NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Kecil di Pagi Hari

Matahari pagi itu bersinar cerah, menembus celah tirai kamar utama dengan semangat yang berlebihan. Namun, bagi Ratna, cahaya itu justru terasa menyilaukan dan menusuk kepala. Ia terbangun bukan karena suara ayam jantan atau kicau burung, melainkan karena rasa mual yang tiba-tiba menyeruak dari ulu hatinya, naik ke kerongkongan dengan kecepatan yang menakutkan.

Ratna segera bangkit dari tempat tidur, menutup mulutnya dengan tangan, dan berlari kecil menuju kamar mandi. Tubuhnya gemetar hebat saat ia membungkuk di atas wastafel. Isi perutnya yang masih kosong pun akhirnya tumpah keluar, meninggalkan rasa pahit dan lemas yang luar biasa. Keringat dingin bercucuran di dahinya, membasahi rambutnya yang baru saja disisir rapi semalam.

"Rat? Kamu kenapa?" suara Budi terdengar panik dari balik pintu kamar mandi. Pintu diketuk-ketuk dengan cepat. "Ratna! Buka pintunya!"

Ratna mencoba berdiri, namun kakinya goyah. Kepalanya berputar-putar seolah dunia sedang diputar balik. Dengan sisa tenaga, ia membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, Budi langsung menangkap tubuh Ratna yang hampir ambruk. Wajah pria itu pucat, matanya penuh kecemasan.

"Aku... aku nggak tahu, Bud," bisik Ratna lemah, napasnya tersengal-sengal. "Tiba-tiba mual banget. Kepala rasanya mau pecah."

Budi menggendong Ratna kembali ke kasur, lalu mengambil handuk basah untuk mengusap wajah istrinya. "Kamu demam nggak? Atau mungkin keracunan makanan semalam? Aku kan masak nasi goreng sendiri, harusnya higienis."

"Nggak tahu... rasanya aneh," keluh Ratna sambil memejamkan mata erat-erat. Setiap kali ia membuka mata, ruangan tampak berputar.

Lily dan Nenek Surti sudah bangun karena mendengar keributan. Mereka masuk ke kamar dengan wajah khawatir.

"Mama sakit apa?" tanya Lily, duduk di tepi kasur dan memegang tangan ibunya yang dingin.

"Nenek panggil Pak Dokter Wijaya ya, Rat?" tanya Nenek Surti cemas. Pak Dokter Wijaya adalah dokter umum langganan kampung yang juga merangkap sebagai bidan desa, dikenal sabar dan teliti.

"Iya, Ma. Tolong dipanggil sekarang," jawab Budi tegas. "Saya akan siapkan air hangat dan biskuit kalau Mama bisa makan sedikit."

Setengah jam kemudian, Pak Dokter Wijaya tiba dengan tas medis tua di tangannya. Ia memeriksa tekanan darah Ratna, suhu tubuhnya, dan denyut nadinya. Semua tampak normal, kecuali Ratna yang terlihat sangat lemas dan pucat.

"Tekanan darahnya agak rendah, Bu Ratna. Tapi tidak sampai berbahaya," kata Pak Dokter sambil menyimpan stetoskopnya. Ia menatap Ratna dengan tatapan menyelidik. "Bu Ratna, kapan terakhir kali haid?"

Pertanyaan itu membuat Ratna terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat kalender di dinding dapur. Bulan lalu... ia sibuk dengan persiapan pernikahan dan renovasi kecil-kecilan. Bulan sebelumnya... ia juga sibuk mengurus toko kelontong bantuan Budi. Pikirannya begitu penuh hingga ia lupa menghitung siklus bulannya.

"Saya... saya nggak ingat persis, Dok. Mungkin sudah dua bulan lebih?" jawab Ratna ragu-ragu.

Pak Dokter Wijaya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung makna mendalam. Ia lalu meminta Budi untuk menunggu di luar sebentar bersama Lily dan Nenek. Setelah mereka keluar, Pak Dokter mendekati Ratna.

"Bu Ratna, berdasarkan gejala mual pagi, pusing, dan keterlambatan haid, saya curiga Ibu sedang hamil," ucap dokter itu pelan namun jelas.

Ratna membelalak. Matanya terbeliak lebar, napasnya tertahan. "Hamil? Saya? Di usia saya?"

"Usia Ibu masih sangat memungkinkan untuk hamil, Bu. Dan secara medis, tanda-tandanya kuat. Tapi untuk memastikan, kita perlu tes urin atau USG sederhana di klinik kecamatan nanti siang jika Ibu kuat," jelas Pak Dokter. "Ini kabar baik, Bu. Sangat baik."

Ratna merasa dunianya berhenti berputar sejenak. Hamil? Memiliki anak lagi? Di tengah kebahagiaannya yang baru saja ditemukan bersama Budi dan Lily? Rasa takut dan senang bercampur aduk menjadi satu. Takut karena usianya sudah tidak muda lagi, takut karena kondisi kesehatannya setelah bekerja keras di Arab Saudi dulu. Tapi senang... oh, Tuhan, rasanya ada keajaiban kecil yang tumbuh di dalam rahimnya.

Pak Dokter keluar ruangan dan memanggil keluarga yang menunggu.

"Bagaimana, Dok? Mama saya kenapa?" tanya Lily cepat.

Pak Dokter tersenyum lebar kepada mereka bertiga. "Selamat, Pak Budi, Bu Nenek, Mbak Lily. Ibu Ratna kemungkinan besar sedang hamil. Usia kandungannya sekitar 6-8 minggu. Gejala mual dan pusing itu wajar di trimester pertama."

Hening.

Lily menatap ibunya yang masih terbaring lemah, lalu menatap Budi. Mulutnya terbuka, tidak percaya. Nenek Surti langsung menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru langsung mengalir deras.

"Hamil?" ulang Budi, suaranya bergetar. Ia berjalan perlahan mendekati kasur, menatap Ratna dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada kekaguman, ada ketakutan, dan ada kebahagiaan yang meluap-luap. "Kita... kita bakal punya bayi lagi?"

Ratna mengangguk pelan, air matanya juga mulai menetes. "Katanya begitu, Bud. Aku kaget banget."

Budi duduk di tepi kasur, meraih tangan Ratna dan menciumnya berulang-ulang. "Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah. Ini anugerah terbesar buat kami."

Lily akhirnya sadar dari syoknya. Ia melompat ke pelukan ibunya, hati-hati agar tidak menekan perut Ratna. "Mama hamil! Aku bakal punya adik! Serius nih, Ma? Bukan bohong?"

"Beneran, Lil," kata Ratna sambil tertawa kecil di antara isakannya. "Dokter bilang begitu."

"Wah! Asyik banget!" seru Lily girang. Dia berbalik memeluk Budi. "Pa, kita bakal punya adik! Pa jadi ayah beneran nih!"

Wajah Budi bersinar cerah. Ia memeluk Lily dan Ratna sekaligus, membentuk pelukan keluarga yang hangat. "Iya, Lil. Papa jadi ayah beneran. Dan Mama jadi superhero lagi."

Nenek Surti mendekati mereka, mengusap kepala Ratna dengan lembut. "Syukurlah, Rat. Nenek kira Nenek cuma akan punya satu cucu. Ternyata Tuhan masih sayang sama Nenek. Nenek bakal bantu jaga kamu selama hamil. Jangan kerja berat-berat ya."

"Iya, Ma," jawab Ratna patuh. Perasaannya kini jauh lebih tenang. Kecemasan awal telah berganti dengan antisipasi yang manis.

Sore harinya, setelah Ratna merasa lebih baik dan bisa duduk, mereka berkumpul di ruang tengah. Suasana rumah terasa berbeda. Ada energi baru yang berdenyut-denyut di udara.

"Kita harus kasih nama calon adiknya," celetuk Lily sambil membuka buku catatan. "Kalau laki-laki, namanya Ahmad biar mirip Pa. Kalau perempuan, namanya Aisyah biar cantik kayak Ma."

Budi tertawa. "Wah, buru-buru sekali kamu, Lil. Masih kecil banget itu janinnya. Tapi ide bagus. Kita diskusikan nanti-nati."

Ratna menatap perutnya yang masih datar. Di sana, kehidupan baru sedang bertunas. Kehidupan yang lahir dari cinta yang sembuh, dari pengorbanan yang dihargai, dan dari harapan yang tak pernah padam. Ia menyadari bahwa keluarganya tidak hanya pulih, tetapi juga berkembang. Lubang-luang kosong di masa lalunya kini diisi bukan hanya oleh kehadiran Budi, tetapi juga oleh janji masa depan dalam bentuk seorang bayi.

"Terima kasih, Bud," bisik Ratna pada suaminya malam itu, saat mereka berbaring di kasur. "Terima kasih sudah membuat hidupku lengkap."

Budi mengelus perut Ratna dengan lembut, meskipun belum ada perubahan fisik yang terlihat. "Aku yang harus berterima kasih, Rat. Kamu memberi aku kesempatan kedua untuk menjadi ayah. Aku janji akan jaga kalian berdua sebaik-baiknya."

Di luar, bintang-bintang berkelip seolah ikut merayakan kabar gembira tersebut. Bagi Ratna, ini adalah bab akhir dari kesedihan dan bab awal dari kebahagiaan yang sejati. Keluarganya utuh, sehat, dan kini, bertambah anggota baru yang akan menjadi perekat cinta mereka selamanya.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!