Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Merealisasikan Ide
Setiap kali meminta bantuan pada Joko dalam hati, otak pun menjadi encer sehingga melahirkan ide. Entah ini ide brilian atau ide asbun, yang penting bagi Tya adalah akan merealisasikan idenya itu begitu sampai rumah. Senyum samar terbit saat turun dari mobil. Berbeda dengan wajah ibu mertua yang terlihat berawan padahal langit Jakarta sedang cerah.
"Bu, aku mau langsung ke atas ya. Mau mandi dulu gerah," ujar Tya yang berjalan di sisi kiri Ibu Suri sejak dari luar sampai masuk ke dalam rumah. Tangan kanannya menenteng tas ransel gunung berukuran sedang. Bukan ransel sembarang ransel yang biasanya berisikan keperluan muncak, ini isinya adalah brankas kecil berbentuk persegi panjang. Ada 1 kg perhiasan emas dalam berbagai model baru yang diambil dari pabrik. Mau dipamerkan di acara pertemuan dengan teman-teman Ibu Suri di rumah ini. Untuk dijual tentunya.
"Iya, Nak. Ibu juga mau istirahat. Agak sakit kepala ini. Gara-gara ayahnya Diaz menyebalkan. Enak aja dia cuci tangan. Kabur ke Surabaya ke bini mudanya. Dasar tukang kawin! Pengecut!"
Tya melipat bibir. Bingung harus bersikap bagaimana. Baru sekarang melihat Ibu Suri mengumpat setelah dulunya pandai menyembunyikan marah dan sakit hati pada Ayah Hilman. Dengan status yang sudah 'merdeka', sang mertua bebas meluapkan isi hatinya.
"Ibu, sekarang Ibu istirahat aja. Asar masih satu jam lagi, Ibu bisa tidur siang dulu. Hempaskan dulu beban pikiran biar bisa tidur nyenyak. Ibu jangan lama-lama nyimpen marahnya ya. sayang banget energi kita terkuras. Hidup ini indah kalau tau cara menikmatinya."
Tangan Suri urung memutar gagang pintu setelah memijit angka PIN pintu. Mematung sambil menyipitkan mata menatap Tya yang ada di sisinya.
Seketika membisu untuk beberapa waktu. Tya mengerjap gelisah ditatap sang mertua yang sorot matanya sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
Waduh! Aku salah ngomong ya. Beraninya nasihatin orang tua. Sok bijak kau, Tya!
Suri memeluk Tya dengan erat. Matanya berbinar terang setelah beberapa waktu lalu redup dan hilang gairah. "Tya, kenapa nggak dari tadi kau ingetin Ibu. Ibu baru sadar sekarang. Bener-bener rugi banget. Hari Ibu kehilangan bahagia gara-gara marah sama ayahnya Diaz."
Tya meringiskan wajah sambil membuka mulut untuk bernapas. Pasokan oksigen tersendat karena Ibu suri terlalu ketat pelukannya. Di sisi lain, merasa lega melihat ibu mertua berubah. Kembali tersenyum semringah dan menyala lagi semangatnya.
Setelah menyerahkan tas ke tangan Ibu Suri, Tya melanjutkan langkah menuju tangga. Baru meniti tangga setengahnya, ponsel di dalam tas berdering.
"Ya, Anya." Tya menyapa dengan riang sahabat barunya sambil melanjutkan langkah menuju kamarnya.
"Tya, aku baru pulang ke kosan. Baru ambil paket darimu di pos. Makasih oleh-olehnya, Tya. Aku udah makan dua ini. Kuenya enak banget."
"Pasti enak dong soalnya gratis." Tya tertawa bersamaan dengan tawa Anya di ujung telepon.
"Cius enak ini. Cocok sama lidahku. Ini dari tokonya kakak iparmu itu ya, Tya?"
"Yup. Toko sekaligus rumah. Kapan-kapan kalau pulang ke Bekasi boleh coba tuh mampir ke sana, Nya. Bisa makan ditempat juga. Alamat ada di Google map. Atau mau datang sama Mas Evan juga bisa. Dia kan udah pernah ke rumahku waktu nganter Mas Diaz lamaran," jelas Tya yang diakhiri dengan tertawa. Ada kesengajaan menggoda Anya.
"Hm, untuk sementara mau pesan online aja pengen ngasih buat Umi. Aku mudiknya pertengahan Februari. Sekarang masih sibuk."
"Oke, bestie."
"By the way, Mas Evan udah dua kali datang ke kosan, Tya."
Pintu kamar baru saja dibuka. Tya masuk dan menghempaskan bokong di sofa. "Wow, kau kasih kesempatan kedua?"
"Lebih tepatnya aku membuka peluang untuk berteman lagi. Meskipun dia kelihatan suka padaku, tapi aku tidak suka sama sikap plin-plan nya. Mau lihat lagi kesungguhannya, Tya."
"Aku suka sama sikapmu yang berintegritas gitu, Anya. Mas Diaz pernah bilang, meskipun Mas Evan sahabatnya, tapi ibarat marketing, dia nggak akan mau jadi sales promotion boy. katanya silakan Anya nilai sendiri. Secara persahabatan memang baik, tapi urusan privasi tidak akan ikut campur. kecuali kalau diminta bantuan misal jadi mediator, insyaallah akan bantu."
"Aku suka prinsip persahabatan seperti itu. Nanti deh aku update kalau ada kabar baru soal Mas Devan. Aku mau mandi dulu ya, Tya."
"Sama aku juga. Baru nyampe rumah mau terus mandi."
***
Bukan hanya kesegaran yang didapat setelah mandi, tetapi juga recharge energi dengan menunaikan salat Asar. Sekarang, saatnya merealisasikan ide dengan pergi ke dapur. Tya mulai sibuk memilih bahan-bahan yang dibutuhkan.
"Neng, mau bikin apa? Ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Saroh yang sudah lebih dulu berada di dapur untuk menjalankan tugasnya menyiapkan menu makan malam.
"Mau bikin cemilan, Bi. Bibi lanjut aja masaknya. Aku bisa handle sendiri. Mari kita ramaikan suasana dapur," sahut Tya yang kemudian tergelak.
Butuh waktu setengah jam berkutat di dapur. Kalau pun selama proses masak Ibu Suri datang, Tya akan jujur tentang apa yang sedang disiapkannya itu. Tetapi sampai kegiatannya selesai, sang mertua tidak muncul—sepertinya belum keluar dari kamar.
Bagus deh. Biar ini jadi surprise.
Tya membawa hasil karyanya ke lantai dua. Setelah itu turun lagi. Langkahnya menuju kamar ibu mertua tersayang. Mengetuk pintu satu kali. Tak lama berselang, Ibu Suri membuka pintu dengan tampilan terlihat lebih segar.
"Ibu lagi santai, nggak?"
"Iya. Baru mau keluar keduluan Tya ngetuk pintu. Ada apa, Nak?"
"Sip." Tya tersenyum lebar. "Ke balkon yuk, Bu. Aku punya sesuatu di balkon."
"Apa tuh?" Suri mengernyit penasaran. Melihat Tya yang ceria, 'sesuatu' yang Tya maksud berarti bukan kejutan buruk.
"Nggak bisa jelasin di sini. Rasa penasaran Ibu bakal terjawab di balkon. Let's go!" Tya menggandeng tangan Ibu Suri dengan riang. Meniti tangga bersama lalu berbelok kiri menuju balkon.
Jika memperkirakan waktu kepulangan, Diaz baru bisa bergabung kurang dari satu jam lagi. Tentu saja Tya menyiapkan untuk Diaz juga meski belum tahu apakah suaminya itu akan suka atau tidak.
"Wah, wangi gini. Apa namanya ini?" Suri mengamati piring ceper keramik putih yang di sisi kirinya ada termos kecil yang belum diketahui apa isinya.
"Namanya baklor, Bu. Alias bakwan telur. Jajanan tradisional khas anak SD. Aku bikin di dapur barusan. Lagi pengen nostalgia jajanan kaki lima ini tapi buatan chef Tya yang ini ala kaki lima tapi rasa bintang lima." Tya cengengesan.
Suri terkekeh. "Mau dong nyobain. Makannya colek dulu ke saos atau saos yang dibaluri ke baklor nya?"
"Lebih efektif dibaluri, Bu. Jadi begitu gigit, satu tusukan udah dapat saosnya."
"Oke." Suri duduk di sisi kanan kursi panjang yang tersedia di balkon. Langit senja mulai meredup tak lagi terik seperti tadi siang. "Yang di termos ini apa, Tya?" sambungnya, penasaran.
Tya menjentikkan jari. Lalu membuka tutup termos es. "Ini dia bintang utamanya. Es cekek. Apa Ini masih ingat, di pertemuan pertama kita di bantaran kali, aku sempat memperkenalkan es cekek. Tapi belum sempat kita minum bersama karena Ibu malah nawarin jadi menantu. Aku milih kabur deh."
Suri tertawa renyah. Tentu saja pertemuan tak sengaja itu masih diingatnya. Tawanya terus berderai mengingat Tya lari terbirit-birit sampai tak sadar dompetnya jatuh.
"Ibu nggak akan lupa itu, Tya," ujarnya sambil menyeka sudut mata yang berair karena puas tertawa. Tangan kanannya menerima uluran es cekek yang baru saja dipasang sedotan oleh Tya.
"Ibu tahu kenapa aku siapin minuman dan makanan ini? Sederhana aja. Aku lagi ikuti cara Allah di surah Maryam. Cara Allah menghibur Maryam saat sedih itu dengan makanlah makanan yang baik dna minumlah dengan minuman yang menenangkan. Bukan dengan menyuruh bersabar ataupun ikhlas.
Makanan dan minuman ini sederhana tapi dijamin baik dan menyehatkan karena aku bikinnya dengan bahan premium. Gulanya pakai stevia bukan gula pasir. Telur untuk baklor pakai telur omega. Ayo Ibu coba. Semoga sajian ini bikin Ibu siap mental menghadapi hari esok bertemu Oma Inka." Pungkas Tya dengan senyum lebar dan menyalurkan semangat lewat kepalan tangan.
Suri sejenak terkesima oleh penjelasan Tya. Ibarat kata anak muda sekarang, uraiannya daging semua. Lebih dari itu, ia sudah bahagia oleh perhatian sang menantu. Terasa tulusnya hingga hati tersentuh haru.
Semoga rumah tangga Abey dan neng Tya , selalu bisa rukun , saling menghargai dan mencintai, dan semoga Abey tidak seperti papa & opanya yg suka menduakan hati istrinya 🙏🤗
Jujur lebih baik daripada hati resah dan tak tenang
Lebih baik Tya tau dari Diaz langsung.. so next jika Sophia dah mulai menunjukkan gejala2 ulat bulu nya Tya bisa jadi tameng.. Diaz ngga perlu menghadapi Sophia sendiri
Yakiinn.. Tya bisa menghadapi Sophia
Hm.. sampe sini aku yakin.. Sophia masih berpikir klo Diaz blom bisa move on dan cincin di jari Diaz memancing kepo nya Sophia tentang "siapa perempuan yang dah bisa mengikat seorang Diaz"?
Atau bisa jadi Sophia juga dah tau.. ntah dari siapa.. klo Diaz nikah karena perjodohan ibunya!
Dan Sophia kepo pen tauu seperti apa bentukan istri seorang Diaz (yakiinn.. mau membandingkan dengan dirinya..)
Kann.. jadi su'udzon.. 🤪🤪😭😭😅😅
terimakasih updatenya 🤍 ..