Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Para Waranggana Jiwa
Langgam kematian bergetar kian kencang membelah kabut hijau pekat, berdesis bagaikan ribuan ular yang merayap di atas permukaan air rawa. Belasan sosok waranggana bergaun kemben hitam melayang kaku mendekati pematang lumpur, menyebarkan gelombang aura dingin yang sanggup membekukan genangan air rawa di sekeliling kaki Arya. Langkah kaki mereka tak bersuara, tetapi setiap kali bibir mereka yang pucat bergerak melantunkan bait gending, pendar hijau kelam memercik keluar dari rongga dada mereka—menandakan jiwa-jiwa murni yang telah diperalat menjadi wadah racun suara.
"Darah murni dari Alas Mayit dan pemicu pendar dari Lawu..." bisik Nyi Nyai Sinden seraya membelai kecapi kayu berukir naga di pangkuannya. Jemarinya yang berukir kuku hitam memetik dawai kawat tua itu dengan petikan terputus-putus. "Di Rawa Bangkai ini, tidak ada senjata tajam yang sanggup menembus dawai suaraku. Setiap desah napas kalian akan berubah menjadi nyanyian persembahan bagi Sang Penguasa."
CRANG!
Satu petikan keras dawai kecapi memicu gelombang kejut berwarna hijau pekat yang meluncur deras membelah udara rawa. Air hitam bergolak dahsyat, terbelah menjadi dua menciptakan riak raksasa yang menerjang lurus ke arah panggung batu tempat rombongan Arya berdiri.
"Awas!" teriak Baskara seraya melompat ke depan. Ia melempar sisa rantai besinya yang telah dibaluri aura minyak suci secara melingkar, menciptakan perisai putaran besi yang menahan dentuman gelombang suara tersebut.
BUMM!
Benturan energi suara dan putaran rantai memancarkan percikan api ghaib yang membakar uap rawa di udara. Namun, gelombang suara itu tak sepenuhnya terhenti. Nada-nada sumbang merembes masuk lewat sela-sela putaran rantai, membuat telapak tangan Baskara membengkak seketika akibat getaran racun gending. Baskara mengerang menahan sakit, namun tubuhnya tetap berdiri kokoh menahan tumpuan kaki di atas lumpur yang melunak.
Mbak Sekar tidak tinggal diam. Ia mencabut bumbung bambu tua berisi serbuk dupa gading, lalu melemparkannya ke udara. Serbuk itu membumbung tinggi, membentuk kabut putih wangi yang menetralisir aroma kemenyan busuk di sekitar mereka. "Arya! Waranggana itu diikat oleh dawai gaib dari kecapi di pangkuan Sinden! Selama dawai itu memetik suara, tubuh mereka tidak bisa dihancurkan!"
Kirana merapatkan posisinya di sebelah Arya. Rajah ular berkepala tiga di tangannya membara merah menyala, menyerap hawa dingin yang dipancarkan oleh air rawa di bawah mereka. "Aku akan memecahkan konsentrasi para waranggana itu dengan racun darah Jarwo! Arya, manfaatkan celah itu untuk memutus dawai utama kecapinya!"
"Lakukan sekarang, Kirana!" tegas Arya seraya menghentakkan aliran kehangatan Minyak Naga Sakti yang mengalir di dalam dadanya.
Kirana melangkah maju, menancapkan kedua jemarinya ke dalam lumpur hitam rawa. Gelombang uap merah meledak mendadak dari bawah air, melilit kaki belasan waranggana melayang tersebut. Nyanyian langgam mereka terhenti seketika sewaktu racun merah Kirana membakar kain kemben hitam yang membungkus dada mereka, memicu raungan melengking dari sosok-sosok tanpa jiwa itu.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arya melompati genangan air rawa yang bergolak. Pendar cahaya keemasan meledak terang benderang dari telapak tangan katupnya, memadat membentuk bilah pedang energi Murni yang berkilau tajam di tengah kegelapan malam rawa.
Nyi Nyai Sinden membelalakkan matanya yang bersinar hijau kelam, memetik seluruh dawai kecapinya secara serempak untuk menciptakan benteng gelombang suara terakhir. "Bocah lancang!"
Arya menebas memutar di udara, mengarahkan bilah pedang energi keemasan murninya lurus menembus dinding gelombang suara, mengincar pusat kayu kecapi naga yang tergenggam di pangkuan sang pimpinan cabang ketiga.
Bilah pedang energi keemasan meluncur membelah pekatnya kabut hijau, menghantam keras dinding gelombang suara yang memancar dari kecapi naga. Benturan dua daya dahsyat itu meletupkan kilatan cahaya terang benderang yang meretakkan udara di atas Rawa Bangkai. Air rawa hitam di sekeliling perahu kayu menyembur tinggi bagaikan dinding raksasa sebelum jatuh menimpa rumpun-rumpun bakau yang melapuk.
Nyi Nyai Sinden meraung murka sewaktu benteng gaibnya menipis. Dengan jemarinya yang berukir kuku hitam kusam, ia memetik dawai kawat terakhir dengan sekuat tenaga, mengalirkan seluruh racun jiwa yang tersisa di dalam tubuhnya untuk membendung sabetan maut Arya.
CRANG!
Ujung pedang energi keemasan Arya menembus kumpulan nada sumbang dan menghantam tepat di tengah badan kecapi berukir naga. Kayu tua bertatahkan rajah hitam itu terbelah dua diiringi ledakan suara berdengung yang memecahkan keheningan rawa. Dawai-dawai kawatnya putus terlempar ke udara, memancarkan percikan api keemasan yang membakar habis perahu kayu hitam yang ditumpangi Nyi Nyai Sinden.
"Jeritan jiwaku... tidak akan pernah padam!" jerit Nyi Nyai Sinden dengan suara pecah yang melengking kencang.
Tubuh anggun bergaun beludru hijau tua itu mendadak meliuk membengkak, memuntahkan cairan hitam berbau busuk dari rongga mulut dan matanya. Racun Langgam Sukma yang selama ini ditampungnya meletup membakar raga sang pimpinan cabang ketiga hingga meluruh menjadi abu pekat yang jatuh menyatu dengan lumpur rawa.
Bersamaan dengan binasanya Nyi Nyai Sinden, belasan waranggana bergaun kemben hitam yang melayang kaku perlahan-lahan kehilangan aura hijaunya. Wajah-wajah pucat mereka kembali memancarkan ketenangan murni. Sosok-sosok arwah terikat itu tersenyum lembut ke arah Arya dan rombongannya sebelum akhirnya meluruh menjadi pendar cahaya putih yang terbang membumbung menembus kegelapan malam, kembali ke pangkuan keabadian.
Air rawa yang hitam keperakan dan berbau bangkai berubah jernih seketika, memancarkan pantulan pendar rembulan dari balik awan yang menipis. Kabut hijau beracun yang mengapung di antara akar-akar bakau sirna diterpa hembusan angin malam yang sejuk.
Arya mendarat mulus di atas pematang tanah yang kokoh, menghela napas panjang seraya mereda pendar cahaya keemasan di tangannya. Baskara menghampiri putranya seraya menepuk bahunya hangat, sementara Mbak Sekar dan Kirana mengikat kembali balutan luka mereka dengan lega.
Arya merogoh saku jaketnya dan membuka kembali gulungan peta kulit lembu tua. Di atas kulit kusam itu, lingkaran cabang ketiga—Lembah Rawa Bangkai—telah padam sepenuhnya, menyisakan arang hitam seperti dua cabang sebelumnya. Kini, tersisa empat garis merah yang masih membara redup, menanti untuk diputus rantai kutukannya.
mampir juga diceritaku yah😊