NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bayangan masa lalu

Nayla berdiri di ambang pintu lift parkir bawah tanah dengan ponsel yang masih menyala di tangannya.

Foto itu tampak lama.

Kualitas gambarnya tidak terlalu tajam, seperti diambil menggunakan ponsel lama dari kejauhan. Namun sosok pria dalam foto tetap mudah dikenali. Raka berdiri di depan sebuah hotel bersama seorang perempuan berambut panjang yang mengenakan gaun biru tua.

Perempuan itu tampak tersenyum.

Raka tidak.

Wajah Raka dalam foto terlihat kaku, bahkan seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.

Di bawah foto itu, terdapat pesan yang membuat Nayla tidak nyaman.

*Tanyakan kepada Raka siapa perempuan itu, dan mengapa dia menghancurkan hidupnya sendiri.*

“Nayla?” Dimas memanggilnya.

Nayla tersentak dan buru-buru mematikan layar.

“Iya?”

“Kita lewat sini,” kata Dimas sambil menunjuk jalan menuju pintu samping parkir. “Mobil sudah menunggu.”

Nayla mengangguk.

Ia mengikuti Dimas, tetapi pikirannya tertinggal pada foto itu.

Siapa perempuan tersebut?

Apakah itu mantan tunangan Raka yang pernah ia ceritakan di kafe?

Kalau benar, mengapa seseorang mengirimkan foto lama itu sekarang?

Dan apa maksud kalimat bahwa Raka menghancurkan hidupnya sendiri?

Nayla mengingat ucapan Arga beberapa menit sebelumnya.

*Dia tidak sebersih yang kamu pikir.*

Rasanya seperti ada seseorang yang sengaja menanamkan keraguan di antara dirinya dan Raka.

Namun Nayla tidak ingin kembali menjadi perempuan yang percaya begitu saja pada kata-kata tanpa bukti.

Raka pernah berkata bahwa Nayla berhak meragukan siapa pun.

Mungkin sekarang, ia hanya perlu bertanya langsung.

***

Mobil yang menunggu membawa Nayla dan Dimas keluar melalui akses belakang gedung. Jalan kecil itu jauh lebih sepi daripada lobi utama. Tidak ada kamera, tidak ada orang berkerumun, dan tidak ada suara pertanyaan yang memaksa.

Dimas duduk di kursi depan bersama sopir. Nayla berada di belakang sendirian.

Ia memandangi layar ponselnya lagi.

Pesan dari nomor tidak dikenal masih ada.

Nayla tidak membalas.

Ia membuka galeri, lalu memperbesar foto Raka dan perempuan tersebut. Tidak ada petunjuk lokasi selain papan kecil hotel di belakang mereka. Namun tulisan itu terlalu buram untuk dibaca.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Bu Ratih.

**Mama:** Kamu sudah selesai? Mama tunggu di kafe seberang.

Nayla langsung membalas.

**Nayla:** Sudah, Ma. Aku dalam perjalanan ke Mama.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan kafe kecil yang berada seberang gedung perusahaan. Bu Ratih sudah berdiri di dekat pintu masuk sambil membawa tas.

Begitu Nayla turun, ibunya langsung memeluknya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Bu Ratih.

Nayla memeluk balik ibunya lebih erat.

“Aku lelah, Ma.”

“Mama tahu.”

Bu Ratih tidak bertanya lebih jauh di depan Dimas. Beliau hanya mengajak Nayla masuk ke dalam kafe dan memilih meja di sudut yang lebih tenang.

Dimas berpamitan setelah memastikan Nayla bersama ibunya.

“Saya akan memberi tahu Pak Raka bahwa Ibu sudah bersama Ibu Ratih,” katanya.

“Terima kasih, Mas Dimas,” ucap Bu Ratih.

Setelah Dimas pergi, Nayla duduk sambil memegang gelas air hangat yang dipesankan ibunya. Tangannya masih terasa dingin.

“Ceritakan,” kata Bu Ratih perlahan.

Nayla mulai dari awal.

Tentang media yang menunggu di depan kantor.

Tentang foto dirinya dan Raka yang beredar.

Tentang Arga yang datang bersama Siska.

Tentang pemeriksaan proyek.

Tentang Siska yang mulai kehilangan tenang.

Bu Ratih mendengarkan tanpa memotong.

Namun ketika Nayla memperlihatkan foto Raka bersama perempuan lain, ibunya mengernyit.

“Ini dari siapa?”

“Nomor tidak dikenal. Mungkin orang yang sama dengan pengirim ancaman.”

“Dan Arga juga bilang Raka tidak sebersih yang kamu pikir?”

Nayla mengangguk.

Bu Ratih menatap foto itu cukup lama.

“Kamu mau menanyakan langsung kepada Pak Raka?”

“Iya.” Nayla menarik napas. “Tapi aku tidak tahu apakah aku punya hak untuk bertanya. Itu masa lalunya.”

“Kamu tidak punya hak menuntut semua cerita masa lalunya,” jawab Bu Ratih tenang. “Tapi kamu punya hak bertanya jika masa lalu itu dipakai orang untuk mengancam atau membingungkan kamu.”

Nayla memandang ibunya.

“Bedanya ada pada cara kamu bertanya,” lanjut Bu Ratih. “Bukan menuduh. Bukan memaksa. Cukup katakan bahwa kamu menerima foto dan ingin tahu apakah ada hal yang bisa membahayakan kamu.”

Kata-kata itu terasa masuk akal.

Nayla tidak ingin menjadi seperti Arga yang selalu menuduh tanpa mendengar. Ia tidak ingin meminta Raka membuktikan dirinya hanya karena seseorang mengirim foto lama.

Namun ia juga tidak ingin membiarkan keraguan tumbuh diam-diam.

Ponsel Nayla kembali berbunyi.

Pesan dari Raka.

**Raka:** Dimas memberi tahu saya kamu sudah bersama ibu kamu. Apakah kamu baik-baik saja?

Nayla menatap pesan itu cukup lama.

Jarinya sempat ragu.

Kemudian ia mengetik.

**Nayla:** Saya baik. Terima kasih sudah memastikan saya keluar dengan aman. Pak, saya ingin bertanya sesuatu jika Bapak punya waktu.

Balasan datang tidak lama kemudian.

**Raka:** Tentu. Saya bisa menemui kamu di kafe itu setelah pekerjaan saya selesai, sekitar satu jam lagi. Jika kamu tidak nyaman, kita bisa bicara lewat telepon.

Nayla membaca pesan tersebut.

Ia menoleh kepada ibunya.

“Pak Raka mau datang ke sini setelah pekerjaannya selesai.”

Bu Ratih mengangguk. “Mama tetap di sini.”

Nayla langsung menggeleng. “Tidak perlu duduk bersama kami. Mama bisa di meja lain.”

Bu Ratih tersenyum tipis. “Mama tidak akan jauh.”

***

Satu jam terasa lebih panjang dari biasanya.

Nayla mencoba minum teh hangat, tetapi pikirannya tidak bisa tenang. Ia terus melihat pintu kafe setiap kali terbuka. Ia juga menghindari membuka media sosial karena takut melihat foto yang sudah beredar.

Sekitar pukul tiga sore, Raka masuk.

Ia tidak mengenakan jas. Kemeja hitamnya masih sama, tetapi bagian lengan terlihat sedikit kusut. Wajahnya tampak lelah, seolah seharian harus menghadapi audit, media, Arga, dan Siska sekaligus.

Namun ketika melihat Nayla, langkahnya tetap tenang.

“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Nayla ketika Raka duduk di hadapannya.

“Kamu bilang ingin bertanya.” Raka menatapnya. “Ada apa?”

Nayla menarik napas.

Ia membuka ponsel dan meletakkan foto yang dikirim nomor tidak dikenal di atas meja.

“Saya menerima ini,” katanya.

Raka melihat foto itu.

Wajahnya tidak berubah banyak, tetapi Nayla melihat rahangnya sedikit mengeras.

“Dari nomor yang sama?” tanya Raka.

“Iya. Bersama pesan yang menyuruh saya bertanya siapa perempuan ini dan kenapa Bapak menghancurkan hidup Bapak sendiri.”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menatap foto itu beberapa detik.

Nayla menunggu, berusaha tidak terburu-buru menyimpulkan.

Akhirnya, Raka mengangkat wajah.

“Namanya Alena,” katanya.

Nayla mengangguk pelan.

“Dia mantan tunangan Bapak?”

“Iya.”

“Foto itu diambil kapan?”

“Empat tahun lalu. Beberapa hari sebelum pertunangan kami dibatalkan.”

Nayla terdiam.

Raka menatap gelas kopi di depannya sebelum melanjutkan.

“Alena meminta bertemu di hotel itu. Dia mengatakan ada sesuatu yang harus dibicarakan. Saat saya datang, dia mengaku sudah menjalin hubungan dengan Bayu.”

Nama itu membuat Nayla menegang.

“Bayu?” ulangnya.

Raka mengangguk.

“Bayu adalah rekan bisnis saya saat itu. Kami sedang mengerjakan proyek bersama.” Suara Raka tetap tenang, tetapi ada luka lama di balik setiap katanya. “Alena mengatakan mereka sudah dekat cukup lama. Dia ingin membatalkan pertunangan, tetapi takut keluarga kami tahu.”

Nayla memandangi foto itu lagi.

Jadi perempuan di foto bukan selingkuhan Raka.

Perempuan itu adalah orang yang mengkhianatinya.

“Lalu kenapa pesan itu bilang Bapak menghancurkan hidup Bapak sendiri?” tanya Nayla.

Raka menghela napas.

“Setelah pertunangan dibatalkan, saya menarik diri dari kerja sama dengan Bayu. Proyek kami gagal, beberapa investor mundur, dan perusahaan kecilnya mengalami masalah.” Raka menatap Nayla. “Bayu menyalahkan saya. Dia mengatakan saya sengaja menghancurkan hidupnya karena tidak bisa menerima hubungan dia dan Alena.”

“Bapak memang melakukan itu?”

“Tidak.” Raka menjawab tanpa ragu. “Saya menghentikan kerja sama karena Bayu memakai dokumen perusahaan untuk kepentingan pribadi. Perselingkuhan mereka hanya membuat saya sadar bahwa saya tidak bisa lagi mempercayai keduanya.”

Nayla menarik napas pelan.

“Jadi Bayu sekarang ingin balas dendam?”

“Mungkin.” Raka mengangguk. “Ketika nama Bayu muncul lagi dalam Proyek Puri Sagara, saya langsung curiga ini bukan kebetulan.”

Nayla menatap Raka.

Tiba-tiba beberapa hal mulai terhubung.

Mira adalah mantan tunangan Bayu.

Siska berkomunikasi dengan Bayu.

Siska menyebarkan rumor tentang Nayla dan Raka.

Foto lama Alena dan Raka dikirim untuk membuat Nayla ragu.

Semua itu mungkin bukan rangkaian masalah terpisah.

Mereka terhubung.

“Bapak tahu tentang foto ini sebelumnya?” tanya Nayla.

“Tidak.” Raka menggeleng. “Tapi saya sudah menduga Bayu akan mencoba memakai masa lalu saya untuk menyerang.”

Nayla menunduk.

“Maaf,” ucapnya.

Raka mengernyit. “Untuk apa?”

“Karena saya sempat meragukan Bapak.”

Raka menatapnya cukup lama.

“Nayla, kamu tidak perlu meminta maaf.” Suaranya rendah dan tenang. “Kamu menerima foto tanpa penjelasan. Wajar kalau kamu bertanya.”

“Tapi saya—”

“Yang salah bukan kamu karena bertanya.” Raka memotong dengan lembut. “Yang salah adalah orang yang memakai luka masa lalu untuk mengendalikan ketakutan kamu.”

Kata-kata itu membuat Nayla terdiam.

Raka tidak marah karena ia meragukannya.

Ia tidak membuat Nayla merasa bersalah.

Sekali lagi, pria itu menunjukkan perbedaan yang sangat besar dengan Arga.

“Apakah saya dalam bahaya karena Bayu?” tanya Nayla pelan.

Raka tidak memberi jawaban manis untuk menenangkannya.

“Saya tidak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi karena kamu mulai menerima ancaman dan foto-foto itu, saya tidak akan menganggapnya ringan.”

“Apa yang akan Bapak lakukan?”

“Tim legal sedang mengumpulkan bukti. Saya juga akan memastikan kamu tidak perlu menghadapi Arga, Siska, atau Bayu sendirian.”

Nayla menatap Raka.

“Kenapa Bapak terus membantu saya?” tanyanya.

Raka terdiam.

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi. Butir-butir air mengenai kaca kafe, menciptakan pola yang sama seperti malam ketika Nayla pertama kali menemukan pesan “Sayang Kantor”.

Namun kini, dirinya tidak sama seperti malam itu.

“Ada banyak alasan,” kata Raka akhirnya. “Tapi yang paling sederhana: karena kamu layak mendapatkan bantuan tanpa harus membayar dengan rasa bersalah.”

Nayla merasakan sesuatu menghangat di dadanya.

Ia tidak menjawab.

Ia takut jika membuka mulut, air mata akan jatuh lagi.

Ponsel Raka tiba-tiba bergetar.

Dimas menelepon.

Raka mengangkat panggilan itu.

“Ya?”

Wajahnya berubah serius setelah mendengar beberapa kalimat.

“Di mana?” tanya Raka.

Nayla memperhatikan ekspresinya.

“Jangan biarkan siapa pun menyentuh dokumen itu,” lanjut Raka. “Saya kembali sekarang.”

Ia mengakhiri panggilan.

“Ada apa?” tanya Nayla.

Raka berdiri.

“Tim audit menemukan salinan dokumen proyek di loker Siska,” jawabnya. “Dan ada satu nama yang disebut dalam catatan pembayaran.”

“Bayu?”

Raka mengangguk.

Namun wajahnya tetap tegang.

“Bukan hanya Bayu,” katanya. “Ada nama lain.”

Nayla berdiri perlahan.

“Siapa?”

Raka menatapnya.

“Arga.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!