Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba untuk bersama
Didalam gerbong kereta yang melaju membelah keheningan, Nara hanya terdiam menatap luar jendela. Bayangan pepohonan dan tiang-tiang listrik melintas cepat, seolah ikut membawa pergi seluruh masa lalu pahit yang baru saja ia tinggalkan.
Di sampingnya, Revan duduk kaku. Komandan prajurit yang biasanya tegas dan tak pernah gentar di medan pertempuran itu kini tampak begitu hati-hati.
Ia bahkan tak berani membuka suara atau sekadar bernapas terlalu keras, takut merusak ketenangan Nara.
Bagi Revan, diizinkan untuk duduk di samping dan mengawalnya pulang saja sudah merupakan rasa syukur yang tak terhingga.
Sedangkan Aris duduk didepan mereka ,ia ikut nara pulang kekota.
Kereta bergetar pelan di atas rel. Keheningan di antara mereka begitu pekat, namun tidak lagi terasa dingin.
Perlahan, jemari halus Nara bergerak di atas kursi. Jemari itu merayap pelan, mencari keberadaan jemari tegap Revan yang tadinya mengepal canggung di atas paha.
Saat pucuk jemari Nara yang dingin akhirnya menyentuh kulit hangat Revan, tubuh Revan sempat mematung seketika.
Jantungnya berdesir hebat.
Tanpa memalingkan wajahnya dari jendela, Nara menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Revan, menggenggamnya erat ,seolah mencari pegangan di tengah badai trauma yang baru saja menerjang hidupnya.
Revan menoleh perlahan, menatap genggaman tangan mereka lalu beralih menatap profil wajah Nara dari samping.
Bibir Revan terkatup rapat, namun matanya memancarkan kehangatan dan rasa bahagia yang luar biasa.
Dengan penuh kelembutan, Revan membalas genggaman itu, mempereratnya seolah memberi tanggapan hangat.
"Nara,.. .. terimakasih, terimakasih sudah memberikan kesempatan, dan terimakasih sudah bertahan kuat, ....." bisik Revan pelan, hampir tenggelam oleh suara roda kereta yang beradu dengan rel.
Nara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan kepalanya perlahan di bahu tegap Revan, membiarkan rasa lelahnya lebur dalam perlindungan pria yang selalu setia berdiri di sisinya.
****
Aroma tubuh Revan yang menenangkan dan kehangatan bahu tegapnya perlahan membuat kelopak mata Nara terasa berat. Dalam Nara terlelap tenang di atas pundak Revan
Igatan Revan melayang mundur ke masa lalu kembali ke saat pertama kali mereka bertemu.
Masa di mana takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kesalah pahaman,dan akhir dimana mereka saling bertaut hidupnya.
Di tengah lamunan lembutnya, Revan ter Senyum tipis terukir di bibirnya saat menyadari kepala Nara masih bersandar nyaman di bahunya.
Tanpa melepaskan sandarannya, Revan perlahan merogoh ponsel dari sakunya.
Dengan gerakan pelan agar tak mengejutkan Nara, ia mengarahkan kamera depan ke arah mereka berdua.
Cklik.
Sebuah foto terabadikan dengan begitu indah. Wajah cantik alami Nara terbingkai sempurna di kamera rona alami di bibirnya menghiasi pesona yang tak hanya anggun, tapi juga berhati murni.
Di sampingnya, dirinya tampak gagah dengan garis wajah tegas yang memancarkan rasa menjaga sepenuh hati.
Foto itu menjadi bingkisan visual dari dua insan yang saling melengkapi.
Dengan jemari yang lihai, Revan langsung memasang foto manis itu sebagai foto profil hpnya .
Tak berhenti di situ, Naya yang melihat momen itu tersenyum hangat, lalu mengambil ponselnya memotret ulang ,mengunggahnya sebagai foto profil.
Kemudian Revan juga mengirim pesan kepada adik perempuannya.( Nisa)
"Dek, Ini beneran calon Kakak iparmu," tulis Revan dalam pesan singkat,
Tak butuh waktu lama, balasan dari sang adik masuk dengan rentetan emotikon bahagia dan haru:
"Ya Allah, Bang! Adek tunggu Abang bawa Kak Nara kemari sebagai istri! Jangan lama-lama ya, Bang, Adek udah gak sabar punya Kakak ipar !"
Revan tertawa pelan membaca balasan adiknya.
"Dengar kan?" bisik Revan lembut di telinga Nara, sembari mengusap puncak kepala Nara dengan penuh kasih
. "Semua orang udah gak sabar nunggu kamu jadi bagian dari keluargaku,"
"apaan bang , Nara gak mau buru buru,kita coba jalani dulu ,Nara masih sedikit takut dan ragu"
tukas Nara santai , sambil menarik genggaman tangan nya ,,namun ditarik lagi oleh Revan.
" siap salah,, ...gak bakal ngajak cepat nikah " sambil manja dibahu Nara.
" kapan pun itu, Abang tunggu," bisik Revan lembut, mengulang janji keteguhan hatinya.
Nara tersenyum melihat tingkah manja sang prajurit elit .
*****
Kota Birna menyambut mereka dengan hembusan angin yang sejuk.
Kota ini bukan hanya tempat tinggal dan rumah bagi keluarga Nara, tetapi juga menjadi pusat markas besar tempat Revan bertugas sebagai komandan pasukan.
Begitu mobil berhenti di depan kediaman orang tua Nara, sosok Ayah dan Ibu sudah berdiri menanti di teras dengan mata berkaca-kaca.
Begitu Nara turun, sang Ibu langsung memeluk putri kesayangannya itu dengan erat, mengusap punggung Nara seolah ingin menghapus seluruh trauma yang baru saja dilaluinya.
Sementara itu, Ayah Nara melangkah mantap mendekati Revan. Tanpa ragu, pria paruh baya itu menarik Revan ke dalam pelukan hangat dan penuh rasa hormat.
"Terima kasih banyak, Nak Revan... sudah menjaga Nara " ucap Ayah Nara dengan suara bergetar menahan haru.
"Sudah menjadi kewajiban Revan, pak. "membalas dengan hormat santun
Namun, di saat kehangatan keluarga tengah merayap di rumah Nara, dunia luar justru sedang diguncang heboh.
Video detik-detik mencekam saat Bidan Nara bertarung dengan sigap melawan para pemberontak mendadak viral di seluruh media sosial dan jejaring berita nasional.
Keberanian luar biasa Bidan Nara menuai pujian jutaan warga net yang mengagumi kesucian dan ketangguhannya.
Tak hanya itu, rekaman tersebut juga mengekspos tindakan pimpinan komandan besar pasukan elit yang arogan dan lepas tangan saat peristiwa terjadi.
Rekaman kecurangan dan kesombongan oknum komandan itu tersebar luas tanpa menyiksa, memicu gelombang kemarahan publik dan desakan evaluasi besar-besaran di jajaran markas besar.
Revan menatap layar ponselnya yang terus berdering dari markas. Ia tahu, kebenaran kini telah menang , dan badai besar baru saja dimulai untuk mereka yang pernah mendzalimi Nara.
*****
Revan merogoh ponselnya, menatap nama yang tertera di layar. Nama sosok yang selama ini bertindak semena-mena dan arogan. Dengan tenang namun tegas, Revan menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Siap, Komandan," sapa Revan datar, tanpa intonasi keramahan sedikit pun.
Di ujung telepon, suara pimpinan pasukan elit yang biasanya meluap-luap penuh kesombongan itu kini terdengar bergetar parau.
"Revan... kita rapat besok pagi di markas besar! Seluruh jajaran perwira dipanggil pimpinan tertinggi!" ucap pimpinan itu gugup, berusaha menyembunyikan getar ketakutannya yang sudah tak tertolong.
Revan melirik sekilas ke arah Nara yang sedang duduk tenang disuapi Ibunya, lalu beralih menatap Ayah Nara yang tersenyum pelan memberi dukungan.
"Siap, Komandan. Saya akan hadir tepat waktu," jawab Revan singkat, dingin, dan penuh penekanan.
Sebelum panggilan ditutup, Revan bisa mendengar nafas memburu pimpinan arogan itu. Kartu as kini sepenuhnya ada di tangan Revan.
Kebenaran yang selama ini dibungkam akhirnya bangkit,besok di markas besar, nasib sang pimpinan arogan berada di ujung tanduk.
next part 😉, ditunggu ya..