Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Buku Misterius
Tiga hari setelah kejadian di ruang rahasia, Zhou Chen masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kemampuan barunya.
Setiap kali matanya bersinggungan dengan sesuatu—baik itu benda mati, tumbuhan, maupun makhluk hidup—informasi akan muncul begitu saja di hadapannya, melayang dalam bentuk aksara bercahaya yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri. Awalnya ia harus menahan diri agar tidak terlihat aneh di depan pelayan istana—terlalu sering melamun sambil menatap benda-benda di sekitarnya bisa membuat orang curiga.
Namun pagi ini, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar menganalisis tikus atau vas bunga.
Di dalam peti kayu tua yang tersimpan di sudut ruang rahasia—peti yang nyaris ia lewatkan saat malam ia menemukan Mata Dewa—tergeletak sebuah buku bersampul kulit gelap, tanpa judul, tanpa aksara apa pun di sampulnya. Ketika Zhou Chen membukanya, ia mendapati bahwa seluruh halamannya kosong.
Buku kosong disimpan sedemikian rupa di ruang rahasia kerajaan? Ini pasti bukan sekadar kertas biasa.
Ia mencoba mengarahkan Mata Dewa ke buku itu.
??? — Tidak Dapat Dianalisis Objek ini berada di luar jangkauan kemampuan saat ini.
Zhou Chen mengerutkan kening. Ini adalah pertama kalinya Mata Dewa gagal memberinya informasi apa pun. Rasa penasarannya justru semakin membara.
Ia membawa buku itu kembali ke kamarnya, menyembunyikannya di balik tumpukan gulungan laporan yang sengaja ia minta dari kepala pelayan—alasan yang ia buat-buat agar tidak dicurigai belajar hal-hal "aneh" di luar kebiasaan seorang pangeran petualang.
Kesempatan untuk menguji buku itu datang lebih cepat dari yang ia duga.
Sore harinya, salah satu pengawal pribadi Zhou Li yang lama—seorang pemuda bernama Ah Fu, yang selama ini selalu setia mengikutinya meski sering diabaikan—datang membawa berita.
"Yang Mulia, apakah Anda ingin berlatih pedang seperti biasa?" tanyanya, sedikit ragu. Sejak insiden di hutan, Pangeran Keempat memang jarang meminta latihan pedang lagi—kebiasaan yang sudah berlangsung sejak kecil setiap sore.
Zhou Chen menatap Ah Fu sejenak. Ini kesempatan bagus untuk menguji sesuatu.
"Boleh," jawabnya. "Tapi kali ini, coba perlihatkan dulu jurus dasar yang biasa kau ajarkan padaku."
Ah Fu tampak bingung—biasanya Pangeran Keempat yang berlatih, bukan dirinya yang memperagakan—tetapi ia tetap menurut. Ia mengambil pedang kayu latihan, lalu memperagakan rangkaian gerakan sederhana.
Teknik Pedang Dasar.
Begitu gerakan itu selesai, Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke arah Ah Fu.
Teknik Pedang Dasar (Versi Umum) Jumlah gerakan: 7 Kelemahan: 3 titik lemah pada transisi gerakan ke-3 dan ke-5 Tingkat keberhasilan serangan: 21% Catatan: Tenaga terbuang percuma pada gerakan ke-4 akibat posisi kaki yang salah.
Zhou Chen menahan napas. Ia mendapatkan gambaran yang sangat rinci—bukan hanya sekadar "bagus" atau "buruk", tetapi angka pasti dan penjelasan teknis yang bahkan seorang ahli bela diri berpengalaman mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadarinya.
Tanpa berpikir panjang, ia mencoba sesuatu yang mustahil ia bayangkan bisa berhasil: ia membuka buku kosong itu, lalu membayangkan informasi yang baru saja ia lihat.
Halaman kosong itu tiba-tiba bercahaya lembut.
Aksara mulai muncul satu per satu, seolah dituliskan oleh tangan tak kasat mata:
Teknik Pedang Dasar Versi asli: 7 gerakan, 3 kelemahan, tingkat keberhasilan 21%
Zhou Chen terpaku. Jantungnya berdegup kencang.
"Ini..." gumamnya pelan, "buku ini merekam apa yang dilihat oleh Mata Dewa?"
Malam itu, ia mengurung diri di kamar, mengabaikan makan malam yang biasanya selalu ia habiskan lahap—kebiasaan lama Zhou Li yang masih terbawa di tubuh ini. Ia duduk di meja kerjanya, menatap buku yang kini ia beri nama sementara dalam hati: Kitab Langit Tanpa Akhir, terinspirasi dari perasaan bahwa halaman-halamannya seolah tidak memiliki batas.
Ia mencoba sesuatu yang lebih jauh.
Dengan memusatkan pikirannya pada informasi yang sudah tercatat—tujuh gerakan, tiga kelemahan, tingkat keberhasilan dua puluh satu persen—ia mencoba membayangkan bagaimana seharusnya teknik itu diperbaiki. Bukan sekadar menganalisis, tetapi benar-benar merancang ulang.
Halaman buku itu kembali bercahaya, dan kali ini, sesuatu yang jauh lebih menakjubkan terjadi.
Teknik Pedang Dasar — Versi Sempurna Jumlah gerakan: 12 Tidak ada gerakan sia-sia Konsumsi tenaga berkurang drastis Daya serang meningkat signifikan Dapat digunakan untuk melawan teknik tingkat lebih tinggi
Zhou Chen menatap tulisan itu lama sekali, tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, melainkan karena menyadari betapa besar implikasi dari apa yang baru saja ia temukan.
Kalau begitu... aku tidak hanya bisa melihat kelemahan. Aku bisa memperbaikinya. Menyempurnakannya.
Ia teringat kembali pada ingatan Zhou Li yang lama—tentang jenderal-jenderal kerajaan yang kalah dalam pertempuran bukan karena kurang berani, melainkan karena teknik dan strategi mereka penuh cacat yang tak seorang pun sadari. Tentang prajurit-prajurit yang dibuang karena dianggap tak berbakat, padahal mungkin saja kesalahan sesungguhnya ada pada cara mereka dilatih.
Sebuah gagasan mulai terbentuk di kepalanya, samar namun mulai jelas arahnya.
Kerajaan ini lemah bukan karena tidak punya orang berbakat. Tapi karena tidak ada yang bisa melihat bakat itu dengan benar—dan tidak ada yang tahu cara memperbaikinya.
Untuk pertama kalinya sejak jiwanya terdampar di tubuh ini, Zhou Chen merasakan sesuatu selain kebingungan dan ketakutan.
Ia merasakan kemungkinan.
Keesokan paginya, Ah Fu kembali datang menghadap, membawa laporan rutin sebagaimana biasa. Namun kali ini, Zhou Li—atau lebih tepatnya, sosok baru di dalam tubuh itu—menyambutnya dengan permintaan yang tidak biasa.
"Ah Fu," katanya, sambil menutup gulungan laporan militer yang sejak semalam ia baca dengan cermat. "Ambilkan pedang latihanmu. Aku ingin memperbaiki tekniknya."
Ah Fu terdiam sejenak, tidak yakin apakah ia salah dengar. "Memperbaiki... teknik saya, Yang Mulia?"
"Sejak kapan Yang Mulia memahami hal semacam itu?" tanyanya, tidak bisa menahan rasa herannya.
Zhou Chen tersenyum tipis—senyum yang mulai terasa lebih alami di wajah ini setiap harinya.
"Sejak aku membaca," jawabnya singkat.
Ah Fu tidak sepenuhnya mengerti maksud perkataan itu, tetapi ia tetap menyerahkan pedang latihannya dengan patuh, seperti biasa.
Ia tidak tahu bahwa momen sederhana itu—latihan pedang sore hari yang biasa di halaman belakang istana—akan menjadi langkah pertama dari sesuatu yang, bertahun-tahun kemudian, akan diceritakan orang-orang di seluruh benua sebagai awal mula bangkitnya seorang legenda.