Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENANGKAPAN PENGKHIANAT
"Tapi ternyata di belakangku, kalian menjual rahasia kerajaan dan membantu anak durhaka itu meracuniku perlahan-lahan," lanjut Raja Veldora, geram.
Perdana Menteri tahu dia sudah tidak bisa mengelak lagi, dokumen transaksi yang disita Erik sudah membongkar semuanya.
Dengan perlahan, Perdana Menteri mendongak, seringai tipis yang mengerikan tiba-tiba tersungging di bibirnya.
"Hahaha... baiklah, kalau memang akhirnya ketahuan, aku tidak perlu pura-pura lagi,"ucap Perdana Menteri dengan nada sinis, membuat Ratu Alice dan Joel membelalakkan mata geram.
"Yang Mulia Raja Veldora, anda terlalu lemah untuk memimpin kerjaan Veldora! Sudah sepantasnya Putri Mahkota Edelyn yang mengambil alih takhta!" lanjut Perdana Menteri, tersenyum mengejek.
"Kurang ajar!" maki Joel, langsung menghunus pedangnya, tepat di leher Perdana Menteri.
"Akan ku pecahkan kepala busuk mu sekarang juga!" bentak Joel, penuh amarah.
"Tahan, Joel," perintah Erik, dingin.
Joel melirik Erik sekilas, lalu mendengus kesal dan menurunkan sedikit pedangnya, meski matanya masih melotot tajam penuh amarah, dia tidak berani membantah Sang Grand Duke Klaus.
"Joel, bawa dua pengkhianat ini ke penjara bawah tanah, berikan mereka tahanan paling ketat, jangan biarkan ada yang mendekati atau memberi mereka racun untuk bunuh diri, sebelum sidang resmi di laksanakan untuk hukuman mereka!" perintah Raja Veldora, tegas.
"Baik, Yang Mulia!" seru Joel patuh.
"Seret mereka berdua keluar sekarang!" perintah Joel, memberi isyarat kepada para pengawal.
"Lepas! Kalian akan menyesal!" jerit Menteri Keuangan histeris saat tubuhnya diseret paksa.
Setelah ruangan kembali senyap, Erik mengalihkan pandangannya kepada Ratu Alice, terlihat sangat kelelahan.
"Yang Mulia Ratu, Anda harus istirahat, biarkan Saya yang menjaga Yang Mulia Raja," ucap Erik, lembut.
"Benar yang dikatakan Erik Alice, pergi istirahat. aku tidak ingin kamu jatuh sakit sayang," ucap Raja Veldora, lembut.
Ratu Alice mengangguk lemah, wajahnya tampak sangat kelelahan.
"Terima kasih, Erik, kalau bukan karena kamu dan tabib ini, aku pasti sudah kehilangan suamiku," ucap Ratu Alice, menatap Kalyca dan Erik.
Erik melirik sekilas ke arah Kalyca, tabib misterius itu hanya berdiri diam, tidak menunjukkan rasa tersanjung sedikit pun dipuji oleh seorang Ratu.
"Tabib Saya akan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar untuk anda, agar anda bisa istirahat juga," ucap Ratu Alice,. tersenyum kecil.
"Tidak perlu repot-repot Yang Mulia," jawab Kalyca, sopan.
"Tidak sama sekali, Saya berhutang nyawa pada mu," ucap Ratu Alice, menepuk pelan kepala Kalyca.
Deg
Untuk pertama kalinya, Kalyca merasakan sentuhan dari ibu kandung nya, setelah belasan tahun tubuh ini hidup menderita di luar sana.
"Terimakasih," ucap Kalyca, menundukkan kepalanya.
Ratu Alice tersenyum kecil lalu berjalan keluar di ikuti oleh pelayan pribadi nya.
Setelah Ratu Alice keluar, begitupun dengan Tabib istana, yang juga ikut pergi, karena kondisi Raja sudah membaik.
Saat ini di kamar Raja hanya tersisa, Kalyca, Erik, Joel dan Gale.
"Joel," panggil Raja Veldora.
"Saya Yang Mulia," jawab Joel, sopan.
"Pergi ke kamar Edelyn, bawa anak itu ke penjara bawah tanah, dia harus di hukum atas perbuatannya," ucap Raja Veldora, mengepalkan tangannya kuat.
Joel sedikit terkejut, dengan perintah sang Raja, karena Joel sangat tahu, se sayang apa Raja Veldora pada Putri Edelyn selama ini.
"Baik Yang Mulia, akan segera saya laksanakan!" jawab Joel, tegas.
"Saya permisi," ucap Joel, keluar dari kamar Raja.
Sementara itu di kamar Edelyn, keadaan sangat kacau, sang putri sedang mengamuk dan menghancurkan semua barang yang ada di kamar nya.
"AAAAKKKKKHH! DASAR TABIB SIALAN! SIALAN!"
Teriak Edelyn histeris, meluapkan seluruh amarahnya di dalam kamar pribadi yang kini sudah berantakan seperti kapal pecah.
PYARR
Napas Edelyn memburu, dadanya naik turun dengan kencang, dan wajah nya tampak merah padam penuh kemarahan.
Mia, sama sekali tidak berani mengangkat wajah atau mengeluarkan suara isakan sekecil pun karena takut menjadi sasaran amukan sang putri.
"Keluar!" bentak Edelyn, menoleh tajam ke arah Mia.
"M-maaf, Yang Mulia..." cicit Mia terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar karena ketakutan.
"KU BILANG KELUAR, BODOH!"
PYARR
Maki Edelyn sambil melempar sisa pecahan cangkir ke dekat kaki Mia.
"Jangan tunjukkan wajah menjijikkan mu itu di hadapanku sekarang! Pergi!" bentak Edelyn, keras.
Tanpa pikir panjang lagi, Mia langsung bergegas bangkit berlari keluar kamar, membanting pintu dengan cepat untuk menyelamatkan nyawanya sendiri dari amukan monster berwujud manusia itu.
BRAKK
"Begitu pintu tertutup, Edelyn merosot jatuh ke lantai, terduduk di antara pecahan kaca dan barang-barang yang di hancurkannya.
"Tidak... tidak mungkin..." gumam Edelyn gemetar, menggigit kuku jarinya sendiri dengan liar.
"Bagaimana bisa pria tua itu sadar?! Tabib bodoh itu, dari mana dia mendapatkan penawar racun itu?!" gumam Edelyn, mengepal kan tangan nya kuat..
"Kalau Ayah sudah sadar, dia pasti akan menyeret ku ke hadapan dewan dan membongkar semuanya! Dan Erik, pria dingin itu pasti tidak akan tinggal diam!" batin Edelyn histeris, merasakan sekujur tubuhnya mendadak dingin karena ketakutan.
Edelyn tahu betul, jika rahasianya terbongkar, tidak akan ada lagi tempat aman baginya di istana ini, Gelar Putri Mahkota, kemewahan, dan impiannya untuk menjadi Ratu akan hancur dalam sekejap mata.
"Tidak, aku tidak boleh tinggal diam dan menunggu kehancuranku," desis Edelyn penuh kebencian, matanya yang sembab menatap tajam ke depan dengan kilat kelam.
Dengan gerakan kasar, Edelyn menghapus air matanya, bangkit berdiri mengabaikan pecahan kaca yang berserakan dan lantai, dia harus siap-siap untuk menemui ibunya, dan mengatakan situasi yang sedang terjadi.
Sebelum Edelyn sempat melangkah keluar kamar untuk menjalankan rencana gilanya, tiba-tiba. Pintu kamar nya di dobrak dari luar.
Brak
Edelyn terperanjat kaget, melangkah mundur hingga pinggangnya membentur meja rias.
BHUK
"Aaakkkhhh ssstttt...."
Di ambang pintu, berdiri sosok Panglima Joel dengan wajah dingin dan tegap, dikawal oleh empat orang pengawal khusus istana yang menghunus pedang tajam.
"P-panglima Joel...?" ucap Edelyn terbata-bata, berusaha memasang kembali topeng angkuhnya untuk menutupi kepanikannya.
"Beraninya pengawal rendahan seperti mu mendobrak kamarku tanpa izin, hah?! Di mana tatakrama mu?!" bentak Edelyn, dengan wajah memerah padam.
Tanpa menghiraukan makian Edelyn, Joel melangkah masuk menatap tajam penuh kebencian ke arah Edelyn, tidak ada lagi sapaan hormat atau panggilan sopan yang keluar dari mulut sang kepala pengawal.
"Atas titah langsung dari Raja Veldora, Putri Mahkota Edelyn,cAnda secara resmi ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Raja dan melakukan persekongkolan gelap bersama para pengkhianat di dewan!" ucap Joel tegas dan penuh penekanan.
Deg
"A-apa!? Tidak, itu tidak mungkin," ucap Edelyn menggeleng kan kepala nya tidak percaya.
makaci crazy up nya 😍👍