NovelToon NovelToon
Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adzana Raisha

Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.

Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemikiran Buruk

Datangnya akhir pekan tak membuat gadis penghuni toko bunga itu bermalas-malasan. Setelah semua pekerjaan terselesaikan, Zara membuka laci dan meraih kartu pemberian sang suami yang tersimpan di tempat tersebut.

"Apa aku bisa mengirim uang pada Ibu dan Ayah dengan benda ini?" gumam Zara dengan membolak balik benda tipis berwarna hitam itu.

Gadis itu pun mengingat jika Ayahnya memiliki benda semacam ini, namun dengan warna dan corak yang berbeda.

"Bagaimana jika aku tanyakan saja pada Pak

Hendro atau penjaga lain. Mungkin mereka lebih tau dari pada aku."

Gadis itu pun meraih sebuah tas miliknya dan menjinjingnya di bahu. Mengunci pintu toko terlebih dahulu sebelum menjumpai Hendro di pos penjagaan.

Hendro dan para penjaga lain, memasang senyum ramah mereka kala seorang gadis yang sudah tak asing lagi bagi keempat orang tersebut mendekat.

"Selamat pagi Bapak-bapak," sapa Zara dengan senyum tipis di bibirnya.

"Selamat pagi juga Mba Zara," jawab semua penjaga bersamaan.

"Apa Bapak semua sedang sibuk? Boleh saya minta waktunya sebentar?"

"Ada apa Mba, apa ada sesuatu yang Mba Zara perlukan?" tanya penjaga berusia palung muda dari lainnya.

"Saya ingin tanya sebentar." Zara membuka dompetnya dan menarik kartu tanpa batas miliknya. "Apa saya bisa mengunakan kartu ini untuk mengirim uang pada orang lain?" sambung gadis bernetra indah itu lagi.

Hendro dan ketiga pria itu menatap kartu itu penuh tanda tanya. Sebab kartu tersebut hanya akan dimiliki kaum tertentu saja. Para sosialita atau pun seseorang dari kalangan atas yang bergelimang harta, namun kartu tersebut kini justru berada dalam gengaman seorang gadis mungil, penjaga toko bunga.

"Apa ini milik Mba Zara?" tanya Hendro setengah ragu.

"Iya ini milik saya," jawab Zara sembari menatap para penjaga tersebut untuk lebih memastikan. "Apa saya bisa mengunakannya Pak?" tanya gadis itu sekali lagi.

Penjaga itu menganguk. "Bahkan Mba Zara bisa membeli apa pun nya diinginkan dengan kartu ini." Hendro berucap dengan telunjuknya mengarah pada kartu tanpa batas pemberian Arka.

"Benarkah? Klo begitu, bisakah Bapak mengantar saya sebentar?"

Hendro pun menganguk. Segera menuju motor miliknya yang terparkir tak jauh dari pos. Kemudian memakai helm dan menyerahkan helm lainya pada Zara untuk gadis itu pakai.

Hendro menaiki motornya dengan kecepatan sedang. Akhir pekan membuat suasana jalanan tak terlalu ramai. Pria paruh baya itu memfokuskan pandangan kedepan, menuju tempat yang Zara inginkan. Hingga tak berapa lama motor milik Hendro menepi di sebuah bangunan dan mematikan mesin.

"Mba Zara bisa melakukan transaksi di tempat ini. O ya, apa mbak Zara memiliki nomor tujuan pengiriman uang?" tanya Hendro pada gadis cantik yang bersamanya.

"Sebentar." Zara meraih benda dari dalam tasnya. "Saya masih menyimpan ini." Menunjukan benda semacam buku dan memperlihatkannya pada Hendro.

"Nah, itu akan semakin mempermudah dan apakah Mba Zara sudah pernah melakukan ini sebelumnya? Apa perlu saya bantu?" ucap Hendro seraya menawarkan diri.

"Tidak usah Pak. Saya sudah pernah melakukan ini sebelumnya dan semoga saya masih ingat." Zara bergegas masuk kedalam ruangan. Mulai melakukan transaksi dengan hati-hati.

"Kira-kira, berapa jumlah uang yang akan aku kirimkan?" gumam Zara tampak ragu menekan nominal uang yang hendak dikirim.

Hingga akhirnya gadis itu pasrah dan menekan angka yang menurutnya lumayan besar.

"Sebanyak ini saja. Jika Tuan Arka mempertanyakan atau bahkan menagih uangnya kembali, aku masih bisa mencicilnya dengan gaji bulananku dari Nona." Begitu kiranya fikiran Zara.

Gadis itu keluar ruangan dengan senyum lebar. Hingga Hendro pun dibuat bertanya-tanya, apa arti dari senyuman itu.

"Ayo pak, kita pulang," ajak Zara pada pria paruh baya yang tengah menunggunya di atas motor.

Pria itu pun menganguk dan mulai menyalakan mesin motor. Sepanjang jalan, Zara tersenyum riang. Gadis itu pun menepuk pundak Hendro pelan agar pria paruh baya itu menepikan motor.

"Ada apa Mba?" ucap Hendro setengah berteriak mengingat keduanya tengah memakai helm.

"Kita mampir sebentar di restoran itu pak," pinta Zara seraya menunjuk restoran cepat saji yang tak jauh dari mereka.

"Baiklah." Hendro mengarahkan motornya menuju area parkir. Zara pun bergegas memasuki ruangan mengingat hari mulai beranjak siang.

Zara keluar dengan beberapa kantong makanan di kedua tangannya. Gadis itu menyerigai, dirinya benar-benar seperti gadis materealistis hari ini.

Tidak apa-apa kan, klo aku menguras uang Tuan Arka untuk membeli makanan.

Lagi-lagi benak Hendro dipenuhi tanda tanya, namun pria itu engan bertanya banyak. Sampai kendaraan yang mereka tumpangi kembali ketoko, keduanya tak terlibat pembicaraan.

"Pak, bagi ini pada penjaga lain." Zara mengulurkan dua kantong plastik makanan dari ketiga kantong di tangannya. "Maaf, saya belum sempat memasak untuk Bapak dan kawan-kawan pagi ini," sambungnya lagi.

Hendro sedikit terkejut namun tetap menerima makanan itu dengan senang hati.

"Terimakasih Mba Zara."

Zara sudah hendak berbalik menuju toko kala sebuah mobil yang tampak tak asing memasuki area parkir toko bunga.

Deru mesin mobil terhenti, seorang pria muda muncul dari pintu yang terbuka.

Tuan Sam.

Zara mendekati pria yang menjadi pengawal sekaligus asisten pribadi suaminya itu.

"Tuan Sam."

"Selamat siang Nona," ucap Sam sembari menundukan kepala.

"Apa ada sesuatu yang Tuan Sam butuhkan?" gumam Zara setengah berbisik.

"Tuan meminta saya untuk menjemput Nona."

Zara menautkan kedua alisnya, "Menjemputku?"

"Iya Nona. Ada hal penting yang ingin Tuan bicarakan," jawab Sam lantang.

Glek..

Zara menelan salivanya susah paya.

Apa? Kenapa aku harus mulai mencicil uang Tuan Arka yang sudah kuhabiskan secepat ini.

Nyaris saja gadis mungil itu menjatuhkan bungkusan makanan dari gengaman tangannya, namun kesadarannya mampu terkumpul dengan cepat dan meremas kantong itu lebih kuat.

"Mari Nona." Sam sudah membukakan pintu mobil untuk Zara.

Masih tetap mengengam kantong makanan, gadis itu pun menurut dan memasuki mobil sebelum Sam memberi titah untuk kedua kalinya.

Dari jendela yang tertutup rapat, Zara mampu menangkap wajah keempat penjaga yang menatap mobil hingga menghilang dengan tanya. Saling berbisik, coba menerka sesuatu yang tengah terjadi.

Zara menatap bungkusan makanan di tangannya. Semenjak pagi dirinya belum sempat memakan apa pun, berharap dengan membeli makanan dari kartu pemberian sang suami mampu menganjal perutnya yang mulai berdemo minta diisi. Akan tetapi, rasa laparnya sirna seketika seiring kedatangan Sam beberapa menit lalu. Jika waktu dapat diulang, mungkin gadis itu tak akan pernah mengunakan kartu pemberian Arka untuk apa pun, dari pada harus terlibat masalah seperti ini.

1
Surati
bagus
sinta febrianti
udah bisa di tebak pas Zara nyuruh suaminya ngelepasin sandy pasti bkln kya gni. hrusnya arka wlaupun Zara ngmng sruh lepaskan hrusnya dia ttep nyuruh bodyguard nya buat beresin sandy biar gak bkin ulah lgi.. lah ini malah di bebasin yo wis jdinya begitu sandy berulah lgi
Rikawaii San
Luar biasa
Retno Elisabeth
menarik ceritanya thor
Inaqn Sofie
knp manggilnya tuan trs ya
Adeva Rizky
kok Zara,ngomong sama arka msh aj formal.gk cocok
Lena Sari
masa lalu seperti apa yg nona Anastasya sembunyikan???
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trusvsukses
fifid dwi ariani
trus sehat
Murwa Malefy
heheeee puncak kepala thor...😀 semangaattt thor..
YK
memang lebih baik dengan Ken yg didewasakan dengan cobaan. bukannya rangga yg lari dari cobaan dan meminta sahabatnya yg bertanggungjawab atas permasalahan yg disebabkan oleh dirinya sendiri...
YK
noh, siapa yg kemaren sibuk menghujat arka????
YK
cowok kere aja belagu...
YK
apakah tasya sakit? HIV mungkin?
Sri Wahyuni
kan s zara msih punya bpk knp pke wali y hakim
Sri Wahyuni
hrus nya s tasya itu memprbaiki dri dn hrs bersyukur msih ada yg mau mengeluarkn dri dunia lmbah hitam s arka mau menikahi nya hrs hidup lah yg lbih baik nikmati yg udah d sdiakan suami nya the real az hidup dn hnya krn cinta yg blm d dpt jd tmbah hilng arah cp tau dngn bnyk bersyukur dn brsbar akn tba wktu y yg d ingin kn tpi ini klkuan bkin jengah suami az
Sri Wahyuni
mungkin tdi y tasya itu jalang yg taubat..dan s zara skrng az blng ga mau k dpn y pasti bucin merem melek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!