Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan Kedua
Pagi itu Rachel terbangun dengan perasaan berat yang langsung menekan dadanya sejak membuka mata. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena kesadaran yang datang terlalu cepat bahwa hari ini ia tidak punya pilihan. Jam di dinding belum menunjukkan pukul delapan, tetapi dari balik pintu kamar sudah terdengar langkah kaki yang sibuk. Dan di luar sana, Tom sudah bangun, bahkan sudah siap dan sudah menunggunya.
Saat Rachel keluar, Tom berdiri di ruang tengah dengan kemeja rapi dan jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Pagi ini wajahnya terlihat lebih segar dan puas. Tatapannya menyapu Rachel dari ujung rambut hingga kaki, berhenti sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Kau terlihat cantik pagi ini,” kata Tom. Nadanya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya, seolah ia sedang memberikan penilaian, bukan pujian. “Gaun apa pun akan cocok di tubuhmu.”
Rachel membalas dengan senyum tipis yang ia paksakan. Di dalam kepalanya, pikirannya sudah berlari ke mana-mana, mencari celah yang belum tentu ada. Ia tahu hari ini bukan sekadar agenda belanja untuk bersenang-senang. Ini adalah langkah lanjutan dari sesuatu yang perlahan mengurungnya. Sesuatu yang Tom sebut sebagai 'Pernikahan', namun bagi Rachel tampak seperti 'Penjara Seumur Hidup'.
“Hari ini hari besar, Rachel,” lanjut Tom sambil meraih jasnya. “Mulai sekarang, semuanya akan berubah.”
Rachel mengangguk. Dalam hati, kalimat itu berputar dengan makna yang berbeda. Berubah atau berakhir.
Toko perhiasan pertama yang mereka datangi tampak seperti dunia lain. Lantai toko itu tampak mengilap dengan beberapa etalase kaca tebal dan lampu putih yang membuat perhiasan-perhiasan berlian di sana berkilau berlebihan. Para pegawai di sana tersenyum ramah, menyambut kedatangan Rachel dan Tom dengan hangat. Dan, Rachel menyadari keberadaan beberapa pria yang berdiri di sudut-sudut ruangan, berpura-pura menjadi pelanggan atau staf toko. Tapi Rachel tahu bahwa itu jelas anak buah Tom. Mereka tersebar rapi di berbagai sudut, nyaris terlihat tapi tidak mencolok.
Rachel sengaja memperlambat langkahnya. Ia berhenti di setiap etalase, mengajukan pertanyaan kecil yang tidak penting, atau meminta pelayan toko mengeluarkan lebih banyak pilihan. Tangannya bergerak pelan, matanya melirik pintu keluar, lorong kecil di belakang meja kasir, bahkan pintu yang bertanda “staff only”. Namun, ia lantas menyadari bahwa semua jalan di sana tampak tertutup untuknya.
Sementara itu, Tom selalu berada satu langkah di belakangnya. Sesekali tangannya menyentuh pinggang Rachel, bukan dengan lembut, melainkan seolah memastikan ia masih di sana, tepat di sampingnya.
“Cincin ini sangat cocok untuk calon istri Anda,” kata pelayan perempuan itu sambil tersenyum profesional.
Tom menoleh ke Rachel, lalu kembali ke pelayan itu “Aku tahu,” ujarnya singkat. “Dia memang diciptakan untuk itu.”
Rachel menahan napas. Kilau berlian di hadapannya tidak lagi indah, melainkan semuanya terasa seperti ejekan baginya. Sebab, ia tahu di tempat ini, ia tidak akan bisa pergi ke mana pun.
Butik gaun pengantin berikutnya bahkan lebih menyesakkan. Ruangannya luas, bersih, dan sunyi. Hanya ada dua staf yang bergerak perlahan dengan suara langkah mereka yang nyaris tak terdengar. Di sana pintu-pintu tertutup rapat dan sistem keamanan terlihat begitu ketat. Sungguh terlalu rapi dan terlalu terkendali.
Rachel mencoba alasan klasik. “Aku ingin ke toilet sebentar,” katanya.
Seorang anak buah Tom langsung berdiri, menunggu pada jarak yang tidak cukup dekat tapi jelas mengawasi. Rachel masuk ke dalam toilet, mengamati setiap sudut di dalam sana. Namun, tidak ada jendela yang cukup besar ataupun pintu lain yang bisa membantunya kabur. Jadi, ia keluar dengan perasaan yang semakin tercekik.
Saat mencoba gaun, ia bertanya tentang ruang fitting lain dan tentang area belakang butik, yang jelas tanpa sepengetahuan Tom. Namun, jawaban yang ia terima selalu sama bahwa semuanya ada di satu area dan semuanya terkunci demi keamanan pelanggan.
Ketika Rachel akhirnya keluar mengenakan gaun putih yang tampak mewah dan mahal, Tom menatapnya cukup lama. Bukan dengan ekspresi kagum, melainkan dengan tatapan yang membuat Rachel merasa seperti barang yang sedang dipastikan kondisinya.
“Lihat dirimu,” kata Tom pelan. “Sebentar lagi kau resmi menjadi milikku. Nyonya Nicholson.”, lanjutnya, membuat Rachel tersenyum kaku.
Bar adalah tempat terakhir yang mereka datangi hari itu. Ironisnya, justru di sanalah Rachel merasa paling terancam. Ruangan VIP, tempat mereka duduk dipenuhi lampu redup dan aroma alkohol yang mahal. Di dalam sana terdapat sofa empuk, meja yang cukup besar, dan musik yang terlalu pelan untuk mengalihkan perhatian.
Tom memesan makanan dan minuman tanpa bertanya pada Rachel terlebih dahulu. Ia tampak jauh lebih santai, karena suasana hatinya jelas sedang baik. Kini, tangannya mulai lebih sering menyentuh Rachel—di pundaknya, pinggangnya, bahkan cukup lama bertahan di paha. Ia tidak lagi berpura-pura dan hanya menjadi dirinya yang sebenarnya.
“Tidak lama lagi,” ujar Tom sambil menuang minuman, “aku tidak perlu menahan diri lagi, kan?”
Perut Rachel bergejolak. Ia menelan ludah dan berusaha menjaga wajahnya tetap tenang. “Aku… ke toilet sebentar,” katanya, cepat, sebelum rasa mual itu terlihat jelas.
Ia berdiri dan menyadari tatapan Tom mengikutinya. Ia tahu, bahkan saat melangkah menjauh, dirinya masih berada dalam pengawasannya. Tapi ia juga tahu satu hal, bahwa jika ia tidak mulai bergerak sekarang, kesempatan itu mungkin tidak akan pernah datang lagi.
Rachel berjalan menuju pintu ruang VIP yang tertutup dengan langkah yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia tahu Tom tidak akan membiarkannya pergi sendiri. Dugaan itu terbukti ketika salah satu pria berdiri dari kursinya dan mengikutinya dari jarak beberapa meter darinya.
“Awasi dia,” suara Tom terdengar datar, seolah memberi instruksi biasa.
“Jangan biarkan aku menunggumu di sini terlalu lama, Sayang,” katanya lagi pada Rachel, ketika ia sudah ada di ambang pintu. Rachel pun mengangguk kecil tanpa menoleh. Tidak ada gunanya menolak, sebab setiap penolakan hanya akan mempersempit ruang geraknya.
Begitu tiba di depan toilet, ia mendorong pintu toilet dan masuk, lalu segera menguncinya dari dalam. Bunyi klik itu terdengar terlalu nyaring di telinganya. Toilet itu tampak bersih, modern, dan seperti semua tempat lain hari ini, yang tertutup rapat. Rachel memeriksa setiap sudut dengan cepat. Ia membuka satu per satu bilik, memeriksa wastafel, cermin besar di dinding, bahkan mencoba menyentuh panel ventilasi kecil di atas. Namun, tidak ada jendela yang cukup besar, tidak ada celah yang bisa ia lewati, dan tidak ada pintu lain yang bisa membawanya pergi.
Ia bersandar ke dinding, lalu napasnya mulai tidak teratur. Waktu pun mendadak terasa berjalan terlalu lambat, seolah dunia di sekitarnya sedang berhenti dan menertawakannya. Ia tahu semakin lama ia di dalam sana, maka semakin besar kecurigaan mereka. Tapi keluar juga berarti kembali kepada kendali Tom. Dan jelas Rachel tidak menginginkannya.
Dari luar, suara langkah lalu terdengar mendekat. Sepertinya itu adalah suara langka kaki dari pria yang mengawasinya tadi. Pria itu tampak bergeser, lalu berhenti tepat di depan pintu. Rachel tahu, pria itu pasti mulai curiga karena Rachel sudah berada terlalu lama di dalam toilet.
Beberapa menit pun berlalu. Rachel menutup mata dan mencoba memaksa pikirannya bekerja. Namun nyatanya tidak ada rencana yang lebih baik dan tidak ada jalan keluar yang ia temukan. Yang ada hanya waktu yang terus menipis, menggerus harapannya untuk kabur dari jerat Tom yanh menyesakkan.
Lalu, ketukan terdengar di pintu toilet yang menutup rapat di belakangnya. Ketukan itu terdengar pelan, tapi tegas.
“Rachel?” suara Tom kini menggantikan suara langkah kaki pria itu. Bahkan lebih dekat dan lebih dingin. “Kau baik-baik saja?”
Rachel tidak menjawab. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya.
Lalu, ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras. “Jangan buat aku menunggu,” kata Tom. Nadanya tidak meninggi, tapi justru itulah yang membuatnya terasa mengancam.
Rachel menelan ludah. Dalam kepalanya, satu kalimat berputar tanpa henti. 'Kalau aku keluar, maka aku kalah. Tapi kalau aku tetap di sini, itu juga bukan jalan keluar.'
Jadi ia pun membuka kunci pintu itu dengan gerakan ragu. Begitu pintu terbuka, Tom langsung berdiri di hadapannya. Kini jarak mereka terlalu dekat. Tangannya terangkat dan langsung mencengkeram pundak Rachel dengan kuat, seolah memastikan ia tidak akan bergerak lagi.
“Apa yang kau lakukan di dalam? Kupikir kau pingsan karena lama sekali.” tanya Tom. Senyumnya tipis, matanya tajam. Tidak ada kesabaran tersisa di sana.
Ide itu pun muncul begitu cepat sehingga Rachel sendiri nyaris tidak sempat berpikir. Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia memiringkan kepala dan menggigit tangan Tom sekuat tenaga. Bukan gigitan ragu, melainkan gigitan panik dan penuh tenaga yang tersisa.
Tom berteriak kaget, refleksnya melemah sesaat. Rachel langsung menendang sekuat yang ia bisa ke titik sensitif di tubuh Tom. Tendangan itu tepat di sana dan membuat Tom terhuyung ke belakang dengan suara napas yang terpotong.
Rachel tidak menunggu reaksi berikutnya. Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, ia pun langsung berlari. Dan, suara teriakan Tom menggema di lorong. “KEJAR DIA!”
Langkah kaki menghentak lantai di belakangnya. Rachel berlari tanpa arah yang jelas, hanya mengikuti instingnya menuju cahaya dan udara terbuka. Napasnya terengah, paru-parunya terasa terbakar, dan kakinya mulai gemetar. Tapi ia tidak boleh menoleh atau memperlambat langkahnya.
Pintu keluar yang ia lewati itu menuju parkiran terbuka di depannya. Rachel menerobos keluar, merasakan udara luar menghantam wajahnya. Parkiran itu luas dan hampir kosong. Di sana terlalu sepi dan terlalu terbuka, yang artinya jelas tidak ada tempat bersembunyi atau meminta pertolongan. Sementara itu, di belakangnya, suara langkah semakin dekat. Teriakan-teriakan itu terdengar sedikit samar dan penuh amarah.
Rachel berputar, matanya liar mencari apa pun yang bisa memberinya kesempatan. Dan saat itulah ia melihatnya. Sebuah mobil hitam mewah bergerak perlahan menuju pintu keluar parkiran. Lampunya menyala dan jelas sedang meninggalkan tempat itu. Pikirnya, itu adalah satu-satunya pilihan. Ya, satu-satunya jalan yang bisa ia tempuh untuk kabur dari Tom.
Rachel berlari ke arah mobil itu dan berdiri tepat di depannya, bahkan terlalu dekat, hingga ban mobil itu mengerem mendadak dengan bunyi yang tajam. Rachel hampir terjatuh ke kap mobil, tapi ia bertahan. Lalu tangannya langsung mengetuk kaca jendela dengan panik.
“Tolong,” katanya terbata, suaranya nyaris pecah. “Tolong… saya mohon. Bawa saya pergi dari sini.”
Di belakangnya, suara langkah semakin jelas. Saat itu waktu terasa seperti sedang terburu-buru dan mengejarnya. Membuat jantungnya berdegup kencang dan dadanya terasa sesak. Dan kaca jendela mobil di depannya itu pun tetap tertutup. Hingga Rachel merasakan keputusasaan tiba-tiba menyelinap cepat, dingin, dan mematikan.
Lalu setelah beberapa saat, akhirnya pintu belakang penumpang mobil itu terbuka. Tanpa berpikir lagi, Rachel pun langsung melangkahkan kaki dan masuk ke dalam sana. Tubuhnya gemetar hebat saat ia menutup pintu dan bersandar di kursi penumpang. Lalu, mobil itu pun langsung bergerak, meninggalkan parkiran itu dengan kecepatan yang membuat Rachel terhuyung di kursinya.
Rachel terdiam dan tubuhnya membeku. Ia tidak berani melihat ke belakang, karena ia tidak ingin tahu seberapa dekat Tom dan anak buahnya tadi. Saat ini, ia hanya tahu bahwa ia sudah berhasil lolos dari Tom. Meskipun ia belum benar-benar tahu apa lagi yang akan ia hadapi setelah ini—di dalam mobil hitam mewah yang belum berani ia pastikan dengan siapa ia berhadapan saat ini. Ini mungkin memang jalan keluar, tapi entah untuk selamanya atau hanya sesaat.