NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 - Dijemput di Tengah Hujan

Hujan turun sebelum magrib, tepat ketika Ratna sampai di kontrakan Melati.

Gang kecil itu becek. Air mengalir di pinggir jalan, membawa daun kering dan bungkus plastik. Di depan rumah kontrakan bercat kuning pucat, sandal laki-laki tersusun rapi di teras.

Rizal yang membuka pintu.

Menantunya itu tersenyum kaku. Kemejanya rapi, rambutnya masih basah seperti baru mandi. Di ruang tengah, Melati duduk dengan map plastik di pangkuan.

Ratna langsung tahu.

Ini bukan pembicaraan ibu dan anak.

Ini rapat kecil.

Ruang tamu kontrakan itu sempit. Meja makan menempel ke dinding, kipas angin berdiri di sudut, dan foto pernikahan Melati-Rizal tergantung di atas televisi. Dalam foto itu, keduanya tersenyum lebar, seolah cicilan belum mengenal alamat mereka.

Melati menyodorkan teh. Ratna tidak menyentuhnya.

"Bicarakan saja."

Senyum Melati menipis.

Rizal membuka map, mengeluarkan brosur apartemen, lalu meletakkannya di meja. Unit studio plus. Akses tol. DP ringan. Cicilan fleksibel. Kata-kata manis yang selalu menyembunyikan angka di belakangnya.

"Kami sedang mencari tempat tinggal yang lebih layak, Bu," kata Rizal. "Kontrakan ini terlalu sempit. Kalau nanti ada anak kedua, susah."

"Kalian mau aku membantu DP," kata Ratna.

Melati menunduk sebentar. "Tidak penuh, Bu. Kami tetap cicil sendiri."

"Berapa?"

"Seratus lima puluh juta," jawab Rizal. Lalu setelah jeda pendek, ia menambahkan, "Kalau bisa dua ratus, lebih aman."

Suara hujan memukul atap seng di belakang rumah.

Ratna menatap menantunya. Rizal mencoba terlihat seperti kepala keluarga yang sedang menyusun rencana, tetapi jemarinya bergerak gelisah di tepi brosur.

"Kalau cicilan macet?"

Rizal diam terlalu lama.

Melati cepat menyahut, "Insyaallah tidak, Bu. Mas Rizal sudah hitung."

Ratna menatap anaknya. Dulu wajah seperti itu muncul saat Melati ingin sepatu baru tetapi takut Ratna menolak. Sekarang yang diminta bukan sepatu. Dan yang dipakai untuk menekan bukan tangis anak kecil, melainkan nama suami, mertua, dan masa depan.

"Aku tidak bisa membantu untuk apartemen."

Ruang tamu langsung terasa lebih sempit.

Melati menggenggam brosur sampai ujungnya melengkung.

"Ini untuk masa depanku."

"Masa depanmu dan Rizal harus kalian bangun sendiri."

Rizal menarik napas panjang. Suaranya dibuat lebih halus.

"Bu Ratna, maaf kalau saya lancang. Tapi sebagai orang tua, wajar membantu anak. Apalagi sekarang Ibu tidak sendirian. Pak Arman pasti tidak keberatan kalau Ibu..."

"Berhenti di situ."

Rizal langsung diam.

Ratna tidak menaikkan suara. Justru karena itu, Melati tampak semakin gelisah.

"Pak Arman bukan ayahmu. Bukan mertuamu. Bukan bank keluarga kita. Jangan bawa namanya untuk membuat permintaanmu terlihat ringan."

Wajah Rizal memerah.

Melati berdiri. "Ibu selalu membuat kami terlihat hina."

"Kalian yang datang membawa brosur dan angka."

"Aku anak Ibu!"

Kalimat itu keluar seperti tamparan yang sudah sering dipakai.

Ratna memandangnya lama. "Karena kamu anakku, aku masih datang meski tahu malam ini akan begini."

Melati menangis. Tangisnya pelan, tidak pecah, tetapi cukup membuat rumah itu terasa penuh air.

"Aku malu, Bu. Keluarga Rizal terus bertanya. Mereka tahu Ibu dekat dengan orang kaya. Mereka bilang, masa anak sendiri masih tinggal di kontrakan."

"Jadi yang harus kutanggung bukan hanya kebutuhanmu, tapi juga malu keluarga suamimu."

Melati terdiam.

Di luar, seorang tetangga lewat membawa payung, melirik ke dalam rumah yang pintunya tidak tertutup rapat. Melati melihat lirikan itu. Wajahnya berubah merah.

"Ibu pulang saja," katanya tiba-tiba.

Rizal menoleh cepat. "Mel."

"Tidak. Kalau Ibu datang hanya untuk membuat kami seperti pengemis, lebih baik Ibu pulang."

Beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Ratna mengambil tasnya.

Ia tidak membanting pintu. Tidak menegur. Tidak meminta anaknya menarik kata-kata itu kembali. Ia hanya berdiri, merapikan kerudung, lalu berjalan ke teras.

Hujan menampar wajahnya begitu pintu terbuka.

Di belakangnya, Melati tidak memanggil.

Rizal juga tidak keluar.

Ratna berdiri di teras kecil, membuka aplikasi ojek online. Tidak ada pengemudi dekat lokasi. Jalan depan gang sudah tergenang. Angin membawa cipratan air sampai ke ujung kainnya.

Ia turun dari teras.

Sandalnya langsung basah.

Warung di ujung gang sudah tutup, tetapi atap sengnya masih bisa dipakai berteduh. Ratna berjalan ke sana dengan langkah hati-hati. Lututnya ngilu. Kain bawah gamisnya berat oleh air.

Di bawah atap warung, ia membuka kontak Arman.

Jarinya berhenti lama di layar.

Ia tidak suka meminta tolong. Sepanjang hidupnya, ia lebih sering menjadi orang yang ditelepon. Saat anak demam, tetangga melahirkan, Bambang kehilangan dompet, keluarga butuh obat, semua orang mencarinya.

Malam itu, ia lelah menjadi bukti bahwa dirinya kuat.

Telepon tersambung pada dering kedua.

"Bu Ratna?"

Suara Arman langsung waspada.

Ratna menyebut alamat. Sebelum ia selesai menjelaskan, Arman sudah berkata, "Saya jemput."

"Tidak perlu Bapak sendiri."

"Saya jemput."

Tidak keras. Tidak romantis berlebihan. Hanya selesai.

Tiga puluh menit kemudian, Alphard hitam berhenti di ujung gang. Mobil itu tidak bisa masuk karena jalan sempit. Arman turun sendiri membawa payung besar.

Bahu kemejanya basah sebelum ia sampai ke warung.

"Bapak kenapa turun sendiri?"

"Karena saya yang ingin menjemput."

Ia membuka payung di atas kepala Ratna. Tidak menarik tangannya. Tidak memeluk. Hanya menyesuaikan langkah dengan langkahnya yang pelan.

Di depan kontrakan, tirai jendela bergerak sedikit.

Ratna tahu Melati melihat.

Ia tidak menoleh.

Di dalam mobil, Arman memberikan handuk kecil.

"Keringkan rambut."

Ratna memegang handuk itu. "Saya merepotkan."

"Bisa meminta tolong bukan berarti merepotkan."

Kalimat itu sederhana. Justru karena sederhana, dada Ratna terasa sesak.

Mobil bergerak meninggalkan gang. Dari kaca spion, ia melihat pintu kontrakan Melati terbuka. Anak perempuannya berdiri di bawah lampu teras, wajahnya samar tertutup hujan.

Arman tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya berkata kepada sopir, "Pelan saja. Jalan licin."

Setelah cukup jauh, Ratna akhirnya bicara.

"Anak saya mengusir saya."

Rahang Arman mengeras, tetapi suaranya tetap rendah.

"Saya turut sedih."

"Jangan hibur saya."

"Saya tidak sedang menghibur. Saya sedih karena Ibu diperlakukan begitu."

Ratna menutup mata. Air hujan masih menetes dari ujung kerudungnya.

"Saya marah. Saya kecewa. Tapi saya tetap memikirkan apakah dia sudah makan."

Arman diam cukup lama.

"Itu sebabnya batas diperlukan," katanya akhirnya. "Bukan karena Ibu berhenti sayang. Tapi karena rasa sayang Ibu terlalu sering dipakai untuk memukul Ibu sendiri."

Ketika mobil berhenti di depan rumahnya, ponsel Ratna menyala.

Pesan dari Melati.

Melati: Jadi sekarang Ibu lebih memilih dia menjemput daripada anak sendiri?

Ratna membaca sekali.

Lalu mematikan layar.

Malam itu, ia masuk ke rumah yang basah dan sepi. Namun rumah itu tidak mengusirnya.

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!