NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Malam semakin larut menyelimuti Desa Cempaka dengan udara yang terasa cukup dingin menusuk tulang.

Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan di tengah kegelapan yang pekat.

Di dalam pos ronda kayu yang temaram, Raka dan Siska duduk berdempetan merapatkan jaket tipis mereka.

"Sialan, rencana kita benar-benar hancur berantakan hari ini gara-gara kepala desa tua itu."

Raka menggerutu dengan suara berbisik sambil memukul tiang pos ronda dengan kepalan tangannya.

"Aku tidak menyangka anak kecil itu bisa punya mulut setajam silet dan pemikiran selicik itu."

Siska mengusap lengannya yang masih terasa sakit karena dicengkeram oleh Arga tadi siang.

"Anak itu sudah pasti dicuci otaknya oleh keluarga miskin itu untuk membenci kita, Mas Raka."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang karena sidang desa itu pasti akan memenangkan mereka besok pagi?"

"Kita tidak bisa menunggu sampai sidang konyol itu dimulai, Siska."

Raka menatap lurus ke arah ujung jalan desa di mana rumah Arga berada dalam kegelapan.

"Kalau kita biarkan warga desa dan Kepala Desa itu ikut campur, kita tidak akan pernah mendapatkan anak itu."

"Maksudmu kita harus menyerah dan pulang dengan tangan kosong ke kota?"

Siska bertanya dengan nada panik karena membayangkan wajah marah rentenir yang menagih utang mereka.

"Aku lebih baik mati daripada harus disiksa oleh bos preman pasar itu besok malam."

"Siapa bilang kita akan menyerah dan pulang dengan tangan kosong, Siska?"

Raka tersenyum menyeringai menampilkan deretan giginya yang kekuningan karena sering merokok.

"Kita akan menyusup masuk ke rumah itu malam ini juga dan menculik anak itu secara paksa saat mereka tertidur lelap."

Mata Siska membelalak lebar mendengar rencana nekat nan gila dari suaminya tersebut.

"Menculik anak itu dari rumahnya sendiri?"

"Bagaimana kalau Arga terbangun dan memergoki kita di dalam rumahnya?"

"Kita berdua harus bergerak secepat bayangan dan membius anak itu dengan kain kotor ini."

Raka mengeluarkan selembar kain lap usang dari saku celananya yang berbau menyengat.

"Setelah anak itu pingsan, kita langsung bawa dia kabur lewat jalan pintas membelah hutan pinggiran."

Siska mengangguk setuju dengan mata yang kembali berbinar dipenuhi oleh keserakahan.

"Kita bawa dia kabur ke kota dan langsung kita jual pada Bos Preman malam ini juga."

"Preman itu pasti mau membayar kita dengan harga sangat mahal untuk anak ajaib yang bisa mencari sumber air."

Siska sudah membayangkan tumpukan uang emas yang akan melunasi semua utang judinya.

Di waktu yang sama, keadaan di dalam rumah Arga masih jauh dari kata tidur.

Arga sedang duduk bersila di depan pintu ruang tengah yang terkunci rapat.

Pria kekar itu memegang goloknya erat-erat dengan mata yang memerah karena menahan rasa kantuk.

Kriet.

Pintu kamar terbuka pelan dan Natasya berjalan keluar menemui ayahnya.

"Ayah tidurlah, ini sudah lewat tengah malam dan udara semakin dingin."

"Ayah tidak akan tidur sebelum matahari benar-benar terbit besok pagi, Natasya."

Arga menjawab tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu utama rumah mereka.

"Ayah takut dua orang gila yang mengaku orang tuamu itu nekat mendobrak masuk ke rumah kita."

Natasya berjalan mendekat dan duduk di lantai tepat di samping ayahnya.

"Mereka berdua itu penakut, Ayah, mereka tidak akan berani masuk lewat pintu depan."

"Lagipula Ayah harus tidur agar besok punya banyak tenaga untuk berdebat di sidang balai desa."

"Ayah lebih baik kelelahan berdebat besok daripada kehilanganmu malam ini, nak."

Arga mengusap puncak kepala Natasya dengan tangan kirinya yang kasar.

"Ayah akan membunuh siapapun yang berani menyentuhmu."

Natasya tersenyum tipis merasakan betapa besarnya kasih sayang pria di sampingnya ini.

"Ayah benar-benar tidak perlu begadang menjaga pintu ini."

"Ada banyak teman-temanku yang sedang berjaga di luar rumah malam ini untuk melindungiku."

Arga mengerutkan keningnya menatap putrinya dengan sedikit kebingungan.

"Teman-teman hewanmu dari Hutan Larangan itu maksudmu?"

Natasya hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang sangat meyakinkan.

Mengingat betapa buas dan besarnya serigala pelindung putrinya waktu itu, Arga akhirnya menghela napas pasrah.

"Baiklah kalau begitu, Ayah akan mencoba tidur sebentar di kursi ini saja."

"Kamu kembalilah ke kamarmu dan kunci pintunya dari dalam ya, Natasya."

Gadis kecil itu menuruti perintah ayahnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.

Setelah memastikan ayahnya tertidur, Natasya membuka sedikit celah jendela kayunya dan mengintip ke luar.

"Aku tahu kalian semua sudah berkumpul di luar sana," batin Natasya sambil tersenyum kecil.

Sekitar pukul dua dini hari, keadaan desa benar-benar sepi seperti area pemakaman.

Raka dan Siska mengendap-endap keluar dari pos ronda dengan langkah tanpa suara sedikitpun.

Mereka berjalan merayap di balik semak-semak untuk menghindari cahaya obor di tiang jalanan.

"Rumah Arga ada di ujung sana, halamannya terlihat gelap dan sangat sepi."

Raka berbisik sambil menunjuk ke arah rumah target mereka dari balik pagar tetangga.

"Kita congkel saja jendela kamar belakangnya yang terbuat dari kayu lapuk agar tidak bersuara."

Siska membalas bisikan suaminya sambil terus merendahkan posisi tubuhnya.

Mereka berdua akhirnya berhasil melompati pagar bambu rumah Arga tanpa ketahuan oleh siapapun.

Raka mengeluarkan sebuah obeng panjang berkarat dari saku celana kotornya.

Ia mencongkel celah jendela kayu kamar belakang itu dengan gerakan yang sangat hati-hati dan pelan.

1
Wega Luna
orang macam Bu Rini sangat cocok ditumbalkan untuk penghuni hutan larangan terutama buat si sanca hitam ,👍👍sudah pengecut beraninya main fitnah dan ngomporin orang 😤
Wega Luna
lintah cocoknya pakai garam tasya🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
Thor salam tonjok buat ibu kandung Natasya,😤😤,
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!