Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ravian terdiam sejenak, netranya mengamati wajah Aleta tanpa henti. Sejak kapan gadis ini begitu berani padanya?
Pertemuan mereka di awali dengan hal tidak baik, tapi seiring berjalannya waktu Aleta menjadi sosok yang mandiri dan tidak menuntut banyak hal padanya. Bahkan gadis itu sama sekali tidak cerewet meminta di belikan ini itu, padahal jika Aleta mau memanfaatkannya jelas dia akan meminta hal yang sulit.
Tapi sekarang, gadis itu benar-benar jauh berbeda dari yang Ravin pikirkan. Apakah karena besar tanpa orang tua, jadi Aleta begitu tahu diri?
"Rav? Kenapa bengong?" Tanya Aleta heran.
Sejak tadi dia mengamati Ravian yang terus menatapnya tanpa berkedip, seperti sedang menilai apakah dirinya manusia atau bukan.
Ravian yang tersadar dari lamunannya, segera menggelengkan kepala pelan. "Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah."
"Lalu, bagaimana dengan pertanyaanku tadi?"
Kening Ravian berkerut. "Pertanyaan?"
Melihat respon Ravian yang seperti orang bingung, Aleta kembali mengulang pertanyaannya. "Kenapa kau melarangku keluar sendirian?"
"Ah, itu... Kabar soal kau yang menjadi tunanganku sudah tersebar luas. Bisa saja kau dalam bahaya jika keluar sendirian."
"Apa kau mengkhawatirkan aku?" Aleta menarik sudut bibirnya sedikit. "Sejak kapan seorang Ravian peduli pada wanita yang akan menjadi penganti palsunya?"
Ravian terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa terasa… menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Dia menatap Aleta, lama. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang bahkan dia sendiri belum yakin jawabannya.
"Aku tidak peduli," ucapnya akhirnya. Nada suaranya datar.
Aleta terkekeh pelan, jelas tidak percaya. "Bohong."
Ravian menyipitkan mata. "Kau menuduhku?"
"Aku menyimpulkan," balas Aleta santai. "Kalau tidak peduli, kau tidak akan repot-repot mengaturku seperti ini."
Ravian menghela napas pelan, lalu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Aleta. Dia mundur satu langkah, memberi jarak.
"Jangan salah paham," katanya lebih dingin. "Aku hanya tidak ingin masalahku menjadi semakin rumit karena kelalaian."
"Kelalaianku?" ulang Aleta.
"Kau sekarang terlibat," jawab Ravian. "Mau atau tidak, statusmu sebagai tunanganku membuatmu jadi target dari orang-orang yang membenciku dan ingin menjatuhkan diriku."
Aleta terdiam sejenak. Bukan karena takut.
Tapi karena dia tahu… itu masuk akal. Namun, Aleta tetaplah Aleta si kepala batu.
"Itu tetap tidak menjawab pertanyaanku," katanya pelan.
Ravian mengangkat alis. "Kau keras kepala sekali soal ini."
"Aku hanya ingin kejelasan. Kalau kau menjelaskan secara ringkas, mana mungkin aku terus bertanya."
Beberapa detik berlalu sebelum Ravian kembali bicara. "Kau ingin jawaban jujur?"
"Iya."
Ravian menatapnya lurus. "Sebagian karena itu tanggung jawabku."
"Sebagian?" Aleta menangkap kata itu.
Ravian tersenyum tipis, tapi kali ini tidak ada nada main-main di sana.
"Sebagian lagi…" dia berhenti sejenak, seolah memilih kata. "Karena aku tidak suka kalau sesuatu yang sudah menjadi milikku disentuh orang lain."
Aleta langsung mengernyit. "Milikmu? Sejak kapan aku menjadi barang koleksimu?"
"Status," koreksi Ravian cepat, meski nada suaranya sedikit berubah. "Jangan salah arti."
Aleta menatapnya beberapa detik, lalu mendengus. "Kau benar-benar menyebalkan."
"Aku tahu."
"Terlalu percaya diri."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian!"
Ravian mengangguk santai. "Aku tahu."
Aleta memutar mata, lalu berbalik hendak kembali ke ruang ganti. Namun langkahnya terhenti ketika Ravian kembali bicara.
"Tapi ada satu hal lagi."
Aleta tidak langsung menoleh. "Apa?"
Suara Ravian kali ini lebih rendah. "Jika terjadi sesuatu padamu, maka kakekmu pasti akan membunuhku."
Aleta perlahan menoleh. "Kakek tidak mungkin melakukannya."
"Kenapa?"
"Karena aku yang akan membunuhmu, jika kau menyakiti kakekku."
Suasana langsung mendingin.
Aleta menatapnya tanpa berkedip. "Dan kau pikir aku akan jadi target berikutnya?"
"Bukan pikir," jawab Ravian. "Aku yakin."
Aleta menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat ruang ganti. "Aku tidak suka hidup dengan rasa takut."
"Aku juga tidak menyuruhmu takut."
"Lalu?"
Ravian melangkah mendekat lagi, tapi kali ini lebih pelan. "Setidaknya… jangan ceroboh."
Aleta menatapnya lama. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Ravian bicara sekarang. Tidak ada nada menggoda. Tidak ada kesombongan berlebihan.
"Baik," ucap Aleta akhirnya.
Ravian sedikit terkejut. "Kau setuju?"
"Jangan salah paham," balas Aleta cepat. "Aku hanya tidak ingin mati sia-sia karena urusan yang bukan milikku."
Sudut bibir Ravian terangkat tipis. "Alasan yang masuk akal."
"Tapi," lanjut Aleta, menatapnya tajam, "itu tidak berarti aku akan selalu menuruti kata-katamu."
"Aku tidak berharap sejauh itu."
"Bagus." Lalu Aleta menghela napas kecil. "Aku ganti baju dulu."
"Kali ini aku tidak akan menahanmu," jawab Ravian ringan.
Beberapa menit kemudian, Aleta keluar dengan seragam sekolahnya kembali. Gaun tadi sudah dilepas, namun kesan yang ditinggalkan… masih tertinggal di benak Ravian.
"Kita selesai?" tanya Aleta.
"Untuk hari ini, ya."
"Bagus. Aku mau pulang."
"Aku antar."
"Tidak usah."
"Aleta..."
"Aku bawa motor," potong Aleta.
Ravian menatapnya sebentar, lalu mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Baiklah. Tapi..."
"Jangan mulai lagi," Aleta menyela.
Ravian tersenyum tipis. "Setidaknya kirim kabar kalau sudah sampai rumah."
Aleta terdiam sepersekian detik. Permintaan itu… terdengar sederhana. Terlalu sederhana untuk seorang Ravian.
"Kenapa?" tanyanya refleks.
Ravian mengangkat bahu. "Biar aku tahu kau tidak diculik di jalan."
Aleta mendengus. "Humormu sangat buruk."
"Tapi kau mengerti maksudnya."
Aleta tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia berbalik.
"Aku akan kirim pesan," ucapnya singkat.
Tanpa menunggu respon, dia langsung berjalan keluar butik. Ravian hanya diam memperhatikan punggungnya yang menjauh.
Namun di saat yang sama, ekspresinya kembali berubah dingin. Tangannya mengambil ponsel, lalu menekan satu nomor.
"Awasi dia dari jauh," ucapnya begitu sambungan terhubung. "Jangan sampai dia sadar."
Sambungan terputus. Ravian menatap ke arah pintu keluar butik. Sorot matanya menggelap.
"Kalau kau berani menyentuhnya…" gumamnya pelan, hampir seperti ancaman yang ditujukan pada seseorang yang tidak ada di sana. "Maka kau sedang mencari mati."
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁