Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. PENYESALAN ASLAN
Pintu ruang kerja Marcell di rumah utama Neuilly-sur-Seine itu tampak seperti gerbang menuju dunia yang dingin dan penuh aturan. Aslan berdiri di hadapannya, jantungnya berdegup kencang, jauh lebih gugup daripada saat ia harus mempresentasikan desain arsitekturnya di depan dosen-dosen yang keras. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu mengetuk pintu kayu ek itu dengan pelan namun tegas.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam, sebuah suara yang tidak pernah menyembunyikan ketegangan hari ini.
Aslan mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu luas, beraroma kulit dan tembakau yang samar, dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi dan jendela besar yang menghadap ke taman yang terawat rapi. Namun, perhatian Aslan langsung tertuju pada sosok pria yang duduk di balik meja kerja besar itu.
Marcell de Lenoir tidak segera menatapnya. Pria itu masih menunduk, jari-jarinya yang kekar memegang pena emas, seolah-olah sedang sangat fokus pada dokumen di hadapannya. Namun, Aslan bisa melihat rahang ayahnya yang mengeras, garis-garis ketegangan yang terlihat jelas di sekitar mata dan pipinya. Kemarahan Marcell mungkin tidak meledak-ledak seperti malam itu, tetapi ia masih terasa tebal, mengudara di ruangan itu seperti badai yang tertahan.
"Pa..." panggil Aslan pelan, tangannya tergenggam erat di samping tubuhnya. "Boleh aku bicara sebentar?"
Baru setelah itu, Marcell mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh dengan beban yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada amarah yang masih menyala di sana, tetapi di balik itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih dalam dan lebih menyakitkan: kekecewaan.
"Apa lagi?" tanya Marcell, suaranya datar namun menusuk. Ia meletakkan penanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap putranya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah menilai apakah Aslan benar-benar telah berubah atau hanya sekadar penampilan belaka.
Aslan melangkah maju beberapa langkah, berhenti tepat di depan meja ayahnya. Ia menundukkan kepalanya sedikit, tanda penghormatan dan penyesalan. "Pa, aku datang ke sini untuk meminta maaf. Aku tahu kata maaf mungkin tidak cukup untuk menghapus apa yang terjadi malam itu, tapi aku benar-benar menyesal, Pa."
Marcell mendengus pelan, sebuah suara yang menunjukkan ketidakpercayaan. "Kamu menyesal karena kamu ketahuan, Aslan? Atau kamu menyesal karena kamu benar-benar melakukan kesalahan?" pertanyaan itu meluncur tajam, langsung mengenai sasaran.
"Bukan, Pa! Bukan karena aku ketahuan," jawab Aslan cepat, mendongak menatap mata ayahnya. Matanya menunjukkan ketulusan. "Aku menyesal karena aku telah bertindak ceroboh. Aku menyesal karena aku telah mengecewakanmu. Aku tahu kamu memberiku kepercayaan yang besar, dan aku merasa bersalah karena telah menyia-nyiakannya begitu saja."
Marcell menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar berat dan lelah. Ia memijat pelipisnya dengan jari-jarinya, seolah tiba-tiba merasa tua dan lelah. "Kamu tahu kan, Aslan? Bukan hanya soal kamu bersenang-senang. Aku bukan ayah yang kaku yang melarang putranya menikmati hidup. Tapi kamu tahu posisi kita. Kamu tahu nama keluarga Lenoir itu seperti kaca yang bening—sedikit saja kotor, semua orang akan melihatnya."
Marcell berhenti sejenak, matanya menatap kosong ke arah jendela, seolah melihat bayangan memalukan yang menghantui pikirannya. "Dan yang paling membuatku sakit... adalah memikirkan keluarga Hadinata. Samuel Hadinata adalah sahabatku, orang yang paling aku hormati. Kami membuat kesepakatan ini bukan hanya untuk bisnis, tapi karena aku yakin kamu dan Alana bisa saling membahagiakan. Dan sekarang? Bagaimana jika dia tahu putraku menghabiskan malam dengan berciuman dengan wanita asing di klub malam? Bagaimana caranya aku menatap mata Samuel besok? Rasanya aku ingin menanamkan kepalaku ke tanah karena malu, Aslan. Malu sekali."
Kata-kata itu menyakitkan, tetapi Aslan tahu itu semua benar. Ia merasa dadanya sesak mendengar rasa malu yang dirasakan ayahnya demi dirinya. "Aku tahu, Pa. Aku tidak bisa memutar balik waktu. Aku hanya bisa berjanji padamu bahwa itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku berjanji akan lebih berhati-hati, lebih bijaksana, dan lebih menghargai nama baik keluarga kita."
Marcell kembali menatap putranya, tatapannya sedikit melunak, namun kekecewaan itu masih belum hilang sepenuhnya. "Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi pria yang sembrono, Aslan. Aku membesarkanmu untuk menjadi pemimpin, untuk menjadi pria yang bisa diandalkan. Kamu pikir aku memberimu tekanan ini karena aku ingin menyiksa mu? Kamu salah, Nak."
Suara Marcell sedikit bergetar, menunjukkan emosi yang selama ini ia tahan. "Aku melakukan semua ini karena aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu memiliki masa depan yang aman, karir yang gemilang, dan pasangan hidup yang baik yang bisa mendukungmu. Aku tidak ingin kamu tersesat di jalan yang salah, terjebak dalam gaya hidup yang hanya akan membawamu pada kehancuran. Kamu adalah satu-satunya putraku, Aslan. Satu-satunya harapanku. Melihatmu mengecewakan diri sendiri seperti ini... itu lebih menyakitkan daripada apa pun yang bisa dilakukan orang lain padaku."
Mendengar pengakuan itu, mata Aslan terasa panas. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik ketegasan dan kemarahan ayahnya, tersembunyi rasa cinta dan kekhawatiran yang begitu dalam. Marcell bukan hanya seorang pengusaha keras atau ayah yang menuntut; dia adalah seorang ayah yang takut kehilangan putranya, yang takut melihat putranya gagal dan menderita.
"Pa..." suara Aslan tercekat. Ia berjalan memutar meja kerja, mendekati ayahnya. "Maafkan aku. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Aku tidak pernah berpikir bahwa semua ini adalah bentuk kasih sayangmu. Aku terlalu egois, hanya memikirkan keinginanku sendiri untuk bebas, tanpa memikirkan perasaanmu atau konsekuensinya."
Aslan berlutut di samping kursi ayahnya, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan, menunjukkan kerendahan hatinya. "Aku berjanji, Pa. Aku berjanji akan menjadi putra yang bisa kamu banggakan. Aku akan fokus pada arsitektur, aku akan belajar mengatur waktu dan diriku sendiri. Dan mengenai Alana... aku akan menerimanya dengan hati terbuka. Aku akan berusaha mengenalnya, menghormatinya, dan melakukan bagianku dengan baik. Aku tidak akan membiarkan rasa malumu pada keluarga Hadinata itu sia-sia. Aku akan memperbaikinya, Pa. Aku janji."
Marcell menatap putranya yang berlutut di hadapannya. Ia melihat ketulusan di mata biru itu, mata yang sangat mirip dengan mata ibunya. Perlahan, tangan besar Marcell terulur, mendarat di bahu Aslan, lalu bergerak naik memegang wajah putranya dengan lembut.
"Aku harap kamu benar-benar memegang janjimu, Nak," ucap Marcell pelan, suaranya kini lebih lembut, meskipun masih ada sisa-sisa kesedihan di dalamnya. "Kepercayaan itu seperti kertas yang diremas kamu bisa meratakannya kembali, tapi lipatan-lipatannya tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Kamu harus bekerja keras untuk mendapatkan kembali kepercayaanku, dan juga kepercayaan keluarga Hadinata."
"Aku akan melakukannya, Pa. Aku berjanji," jawab Aslan tegas, menatap mata ayahnya dengan tekad yang baru.
Marcell mengangguk pelan, lalu menarik putranya untuk berdiri, dan tanpa diduga, ia menarik Aslan ke dalam pelukan erat. Itu adalah pelukan yang jarang terjadi, sebuah pelukan yang menunjukkan bahwa meskipun ada amarah dan kekecewaan, ikatan kasih sayang antara ayah dan putra itu masih tetap kuat.
"Baiklah," kata Marcell saat melepaskan pelukan itu, lalu menepuk bahu Aslan dua kali. "Sekarang, bersihkan wajahmu. Kita harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku akan menghubungi Samuel sebentar lagi untuk mengatur pertemuan resmi antara kamu dan Alana. Tunjukkan padaku, dan tunjukkan pada mereka, bahwa Aslan Noah Lenoir adalah pria yang pantas untuk dihormati."
"Tentu, Pa. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi," jawab Aslan, hatinya terasa jauh lebih ringan dan penuh dengan harapan baru. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, dan luka kekecewaan ayahnya mungkin butuh waktu untuk sembuh, tapi setidaknya, ia telah mengambil langkah pertama yang benar langkah menuju perbaikan dan tanggung jawab.