NOVEL PERTAMA, MAAF JIKA BANYAK TYPO.
Autor hanya ingin menulis bercermin dari kehidupan sehari-hari, jauh dari CEO atau lehidupan yang kaya raya. selamat membaca.
Queen! begitulah teman-teman dia sering memanggil, seorang gadis sederhana berusia 18 tahun yang baru lulus SMA. Tidak banyak impian gadis ini, hanya ingin segera mendapatkan pekerjaan, dan membantu ekonomi keluarganya.
queen memiliki kekasih sejak 1 tahun terakhir, tepat nya saat queen duduk di bangku kelas 3 SMA.
Bagaimana perjalanan cinta seorang queen, apakah dia bisa mewujudkan keinginannya membantu ekonomi keluarga??
Selamat membaca, saran dan kritik saya nantikan, jangan menghujad yang bisa meruntuhkan mental autor ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMARAN 2
ketika hati telah terpaut... dan takdir pun telah menentukan keputusannya, bisakah manusia merubah keinginan?? , kita hidup ini hanya wayang, yang mengikuti alur tanpa mampu membelokkan jalan... Cinta adalah ikatan yang sudah ada bahkan saat manusia belum terlahir...
Hari begitu cerah saat erfan dan keluarga bersiap menuju kediaman queen. Ibu, kakak dan kedua adiknya tidak kalah antusias. Mereka senang dengan rencana pernikahan.
"sudah siap semua fan?" tanya ibu
" sudah bu..." jawab erfan
" kalau sudah ayo berangkat, biar tidak terlalu siang" lanjut ibu.
Tepat pukul 08.00 mereka berangkat ke kontrakan queen yang letaknya sekitar 15km.
Sementara di rumah queen, semua persiapan sudah selesai. nenek, bude dan semua keluarga dari kota asal orang tuanya sudah datang, begitupun para tetangga yang membantu acara juga sudah selesai memasak. Queen memakai riasan sederhana saat acara lamaran itu.
30 menit kemudian rombongan erfan tiba. Ibu, bapak dan queen menyambut kedatangan semua tamu dan mempersilahkan duduk. Pria bernama erfan tampak sangat bahagia, queen sedikit tersenyum dan menganggukkan kepala.
Acara di akhiri dengan penyematan cincin pertunangan dan doa bersama. Semua lancar tanpa terkendala apapun, bulan pernikahan sudah di sepakati. Kedua belah pihak tidak ada yang ingin menunda.
Para tetua masih berbincang-bincang di sela acara makan-makan. Queen dan erfan memilih keluar rumah, berbincang di teras.
" 6 bulan sayang.... 6 bulan lagi kamu jadi milikku seutuhnya, dan aku tidak sabar menantikan hal itu"
"iya mas.... Terimakasih sudah mau selalu bersamaku dan menerimaku apa adanya. " jawab queen
"selalu sayang, terimakasih sudah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi bagian dari hidupmu" lanjut erfan.
...----------------...
Acara berbincang-bincang sudah selesai, semua tamu dan tetangga sudah pulang. Ibu dan bapak terlihat berbincang dengan pak de, queen menemui saudara sepupunya.
" calon kamu ganteng dek" ucap ida, sepupu queen yang berusia sama dengannya.
queen tersenyum dan menjawab
" alhamdulillah mba... Yang penting setia"
" tanggal pernikahan kamu selang 2 hari dengan ku" kata ida.
" iya, aku tidak menyangka kita lahir di tanggal yang sama, masa kecil tumbuh bersama dan sekarang nikah pun juga hampir bersamaan:" jawab queen. queen dan sepupunya tertawa dengan takdir mereka"
Keluarga queen memang selalu di kucilkan oleh keluarga yang lain, tetapi tidak dengan anak-anak mereka, anak-anak mereka tumbuh dengan sangat baik. Ikatan persaudaraan antara anak tidak ada yang saling mencemooh, apa lagi di tambah anak-anak yang sudah tumbuh dewasa. keluarga bapak hanya tidak menyukai ibunya queen, tetapi tidak dengan anak-anaknya. Anak-anak tumbuh dengan didikkan saling menyayangi, tetapi tidak dengan orang tuanya.
Ibu queen yang merasa di abaikan oleh semua saudara bapak, segera undur diri ke belakang, sakit??? Tidak! 30 tahun berlalu dengan perlakuan seperti itu, menjadikan ibu queen kebal di acuhkan dan di abaikan, bahkan di caci dan di hina. Itu sebabnya dengan abdi dan erfan, ibu selalu bertanya apakah semua keluarga merestui, sabab dia tidak ingin anak-anak bernasib sama dengannya. Lalu.... Di mana keluarga dari ibu??? Ibu queen sebenarnya banyak, 11 bersaudara... Tetapi 6 diantaranya sudah meninggal, 2 mengikuti transmigrasi ke sumatera dan 2 transmigrasi ke kalimantan. semua hilang jejak, karena pada jaman itu belum ada komunikasi canggih seperti sekarang. Dulu masih sering saling berkabar melalui surat, tetapi setelah ibu dan bapak queen hidup berpindah-pindah, semua jadi putus komunikasi.
Hufffft.... Terdengar ibu menghela nafas, terlihat sangat sesak. Queen menyaksikan semuanya, bagaimana ibu di abaikan, tidak di hiraukan, bahkan sempat ada yang bertanya " ini que beli apa kamu buat sendiri??" di jawab sama bapak kalau yang kue beli dan masakan yang memasak tetangga. Baru semua saudara mau mencicipi.
" hei, kenapa??" tanya ida
" mba ida... Maaf aku tinggal dulu membantu ibu ya" jawab queen.
Ida yang paham situasi mengangguk, dia tau keluarga sudah sangat keterlaluan termasuk orang tua dan saudara-saudaranya sendiri. Tapi ida tidak mau merusak acara sepupu nya yang sangat dia sayangi ini. Nanti saat di rumah ida akan menegur mereka, dan kakaknya yang ikut-ikutan orang tuanya mencemooh ibu queen.
" bu.... Queen bantu..." kata queen.
" tidak sayang... Kamu temui bude-bude kamu, biar ibu menyiapkan bekal mereka di perjalanan nanti" jawab ibu.
" Tidak perlu di bawakan bekal bu... Mereka belum tentu mau" kata queen.
" mau atau tidak mau, di makan atau di buang, kita tetap wajib membawakan bekal, kita yang mengundang mereka jadi kita harus memastikan mereka kenyang sampai di rumah" jawab ibu dengan tegas.
Queen memeluk ibu... Queen tau ibunya berniat baik, tapi queen tidak tahan ibunya terus di hina dan di abaikan. semua itu tidak luput dari pandangan ida yang ikut bersedih.
" kita pulang dulu dek ... Kita kesini lagi pas hari acara" pak de berkata kepada bapak.
" mba... Mas... Ini tolong di bawa untuk makan di perjalanan nanti..." kata ibu dan Ibu sudah menata bekal itu di meja teras, agar mudah memberikannya.
" tidak perlu! Kalau lapar kami bisa sewaktu-waktu mampir ke restoran, banyak restoran bagus di sepanjang perjalanan." jawab bude surya.
" kalau soal makanan kami tidak akan pernah kelaparan " bude nari menambahkan.
Semua pandangan sinis dari keluarga bapak mengarah ke ibu, ibu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, tidak menjawab sedikitpun.
" aku mau membawanya tante, kuenya enak te.. Aku suka, dan yang di toples ini aku bawa pukang boleh ya..." ida menyela kalimat bude dan ibunya sendiri.
" ida!! Kita besa beli nanti. Kayak nggak ada makanan aja kamu ini. " jawab bude surya, ibunya ida.
Ida tidak mau perdebatan di lihat tetangga yang akhirnya membuat malu queen dan ibunya, tanpa menjawab ida memasukkan semua makanan dan kue kedalam mobilnya.
" jangan ada yang mengeluarkan makanan dari salam mobil, atau aku menolak pernikahan hasil perjodohan sialan kalian" kata ida dengan lirih agar tidak terdengar oleh tantenya yang tak lain ibunya queen. sambil terus memindahkan kotak makanan dan kotak kue ke mobilnya, ida juga menyuruh tunangannya untuk membantu membawa kue ke mobil. Sungguh... Ida tidak berbohong, kue-kue basah dan kering memang enak, ida sudah mencicipi semua tadi. Dasar keluarganya saja yang sok gengsi.
" tante... Makanan dan kuenya aku bawa ya, terimakasih tidak membiarkan kami kelaparan di jalan". Kata ida.
" sama-sama sayang... Kamu putri ku juga, bagaimana mungkin tante bisa membiarkan putri tante yang cantik ini sampai merasa lapar??" jawab ibu.
Benar.... Ida sudah seperti putrinya sendiri, bayinya ida sampai berusia 5 tahun, ibu queen yang mengasuh. Ibu ida... Bude surya... Sibuk mengajar, karena dia seorang guru. Itu sebabnya ibu sangat menyayangi ida, dan ada ikatan batin antara ida dan queen. Jangan berfikir gaji ya... Bude surya menitipkan ida saat mengajar tanpa adanya gaji atau sekedar saku, bahkan terkadang untuk jajannya ida saja, ibunya queen sampai berhutang. Tetapi semua itu tidak terlihat baik di keluarga bapak. Tetapi ibu hanya wanita miskin yang beruntung di nikahi bapak.
Semua makanan sudah masuk dan keluarga bapak pamit, bapak, ibu dan queen mengantar sampai halamanan depan. Tunangan ida segera melajukan mobil meninggalkan halaman...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...