Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga & Permintaan Tolong
Langkah kaki Clyrine terasa sangat berat menyusuri trotoar menuju rumah. Kepala gadis itu mendadak pening memikirkan nasibnya besok. Bayangan tatapan tajam sang daddy dan ocehan tak berujung soal nama baik keluarga Rexander terus berputar di kepalanya. Kalau sampai orang tuanya datang ke sekolah dan bertemu Pak Antonio Roberto, dipastikan hidupnya di rumah akan makin seperti neraka.
Saking malasnya untuk pulang cepat, Clyrine sengaja memutar jalan dan berjalan-jalan santai tanpa arah. Ia mengulur waktu sejauh mungkin, menikmati semilir angin sore yang setidaknya bisa sedikit mendinginkan kepalanya yang panas.
Begitu ia mendorong pintu jati berukir yang megah dan melangkah masuk ke dalam rumah, jam dinding besar di area foyer menunjukkan pukul 15.18 WIB.
"Dari mana saja kamu, Clyrine? Baru sampai rumah jam segini?"
Suara anggun tapi menuntut itu menyambutnya di ruang tengah. Runica—mommynya—berdiri menyilangkan tangan dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa kamu nggak pulang bareng Claire? Driver kan tadi sudah jemput ke sekolah," lanjut Runica, menghela napas tebal.
Belum sempat Clyrine menjawab, Claire—yang rupanya sudah duduk manis di sofa dengan segelas teh hangat—langsung memotong dengan nada polos yang dibuat-buat. "Soalnya Clyrine tadi dipanggil ke ruang BK lagi, Mom... makanya dia telat keluar."
Clyrine menatap Claire dengan tatapan dingin dan muak. Ia benar-benar tidak punya energi lagi untuk meladeni drama saudara tirinya itu sore ini.
"Mom, aku capek. Jangan banyak tanya dulu, ya," gumam Clyrine pelan. Rasa lelahnya terasa begitu nyata hingga ia mendekat dan memeluk Runica sebentar, menyandarkan kepalanya di bahu sang mommy.
Runica tertegun sejenak. Membalas pelukan putrinya, ia mengelus punggung Clyrine lembut. "Yaudah, kamu ke kamar ganti baju terus istirahat."
Clyrine mengangguk pelan. Karena tenggorokannya terasa kering, ia memutuskan berjalan menuju dapur bersih di area belakang sebelum naik ke kamarnya di lantai dua. Namun, begitu melintasi batas antara ruang keluarga dan pantry, langkah kakinya mendadak terhenti total.
Clyrine terpana.
Di dekat counter dapur bermaterial marmer, berdiri seorang pria asing berpostur tinggi tegap dengan kemeja kasual yang digulung rapi hingga siku. Pria itu sedang berbincang santai dengan kakak kandungnya, Alaric Baldwin Rexander.
"Eh, Cly, udah pulang?" tanya Alaric saat menyadari kehadiran adiknya.
Clyrine mengangguk pelan, matanya masih menatap lekat ke arah pria di sebelah kakaknya. Garis rahangnya tegas, tatapannya tenang namun menghanyutkan, dan aura matangnya terasa sangat kontras dibanding anak-anak laki-laki seumurnya di sekolah. "Dia... siapa, Kak?"
Pria asing itu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat dan menjulurkan tangannya dengan sopan. "Damien Lysander Vance."
Tanpa sadar, Clyrine menyambut uluran tangan itu. Genggaman tangan Damien terasa hangat dan kokoh. "Clyrine Elamora Rexander," balasnya cepat.
Alaric terkekeh pelan dari belakang. "Damien ini sahabat gue di kampus, Cly. Dia main ke sini mau ngambil berkas proyek yang kemarin kita kerjain."
Clyrine terdiam, tapi otak cerdasnya langsung berputar cepat. Damien Lysander Vance... dia sahabat Kak Alaric, umurnya paling baru 21 tahun.
Sebuah ide gila mendadak terlintas di dalam kepala Clyrine. Tatapannya meneliti penampilan Damien yang rapi dan dewasa. Pria di depan gue ini kelihatan dewasa dan berwibawa banget. Kayaknya gue bisa minta tolong sama dia buat gantiin orang tua gue ke sekolah besok... Tapi gimana caranya ya, biar gue bisa bicara berdua sama dia tanpa sepengetahuan Kak Alaric?
Clyrine memutar otaknya cepat. Tatapan mata Damien yang tenang dan rahangnya yang tegas memberikan kesan kalau pria ini sangat bisa diandalkan. Di usia 21 tahun, Damien sudah terlihat seperti pria dewasa yang matang—pilihan sempurna untuk berpura-pura menjadi perwakilan keluarga di depan Pak Antonio Roberto besok.
"Kak Alaric," panggil Clyrine tiba-tiba dengan raut wajah sedikit meringis. Ia menepuk pelan dahinya. "Bisa tolong ambilin botol air minum aku yang ketinggalan di meja ruang keluarga nggak? Kaki aku agak pegal banget habis jalan."
Alaric mengangkat sebelah alisnya, heran dengan tingkah manja adiknya yang langka ini. Tapi melihat wajah Clyrine yang memang tampak lelah, ia menghela napas. "Dasar manja. Yaudah sebentar gue ambilkan."
Begitu langkah kaki Alaric terdengar menjauh ke arah ruang keluarga, Clyrine langsung memajukan langkahnya, mendekat ke arah Damien hingga jarak mereka tersisa satu langkah saja.
"Kak Damien," bisik Clyrine setengah berbisik, matanya menatap lurus ke netra gelap pria di hadapannya dengan binar memohon yang intens.
Damien yang terkejut dengan gerakan cepat gadis itu spontan menaikkan sebelah alisnya. "Ya? Kenapa, Clyrine?"
"Aku butuh bantuan Kakak banget. Sangat mendesak," ujar Clyrine cepat, lirih namun penuh penekanan. "Bisa tolong kasih nomor WhatsApp Kakak sekarang? Nanti malam aku kirim pesan. Please, ini rahasia, jangan sampai Kak Alaric tahu dulu."
Damien menatap gadis 16 tahun di depannya dengan dahi berkerut bingung. Adiknya Alaric ini benar-benar tidak terduga. Namun, melihat keandalan dan keseriusan di mata Clyrine, Damien akhirnya merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu menyebutkan deretan angkanya secara pelan.
Dengan sigap jemari Clyrine mengetiknya di ponsel. "Sip, makasih banyak ya, Kak!" bisiknya legat tepat saat langkah kaki Alaric kembali mendekati dapur.
Clyrine langsung mengambil botol air dari tangan Alaric yang baru tiba, menyunggingkan senyum tipis, lalu melangkah cepat menuju tangga lantai dua. Di tangannya kini, ia memegang kunci satu-satunya untuk lolos dari ancaman eksekusi di Rexanswood Academy besok.
Malam harinya, tepat pukul sembilan malam, suasana kediaman keluarga Rexander sudah sangat hening. Clyrine duduk bersila di atas tempat tidurnya, menatap layar ponsel yang menampilkan ruang obrolan baru tanpa foto profil.
Jemarinya agak ragu mengetik, tetapi rasa cemas membayangkan wajah Pak Antonio Roberto dan amukan daddynya mengalahkan rasa gengsinya.
Clyrine: Kak Damien, ini gue Clyrine.
Clyrine: Sori mengganggu malam-malam. Soal yang tadi sore... gue beneran butuh bantuan penting dari Kakak.
Hanya butuh beberapa detik sampai dua centang abu-abu itu berubah menjadi biru. Jawaban datang tak lama kemudian.
Kak Damien: Ya, Clyrine. Ada apa? Kenapa harus rahasia dari Alaric?
Clyrine menghela napas panjang, lalu mulai mengetik pesan balasan secepat yang ia bisa.
Clyrine: Besok pagi jam 8, gue dipanggil ke ruang BK di Rexanswood Academy. Gue di-skor tiga hari karena dituduh dorong Claire sampai jatuh, padahal si Claire cuma akting.
Clyrine: Guru BK gue, Pak Antonio Roberto, minta orang tua gue datang besok buat tanda tangan surat peringatan. Tapi kalau daddy sama mommy yang datang, mereka bakal makin nyalahin? gue tanpa mau denger penjelasan apa pun.
Di ujung sana, Damien mengerutkan dahi membaca deretan pesan singkat yang masuk berturut-turut. Sebagai sahabat Alaric, ia tahu sedikit banyak tentang keretakan hubungan di dalam keluarga Rexander, meski ia tak menyangka situasinya serumit ini di sekolah.
Kak Damien: Terus lo mau gue gimana?
Clyrine: Gue mau Kakak datang ke sekolah besok pagi gantiin orang tua gue. Pura-pura jadi perwakilan keluarga atau sepupu jauh gue. Please, Kak... cuma Kakak yang kelihatan cukup dewasa buat meyakinkan Pak Antonio. Gue janji nggak bakal bikin masalah lagi.
Hening cukup lama. Clyrine menggigit bibir bawahnya, menatap layar ponselnya dengan dada berdebar kencang. Ia takut pria itu bakal menolak dan mengadu pada kakaknya.
Ponselnya bergetar di genggaman.
Kak Damien: Alaric tahu soal ini?
Clyrine: Nggak! Dan jangan sampai tahu! Kalau Kak Alaric tahu, sama aja bohong, dia pasti laporan ke daddy
Satu menit berlalu tanpa balasan. Saat Clyrine hampir putus asa, layar ponselnya kembali menyala.
Kak Damien: Besok jam 07.45 tunggu gue di persimpangan dekat gerbang samping Rexanswood Academy. Jangan sampai ada yang lihat lo masuk ke mobil gue.
Clyrine mendadak menghembuskan napas lega yang luar biasa. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
Clyrine: Siap, Kak! Makasih banyak! Lo penyelamat gue banget!
Kak Damien: Tidur. Jangan sampai terlambat besok.