NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Bara Perang Dua Kubu dan Titik Balik sang Pemilik Bintang

"Hentikan, Han Seol!"

Wussh!

Sesosok pria berjubah kemegahan istana melompat turun dari koridor atas, berdiri menghadang tepat di antara bilah pedang Han Seol dan tubuh Jin Wu. Pangeran Go Si Woo telah datang. Dengan tangan terulur ke depan dan napas memburu, Pangeran nekat berdiri di garis kematian untuk menghentikan gerakan sang Penyihir Agung.

Melihat kehadiran Putra Mahkota yang mendadak menahan langkahnya, untuk sementara Han Seol menghentikan amukan pedangnya. Namun, matanya berkilat penuh kebencian dan sindiran yang tajam. Ia menatap Pangeran dengan pandangan meremehkan, mengolok-olok tindakan sang Pangeran di depan musuh mereka.

"Kau selalu datang di waktu yang tepat untuk menjadi perisai bagi penjahat ini, Yang Mulia," olok Han Seol dengan suara rendah yang bergetar menahan emosi.

"Jika kau berdiri di sana untuk memberikan perlindungan kepada Jin Wu, maka sebaiknya kau segera menyingkir dari hadapanku sebelum pedang ini ikut memotong jubah kerajaanmu!"

Mendengar olok-olok dan gertakan mengerikan tersebut, Pangeran Go Si Woo tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata dingin Han Seol dengan sorot mata yang sarat akan keseriusan dan gurat emosi yang mendalam.

"Aku berdiri di sini dan menghentikan amukanmu bukan karena aku ingin melindungi nyawa busuk Jin Wu, Han Seol!" jawab Pangeran lantang, suaranya menggema memecah sunyinya aula yang dipenuhi mayat.

"Melainkan... karena aku tidak mau melihat apa yang selama ini telah kau lindungi dengan susah payah akan hancur berantakan malam ini hanya karena kemarahanmu!"

Han Seol menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"

Pangeran menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam ketegangan di antara mereka. Maksud tersembunyi dari kalimat Pangeran adalah tentang kedamaian dan ketenteraman Negeri Niskala yang selama tiga tahun terakhir ini telah Han Seol usahakan secara luar biasa melalui kekuatan Batu Es yang ia gunakan dengan teramat bijak.

Pangeran mengingatkan bahwa selama ini, Han Seol bisa saja menggunakan kekuatan langit dari Batu Es tersebut secara sesuka hatinya untuk membuat kekacauan atau merebut takhta, namun Han Seol lebih memilih untuk tetap menghormati perintah Raja dan mematuhi konsensus pertemuan umum demi menjaga kedamaian negara dengan membatasi kekuatannya hanya untuk memberantas pemindah jiwa.

Jika malam ini Han Seol membantai seisi Cheonbugwan secara ilegal, maka seluruh pengorbanan batinnya selama tiga tahun ini akan sia-sia dan Niskala akan hancur oleh perang saudara.

Derap... derap... derap...

Sesaat kemudian, suasana tegang itu terinterupsi oleh kedatangan rombongan baru dari gerbang luar. Do Kwang berjalan masuk memimpin pasukan besar penyihir Cheon Gi Won yang bersenjata lengkap, langsung mengambil posisi mengepung aula. Paman Han Seol itu melangkah maju, menatap keponakannya dengan tatapan mata yang penuh kasih namun sarat akan ketegasan seorang tetua.

"Han Seol," panggil Do Kwang lembut namun mantap. "Mulai detik ini, seluruh tetua dan murid Cheon Gi Won telah bersepakat bahwa kami akan mendukung penuh dan mengambil apa pun keputusan hukum yang akan kau ambil untuk menyelesaikan perkara ini. Oleh karena itu... aku sangat berharap kau akan bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan akhirmu malam ini. Jangan biarkan kemarahan menguasai Bintang Kerajaan di dalam dirimu."

Mendengar rentetan penjelasan yang teramat mendalam dari Pangeran Go Si Woo serta melihat kesiapan dukungan penuh dari Do Kwang dan pasukannya, Han Seol terdiam mematung di tengah aula. Amarah yang semula membakar logikanya perlahan mulai mereda, digantikan oleh ketenangan dingin khas seorang jenderal sejati.

Setelah memikirkan dengan matang setiap konsekuensi dari apa yang Pangeran dan Do Kwang katakan barusan...

Sringgg.

Han Seol akhirnya mengambil keputusan besar. Ia menurunkan pedangnya secara perlahan, lalu menyarungkannya kembali ke pinggang dengan gerakan yang tenang. Ia memutuskan untuk berhenti mengamuk dan membatalkan eksekusi instannya malam itu.

Namun, pandangan matanya yang sedingin es kutub tetap mengunci ke arah Jin Wu yang berada di belakang Pangeran. Han Seol mundur dua langkah, berdiri tegak di tengah Aula Cheonbugwan dengan tangan bersedekap di dada.

Dengan keteguhan hati yang luar biasa, ia memilih untuk tetap berada di sana, bersiap dengan sabar menunggu jalannya Sidang Pertemuan Umum esok hari dan menyaksikan bagaimana Jin Wu akan merangkak keluar menghadapi pengadilan takdirnya.

****

Di dalam ruang dalam gedung Cheonbugwan yang terisolasi dari kegaduhan aula utama, atmosfer terasa begitu pengap dan menegangkan.

Pangeran Go Si Woo berdiri dengan raut wajah gusar, matanya menatap tajam ke arah Jin Wu yang sedang duduk tenang di kursi kebesarannya sembari merapikan lengan jubah. Di luar sana, Han Seol bersama pasukan Cheon Gi Won masih berdiri mematung layaknya malaikat maut, setia menunggu dengan kesabaran yang mengerikan.

Pangeran Go Si Woo melangkah maju, menepuk meja kayu di depan Jin Wu dengan keras demi memecah ketenangan palsu pria itu. "Jin Wu! Hentikan kegilaan ini. Keluarlah sekarang juga dan temui Han Seol untuk menyelesaikan perkara ini sebelum seluruh gedung ini benar-benar dihancurkan olehnya!" bujuk Pangeran dengan nada mendesak.

Namun, Jin Wu hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan arogansi. Ia mendongak dengan tatapan mata yang tenang, seolah tidak memedulikan puluhan jasad pengawalnya yang baru saja dibantai di aula luar.

"Mengapa hamba harus keluar dan merendahkan diri di hadapan seorang pemberontak, Yang Mulia? Hamba merasa sama sekali tidak bersalah atas apa yang terjadi pada Baek Seo Jun. Bukan hamba yang menghunuskan pedang kepadanya di rumah judi itu," sahut Jin Wu dengan nada santai tanpa beban.

Melihat keras kepalanya sang pemimpin Cheonbugwan yang masih mencoba berdalih, Pangeran Go Si Woo menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan wajahnya mendekati telinga Jin Wu. Suaranya berubah menjadi bisikan yang teramat dingin dan penuh penekanan.

"Jangan berlagak bodoh, Jin Wu! Han Seol menuntut nyawamu bukan karena masalah tebasan pedang di rumah judi," desis Pangeran dengan raut wajah serius. "Ini terkait dengan parasit cacing darah yang saat ini sedang bersarang dan menyebabkan Baek Seo Jun sekarat di ambang kematian di Seojukwon! Sebelum Jung Min tewas semalam, Han Seol telah mencekik lehernya dan menginterogasinya habis-habisan. Yang intinya... Han Seol saat ini sudah mengetahui secara mutlak bahwa cacing darah terkutuk itu murni berasal dari pasokan rahasia milikmu!"

DEG.

Mendengar penuturan dari mulut Pangeran barusan, senyuman licik di wajah Jin Wu seketika lenyap total. Matanya membelalak kaget, dan rahangnya mengeras. Fakta bahwa Han Seol telah memegang bukti autentik mengenai kepemilikan cacing darah tersebut benar-benar menghantam dinding pertahanannya.

Jin Wu tahu persis, jika masalah parasit ini dibongkar secara gamblang, ia tidak hanya akan berhadapan dengan kemarahan Han Seol, melainkan juga amukan Jenderal Baek dari perbatasan utara serta hukum takhta yang sah.

Menyadari bahwa posisinya telah tersudut dan sudah tidak mungkin lagi baginya untuk mencari dukungan politik atau berdalih atas perbuatan kejinya di hadapan publik, Jin Wu akhirnya terpaksa memutar otak. Ia sadar, satu-satunya cara untuk meredam amukan Han Seol dan mencegah pemberontakan militer keluarga Baek adalah dengan memastikan Baek Seo Jun tetap hidup.

Mendengar situasi yang teramat kritis itu, Jin Wu akhirnya bergerak cepat menggunakan otoritasnya untuk mengadakan sebuah Pertemuan Umum darurat di dalam aula istana kerajaan.

Sidang yang dihadiri oleh para tetua penyihir, pejabat tinggi, serta diawasi langsung oleh Raja Go Haneul dan Han Seol itu berjalan dengan tensi yang teramat tinggi.

Di tengah-tengah jalannya sidang, Jin Wu yang biasanya menyerang lawan politiknya kini justru membuang egonya. Di hadapan para peserta pertemuan, ia secara terbuka meminta solusi dan masukan dari para penyihir senior mengenai bagaimana cara medis ataupun magis yang paling mutakhir untuk bisa menyembuhkan Baek Seo Jun dari gerogotan parasit cacing darah.

Suasana aula sidang sempat hening sejenak, diiringi oleh bisik-bisik tegang dari para penyihir agung. Hingga akhirnya, salah satu penyihir senior dari klan papan atas berdiri dan memberikan pandangan spiritualnya setelah membaca manifes sejarah sihir terlarang.

"Tuan Jin Wu, Yang Mulia Raja," ucap penyihir senior itu sambil membungkuk khidmat. "Parasit cacing darah bukanlah ilmu sihir asli dari Cheonbugwan ataupun wilayah perbatasan. Berdasarkan catatan kitab kuno purbakala, asal-muasal dan sumber utama penciptaan cacing darah tersebut sebenarnya berasal dari dalam benteng sakral Jinyowon."

Penyihir itu menoleh ke arah barisan kursi keluarga Jin, lalu melanjutkan dengan nada yakin. "Oleh karena itu, karena makhluk gaib itu lahir dari tanah mereka, maka kemungkinan besar... hanya sang ibu pemimpin, Jin Hwa Young, yang mengetahui secara pasti mengenai mantra rahasia serta ritual khusus untuk mengeluarkan cacing darah tersebut dari dalam inti energi seorang penyihir tanpa perlu merenggut nyawanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!