NovelToon NovelToon
Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Identitas Tersembunyi / Beda Usia
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.

Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.

Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.

Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.

Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Subyek

Layar monitor itu masih menyala.

Dalam ruangan yang gelap, hanya cahaya dari layar tersebut yang menerangi wajah mereka.

Foto Elena muncul lebih dulu.

Kemudian berganti menjadi foto Andrian.

Di bawah keduanya terdapat tulisan yang sama.

PENGAWASAN DIMULAI.

Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.

Elena berdiri kaku di depan meja.

Matanya terpaku pada foto dirinya sendiri.

Andrian justru menatap foto dirinya lebih lama. Ia hanya seorang mahasiswa magang biasa. Mengapa wajahnya dipajang bersebelahan dengan CEO perusahaan raksasa ini sebagai target pengawasan utama?

Ada sesuatu yang terasa sangat salah.

Bukan hanya karena fotonya berada di sana.

Melainkan karena foto tersebut terlihat seperti diambil dari jarak jauh.

Foto Elena juga sama.

Seolah seseorang telah mengikuti mereka selama berbulan-bulan.

Maya perlahan mendekat.

"Bu..."

Elena tidak menjawab.

"Bu Elena."

Elena akhirnya menoleh.

"Aku di sini."

Maya mengangguk.

"Saya rasa kita harus keluar dari ruangan ini."

Elena melihat pintu.

Petugas keamanan masih berusaha membukanya.

Tidak berhasil.

"Berapa lama pintunya terkunci?"

"Kurang dari satu menit, Bu."

"Dan sistemnya?"

"Elektronik."

Maya melihat panel di samping pintu.

"Kalau listrik mati, harusnya kunci otomatis terbuka."

Petugas keamanan menggeleng.

"Seharusnya."

Andrian menatap panel tersebut.

"Berarti ada sistem cadangan."

Maya menoleh.

"Atau seseorang mengendalikan pintunya."

Elena menghela napas.

"Jadi kita terjebak."

Andrian menggeleng.

"Belum tentu."

Ia mendekati dinding.

"Ruangan ini dibuat untuk menyimpan dokumen rahasia."

Andrian menelusuri bagian bawah dinding dengan cahaya ponselnya.

"Kalau memang dirancang seperti ruang arsip, pasti ada akses darurat."

Maya ikut mencari.

"Di mana?"

"Biasanya dekat ventilasi atau ruang listrik."

Petugas keamanan memeriksa sisi kiri ruangan.

Beberapa detik kemudian ia memanggil.

"Pak."

Andrian mendekat.

Di balik rak terdapat panel logam kecil.

Ada simbol lama NSM di atasnya.

Maya membersihkan debu dengan sarung tangan.

"Ini sudah lama."

Andrian memeriksa kuncinya.

"Dan sepertinya masih digunakan."

Sementara petugas keamanan berusaha membuka panel, Elena kembali menatap monitor.

Layar telah berubah.

Kini hanya ada satu tulisan.

DUA SUBJEK. SATU JALUR.

Kemudian muncul baris berikutnya.

SUBJEK SATU — ELENA

SUBJEK DUA — ANDRIAN PRATAMA

Elena membeku.

Andrian menatap layar.

Tidak ada ekspresi di wajahnya.

Namun pikirannya bergerak cepat.

Mereka bukan hanya sedang diawasi.

Mereka telah dikategorikan.

Dan seseorang sudah menganggap hubungan mereka sebagai sesuatu yang penting.

Elena mendekati Andrian.

"Andre."

"Ya?"

"Kenapa kamu?"

Andrian menatap layar.

"Aku tidak tahu."

"Kalau mereka sudah mengawasiku sebelum kita bertemu..."

Elena berhenti.

"Kenapa mereka mengawasimu juga?"

Andrian tidak menjawab.

Ia justru melihat tanggal di bawah fotonya.

18 — 06 — 2026.

Tanggal pertama kali mereka bertemu.

Andrian mengingat malam itu.

Pesan.

Pertemuan.

Restoran.

Semua terasa seperti kebetulan.

Namun sekarang, kebetulan itu terasa terlalu sempurna.

"Len."

"Apa?"

"Kalau tanggal ini benar..."

Andrian menunjuk layar.

"...berarti seseorang sudah tahu kita akan bertemu."

Elena menatapnya.

Wajahnya perlahan berubah.

"Mustahil."

"Aku juga berharap begitu."

Panel logam akhirnya terbuka.

Di baliknya terdapat lorong sempit.

Gelap.

Hanya cukup untuk satu orang berjalan.

Petugas keamanan menyorotkan senter.

"Ini jalan keluar."

Maya menghela napas lega.

"Syukurlah."

Elena masih menatap monitor.

"Matikan layar itu."

Andrian menggeleng.

"Jangan."

Elena menoleh.

"Kenapa?"

"Karena kita belum tahu siapa yang mengendalikannya."

Andrian mendekati meja.

Ia mengambil foto dokumentasi dari map.

"Kita bawa semuanya."

Maya langsung menggeleng.

"Bu, dokumen ini terlalu sensitif."

Elena mengangguk.

"Masukkan ke tas bukti."

Maya segera mengikuti instruksi.

Satu per satu dokumen dimasukkan.

Namun ketika Andrian hendak mengambil map merah bertuliskan PROYEK REYHAN, layar monitor tiba-tiba berubah.

Satu kalimat muncul.

JANGAN AMBIL MAP MERAH.

Andrian berhenti.

Maya menatap layar.

"Bu..."

Elena mendekat.

"Ambil."

Andrian menoleh.

"Yakin?"

"Justru karena dia menyuruh kita meninggalkannya."

Andrian mengambil map tersebut.

Layar langsung mati.

Ruangan kembali gelap.

Mereka keluar melalui lorong darurat.

Lorong itu berakhir di belakang gedung lama.

Hujan masih turun.

Udara malam terasa lebih segar dibandingkan udara pengap di dalam Ruang 03.

Begitu mereka keluar, Elena menarik napas panjang.

Maya langsung menghampirinya.

"Bu, apakah Ibu baik-baik saja?"

Elena mengangguk.

"Baik."

Maya masih terlihat khawatir.

"Kalau begitu kita harus kembali ke gedung utama."

Elena mengangguk.

"Dan jangan beri tahu siapa pun soal Ruang 03 dulu."

Maya memahami.

"Baik, Bu."

Andrian berdiri sedikit jauh.

Ia menatap gedung lama.

Dari luar, bangunan itu terlihat seperti bangunan kosong yang tidak memiliki arti.

Padahal di dalamnya tersimpan dokumen tentang Elena.

Tentang dirinya.

Dan mungkin tentang sesuatu yang jauh lebih besar.

Elena menghampirinya.

"Kamu diam saja."

Andrian menoleh.

"Sedang berpikir."

"Memikirkan apa?"

"Siapa yang mengambil foto kita."

Elena terdiam.

Andrian melanjutkan.

"Foto kita bukan foto biasa."

"Kenapa?"

"Karena ada beberapa foto yang diambil sebelum kita bertemu."

Elena menatapnya.

"Contohnya?"

Andrian membuka ponsel.

Ia memperlihatkan foto lama Elena yang sebelumnya dikirim anonim.

"Lihat latar belakangnya."

Elena memperbesar foto.

Sebuah papan restoran terlihat samar.

Tanggal di papan digital terlihat.

Itu beberapa hari sebelum mereka bertemu.

Maya ikut melihat.

"Berarti orang itu sudah mengikuti Ibu sejak sebelum tanggal 18."

Elena mengangguk pelan.

Andrian membuka foto dirinya.

Foto itu diambil di area kampus.

Beberapa hari sebelum mereka bertemu Elena.

Maya terdiam.

"Bu..."

Elena tidak menjawab.

Kini mereka memiliki dua kemungkinan.

Seseorang mengawasi mereka secara terpisah.

Atau seseorang telah merencanakan agar mereka bertemu.

Dan kemungkinan kedua jauh lebih mengkhawatirkan.

Di dalam mobil, suasana sangat sunyi.

Maya duduk di depan.

Elena dan Andrian duduk di belakang.

Map merah berada di antara mereka.

Tidak ada yang membukanya.

Sampai Elena akhirnya berkata,

"Andre."

"Ya?"

"Kalau ternyata pertemuan kita bukan kebetulan..."

Andrian menatapnya.

"...apa yang akan kamu lakukan?"

Andrian tidak langsung menjawab.

Ia melihat hujan yang membasahi kaca mobil.

"Aku tidak tahu."

Elena menunduk.

"Tapi aku tahu satu hal."

Elena menoleh.

"Apa?"

"Apapun yang mereka rencanakan, sekarang kita sudah tahu."

Andrian menatap Elena.

"Dan kita tidak perlu mengikuti permainan mereka."

Elena terdiam.

Kemudian mengangguk.

"Benar."

Maya yang mendengar percakapan itu hanya diam.

Namun ia menyadari sesuatu.

Andrian bukan lagi sekadar intern yang kebetulan membantu Elena menemukan masalah perusahaan.

Ia sudah berada terlalu jauh di dalam permainan ini.

Malam itu, setelah sampai di penthouse, Elena meminta Maya membawa semua dokumen ke ruang kerja.

"Bu, sebaiknya dokumen ini disimpan di brankas perusahaan."

Elena menggeleng.

"Belum."

"Kenapa, Bu?"

"Karena aku belum tahu siapa yang bisa mengakses sistem perusahaan."

Maya terdiam.

Elena menatap map merah.

"Untuk sementara, simpan di sini."

"Baik, Bu."

Maya membawa dokumen tersebut ke ruang kerja.

Andrian berdiri di dekat jendela.

Jakarta terlihat seperti lautan cahaya.

Namun pikirannya masih berada di Ruang 03.

Dua subjek.

Satu jalur.

Ia membuka ponsel.

Tidak ada pesan.

Tidak ada panggilan.

Untuk pertama kalinya sejak misteri ini dimulai, nomor anonim itu diam.

Andrian justru merasa lebih gelisah.

"Kenapa dia berhenti?"

Elena menoleh.

"Siapa?"

"Pengirim pesan."

Elena mendekat.

"Mungkin dia sudah mendapatkan yang dia mau."

Andrian menggeleng.

"Belum."

"Kenapa?"

Andrian menatap Elena.

"Karena dia ingin kita menemukan Ruang 03."

Elena mengernyit.

"Jadi?"

"Kalau dia ingin menyembunyikannya, dia bisa membuat kita tidak pernah menemukannya."

Elena terdiam.

Andrian melanjutkan.

"Berarti sejak awal dia memang ingin kita datang ke sana."

Maya yang baru kembali dari ruang kerja ikut mendengar.

"Bu..."

Elena menoleh.

"Apa?"

Maya membawa sebuah benda kecil.

"Ini ada di dalam map merah."

Andrian langsung mendekat.

Benda itu sebuah foto.

Foto lama.

Tiga orang berdiri di depan sebuah gedung.

Satu orang adalah Elena.

Orang kedua tidak dikenal.

Orang ketiga...

Andrian membeku.

Wajah orang ketiga membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.

Ia mengenalnya.

Bukan secara pribadi.

Namun ia pernah melihat wajah itu.

Di foto keluarga Elena.

Di salah satu dokumen perusahaan.

Dan di kantor Komisaris Utama.

Andrian menatap Elena.

"Len..."

Elena melihat foto itu.

Napasnya tertahan. Matanya terpaku pada sosok pria di sudut kanan foto.

Orang ketiga dalam foto itu adalah—

Arman.

Ayahnya sendiri.

Elena mengambil foto tersebut dengan tangan gemetar.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan:

"Hari ketika kesepakatan pertama dibuat."

Elena membaca kalimat itu berulang kali.

Kemudian membalik foto.

Ada tanggal.

17 — 06 — 2026.

Satu hari sebelum Elena dan Andrian pertama kali bertemu.

Elena perlahan mengangkat kepala.

"Kalau foto ini benar..."

Andrian menatapnya.

"...berarti ayahku tahu sesuatu."

Belum sempat Andrian menjawab, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari nomor anonim.

Sekarang tanyakan kepada ayah Elena tentang tanggal 17 Juni.

Andrian menatap layar.

Pesan berikutnya muncul.

Tapi jangan tanyakan di kantor.

Dan pesan terakhir—

Karena seseorang di NSM sedang mendengarkan.

Bersambung...

1
sphinxeditz77
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir dan baca novel ini! 🥹❤️

Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥

Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆

Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥

Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!