Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Pertama Naming Rights atau Hak Penamaan. Kembang api pembuka festival? Jangan disebut 'Kembang Api Pembuka'. Sebut saja 'Kembang Api Pembuka dari Guild Sutra Emas'. Pembawa obor suci? 'Pembawa Obor yang Disponsori oleh Asosiasi Rempah'. Setiap kali pengumuman dibacakan oleh penyiar istana, nama guild mereka akan didengar oleh ribuan orang, termasuk duta besar negara tetangga.”
Mata Lord Hemlock membelalak. Mulutnya sedikit terbuka.
“Kedua,” lanjut Elara, menggambar kotak-kotak di papan. “Booth dan Sewa Lahan. Area sekitar alun-alun istana biasanya ditutup untuk umum saat festival. Buka. Sewakan lahan itu kepada pedagang untuk membuka stan. Kita kenakan biaya sewa yang tinggi untuk lokasi strategis. Mereka bisa menjual barang mereka ke ribuan rakyat yang sedang berpesta. Kita dapat uang sewa, mereka dapat untung. Win-win solution"
“Ketiga,” Elara menatap Lucian, matanya berbinar dengan cahaya kemalasan yang cerdas. “VIP Ticket atau Tiket Eksklusif. Buat area khusus di dekat panggung utama. Jual tiket masuknya dengan harga selangit kepada para bangsawan kaya dan pedagang yang ingin pamer. Mereka yang punya tiket VIP bisa minum teh hangat, tidak berdesakan, dan dilihat oleh semua orang bahwa mereka 'penting'.”
Keheningan menyelimuti kamar tidur itu.
Lord Hemlock menatap papan tulis itu seolah-olah itu adalah kitab suci yang baru turun dari langit. Mulutnya terbuka dan tertutup, tapi tidak ada suara yang keluar.
Lucian menatap Elara. Tatapan itu penuh dengan kekaguman yang bercampur dengan sedikit ketakutan.
“Kau..” suara Lucian terdengar pelan. “Kau baru saja mengubah Festival Suci Musim Dingin yang sakral menjadi pameran dagang berkedok upacara keagamaan.”
“Bukan pameran dagang, Yang Mulia,” koreksi Elara sambil menguap. “Ini namanya Monetisasi Event. Kita tetap menjalankan semua tradisi. Penari tetap menari, obor tetap menyala. Bedanya, sekarang guild pedagang yang membayar biaya produksi, dan kita dapat untung dari tiket dan sewa lahan. Defisit dua puluh ribu keping emas? Minggu depan kita malah akan surplus.”
Lord Hemlock akhirnya menemukan suaranya. “Tapi.. apakah Dewa Matahari tidak akan murka karena nama-Nya disandingkan dengan nama Guild Sutra?”
“Dewa Matahari itu Maha Pengampun, Menteri,” ucap Elara datar. “Dan lagipula, Guild Sutra berjanji akan menyumbangkan sepuluh persen dari keuntungan stan mereka untuk pembangunan kuil baru. Kalau Dewa melihat kuil baru yang megah, saya yakin Dia tidak akan protes.”
Lord Hemlock terdiam. Logika itu.. Sangat sesat, tapi juga sangat masuk akal.
“Lakukan,” putus Lucian tiba-tiba, sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. “Lord Hemlock, mulai besok, panggil para ketua guild. Katakan pada mereka bahwa Istana membuka 'Kesempatan Emas untuk Berjasa pada Kerajaan'. Dan pasang harga Hak Penamaan Kembang Api seribu keping emas.”
“S-satu ribu keping emas?!” Hemlock tercekik. “Itu harga sebuah istana kecil!”
“Tepat,” Elara menyeringai tipis. “Dan para pedagang itu akan saling berkelahi untuk mendapatkannya hanya karena mereka ingin nama mereka diteriakkan oleh penyiar istana. Manusia, Menteri. Ego mereka jauh lebih mahal dari emas.”
***
Sebulan kemudian, Festival Musim Dingin tiba.
Dan itu adalah festival paling aneh, paling meriah, dan paling menguntungkan dalam sejarah Aethelgard.
Alun-alun istana tidak hanya dipenuhi oleh rakyat jelata, tetapi juga oleh ratusan stan pedagang yang bersaing menjual makanan dan barang mewah. Spanduk-spanduk berwarna-warni milik guild berkibar di setiap sudut.
Saat malam puncak tiba, penyiar istana naik ke panggung.
“Wahai rakyat Aethelgard! Saksikanlah! Kembang Api Pembuka yang megah, disponsori secara eksklusif oleh.. Guild Sutra Emas!”
DUAR!
Kembang api meledak di langit, membentuk pola naga emas yang indah. Rakyat bersorak, dan di area VIP, Ketua Guild Sutra Emas menangis terharu sambil memeluk istrinya, merasa bahwa uang seribu keping emas yang ia keluarkan sangat sepadan.
Sementara itu, di sebuah tenda VIP terbesar di sudut alun-alun yang disewa oleh Istana dengan harga satu keping perak (karena ini milik sendiri), Elara sedang tertidur pulas.
Ia telah mendelegasikan seluruh tugas menghadiri festival kepada Nira dan para dayang. Tenda itu dilengkapi dengan kasur portabel, selimut bulu, dan penghalang suara. Elara tidak perlu berjalan-jalan, tidak perlu tersenyum pada bangsawan, dan tidak perlu membeku di udara malam.
Pintu tenda terbuka sedikit. Lucian mengintip ke dalam. Ia melihat Elara yang sedang meringkuk seperti bola bulu, napasnya teratur dan tenang. Di sampingnya, ada piring berisi sisa kue lapis dan secangkir teh jahe yang sudah dingin.
Lucian tersenyum, masuk ke dalam tenda, dan duduk di kursi di samping kasur portabel itu. Ia menatap wajah Elara yang damai.