Mengisahkan seorang gadis yang berjuang membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya
Di umurnya yang ke 25 tahun, dia harus rela menyandang status sebagai janda.
Bagaimana kisah selanjutnya Sob.
Tetep pantengin nih novel, karena author insya alloh akan rajin update.
Budayakan tinggalkan Like and comment, karena itu sangat berarti for Author.
By. YINGJUN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROSESI PEMAKAMAN JARWO
Sungguh malang nasib Jono, di umurnya yang baru saja menginjak 6 tahun, dia telah menjadi yatim piatu.
Ketika jenazah Jarwo di mandikan, Jono berada tepat di samping petugas yang yang memandikan, dengan pelan dan perlahan. Jono menyiramkan air ke tubuh bapaknya sambil mengusapnya dengan pelan sekali.
Setelah acara pemandian jenazah selesai, kini jenazah Jarwo mulai di kafani, sementara Dirmo dan Suminah terlihat menangis sedih sambil memeluk cucunya tercinta.
Setelah selesai di kafani, kini jenazah Jarwo akan di masukan pada keranda dan akan di bawa ke dalam mesjid untuk di sholatkan.
"La ila ha illalloh…. " gema kalimat tahlil terdengar ketika Jenazah Jarwo keluar dari pintu rumahnya yang di iring warga.
Di dalam masjid, jenazah Jarwo di letakan tepat paling depan, ternyata antusias untuk mensholatkan jenazah/mayat Jarwo sangat besar. Itu semua terlihat dari jumlah warga yang membludak, hingga mesjid yang bisa di katakan luas dan besar tidak bisa menampung atau mengimbangi dengan jumlah warga yang datang untuk mensholatkan jenazah Jarwo.
Jono sangat senang melihat kepedulian warga pada Almarhum Bapaknya, tetapi pada dasarnya semua ini terjadi karena perbuatan baik Jarwo pada setiap warga yang sering di. tolongnya semasa hidupnya.
Tak sedikit warga bercerita hidupnya pernah tertolong oleh Jarwo, Jarwo tak pernah sungkan dan pandang bulu dalam membantu tetangga atau warga yang benar benar membutuhkan pertolongannya.
Kini acara menyolatkan jenazah Jarwo telah selesai, beberapa warga yang bertugas terlihat berhambur menghampiri keranda Jarwo. Perlahan mereka mengangkat Jenazah Jarwo yang telah ada di dalam keranda.
Perlahan keranda Jarwo mulai di bawa keluar dari mesjid, banyak warga mengiring kepergian Jarwo yang sampai pemakaman.
Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, gema kalimat tahlil terucap dari setiap mulut warga yang mengiring kepergian Jarwo ke tempat peristirahatanya yang terakhir itu.
Banyak sekali keanehan yang terjadi pada saat itu, di mulai dari bobot jenazah Jarwo yang sangat enteng seringan kapas, dan awan redup yang selalu menaungi warga hingga membuat mereka tak merasa kepanasan ketika mengiring Jenazah Jarwo. Padahal ketika itu cuaca terlihat sedang terik teriknya.
Sampailah di area pemakaman, tempat di mana Jarwo akan di kebumikan. Warga perlahan perlahan membuka keranda dan mengeluarkan Jenazah Jarwo dan memasukan ke liang lahat.
Tak di sangka Jon ikut turun tangan membantu menurunkan jenazah bapaknya, sebenarnya warga sudah melarangnya, akan tetapi Jono kecil terlihat nekat hingga warga tak bisa berbuat apa apa dan membiarkanya membantunya.
Dengan tanganya masih kecil, Jono dan warga mulai memasukan Jarwo ke lubang peristirahatanya.
"Allohumag fir lahu warhamhu wa afihi wa'fu anhu. " Doa Jon pada Bapaknya ketika telah meletakannya di tanah.
"Jon, cepat naik!" ajak Adien sambil mengulurkan tanganya pada Jono sambil membungkuk.
Setelah jenazah Jarwo di letakan di tanah dengan posisi miring menghadap dinding tanah, para warga perlahan menimbun jenazah Jarwo dengan tanah.
Seketika Jono memeluk sang kakek sambil menangis, perlahan jenazah Jarwo mulai tak terlihat karena terkubur tanah merah pemakaman.
Acara pemakaman Jarwo kini telah selesai, perlahan para warga terlihat satu persatu meninggalkan area pemakaman tersebut, menyisakan Jono dan Dirmo yang masih terlihat mematung memandang kuburan Jarwo.
"Jono, ayo kita pulang! " ajak Dirmo pada Jono sambil mengusap kepalanya.
"Kakek duluan saja!, Jono akan menunggu almarhun bapak disini sebentar. " mohonnya dengan sangat pada Dirmo.
"Baiklah, tapi kakek akan tunggu kamu parkiran. " jawabnya sambil meninggalkan Jono yang terlihat masih terduduk setengah membungkuk memegang papan nisan Jarwo.
Setelah Suasana benar benar sepi dan menyisakan Jono seorang, tiba tiba angin berhembus menyibak rambut Jono.
Dalam sebuah riwayat yang pernah di riwatkan oleh Abu Hurairoh rodhiallohu anhu.
Ketika si mayat telah di kuburkan, dan pengiring telah meninggalkannya 7 langkah, maka alangkah baiknya sang anak atau anaknya menunggu kuburan tersebut selama sesaat(bisa 30 menit atau lebih perbedaan pendapat ulama).
karena itu bisa meringankan pertanyaan kubur dari sang malaikat mungkar dan Nakir pada si mayat tersebut
**JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, LIKE RATE AND COMMENT KARENA ITU GRATISSS….
SALAM AUTHOR**
ARBY YINGJUN🙏
GOOD😳❤
Semangat!🙏🙏🙏❤❤
sm dgn kenyataan hidup.disaat keingnan tercapai disertai kehilangan yg lain