Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23- CKOD 23
"Dia keterlaluan sekali, Leo. Lihat tanganku sampai sakit lecet begini!" ucap manja rachel mengadukan pada Leo yang sengaja di panggil pulang oleh Vivian untuk menghukum Bella.
Dari tempatnya melihat, Rara sudah mengepalkan tangannya di samping Ted.
"Wanita itu, kalau aku jadi nona Bella. Bukan hanya aku dorong jatuh. Aku akan tenggelamkan dia di lumpur Lapindo!" geram Rara.
"Jangan gegabah. Kita lihat dulu, kalau nona dalam bahaya, baru kita lakukan sesuatu!" ujar Ted.
Sedangkan Leo, pria itu terus menatap tajam ke arah Bella yang hanya menundukkan kepalanya sejak tadi, sambil berlutut di lantai dingin itu.
"Leo, wanita sampah ini benar-benar keterlaluan! berani benar dia mendorong Rachel. Lihat tangannya lecet. Apa yang bisa kita jelaskan pada keluarga Kelana?" tanya Vivian yang jelas menunjukkan rasa iba pada Rachel, juga menunjukkan kebencian yang begitu besar pada Bella.
Bella masih tertunduk, dia dihina wanita sampai di depan suaminya. Tapi, suaminya diam saja. Di depannya, suaminya juga si gandeng dengan genit oleh seorang wanita yang jelas ingin Leo simpati padanya. Dan Leo juga diam saja. Bella menghela nafas sangat pelan. Dia sungguh tak berharap apapun lagi pada Leo.
Leo berjalan mendekati Bella.
"Kamu mendorong Rachel?" tanya Leo dengan suara dingin.
"Leo, ibu melihatnya. Dia mendorong Rachel, makanya ibu tamparr dia!"
Leo melirik ke arah pipi Bella. Karena wanita itu memang punya kulit yang sangat putih. Bekas cap lima jari Vivian itu masih tergambar jelas di pipi Bella.
Leo menoleh ke arah ibunya sekilas, lalu ke arah Bella lagi.
"Aku tanya padamu! apa kamu mendorong Rachel?" tanya Leo.
Bella sebenarnya merasa pertanyaan Leo itu sebenarnya terkesan sangat tidak adil untuknya. Kenapa Leo hanya bertanya 'apalah dia mendorong Rachel?' kenapa Leo tidak bertanya 'Kenapa dia mendorong Rachel?'
Tapi lucu rasanya bagi Bella. Kenapa dia berpikir Leo masih akan bertanya seperti itu? Leo jelas-jelas hanya ingin dia menderita. Ingin Bella dan Bagas membayar hutang yang jelas-jelas mereka tidak miliki.
"Bella!" teriak Leo.
"Ya" sahut Bella dengan suara pelan.
Bella menatap Leo, dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan karena dia sedih Leo tidak perduli padanya. Tapi lebih pada dia marah pada ketidakberdayaannya saat ini. Dia adalah Bella Clarissa Prasetya. Sejak kecil dia dimanjakan oleh orang tua dan kakaknya. Ketika dia orang tuanya meninggal, kakaknya tak pernah membuat Bella meneteskan satu butir air matapun.
Kenapa justru ketika dia jatuh cinta pada seorang pria yang dia harap bisa membuatnya merasa aman menggantikan kakaknya yang pasti juga akan berumahtangga suatu saat nanti. Dia justru membuat dirinya sendiri dan kakaknya menderita.
Dia marah, dia marah pada dirinya sendiri sampai matanya berkaca-kaca.
Mendengar jawaban Bella, Leo mengepalkan tangannya.
Plakk
Rachel dan Vivian saling pandang. Keduanya tampak sangat puas.
Sedangkan Bella, tamparann itu bukan hanya menyakiti wajahnya, pipinya. Tapi menyakiti jiwanya. Namun, tak ada air mata. Wajahnya sampai berpaling ke arah kiri. Bahkan Bella sama sekali tidak meringis sakit seperti biasanya. Atau memegang pipinya yang terasa panas dan ngilu itu dengan tangannya.
"Ini hukuman untukmu. Kalau kamu berani menghina tamu ibu lagi. Maka jangan salahkan aku lebih kejam. Pergi! masuk ke kamarmu. Tanpa perintah dariku. Jangan keluar!"
Bella menelan salivanya dengan susah payah. Dia mendengar teriakan Leo itu. Sangat jelas. Sampai dia tidak akan melupakan kejadian ini.
"Pergi!" pekik Leo ketika Bella masih berusaha berdiri.
Bibi Okta yang melihat itu berlari ke arah Bella dan membantunya berdiri.
"Non, bibi bantu!"
Bella pergi bersama dengan bibi Okta tanpa suara. Tanpa mengangkat pandangannya juga ke arah Leo atau ke arah lainnya. Dia benar-benar terus menatap ke depan dengan tatapan kosong, berjalan tertatih di bantu bibi Okta.
"Terima kasih Leo. Aku tahu kamu pasti membantu memberikan hukuman pada wanita itu!" kata Rachel kembali merangkul tangan Leo.
Leo menepis tangan Rachel perlahan.
"Aku masih ada pekerjaan, aku akan pergi ke ruang kerja!"
"Leo, tapi tanganku lecet..."
Leo terus berjalan ke arah ruang kerjanya. Rachel cemberut, karena Leo tak mengobati lecet di tangannya.
"Rachel sayang, biar Tante yang obati. Leo memang sangat sibuk! sini Tante kasih obat paling mahal, biar tak ada bekas lukanya!"
Keduanya duduk, Vivian begitu perhatian pada Rachel. Bahkan mengobati lukanya yang tidak seberapa itu.
Sedangkan di dalam kamar, Rara sudah membawa kotak obat terbaik dan masuk lewat jendela.
"Nona..."
"Rara" bibi Okta terkejut Rara masuk dari jendela.
"Bibi keluar saja, kerjakan pekerjaan bibi. Biar aku saja yang mengurus nona Bella!"
Bibi Okta mengangguk. Dia segera keluar karena memang waktunya menyiapkan makan siang.
"Non, ya ampun. Kalau tuan Aditya melihat ini. Dia pasti akan membakar rumah ini berserta semua penghuninya!" kesal Rara yang matanya berkaca-kaca begitu melihat kedua pipi Bella merah di tampar oleh Leo dan ibunya.
Bella tak berbicara. Dia hanya melihat ke arah luka di tangannya. Di punggung tangannya itu. Luka itu begitu lebar, jelas sekali luka lecet karena di injakk oleh high heels Rachel itu merah kebiruan dan lecet. Dia bahkan meletakkan punggung tangan itu di atas punggung tangan yang lain. Dia saja bisa melihat jelas bahwa tangan itu lukanya parah. Di banding lecet di tangan Rachel yang hanya dua garis kecil. Luka itu lebih sakit.
Tapi bahkan Leo tidak menyadarinya. Suaminya itu benar-benar hanya ingin melihat apa yang ingin dia lihat. Dan hanya ingin mendengar apa yang ingin dia dengar. Dia tak perduli dengan luka Bella, kenapa Bella mendorong Rachel? karena memang tangannya rasanya sakit sekali. Jika di biarkan lebih lama Rachel menginjak punggung tangan Bella. Bukankah lukanya akan semakin parah? bahkan untuk melindungi diri sendiri, apa dia tidak boleh melakukannya?
"Sshhh"
Bella mendesis pelan, dan segera tersadar dari lamunannya ketika Rara membersihkan luka di punggung tangan Bella.
"Keterlaluan sekali. Aku berjanji padamu, nona. Wanita itu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dia sungguh tidak akan bisa menggunakan tangannya karena luka yang akan lebih parah dari ini!"
Bella menatap Rara.
"Dia putri seorang pengusaha..."
"Kenapa kalau dia putri pengusaha. Nona juga adalah adik Bagas Abimanyu Prasetya! mereka tidak tahu saja. Bahkan gubernur kota ini menaruh hormat pada tuan. Semua ini karena tuan hilang ingatan, saat tuan pulih nanti. Saat dia bebas nanti. Mereka semua yang menyakiti nona, akan hancur!" geram Rara yang bahkan sama sekali tidak terima, Bella di perlakukan seperti ini di kediaman Alexander.
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈