NovelToon NovelToon
The Future With My Grumpy Neighbor

The Future With My Grumpy Neighbor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Time Travel / Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Belajar Melepaskan Genggaman

[POV: Vaya]

Pagi ini, udara di apartemen terasa berbeda. Tidak ada lagi rahasia besar yang menggantung seperti mendung hitam, namun sebagai gantinya, ada kecanggungan yang sangat tipis dan rapuh. Aku terbangun mendahului Narev. Aku melihatnya masih tertidur dengan dahi yang berkerut, seolah bahkan dalam mimpinya pun, dia masih mengkhawatirkan sesuatu.

Aku mengelus kerutan di dahinya dengan ujung telunjukku. Begitu besarkah ketakutanmu kehilangan aku, Narev? Sampai kamu harus menghancurkan hidupku sepuluh tahun lalu?

Narev melenguh, perlahan membuka matanya. Begitu melihatku, hal pertama yang dia lakukan adalah meraih pergelangan tanganku, memastikan aku benar-benar ada di sampingnya.

"Kamu... tidak pergi?" suaranya serak, penuh kecemasan yang purba.

Aku tersenyum tipis, meski hatiku masih terasa sedikit perih mengingat pengakuannya semalam. "Aku sudah janji, kan? Aku di sini. Sekarang, bangunlah. Kita sarapan bersama Mici."

Di Meja Makan

Suasana sarapan kali ini diiringi oleh ocehan Mici yang sedang mencoba memotong sosisnya sendiri. Narev duduk di depanku, namun matanya terus-menerus melirik ke arah tas tanganku yang terletak di kursi sebelah. Dia tampak gelisah.

"Vaya," panggilnya, memecah kesunyian.

"Ya?"

"Hari ini... apa kamu tetap ingin ke butik? Sendiri?" tanyanya. Dia mencoba terdengar kasual, namun aku bisa melihat urat di lehernya yang menegang.

"Iya, Narev. Aku punya janji dengan klien penting jam sepuluh. Dan seperti kesepakatan kita semalam... aku ingin pergi tanpa sopir pribadi darimu. Aku ingin menyetir sendiri," kataku dengan nada tegas namun tenang.

Narev meletakkan garpunya dengan suara denting yang cukup keras. "Vaya, mengertilah. Rian masih berkeliaran. Bagaimana kalau dia mencegatmu di jalan? Bagaimana kalau dia mencobamu menculikmu lagi seperti—"

"Seperti yang kamu lakukan sepuluh tahun lalu?" potongku pelan.

Narev terdiam seketika. Wajahnya memucat. Dia menunduk, mencengkeram serbet di pangkuannya. "Maaf. Aku tidak bermaksud..."

"Narev, dengar aku," aku meraih tangannya di atas meja, memaksa pria raksasa itu menatapku. "Kalau kamu terus-terusan mengawasiku seperti tawanan, aku tidak akan pernah bisa mencintaimu secara tulus. Aku akan selalu merasa sedang diawasi oleh sipir penjara. Apa kamu mau kita kembali ke hubungan yang dingin seperti dulu?"

Tiba-tiba, suara jernih Mici kembali merambat masuk ke benakku.

“Papa... hatinya goyang-goyang. Papa takut banget Mama nggak pulang. Papa... jangan nangis di dalam hati, Mici jadi sedih...”

Aku menatap Mici yang kini menatap ayahnya dengan tatapan iba. Mici turun dari kursinya, berlari kecil menghampiri Narev, lalu memeluk kaki panjang ayahnya.

"Papa... Mama uyang (pulang) kok. Mici jaga Papa di umah ya?" ucap Mici sambil menepuk-nepuk lutut Narev.

Narev menarik napas panjang, mencoba menguasai emosinya. Dia menggendong Mici ke pangkuannya, lalu menatapku dengan mata yang bergetar. "Baik. Pergilah sendiri. Tapi... tolong, nyalakan GPS di ponselmu. Bukan untuk memata-matai, tapi agar aku tahu kamu aman. Hanya itu permintaanku, Vaya. Tolong."

Aku melihat keputusasaan di matanya. Pria ini sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan dinding posesifnya demi aku.

"Oke. GPS menyala. Dan aku akan meneleponmu saat aku sampai di butik, saat makan siang, dan saat aku mau pulang. Adil?"

Narev mengangguk lemah. "Lebih dari adil, Cebol."

...****************...

[POV: Narev]

Aku berdiri di balkon, memandangi mobil putih Vaya yang perlahan keluar dari area parkir apartemen. Tanganku mencengkeram pagar besi hingga buku-buku jariku memutih. Rasanya seperti ada bagian dari jiwaku yang ikut terbawa pergi bersama mobil itu.

Jangan pergi... jangan pergi... suaraku berteriak di dalam kepala.

Setiap detik terasa seperti jam. Aku terus menatap layar ponselku, melihat titik hijau kecil yang bergerak di peta digital.

"Tuan," suara asistenku, Hendra, terdengar dari arah pintu. "Mobil pengawal sudah membuntuti Nyonya dari jarak yang sangat jauh agar tidak terlihat, seperti perintah Anda."

Aku memejamkan mata. Aku merasa seperti pengkhianat. Aku sudah berjanji padanya untuk memberi kebebasan, tapi ketakutanku lebih kuat dari janjiku. "Pastikan mereka tetap tidak terlihat. Jangan sampai Vaya tahu. Jika dia tahu, dia akan sangat membenciku."

"Baik, Tuan."

Tiba-tiba, aku merasakan tangan kecil menarik-narik ujung jas kantorku. Aku menunduk dan melihat Mici berdiri di sana dengan wajah yang sangat serius—terlalu serius untuk anak seusianya.

“Papa bohong ya sama Mama? Papa bilang nggak awasi, tapi Papa suruh orang galak ikutin Mama?”

Aku tersentak. Suara itu... entah kenapa aku merasa Mici sedang mengadiliku lewat tatapannya.

"Mici... Papa hanya ingin Mama aman," bisikku, berlutut di depannya.

Mici menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mama benci bohong, Papa. Kalau Mama tahu, Mama nanti nangis lagi. Papa mau Mama nangis?"

Aku terpaku. Kalimat sederhana Mici menghantam ulu hatiku. Benar. Vaya baru saja mulai membuka hatinya padaku setelah sepuluh tahun membeku. Jika dia tahu aku masih bermain di belakang punggungnya, aku akan kehilangan dia selamanya. Kali ini, tidak akan ada kesempatan kedua.

"Hendra!" panggilku keras.

"Ya, Tuan?"

"Tarik semua pengawal. Sekarang juga! Biarkan Nyonya benar-benar sendirian," perintahku dengan suara gemetar.

"Tapi Tuan, risiko—"

"LAKUKAN SAJA!" bentakku.

Setelah Hendra pergi, aku jatuh terduduk di lantai balkon, menyandarkan punggungku di dinding. Aku menatap Mici yang kini tersenyum dan mendekat untuk memeluk leherku.

"Papa pintal (pintar). Mama pasti uyang," bisik Mici.

“Hati Papa sekarang warnanya bening... Papa hebat bisa lepasin Mama. Mici sayang Papa!”

Aku memeluk Mici erat. Aku bertaruh pada segalanya hari ini. Antara keselamatannya, atau cintanya. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku memilih untuk mempercayai cintanya daripada obsesiku.

Vaya... tolong kembalilah padaku karena kamu mau, bukan karena aku paksa.

...****************...

1
Lis Lis
labil ......
G konsisten sma omongannya si vaya
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭 mungkin vaya galau kak...
total 1 replies
Lis Lis
AQ jga G tau spa yg harus aku prcya vaya😭😭😭
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sulas Lis
huaaaaa huaaa 😭😭😭
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa
Ariska Kamisa: terimakasih kak udah mampir... 🙏🙏🙏 terimakasih atas sarannya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
awesome moment
bingung mo.kasih comment. tll sedikit dan...agak lama. smp hmp lupa. maapkeun
awesome moment
vaya sgt memuakkan. oon g abis2. wanita tu mending dicintai. aman. ogeb dipiara. ragu digedhein. vaya EGOIS!!!
Ariska Kamisa: sabar kak... kita doakan naren bisa meluluhkan Vaya yaa
total 1 replies
awesome moment
vaya n g slese2 ragunya. jd pengin getok palanya
Nadira ST
Kamu seharusnya bersyukur dicintai naren secara ugal2an diluaran Sana banyak istri tidak seberuntung dirimu vaya,ak aja sebagai perempuan sampai iri ,cinta naren kepadamu
Ariska Kamisa: semoga vaya segera dapat hidayah yaa 🤭
terimakasih sudah mampir kK🙏
total 1 replies
awesome moment
di cerita kakak tu, woman leadnya dicintai ugal2an sm man leadnya. 😉👍
Ariska Kamisa: karena itu adalah impian semua wanita ga sih...🤭
total 1 replies
awesome moment
malah terhura dgn cibat narev yg sedunia raya buat vaya. pegang kuat cinta narev, vaya..jgn smp lepas. tar nyesel smp pindah alam lho
Ariska Kamisa: terimakasih kakak🙏🙏
total 1 replies
awesome moment
vaya, syukuri dan terima..dicintai dijadikan pusat dunia tu aman lho.
awesome moment
smg vaya membalas cinta nares dgn sm besar
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!