"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Arelio
Suasana kediaman Evran sore itu terasa tenang namun menyimpan ketegangan terselubung. Di ruang keluarga, Evran duduk berhadapan dengan Arelio seraya menikmati cangkir teh hangat.
"Rencana investasi lembaga investigasimu berjalan lancar, Arelio?" tanya Evran membuka percakapan.
Arelio meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan. "Lancar, Pa. Tapi bukan itu yang bikin pikiranku terganggu beberapa hari ini."
"Soal Levara lagi?" tebak Evran tepat sasaran.
Arelio mengangguk cepat, raut wajahnya mengeras. "Aku tetap nggak setuju Levara bertahan di mansion Velmore bersama Dante, Pa. Keputusan ini terlalu berisiko."
"Dante sudah membuktikan komitmennya di depan media dan publik, Arelio," sahut Evran tenang. "Dia pasang badan membela adikmu."
"Itu cuma pencitraan korporasi!" tembak Arelio cepat dengan nada suara meninggi. "Dante itu pebisnis licik. Aku takut dia cuma memanfaatkan Levara dan dokumen Papa Edlan demi mengamankan 40% saham Velmore Group. Begitu tujuan bisnisnya tercapai, gimana nasib Levara?"
Evran menatap anak sambungnya itu lekat-lekat, mengamati setiap perubahan emosi di wajah Arelio yang tampak begitu emosional.
Tak lama kemudian, Danira melangkah masuk ke ruang keluarga seraya membawa nampan berisi camilan.
"Ini camilannya disiram madu sedikit, Arelio," ucap Danira tersenyum lembut. "Mama mau ke belakang dulu ya, mau menyiram tanaman di taman samping. Adikmu juga masih di rumah Papa Ezran, nanti malam paling dia pulang,"
"Terima kasih, Ma," jawab Arelio memaksakan senyum tipis.
Begitu langkah kaki Danira menjauh dan bayangannya menghilang di balik pintu taman, suasana ruangan mendadak menjadi sangat hening.
Evran menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Arelio dengan pandangan mata seorang ayah yang penuh pengalaman hidup.
"Danira sudah nggak ada di ruangan ini, Arelio," ujar Evran pelan namun dalam.
Arelio mengerutkan keningnya. "Maksud Papa?"
"Sejak kemarin kamu terus beralasan soal ancaman Veyron, dokumen Edlan, sampai saham Velmore Group," kata Evran seraya menatap lurus ke dalam iris mata Arelio. "Tapi Papa tahu persis siapa kamu. Kemarahanmu pada Dante bukan cuma soal keselamatan Levara."
Arelio terdiam seketika, rahangnya mengeras kaku. "Papa bicara apa? Aku cuma mengkhawatirkan keselamatan adikku."
"Jujur pada Papa," potong Evran tegas. "Lepaskan statusmu disini. Bicara sebagai seorang pria."
Arelio menelan ludah dengan susah payah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mengepalkan jemarinya di atas paha.
"Arelio," panggil Evran lagi dengan nada lebih lembut. "Apa yang sebenarnya kamu rasakan pada Levara?"
Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Napas Arelio terdengar berat sebelum akhirnya ia mendongak, menatap Evran dengan pendar kejujuran yang menelanjangi pertahanannya.
"Aku menyukai Levara, Pa," aku Arelio dengan suara serak yang bergetar.
Mata Evran membesar seketika. Cangkir teh di tangannya hampir saja goyah. "Kamu ... apa?"
"Aku mencintai Levara. Bukan sebagai seorang kakak angkat ... tapi sebagai seorang pria," ulang Arelio tegas, mengakui perasaan yang selama puluhan tahun ia kubur rapat-rapat.
Evran tertegun tanpa kata. Dadanya bergemuruh mendengar pengakuan jujur dari putra angkat yang sangat ia percayai.
"Arelio ... kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan?" bisik Evran tak percaya. "Kalian tumbuh bersama di rumah ini sebagai saudara!"
"Kita nggak punya hubungan darah sedikit pun, Pa!" balas Arelio cepat, emosinya yang tertahan akhirnya pecah. "Aku menahan perasaan ini bertahun-tahun karena aku menghormati Papa dan Mama. Aku menunggu momen yang tepat untuk menyatakannya setelah kasus Papa Edlan selesai."
Arelio mengusap wajahnya kasar, mendesah frustrasi. "Tapi tiba-tiba ... Dante datang. Pria asing yang lumpuh itu mendadak menikahi Levara dan mengambil tempat yang seharusnya jadi milikku!"
"Arelio, cukup!" panggil Evran menaikkan volumenya. "Levara memilih Dante bukan karena terpaksa. Papa melihat sendiri bagaimana mata Levara menatap Dante sekarang. Ada rasa percaya dan kasih sayang yang tumbuh di antara mereka."
"Levara cuma terseret situasi, Pa!" bantah Arelio pantang menyerah. "Kalau saja Dante nggak muncul dengan perjanjian saham itu, Levara pasti—"
"Levara menganggapmu abangnya sendiri, Arelio," potong Evran tajam, memutus khayalan anak angkatnya. "Sejak kecil sampai detik ini, di mata Levara, kamu adalah Abang Arelio. Jika kamu memaksakan perasaan ini sekarang, kamu cuma bakal menghancurkan hatinya dan merusak keluarga kita."
Arelio menyandarkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit ruangan dengan senyuman pahit yang penuh keputusasaan.
"Jadi Papa minta aku cuma menonton dari jauh saat wanita yang aku cintai hidup bersama pria lain?" lirih Arelio penuh kepahitan.
Evran menatap anak angkatnya dengan tatapan iba namun tetap tegas. "Papa minta kamu jadi pria yang bijaksana. Jangan biarkan perasaan pribadi membuatmu mengacaukan perlindungan Levara dan Dante dalam menghadapi Keluarga Veyron."
Arelio mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja, tidak menjawab lagi. Pengakuan jujur sore itu resmi membuka peta konflik baru yang jauh lebih rumit di balik perjuangan mereka membongkar kejahatan masa lalu.
________