Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24
Andika memutar kunci kontak van Declasse Burrito hitam tersebut. Mesin V8 mobil itu menderu halus namun bertenaga saat Andika menginjak pedal gas, meluncur meninggalkan kawasan El Burro Heights menuju jalan bebas hambatan melintasi wilayah pedesaan Blaine County.
Di sepanjang jalan raya yang diapit bukit batu dan padang pasir membakar, suasana di dalam kabin van terasa begitu tenang. Angin sore bertiup dari celah jendela yang dibuka separuh, menerpa wajah mereka.
Michael menyandarkan sikunya di bingkai jendela, merogoh saku kemejanya, lalu menyalakan sebatang rokok. Ia menghembuskan asap tipis ke luar sebelum menoleh ke arah Andika yang sedang fokus memegang kendali setir.
"Jadi, Andika..." panggil Michael dengan nada santai namun bernuansa ingin tahu. "Aku belum pernah benar-benar mendengar ceritamu. Apa yang sebenarnya dicari oleh anak muda sepertimu sampai jauh-jauh merantau dan mendarat di kota gila seperti Los Santos ini?"
Andika terkekeh pelan, melirik sebentar ke kaca spion tengah sebelum kembali menatap lurus ke jalanan aspal yang terbentang luas.
"Hanya mencari jalan hidup, Mike," jawab Andika jujur. "Kota ini keras, tapi menjanjikan hal-hal yang tidak bisa didapatkan di tempat lain kalau kita punya keberanian. Awalnya saya cuma ingin bertahan hidup dan mencoba bisnis kecil-kecilan. Tapi setelah bertemu Lamar, Franklin, dan masuk ke pusaran konflik geng seperti Ying Long... rasanya tidak ada lagi jalan untuk balik jadi orang biasa."
Michael mengangguk-angguk pelan, memahami betul sensasi terpancing oleh arus kehidupan bawah tanah. "Aku mengerti. Dulu sewaktu aku seusiamu, aku juga berpikir bisa berhenti kapan saja. Tapi Los Santos punya cara unik untuk terus menarikmu kembali ke tengah arena. Yang penting, jangan sampai kau kehilangan arah dan lupa untuk apa kau bertaruh nyawa di sini."
Percakapan panjang lebar mengenai pengalaman hidup, liku-liku dunia malam, dan filosofi bertahan di jalanan terus mengalir hangat di antara mereka berdua, melintasi batas perbedaan usia dan latar belakang.
Ketika matahari mulai bergeser ke ufuk barat dan perut mereka mulai menyuarakan rasa lapar, Andika memelankan laju van dan membelokkan kemudi masuk ke sebuah kedai makan kecil (diner) di pinggir jalan tol Route 68.
Mereka beristirahat sejenak di meja luar kedai, memesan burger tebal dan kentang goreng hangat untuk mengganjal perut yang kosong sejak siang. Sambil menikmati makanan sederhana tersebut dan mengisap beberapa batang rokok, keduanya berbincang santai menyaksikan perubahan warna langit sore yang perlahan memerah di atas gurun Grand Senora.
Setelah energi kembali terisi dan rasa lelah berkendara berkurang, mereka kembali melompat masuk ke dalam van hitam. Andika kembali menancap gas, membawa kendaraan melaju menembus malam yang mulai menyelimuti wilayah pedesaan.
Lampu-lampu pemukiman kumuh dan hamparan padang pasir Sandy Shores mulai terlihat menyapa di kejauhan. Langit malam yang gelap bertabur bintang menjadi latar belakang heningnya kota kecil di tepi danau Alamo Sea tersebut.
"Pelankan kecepatanmu, Andika," instruksi Michael sambil menunjuk ke arah celah jalan tanah di depan. "Tujuan kita sudah sangat dekat. Masuk ke lorong di sebelah sana."
Andika memutar setir pelan, membawa van Burrito hitam itu merayap di atas jalan berdebu Sandy Shores, mendekati lokasi rahasia yang telah disiapkan Michael untuk babak baru dalam rencana besar mereka.
Van Burrito hitam itu akhirnya berhenti sempurna di sebuah area terbuka yang terisolasi di pinggiran Sandy Shores. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah kontainer kumuh bernuansa logam berkarat, dikelilingi pagar kawat melingkar dan tumpukan barang bekas.
Michael membuka pintu van, lalu melangkah turun ke atas tanah berdebu. Andika menyusul di belakangnya, menyipitkan mata mengamati suasana sekeliling yang terasa begitu asing, liar, dan mencekam.
Dari pintu rumah kontainer, melangkah keluar seorang pria paruh baya bertubuh jangkung dengan rambut menipis, kaus putih penuh noda, dan garis wajah yang sangat seram. Sorot matanya yang liar memancarkan aura kegilaan yang murni dan tak tertebak.
"Hello, T!" sapa Michael sambil merentangkan tangan. "Sudah kau siapkan semuanya?"
Pria berwajah seram itu mendadak tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya, melangkah cepat menghampiri Michael.
"Hello, Micky! Ohhhh, sahabat terbaikku! Aku sangat merindukanmu!" serunya dengan suara serak, berat, dan dipenuhi nada gila yang sangat pekat. Ia merangkul Michael dengan pelukan kasar yang canggung.
Namun, beberapa detik kemudian, pandangan liar pria itu mendadak teralih tepat ke arah Andika yang berdiri tenang di samping van. Senyum gilanya menyusut, berganti menjadi tatapan intimidasi yang tajam.
"Siapa pecundang yang kau bawa ini, Mike?" tanyanya tiba-tiba.
Tanpa peringatan, pria itu melangkah maju rapat-rapat mendekati Andika. Wajahnya yang berbau alkohol dan tembakau menyengat ditempelkan sangat dekat ke muka Andika—hanya berjarak beberapa sentimeter—menatap dalam-dalam ke pupil mata Andika seolah ingin membongkar isi kepalanya. Andika mengerutkan kening, tetap menatap balik tanpa mundur selangkah pun, meski jelas terlihat risih dengan perilaku gila pria di depannya.
"Sudah cukup, T," potong Michael cepat, melangkah menyela di antara mereka berdua. "Perkenalkan, ini Andika. Dan Andika, perkenalkan... ini teman lamaku, Trevor Philips."
Michael menepuk bahu Trevor pelan untuk menenangkan sahabatnya itu. "Sekarang, di mana barang-barang yang sudah kau siapkan, T?"
Trevor mengusap dagunya, menyunggingkan seringai aneh ke arah Andika. "Senang bertemu denganmu, bocah. Semoga kau bukan pecundang... atau ku potong adik kecil yang berada dekat perutmu itu!"
Andika hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin sebagai jawaban atas gertakan gila tersebut.
Trevor berbalik, melangkah ke dalam kontainer terbuka di belakangnya, lalu menyeret keluar tiga peti kayu tebal berukuran besar satu per satu dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa.
BRUK! BRUK! BRUK!
Trevor membuka kait tiga peti kayu tersebut secara berurutan:
Peti Pertama: Berisi deretan senjata api gress siap pakai—berbagai jenis pistol Glock hitam dan senapan serbu M4 Carbine yang terawat rapi.
Peti Kedua: Berisi tumpukan klip majalah dan ribuan selongsong amunisi cadangan berkaliber 5.56mm untuk M4 dan 9mm untuk Glock.
Peti Ketiga: Berisi 4 set rompi anti-peluru (body armor) kelas militer berwarna hitam tebal, lengkap dengan 4 unit radio Handy Talkie (HT) dan headset earpiece kecil untuk komunikasi taktis di telinga.
"Istimewa, bukan?" terkekeh Trevor bangga menatap isi peti-peti tersebut.
Trevor lalu menoleh ke sudut kontainer, berteriak keras pada dua orang anak buahnya—Wade dan Chef—yang sejak tadi mengawasi dari jauh dengan raut wajah ketakutan setengah mati melihat bos gila mereka.
"OI, KALIAN BERDUA! JANGANI CUMA MENONTON SEPERTI PATUNG!" jerit Trevor histeris. "Cepat angkat tiga peti ini dan masukkan ke dalam van mereka sekarang sebelum ku jadikan kalian umpan coyot!"
Dua anak buah Trevor yang gemetar itu langsung berlari cepat, membopong peti-peti berat tersebut satu per satu dan menatanya dengan rapi di dalam bagasi belakang van hitam milik Michael dan Andika.
Setelah seluruh peti persenjataan militer tersusun rapi di dalam bagasi belakang van Burrito hitam, Trevor menepuk-nepuk tangannya yang berdebu.
"Nah, sekarang barang-barang kalian sudah rapi," kata Trevor dengan cengiran lebarnya yang khas. "Ayo masuk ke dalam! Kita minum dulu sebelum kalian kembali ke kota!"
Trevor melambaikan tangan, memberi isyarat agar Michael dan Andika mengikutinya masuk ke dalam rumah kontainer. Michael menepuk bahu Andika pelan, lalu mereka bertiga melangkah masuk ke dalam hunian unik bernuansa kayu dan logam tersebut.
Di dalam, ruangan terasa hangat meskipun dikelilingi barang-barang berantakan khas Sandy Shores. Trevor berjalan ke arah meja kayu tebal, menyambar beberapa botol minuman beralkohol keras, lalu melemparkan satu botol ke arah Michael dan satu lagi ke arah Andika.
Andika menangkap botol itu dengan sigap, merogoh korek apinya, lalu membakar sebatang rokok sembari menyandarkan punggung di kursi kayu. Michael menyulut rokoknya sendiri, lalu meneguk minuman tersebut bersama Trevor.
Percakapan panjang lebar pun mengalir hangat di antara mereka. Trevor mengoceh gila tentang bisnis penerbangan dan pasokan senjata ilegalnya di wilayah gurun Blaine County, sementara Michael membalasnya dengan kisah-kisah nostalgia dari aksi-aksi perampokan masa lalu mereka. Sesekali Trevor menatap Andika dengan penuh rasa ingin tahu, melontarkan lelucon gila yang hanya dibalas Andika dengan tawa renyah dan hembusan asap rokok.
Waktu berlalu tanpa terasa di tengah gelak tawa dan kepulan asap. Ketika jarum jam dinding menunjukkan tepat pukul 00:00 tengah malam, Michael melihat jam tangannya, lalu menghembuskan napas panjang.
"Sudah tengah malam, T," ujar Michael berdiri dari kursinya dan merapikan kemejanya. "Lester dan Franklin sudah menunggu pasokan persenjataan ini di Los Santos. Kami harus segera kembali."
Trevor tertawa serak, berdiri melangkah mendekati Michael dan merangkul kawan lamanya itu dengan erat. "Hati-hati di jalan, Micky! Jangan sampai polisi-polisi kota bodoh itu menyita barang-barang bagusku!"
Trevor lalu menoleh ke arah Andika, menyeringai tipis. "Jaga kepala dan 'adik kecilmu' itu baik-baik di kota, bocah. Sampai jumpa di aksi perampokan nanti!"
"Terima kasih atas minumnnya, Trevor," balas Andika tenang seraya menjabat tangan Trevor dengan erat.
Michael dan Andika melangkah keluar dari rumah kontainer, membelah dinginnya angin malam gurun Sandy Shores menuju van Burrito hitam yang terparkir di halaman. Andika membuka pintu pengemudi, sementara Michael naik ke kursi penumpang di sampingnya.
BHRRUMMM!
Mesin V8 van hitam itu menyalak halus saat Andika memutar kunci kontak. Dengan muatan penuh berisi peti senapan M4, pistol Glock, ribuan amunisi, rompi anti-peluru, dan HT taktis, Andika memutar setir membawa kendaraan itu meluncur membelah kegelapan malam, kembali menuju Los Santos untuk menyongsong rencana besar yang kian matang.