpencil.

Arga menghela napas panjang, menghembuskan udara panas dari dadanya, lalu mengepalkan tangan kanannya dengan erat di atas lutut. Urat-urat di lengannya tampak menegang. "Sesuai dengan dugaan awal kita, Raka. Pak Prabowo ternyata menyewa preman-preman bayaran kelas kakap dari luar pulau dan sengaja menempatkan mereka di sebuah bekas gudang pengeringan kayu ilegal miliknya yang tersembunyi di balik bukit barat.

Mereka dibayar dengan nominal yang sangat besar untuk terus-menerus memprovokasi warga lokal agar membenci perusahaan kita. Jika kita gegabah menyerang secara frontal dengan melibatkan aparat kepolisian setempat, proses birokrasinya terlalu berbelit-belit dan lambat, dan para preman licik itu pasti sudah kabur membawa seluruh dokumen transaksi gelap sebelum polisi sempat datang."

Raka terdiam sejenak, menutup matanya rapat-rapat untuk meresapi getaran energi di sekitarnya. Pikirannya yang sangat tajam, yang selama ini ditempa oleh keheningan meditasi serta intisari ajaran Welingan Sejati, langsung merumuskan sebuah taktik penyusupan yang bersih, sangat efektif, dan meminimalkan pertumpahan darah yang tidak perlu.

Sebagai seorang tabib sekaligus petarung berilmu tinggi, Raka sama sekali tidak berniat membalas kekerasan membabi buta dengan kehancuran liar, melainkan memilih untuk memotong kepala ular berbisa itu agar seluruh tubuhnya lemas dan mati tak berdaya dengan sendirinya.

"Kita tidak perlu membuang tenaga untuk menyerang mereka secara bergerombol atau terang-terangan, Arga," ucap Raka perlahan, sorot matanya membuka dan memancarkan kilatan cahaya keperakan yang tajam. "Kita gunakan strategi penyusupan senyap. Malam ini, tepat saat pergantian rotasi jaga malam mereka, kita berdua menyusup masuk langsung ke sarang utama mereka di gudang barat tanpa menimbulkan suara sedikit pun."

Arga menaikkan sebelah alisnya, tersenyum sinis penuh antisipasi dan rasa penasaran.

"Penyusupan senyap ke jantung pertahanan musuh? Menarik sekali. Apa garis besar rencana khususnya, sepupu?"

Raka mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah peta, merinci setiap butir strategi matang di hadapan sepupunya itu dengan intonasi suara yang terukur.

"Pertama, kita harus melumpuhkan sistem komunikasi radio dan pos pengawasan terluar mereka terlebih dahulu tanpa menimbulkan keributan sekecil apa pun. Kedua, kita buru pemimpin lapangannya si Jaka secara langsung, dan paksa dia menyerahkan buku catatan aliran dana serta daftar nama lengkap pejabat lokal yang selama ini menyokong aksi suap dan pengerusakan Pak Prabowo.

Dan ketiga... kita berikan sedikit 'kejutan psikologis' yang mendalam menggunakan teknik pernapasan batin Welingan Sejati agar para preman bayaran itu lari ketakutan tunggang-langgang tanpa sempat mengangkat senjata untuk melawan."

Mendengar penjelasan taktik yang begitu rapi dan penuh perhitungan itu, Arga tertawa kecil tertahan, merasa bahwa rencana tersebut sangat pas dan seirama dengan gaya bertarung mereka sebagai sesama pewaris ilmu leluhur.

"Ah, membuat mereka ketakutan setengah mati hingga mengira hutan rimba ini dipenuhi hantu penasaran? Aku sangat menyukai cara itu, Raka. Sudah terlalu lama preman-preman bayaran itu membuat Min-ji, ayah mertuaku, dan para pekerja pabrik hidup dalam ketakutan serta kecemasan setiap malam."

Selepas matahari tenggelam dan waktu magrib berlalu, ketika kegelapan malam yang pekat sempurna menyelimuti rimbunnya kanopi hutan purba Borneo dan suara serangga malam berderik nyaring tanpa henti, kedua saudara seperguruan itu mulai bergerak laksana bayangan angin malam.

Mengenakan pakaian serba gelap yang menyatu dengan kelamnya rimba, Raka dan Arga melangkah ringan menyusuri jalan setapak rahasia di balik rimbunnya semak belukar, berjalan tanpa suara menuju sarang utama kelompok preman pimpinan Jaka.

Malam itu, di bawah temaram cahaya bulan sabit yang terhalang lebatnya dedaunan, babak penentuan pembersihan tirani korupsi dan kekerasan di tanah Borneo resmi dimulai dalam kesunyian malam.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!