NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Satu Bulan Melawan Bertahun-tahun

Bunyi langkah kaki dan percakapan puluhan peserta memenuhi arena pengujian fisik W.H.O Regional Indonesia.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 berdiri di antara kelompok tujuh, memperhatikan berbagai peralatan yang tersusun di hadapannya. Ada lintasan lari, perangkat pengukur kekuatan, lintasan rintangan, serta beberapa mesin latihan yang terhubung dengan komputer pengawas.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, sejumlah petugas sedang melakukan pemeriksaan terakhir terhadap peralatan.

“𝘐𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘴 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘭𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨?” gumam 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀. Bibirnya lalu bergerak tanpa suara, menghitung palang di lintasan sebelah kanan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengikuti arah pandangnya.

“𝘗𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯,” kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘯𝘵𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶.”

“𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menoleh, wajahnya setengah ngeri. “𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘪𝘯𝘵𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘴 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘴𝘪𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳.”

Tawa 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lolos begitu saja.

Tawa itu berhenti ketika seorang pengawas berjalan ke tengah arena dengan papan catatan di tangan.

“𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩! 𝘉𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢.”

Obrolan di sekitar 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 surut satu per satu.

“𝘛𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢. 𝘒𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘯𝘤𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘰𝘰𝘳𝘥𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪.” Nada pengawas itu datar. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengenali nada seperti itu; ia sendiri memakainya setiap kali menyebutkan total belanjaan untuk keseratus kalinya dalam satu sif. “𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘳: 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘦𝘮 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.”

Pengawas itu menyapu barisan peserta dengan pandangannya.

“𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. 𝘋𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭. 𝘋𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘮𝘯𝘺𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa sadar menurunkan bahunya yang sejak tadi terangkat.

Suara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 terdengar lagi di kepalanya, lengkap dengan nada datarnya yang khas.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢, 𝙑𝙖𝙣.”

“𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯,” lanjut pengawas. “𝘕𝘰𝘮𝘰𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭, 𝘮𝘢𝘫𝘶 𝘬𝘦 𝘨𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘴𝘵𝘢𝘳𝘵.”

Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendapat giliran setelah 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 dan dua peserta lainnya.

Ketika aba-aba diberikan, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 langsung bergerak.

Langkahnya panjang, teratur, dan hampir tidak membuang gerakan. Ia melewati lintasan dengan kecepatan tinggi tanpa terlihat tergesa-gesa.

Saat memasuki bagian rintangan, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menyesuaikan ritme, melewati palang, kemudian mendarat dengan kedua lutut sedikit menekuk.

Gerakannya begitu alami.

“𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢,” bisik 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.

“𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunjuk dengan dagunya. “𝘓𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘬𝘪 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyipitkan mata, menunggu 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 melewati palang berikutnya.

“𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.” Ia menoleh pada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯.”

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘰𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶.”

Tak lama kemudian, giliran 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tiba.

Ia mengambil posisi.

Bip!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melesat meninggalkan garis awal.

Dua minggu latihan intensif bersama 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memberinya fondasi yang cukup baik. Kekuatan kaki dan daya tahannya juga jauh meningkat sejak CORE miliknya aktif.

Pada lintasan lurus, ia mampu mempertahankan kecepatan yang cukup tinggi.

Masalah muncul di rintangan pertama.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil langkah terlalu lebar. Titik tumpunya meleset, dan ia terpaksa menambah satu langkah sebelum melompat.

𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨. 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘶𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨.

Ia berhasil melewati rintangan itu, tetapi beberapa detik sudah terbuang.

Kesalahan serupa terulang ketika ia harus mengubah arah secara mendadak.

Tubuhnya mampu bergerak cepat. Sayangnya, kepalanya belum selalu mampu memilih gerakan yang paling efisien.

“𝙉𝙤𝙞𝙧! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭!” seru pengawas dari pinggir lintasan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak punya napas untuk menjawab. Ia mengurangi sedikit kecepatannya, lalu mulai memperhatikan jarak langkah dan posisi bahunya.

Pada paruh terakhir lintasan, pergerakannya perlahan menjadi lebih teratur.

Meski begitu, ketika mencapai garis akhir, waktunya masih tertinggal cukup jauh dari 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membungkuk, kedua tangan bertumpu di lutut. Keringat menetes dari dagunya.

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩,” gumamnya di sela napas. “𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯.”

“𝘓𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyodorkan botol air. “𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima botol itu. “𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢.” Ia meneguk air, lalu menyeka mulut dengan punggung tangan. “𝘜𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘳𝘰𝘮𝘪.”

“𝘠𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.”

Pengujian berlanjut ke kekuatan dan koordinasi tubuh.

Pada bagian pengukuran kekuatan, hasil 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 cukup mengejutkan beberapa peserta. Kemampuan dorong dan kekuatan genggamannya ternyata berada di atas perkiraan mereka.

Namun, ketika pengawas meminta peserta mengulangi rangkaian gerakan dalam kondisi lelah, perbedaannya mulai terlihat.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mampu mempertahankan teknik hampir tanpa perubahan berarti.

Sebaliknya, bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 beberapa kali menegang. Posisi kakinya juga mulai kehilangan ketepatan.

“𝘉𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶, 𝙉𝙤𝙞𝙧.” Pengawas mengetukkan pena ke papan catatannya. “𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵.”

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘭𝘰𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘗𝘢𝘬.”

Pada pengulangan berikutnya, ia mengendurkan bahu dan mengatur napasnya.

Hasilnya sedikit membaik.

Anehnya, semakin lama pengujian berlangsung, koordinasi tubuhnya justru terasa semakin mudah diatur setelah ia menemukan ritme yang sesuai.

Rasa lelah masih ada. Otot-ototnya tetap terasa panas.

Namun, gerakan yang tadi sulit dilakukan mulai terasa akrab.

𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak memikirkannya lebih jauh.

Di meja pengawas, seorang petugas memutar layar tabletnya ke arah rekannya.

“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬. 𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘢𝘱𝘪.”

Rekannya melirik angka di layar, lalu kembali ke berkas di hadapannya.

“𝘌𝘧𝘪𝘴𝘪𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩. 𝘛𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 ‘𝘢𝘥𝘢𝘱𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘢𝘵𝘪’. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳.”

Petugas pertama mengangguk dan mulai mengetik.

Setelah jeda istirahat, peserta diarahkan menuju ruang ujian teori.

Berbeda dengan arena fisik, ruangan ini dipenuhi meja komputer yang tersusun rapi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk sesuai nomor peserta. Di layar terpampang instruksi mengenai pengetahuan dasar Hunter, klasifikasi BETA, keselamatan operasi, dan prosedur penyelamatan.

Bip!

Ujian dimulai.

Beberapa pertanyaan pertama masih dapat dijawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan cukup mudah. Ia mengenali klasifikasi Threat Level, batas dasar pengoperasian CORE, serta fungsi Regalia sebagai perantara manifestasi mana.

Namun, ketika memasuki soal berbentuk studi kasus, ia mulai membutuhkan waktu lebih lama.

Salah satu soal menggambarkan situasi ketika seorang calon Hunter menemukan BETA Threat Level D di dekat kawasan permukiman, sementara sejumlah warga belum berhasil dievakuasi.

Pilihan jawabannya mencakup berbagai tindakan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membaca soal itu dua kali.

𝘔𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘵𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭, 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮.

Ia memilih tindakan yang mengutamakan evakuasi, pelaporan ancaman, dan pengamanan warga sesuai kemampuan personel di lokasi.

Untuk soal berikutnya, ia tidak seberuntung itu. Pertanyaan mengenai prosedur teknis operasi gabungan membuatnya menghabiskan hampir seluruh waktu yang tersisa.

Ketika ujian selesai, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bersandar dan memejamkan mata sebentar.

“𝘔𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶?” tanya 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 begitu mereka keluar. “𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩𝘪 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳.”

“𝘚𝘰𝘢𝘭 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘨𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memijat pangkal hidungnya. “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tertawa sampai beberapa peserta menoleh.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶, 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘢𝘬. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘭𝘰𝘨 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘬𝘰𝘮𝘪𝘬.”

Tidak lama kemudian, hasil sementara ditampilkan.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 memperoleh nilai tinggi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhasil melewati batas minimum, tetapi posisinya hanya berada di kelompok nilai menengah ke bawah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat angka di samping nama 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀, lalu angka di samping namanya sendiri. Selisihnya tidak perlu dihitung dua kali.

“𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘦𝘯𝘴𝘪𝘬𝘭𝘰𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯.”

“𝘌𝘯𝘴𝘪𝘬𝘭𝘰𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengangkat bahu. “𝘕𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨.”

“𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢.”

Tahap berikutnya adalah Basic Combat Assessment.

Di dalam arena, pengawas telah menyiapkan target bergerak dan perlengkapan pelindung untuk pengujian teknik tanpa Regalia.

“𝘐𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘶 𝘬𝘶𝘢𝘵,” kata pengawas. “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦, 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥, 𝘧𝘰𝘰𝘵𝘸𝘰𝘳𝘬, 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengencangkan pelindung tangannya. Tali perekatnya ia tarik, ia lepas, lalu ia tarik lagi, padahal sejak awal sudah pas.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 maju lebih dahulu.

Begitu instruktur memberikan aba-aba, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mengambil posisi tempur dengan mantap.

Ketika target bergerak mendekat, ia melakukan parry, menggeser tubuh dari garis serangan, lalu membalas dengan pukulan terukur.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Saat instruktur mempercepat tempo, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 tetap mampu menjaga jarak dan keseimbangannya.

“𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱.” Penguji menulis sesuatu tanpa mengangkat wajah. “𝘒𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘭 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩. 𝘒𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯. 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶.”

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 membungkuk singkat, lalu keluar dari area pengujian tanpa melirik siapa pun.

Kemudian tibalah giliran 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Ia mengambil stance sebagaimana yang diajarkan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Kedua tangan terangkat.

Dagu sedikit diturunkan.

Kaki belakang diposisikan untuk menjaga keseimbangan.

“𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪!”

Target bergerak meluncur ke arahnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melakukan parry, lalu melepaskan jab.

Pukulannya mengenai sasaran.

Namun, ketika target kedua datang dari samping, ia terlambat menggeser kaki.

Duk!

Bantalan serangan menghantam pelindung bahunya.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯!” tegur penguji.

Serangan berikutnya datang. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhasil menghindar, tetapi langsung membalas dengan counter yang terlalu mudah dibaca.

Penguji menghentikan gerakan.

“𝘉𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶.” Ia menurunkan bantalan. “𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳, 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bahkan tidak sadar sudah melakukannya tiga kali.

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘱𝘰𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘪𝘵𝘶, 𝘗𝘢𝘬.”

“𝘐𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪. 𝘓𝘢𝘨𝘪.”

Pengujian dilanjutkan.

Tempo serangan meningkat.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai kewalahan.

Sebuah gerakan tipuan membuatnya mengangkat guard terlalu tinggi. Serangan sesungguhnya datang dari arah berbeda.

Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak secara refleks.

Untuk sesaat, ia hampir melakukan putaran kaki yang belum pernah dilatihnya secara penuh.

Namun, ia segera menyadari posisi tumpunya tidak tepat.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membatalkan gerakan itu, menarik kaki belakang, lalu kembali memasang guard.

Duk!

Bantalan mengenai lengannya.

Ia tetap berdiri.

Penguji mengangkat tangan.

“𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan kedua tangannya.

“𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢.” Penguji menulis tanpa menoleh. “𝘚𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦-𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥-𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭.” Ia mengetukkan ujung pena ke pelipisnya sendiri. “𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢.”

Ia akhirnya mengangkat wajah.

“𝘗𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪—𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘛𝘶𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯.”

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘗𝘢𝘬.”

Ia berjalan meninggalkan arena dengan napas berat.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 bersandar di dekat pintu keluar, kedua tangannya terlipat.

“𝘓𝘢𝘪𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴, 𝘺𝘢?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meliriknya.

“𝘗𝘢𝘥 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨.”

“𝘒𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.” 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mengangkat dagu ke arah arena. “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘰 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘭.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak membantah.

“𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬,” lanjut 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮. “𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭. 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨.”

Kalimat itu mengenai tempat yang tepat.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 teringat kejadian di kawasan industri.

Saat menghadapi BETA tipe Beast, dirinya memang nyaris tidak memiliki kesempatan untuk berpikir.

Dan akibatnya, ia hampir mati.

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melepas pelindung tangannya pelan-pelan. “𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢.”

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mengernyit, seolah jawaban itu tidak sesuai dengan yang ia harapkan.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶. 𝘈𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya. “𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘬𝘶 𝙕𝙚𝙧𝙤.”

Untuk sesaat, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 tidak menjawab. Ia menatap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit lebih lama daripada yang perlu.

Kemudian ia mendengus dan berjalan pergi.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mendekat sambil menggelengkan kepala.

“𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘦𝘩, 𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶, 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘴.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengepit pelindung tangannya di bawah lengan.

“𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.”

“𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯?”

“𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘰𝘴𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”

Menjelang akhir rangkaian pengujian, seluruh peserta kembali dikumpulkan.

Pengawas berdiri di hadapan mereka.

“𝘍𝘪𝘴𝘪𝘬, 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪, 𝘉𝘢𝘴𝘪𝘤 𝘊𝘰𝘮𝘣𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪.” Ia menurunkan papan catatannya. “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. 𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢.”

Ia membalik selembar kertas di papannya.

“𝘛𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘦𝘢𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯 & 𝘈𝘸𝘢𝘳𝘦𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘛𝘦𝘴𝘵. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳: 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa peserta yang tadi masih bercanda mulai memasang wajah serius.

“𝘋𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌. 𝘈𝘳𝘦𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘞.𝘏.𝘖, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘥𝘶𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢.” Pengawas itu berhenti sebentar. “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮. 𝘗𝘳𝘰𝘴𝘦𝘥𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merasakan tengkuknya menegang.

“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘮𝘦𝘬𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘔𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯.”

Dari balik dinding pembatas di ujung fasilitas, terdengar suara benturan keras.

Brak!

Disusul geraman rendah yang menggema sampai ke tempat mereka berdiri.

Beberapa peserta spontan menoleh.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membeku.

Suara itu mengingatkannya pada sesuatu.

Napas kasar.

Geraman penuh ancaman.

Dan sepasang mata buas yang pernah menatapnya dari jarak beberapa meter.

Tanpa sadar, jari-jarinya mengepal.

𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪?

Benturan kembali terdengar dari balik dinding.

Kali ini lebih keras.

Pengawas itu bahkan tidak menoleh ke arah suara.

“𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘦𝘢𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯 & 𝘈𝘸𝘢𝘳𝘦𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘛𝘦𝘴𝘵 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢.”

Ia berhenti sejenak.

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap pintu besi di ujung arena.

Sebulan lalu, ia nyaris terbunuh oleh seekor BETA.

Kini, untuk mendapatkan lisensi Hunter yang telah lama diimpikannya, ia harus kembali menghadapi makhluk yang sama berbahayanya.

Bedanya, kali ini ia tahu persis apa yang sedang menunggunya.

Dan justru itulah yang membuat kedua tangannya sedikit gemetar.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!