"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Traktat Perbatasan
Matahari pagi menyelimuti kediaman Ardan yang masih sepi. Di saat para dayang dan pengawal sudah mulai berganti shift dan bersiap untuk menyambut hari, hanya di ruangan kerja Ardan hari baru saja selesai.
Tumpukan dokumen traktat perbatasan baru selesai, tepat waktu sebelum diberikan kepada sang raja.
“Akhirnya selesai juga,” ujar Sonia menyenderkan tubuhnya ke kursi kerjanya sambil menghela napas lega. Dia lalu menoleh ke Salvatore. “Terimakasih ya, Sal. Kalau kau tidak membantu mungkin revisinya akan lebih lama dari ini.”
Salvatore mengangguk kecil, tangan kasarnya merapikan dokumen yang ada di genggamannya. “Ya, syukurlah masih tepat waktu selesai sebelum waktunya memberikannya kepada Raja.”
Sonia menatap Salvatore yang gerakannya rapi, seperti biasa. Namun raut wajahnya yang datar seperti ada yang mengganggu. “Masih ada yang mengganggu, Sal?”
Sal menoleh. “Oh? Tidak, hanya saja. Aku tidak menyangka kita harus menyelesaikan revisi ini sampai pagi, aku belum memberitahu Kate kalau malam ini aku lembur,” katanya.
Sang wanita militer itu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Sal. Nyonya Ardan juga pasti memaklumi hal ini, apalagi kamu kan Jenderal, pasti banyak sekali tugas mendesak seperti ini.”
Salvatore mengangguk kecil. “Semoga saja begitu,” katanya.
“Mau mengantarkan ke raja sekarang?” Tanya Sonia sambil bangun dari kursinya, merapikan seragam militernya yang sudah cukup kusut karena dipakai semalaman.
“Aku yang akan mengantarnya, setelah aku pulang dan bersiap,” balasnya menatap Sonia. “Kau pulanglah Sonia, aku bisa mengantarkannya sendiri. Kau butuh istirahat,” lanjutnya.
Sonia mengerjap sejenak, lalu terkekeh pelan sembari menepis debu tipis di lipatan seragamnya yang kusut.
"Capek? Kau meremehkanku, Sal," kata Sonia dengan nada santai, melangkah mendekati meja dan meraih gulungan dokumen utama. "Lagipula, dokumen ini adalah hasil kerja bersama kita. Siapa lagi yang lebih paham seluk-beluk pasal perbatasan ini di hadapan Raja kalau bukan kita berdua?"
Salvatore tertegun sebentar. Jenderal itu menatap Sonia, sempat berniat menolak dengan alasan ingin lekas pulang ke kediaman utama dan memastikan keadaan Kate. Namun, belum sempat bantahan itu keluar dari bibirnya, Sonia sudah kembali menyambung dengan argumen logisnya yang tak terbantahkan.
"Lagipula, kalau kau pulang dulu untuk bersih-bersih, kita hanya akan membuang waktu perjalanan bolak-balik ke istana, Sal. Waktu kita efisienkan sekarang saja, sekalian jalan, biar urusannya langsung selesai dan tidak tertunda lagi," lanjut Sonia dengan senyuman meyakinkan.
"Toh Nyonya Ardan sudah tahu kau adalah seorang Jenderal yang sibuk. Kehadiran kita berdua di hadapan Raja justru menunjukkan betapa seriusnya kita mengawal perbatasan ini."
Argumen itu kembali menghantam dinding logika Salvatore tanpa celah. Benar juga, pikirnya. Mengantar dokumen sepagi ini langsung ke istana jauh lebih efektif daripada harus bolak-balik membuang waktu. Mengenai Kate... toh istrinya sendiri mengatakan bahwa ia hanya kelelahan dan baik-baik saja beberapa hari lalu.
Sikap protektif kecil yang sempat singgah di benak Salvatore seketika luntur, tergantikan oleh prinsip efisiensi militer yang selalu mendarah daging di nadinya.
Salvatore menghela napas pendek, lalu mengangguk patuh pada logika tersebut. "Baiklah. Kalau begitu kita langsung ke istana sekarang."
Tanpa menyadari bahwa setiap keputusan praktis yang ia ambil bersama Sonia semakin memperlebar jurang tak kasat mata di antara dirinya dan sang istri, Salvatore melangkah keluar ruang kerja berdampingan dengan Sonia, meninggalkan pagi kediaman Ardan yang semakin dingin dalam kesunyian.
***
Seusai menyerahkan traktat perbatasan yang sudah di genggaman negara mereka, Salvatore dan Sonia masih berdiri bersisian menghadap ke sang raja dengan penuh hormat.
Raja Henry membaca dokumen yang ditunjukan oleh dua pasang pemimpin militer yang dapat diandalkan itu, senyuman puas dan bangganya menghiasi bibirnya. Sembari meletakan dokumen itu kembali ke atas meja, suara sang raja terdengar.
“Hebat sekali, Jenderal dan Lady Sonia. Kalian memang sangat bisa diandalkan untuk urusan perbatasan militer seperti ini. Saya menghormati dedikasi kalian.”
Salvatore dan Sonia hanya tersenyum mengangguk, tetap hormat meski mereka merasa sangat bangga dengan hasil kerja keras mereka. “Sebuah kehormatan bagi kami juga, Yang Mulia. Traktat perbatasan ini tidak akan selesai sampai sini tanpa bantuan Anda,” ujar Salvatore.
Raja Henry mengangkat dagunya sedikit, tatapannya menyapu lurus ke arah Salvatore dan Sonia dengan binar antusias yang khas dari seorang penguasa yang puas.
"Pekerjaan luar biasa seperti ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja tanpa perayaan," ujar Sang Raja, suaranya menggema tegas di dalam ruang takhta yang megah. "Untuk merayakan suksesnya traktat perbatasan ini sekaligus menghormati kerja keras para prajurit garda depan, istana akan mengadakan Pesta Militer Kemenangan akhir pekan ini."
Salvatore dan Sonia saling melirik sekilas, lalu kembali menunduk memberi hormat.
"Dan sebagai tokoh kunci di balik penyusunan strategi ini," lanjut Raja Henry sambil tersenyum penuh arti, "aku ingin Jenderal Salvatore dan Lady Sonia yang membuka acara tersebut. Kalian akan berdansa pertama sebagai simbol aliansi taktis dan dedikasi penuh pada kerajaan."
DEG.
Nama dansa pembuka kehormatan. Sebuah kehormatan militer tertinggi dari sang Raja.
Bagi Salvatore, titah itu mutlak dan murni sebuah bentuk apresiasi protokoler atas keberhasilan kerja sama strategis mereka. Namun, di dalam kepala sang Jenderal yang kaku, kalimat itu sama sekali tidak menyentuh dimensi personal. Tanpa keraguan sedikit pun, Salvatore mengangguk mantap.
"Sebuah kehormatan besar bagi kami, Yang Mulia. Kami akan melaksanakan titah tersebut," jawab Salvatore tegas.
Sonia di sampingnya menyunggingkan senyuman tipis yang elegan, menunduk hormat dengan gestur yang begitu selaras dengan sang Jenderal.
Bagi mereka berdua, itu adalah tugas negara. Sebuah prosedur dan formalitas yang sangat masuk akal. Namun, implikasi tak kasat mata dari keputusan itu sangatlah telak.
Sebuah pesta kemenangan militer. Sebuah dansa pembuka resmi di hadapan seluruh petinggi istana dan bangsawan kerajaan. Dan Salvatore akan berdiri di lantai dansa bersama Sonia—bukan sebagai istrinya, melainkan sebagai pasangan taktis yang paling diagungkan.
Jarak tak kasat mata yang selama ini perlahan meretak di kediaman Ardan kini dipastikan akan dihantam badai besar tepat di hadapan publik, sementara sang Jenderal batu masih tetap berdiri di dunianya yang hambar, sepenuhnya buta pada kehancuran batin yang menanti istrinya di ujung sana.
Tanpa terasa. Jarak yang awalnya terbentuk karena kesalahpahaman dan ketidakpekaan mulai bergeser menjadi jarak yang lebih jauh.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭