NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Walter

Tinggi, mewah dan indah, itulah yang ada di deskripsi otakku untuk bangunan putih milik keluarga Walter, aku membutuhkan waktu tujuh jam dari Kota Berlin menuju Kota Munchen. Keamanan yang ketat pada tiap sudut bangunan ini, aku menghela nafas gusar, ku kelilingi bangunan tersebut, aih, ternyata tidak ada celah bagiku untuk masuk kedalam sana.

“Ada yang bissa saya bantu?”. Ucap salah satu penjaga bangunan keluarga Walter, mungkin dia tidak nyaman melihatku mondar-mandir kesana-kemari, aku menatap intens penjaga tersebut.

“Brother...”. Sahutku sembari menepuk pundak Si Penjaga, dia memiringkan kepalanya dengan mengangkat sebelah alisnya, mungkin aku terlalu sok akrab, tapi biarkanlah.

“Aku tamu atasanmu, tapi aku takut untuk masuk, karena aku takut salah ruangan, bolehkah kamu mengantarku brother”. Lanjutku, dia mendengar perkataanku Si Penjaga mengangguk paham.

“Tamu dari siapa?”. Ia terlihat masih tidak percaya padaku dan masih bertanya.

“Tuan Dieter Walter”. Ia sedikit gelagapan tatkala aku mengatakan sosok petinggi keluarga Walter, antara ia takut dengan petingginya, atau ia tengah kebingungan untuk melakukan sesuatu, lebih baik aku berhati-hati dengannya.

“Mari saya antar”. Ujarnya sebelum melangkah mendahuluiku untuk masuk ke dalam gedung putih kebanggaan milik keluarga Walter

Aku mengikutinya dari belakang, kutatap punggung tegap Si Penjaga, tegapnya sudah seperti militer saja, namun satu lagi yang kuketahui. “Dia memiliki senjata di punggungnya”. Batinku.

“Pak penjaga bolehkah aku bertanya”. Ucapku yang masih setia berjalan di belakangnya. “Hm”.

“Apa di gedung ini semua boleh masuk?”. Tanyaku yang mulai paham jika aku akan dibawa ke suatu tempat.

“Tidak, hanya orang-orang penting saja yang bisa masuk”. Jawabnya, aku manggut-manggut, kemudian kurogoh saku celanaku yang masih menyimpan pisau kecil disana, mungkin rencanaku akan berjalan mulus, maafkan aku pak penjaga, kamu adalah umpan.

“Di lantai berapa ruangan Tuan Dieter”. Tanyaku asal, aku mengutuk diriku sendiri yang mengikuti apa yang dikatakan otak. Lebih sial lagi penjaga tadi tidak menjawab pertanyaanku.

“Apa memang semudah ini menerima tamu tak diundang?, sepertiku”. Jelas dari pertanyaanku barusan jika aku mendeklarasikan bendera perang. Usai aku bertanya Si Penjaga itu berhenti dari langkahnya dan akan berbalik mungkin untuk membunuhku. Sudah kuduga akan seperti ini, pisau yang sedari tadi kusimpan akhirnya kutusukkan dipunggungnya yang mana tepat di area vitalnya. Kuambil semua senajata yang ada pada penjaga usai ia tumbang dan tak sadarkan diri, dan tanpa sengaja aku menemukan satu foto da saku bajunya, tatkala kulihat aku terkesiap,sebab di dalam foto itu adalah fotoku dengan tulisan ‘He Must Die’. Sial, ternyata kedatanganku memang ditunggu disini, kusimpan seluruh senjata tadi dan kubaluti dengan jaket kulit hitam.

Aku berbalik arah menuju lift, jelas juika tadi aku akan dibawa ke suatu tempat dan akan diperlakukan kejam. Aku sudah mengetahui posisi ruangan milik dieter Walter itu dimana. Aku sudah tidak bisa bersantai lagi, melihat fotoku yang bertuliskan bahwa aku harus mati, sangat mungkin sekali jika saat ini gedung diperketat penjagaannya. Tidak butuh waktu lama aku sampai di lantai enam, tempat dimana biang kerok dari semuanya, tapi apakah memang semudah ini aku menemukan pelakunya, atau akan ada hal besar lagi setelah ini. Aku melangkah mantap keluar dari lift, kuamati disana cukup sepi tidak ada satu orang pun. Yah, memang sudah kurencanakan untuk datang kesini disaat semua orang sedang diluar Kota Munchen, tapi entahlah mungkin akan ada kejutan.

Kubuka pintu ruangan milik Dieter Walter yang dihiasi emas di empat sisinya. “Dia sangat berlebihan”. Monologku.

Banyak kertas dan dokumen yang ku foto dan kukirimkan kepada Kadek, tak sengaja aku menabrak dinding sebab mencari sesuatu yang sangat penting. Aku menghela nafas pasrah, kulirik dinding yang kutabrak tadi, oh, sial apalagi ini. Dinding tadi terbuka dan menampakkan peti yang terbuat dari kaca, aku mendekat melihat apa yang ada didalam peti tersebut. Saat kulihat dengan jelas, barulah aku dibuat melongo. “Dragon Sword”. Beoku, aku menatap sekeliling, itu dia ada vas bunga yang mengkilap yang terbuat dari keramik, kulempar vas itu ke peti kaca.

‘PYAAR!’

“Menyerahlah!”. Sentak seorang yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan ini, aku tak menggubrisnya sama sekali, namun sejak kapan dia?. kuarih Dragon Sword itu dan membalikkan badan melihat siapa yang datang.

“Angkat tanganmu!”. Pintanya, aku pun mengangkat tanganku dengan memegang Dragon Sword yang sudah dipasang pada sangkurnya. Aku berjalan menepi secara perlahan menuju pintu.

“Kamu tidak akan bisa pergi”. Ucapnya dengan pistol yang sudah ditarik pelatuknya.

Kala itu Kakek bilang kepadaku saat aku masih baru menginjak umur tujuh tahun.

“Kaisar, namamu itu menandakan kalau kamu ditakdirkan untuk menguasai dunia”. Ucap Kakek kepadaku yang masih mengunyah makanan dimulut, tatkaala itu aku sedang menginap di Mansion keluarga Bumantara.

“Kalau menguasai dunia, berarti jadi penjajah kek”. Ucapku polos, sontak Kakek tertawa.

“Bukan itu maksudnya”. Timpal Kakek.

“Kakek, nanti kalau Kaisar sudah menguasai dunia, Kaisar bisa sekuat Iron-Man”. Sahutku dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Kamu akan tahu apa yang dimaksud menguasai dunia saat dewasa nanti”. Imbuh Kakek sembari mengusap puncak kepalaku.

“Nanti kalau Kaisar dewasa, Kaisar mau bermain pedang itu”. Tunjukku pada Dragon Sword yang terbalut rapi dengan kain berwarna putih.

“Pedang itu dibuat dengan campuran kristal pegunungan Yellow Stone, waktu itu Kakek sangat sulit untuk mencari ahli tempa terbaik”.

“Ouh, dia terbuat dari kristal pantas saja berkilauan”. Polosku.

“Not, yang membuatnya berkilauan adalah mutiara”. Ucap Kakek, aku hanya ber ‘oh’ ria sembari menatap kembali makanan di piringku.

Saat ini aku sudah dewasa, aku sudah tahu seperti apa dunia sebenarnya, maka dari itu aku tahu apa maksud dari menguasai dunia, ternyata mampu mengendalikan diri sendiri. Kuayunkan pedang tersebut hingga pintu ruangan Dieter hancur, tak akan aku sia-siakan kesempatan kali ini, aku berlari kencang diiringi dengan ratusan peluru yang menghujani diriku, aku berkelit kesana kemari untuk menghindarinya, naasnya lengan kiriku terkena peluru.

“Ahs, sialan”. Umpatku sembari berlari menjauh, aku melepas jaket kulitku dan membuangnya asal, kaos putih yang kukenakan pun kusobek secara asal untuk menekan sementara darah yang keluar sebelum itu aku mengeluarkan peluru secara paksa. Rasanya nyeri sekujur tubuh, tapi mau bagaimana lagi, kubaluti lengan kiriku tadi dengan secarik kain kaos itu seraya menunggu lift. Akan tetapi lama, akhirnya aku memutuskan untuk lewat eskalator, aku sedikit tersenyum, inilah yang kutunggu, sebuah pertempuran yang entah memperebutkan apa.

Aku tentunya tak mau kalah saat terjun perdana di medan pertempuran, ketahuilah saat ini aku sedang sendiri melawan ratusan orang, kutarik pelatuk pistol yang tengah kugenggam ini, meski sedikit meleset setidaknya aku harus membuat peluru mereka habis terlebih dahulu. Kuamati salah satu dari mereka tampak menelfon untuk meminta pasokan senjata, menurutku mereka keren melakukan pertempuran ini habis-habisan. Tapi, tak akan kubiarkan itu terjadi, kutembak seseorang yang menelfon tadi. Lagi-lagi aku berlari, sialnya aku dikepung, namun yang membuatku tertarik adalah mereka semua menggunakan tangan kosong. Baiklah, akan kukabulkan keinginan kalian, aku berhenti dan memasang kuda-kuda.

‘AAARRRRGGGGHHHHH!!!’

Teriakan mereka meraung di telingaku, keringat dingin bercucuran, inilah konsekuensinya, konsekuensi yang harus kutanggung tatkala memilih jalan ini. Kulirik disamping kanan kiriku ada dua orang yang mengepungku, oh maaf paman, peregrakanmu terbaca. Alhasil aku menghindar, menendang mereka sekenanya. Namun semakin lama, semakin banyak yang datang menyerangku, tanpa pikir panjang kutari Dragon Sword dari sarungnya, dan kutebas mereka secara asal.

“Maafkan aku Kakek, pedangmu sudah kugunakan bermain”. Batinku kacau.

Salah satu pedang milik Kakek yang memiliki julukan Dragon ini sudah berlumuran darah.

“Sudah banyak rahasiaku yang kau dapatkan, Kaisar”. Ucap seorang pria dengan setelan jas merah ditubuhnya. Kuperhatikan dia secara intens. “Dapat”. Monologku dalam hati.

“Bereskan!”. Perintahnya kepada satu bodyguardnya yang botak berbadan kekar layaknya petinju. Bodyguard itu mendekat kepadaku dan menamparku, satu tamparannya saja sudah membuatku terpental sejauh satu meter. Aku meringis kesakitan. Kemudian bodyguard itu berjalan ke arahku lagi, melihat itu aku langsung berdiri tegap menatap nyalang dia dihadapanku. Aku dan Si Bodyguard botak ini melakukan aksi saling tampar sampai kami berdua sama-sama mengeluarkan darah di sudut bibir, aku pun memusatkan tenaga pada tangan, dan kuhantam perut bodyguard botak itu hingga ia terjatuh. Sontak kedua matanya memerah, detik berikutnya dia menendangku sampai terpental ke eskalator, sialnya eskalator ini bergerak, tidak sempat untukku menyeimbangkan tubuh, Si Bodyguard Botak tadi sudah menghampiriku, dia memukul kepalaku pada ujung eskalator. Ngilu, darah segar pun mengalir dari dahiku, kurogoh senjata seadanya yaitu pistol. Saat dia masih bergemelut dengan kepalaku kutarik pelatuk pistol tersebut dan menembak tepat di jantungnya.

‘DOR’

Bodyguard botak itu telah tumbang menyisakan aku yang sudah berlumuran darah, dan dia Si Jas Merah.

Tinggi, mewah dan indah, itulah yang ada di deskripsi otakku untuk bangunan putih milik keluarga Walter, aku membutuhkan waktu tujuh jam dari Kota Berlin menuju Kota Munchen. Keamanan yang ketat pada tiap sudut bangunan ini, aku menghela nafas gusar, ku kelilingi bangunan tersebut, aih, ternyata tidak ada celah bagiku untuk masuk kedalam sana.

“Ada yang bissa saya bantu?”. Ucap salah satu penjaga bangunan keluarga Walter, mungkin dia tidak nyaman melihatku mondar-mandir kesana-kemari, aku menatap intens penjaga tersebut.

“Brother...”. Sahutku sembari menepuk pundak Si Penjaga, dia memiringkan kepalanya dengan mengangkat sebelah alisnya, mungkin aku terlalu sok akrab, tapi biarkanlah.

“Aku tamu atasanmu, tapi aku takut untuk masuk, karena aku takut salah ruangan, bolehkah kamu mengantarku brother”. Lanjutku, dia mendengar perkataanku Si Penjaga mengangguk paham.

“Tamu dari siapa?”. Ia terlihat masih tidak percaya padaku dan masih bertanya.

“Tuan Dieter Walter”. Ia sedikit gelagapan tatkala aku mengatakan sosok petinggi keluarga Walter, antara ia takut dengan petingginya, atau ia tengah kebingungan untuk melakukan sesuatu, lebih baik aku berhati-hati dengannya.

“Mari saya antar”. Ujarnya sebelum melangkah mendahuluiku untuk masuk ke dalam gedung putih kebanggaan milik keluarga Walter

Aku mengikutinya dari belakang, kutatap punggung tegap Si Penjaga, tegapnya sudah seperti militer saja, namun satu lagi yang kuketahui. “Dia memiliki senjata di punggungnya”. Batinku.

“Pak penjaga bolehkah aku bertanya”. Ucapku yang masih setia berjalan di belakangnya. “Hm”.

“Apa di gedung ini semua boleh masuk?”. Tanyaku yang mulai paham jika aku akan dibawa ke suatu tempat.

“Tidak, hanya orang-orang penting saja yang bisa masuk”. Jawabnya, aku manggut-manggut, kemudian kurogoh saku celanaku yang masih menyimpan pisau kecil disana, mungkin rencanaku akan berjalan mulus, maafkan aku pak penjaga, kamu adalah umpan.

“Di lantai berapa ruangan Tuan Dieter”. Tanyaku asal, aku mengutuk diriku sendiri yang mengikuti apa yang dikatakan otak. Lebih sial lagi penjaga tadi tidak menjawab pertanyaanku.

“Apa memang semudah ini menerima tamu tak diundang?, sepertiku”. Jelas dari pertanyaanku barusan jika aku mendeklarasikan bendera perang. Usai aku bertanya Si Penjaga itu berhenti dari langkahnya dan akan berbalik mungkin untuk membunuhku. Sudah kuduga akan seperti ini, pisau yang sedari tadi kusimpan akhirnya kutusukkan dipunggungnya yang mana tepat di area vitalnya. Kuambil semua senajata yang ada pada penjaga usai ia tumbang dan tak sadarkan diri, dan tanpa sengaja aku menemukan satu foto da saku bajunya, tatkala kulihat aku terkesiap,sebab di dalam foto itu adalah fotoku dengan tulisan ‘He Must Die’. Sial, ternyata kedatanganku memang ditunggu disini, kusimpan seluruh senjata tadi dan kubaluti dengan jaket kulit hitam.

Aku berbalik arah menuju lift, jelas juika tadi aku akan dibawa ke suatu tempat dan akan diperlakukan kejam. Aku sudah mengetahui posisi ruangan milik dieter Walter itu dimana. Aku sudah tidak bisa bersantai lagi, melihat fotoku yang bertuliskan bahwa aku harus mati, sangat mungkin sekali jika saat ini gedung diperketat penjagaannya. Tidak butuh waktu lama aku sampai di lantai enam, tempat dimana biang kerok dari semuanya, tapi apakah memang semudah ini aku menemukan pelakunya, atau akan ada hal besar lagi setelah ini. Aku melangkah mantap keluar dari lift, kuamati disana cukup sepi tidak ada satu orang pun. Yah, memang sudah kurencanakan untuk datang kesini disaat semua orang sedang diluar Kota Munchen, tapi entahlah mungkin akan ada kejutan.

Kubuka pintu ruangan milik Dieter Walter yang dihiasi emas di empat sisinya. “Dia sangat berlebihan”. Monologku.

Banyak kertas dan dokumen yang ku foto dan kukirimkan kepada Kadek, tak sengaja aku menabrak dinding sebab mencari sesuatu yang sangat penting. Aku menghela nafas pasrah, kulirik dinding yang kutabrak tadi, oh, sial apalagi ini. Dinding tadi terbuka dan menampakkan peti yang terbuat dari kaca, aku mendekat melihat apa yang ada didalam peti tersebut. Saat kulihat dengan jelas, barulah aku dibuat melongo. “Dragon Sword”. Beoku, aku menatap sekeliling, itu dia ada vas bunga yang mengkilap yang terbuat dari keramik, kulempar vas itu ke peti kaca.

‘PYAAR!’

“Menyerahlah!”. Sentak seorang yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan ini, aku tak menggubrisnya sama sekali, namun sejak kapan dia?. kuarih Dragon Sword itu dan membalikkan badan melihat siapa yang datang.

“Angkat tanganmu!”. Pintanya, aku pun mengangkat tanganku dengan memegang Dragon Sword yang sudah dipasang pada sangkurnya. Aku berjalan menepi secara perlahan menuju pintu.

“Kamu tidak akan bisa pergi”. Ucapnya dengan pistol yang sudah ditarik pelatuknya.

Kala itu Kakek bilang kepadaku saat aku masih baru menginjak umur tujuh tahun.

“Kaisar, namamu itu menandakan kalau kamu ditakdirkan untuk menguasai dunia”. Ucap Kakek kepadaku yang masih mengunyah makanan dimulut, tatkaala itu aku sedang menginap di Mansion keluarga Bumantara.

“Kalau menguasai dunia, berarti jadi penjajah kek”. Ucapku polos, sontak Kakek tertawa.

“Bukan itu maksudnya”. Timpal Kakek.

“Kakek, nanti kalau Kaisar sudah menguasai dunia, Kaisar bisa sekuat Iron-Man”. Sahutku dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Kamu akan tahu apa yang dimaksud menguasai dunia saat dewasa nanti”. Imbuh Kakek sembari mengusap puncak kepalaku.

“Nanti kalau Kaisar dewasa, Kaisar mau bermain pedang itu”. Tunjukku pada Dragon Sword yang terbalut rapi dengan kain berwarna putih.

“Pedang itu dibuat dengan campuran kristal pegunungan Yellow Stone, waktu itu Kakek sangat sulit untuk mencari ahli tempa terbaik”.

“Ouh, dia terbuat dari kristal pantas saja berkilauan”. Polosku.

“Not, yang membuatnya berkilauan adalah mutiara”. Ucap Kakek, aku hanya ber ‘oh’ ria sembari menatap kembali makanan di piringku.

Saat ini aku sudah dewasa, aku sudah tahu seperti apa dunia sebenarnya, maka dari itu aku tahu apa maksud dari menguasai dunia, ternyata mampu mengendalikan diri sendiri. Kuayunkan pedang tersebut hingga pintu ruangan Dieter hancur, tak akan aku sia-siakan kesempatan kali ini, aku berlari kencang diiringi dengan ratusan peluru yang menghujani diriku, aku berkelit kesana kemari untuk menghindarinya, naasnya lengan kiriku terkena peluru.

“Ahs, sialan”. Umpatku sembari berlari menjauh, aku melepas jaket kulitku dan membuangnya asal, kaos putih yang kukenakan pun kusobek secara asal untuk menekan sementara darah yang keluar sebelum itu aku mengeluarkan peluru secara paksa. Rasanya nyeri sekujur tubuh, tapi mau bagaimana lagi, kubaluti lengan kiriku tadi dengan secarik kain kaos itu seraya menunggu lift. Akan tetapi lama, akhirnya aku memutuskan untuk lewat eskalator, aku sedikit tersenyum, inilah yang kutunggu, sebuah pertempuran yang entah memperebutkan apa.

Aku tentunya tak mau kalah saat terjun perdana di medan pertempuran, ketahuilah saat ini aku sedang sendiri melawan ratusan orang, kutarik pelatuk pistol yang tengah kugenggam ini, meski sedikit meleset setidaknya aku harus membuat peluru mereka habis terlebih dahulu. Kuamati salah satu dari mereka tampak menelfon untuk meminta pasokan senjata, menurutku mereka keren melakukan pertempuran ini habis-habisan. Tapi, tak akan kubiarkan itu terjadi, kutembak seseorang yang menelfon tadi. Lagi-lagi aku berlari, sialnya aku dikepung, namun yang membuatku tertarik adalah mereka semua menggunakan tangan kosong. Baiklah, akan kukabulkan keinginan kalian, aku berhenti dan memasang kuda-kuda.

‘AAARRRRGGGGHHHHH!!!’

Teriakan mereka meraung di telingaku, keringat dingin bercucuran, inilah konsekuensinya, konsekuensi yang harus kutanggung tatkala memilih jalan ini. Kulirik disamping kanan kiriku ada dua orang yang mengepungku, oh maaf paman, peregrakanmu terbaca. Alhasil aku menghindar, menendang mereka sekenanya. Namun semakin lama, semakin banyak yang datang menyerangku, tanpa pikir panjang kutari Dragon Sword dari sarungnya, dan kutebas mereka secara asal.

“Maafkan aku Kakek, pedangmu sudah kugunakan bermain”. Batinku kacau.

Salah satu pedang milik Kakek yang memiliki julukan Dragon ini sudah berlumuran darah.

“Sudah banyak rahasiaku yang kau dapatkan, Kaisar”. Ucap seorang pria dengan setelan jas merah ditubuhnya. Kuperhatikan dia secara intens. “Dapat”. Monologku dalam hati.

“Bereskan!”. Perintahnya kepada satu bodyguardnya yang botak berbadan kekar layaknya petinju. Bodyguard itu mendekat kepadaku dan menamparku, satu tamparannya saja sudah membuatku terpental sejauh satu meter. Aku meringis kesakitan. Kemudian bodyguard itu berjalan ke arahku lagi, melihat itu aku langsung berdiri tegap menatap nyalang dia dihadapanku. Aku dan Si Bodyguard botak ini melakukan aksi saling tampar sampai kami berdua sama-sama mengeluarkan darah di sudut bibir, aku pun memusatkan tenaga pada tangan, dan kuhantam perut bodyguard botak itu hingga ia terjatuh. Sontak kedua matanya memerah, detik berikutnya dia menendangku sampai terpental ke eskalator, sialnya eskalator ini bergerak, tidak sempat untukku menyeimbangkan tubuh, Si Bodyguard Botak tadi sudah menghampiriku, dia memukul kepalaku pada ujung eskalator. Ngilu, darah segar pun mengalir dari dahiku, kurogoh senjata seadanya yaitu pistol. Saat dia masih bergemelut dengan kepalaku kutarik pelatuk pistol tersebut dan menembak tepat di jantungnya.

‘DOR’

Bodyguard botak itu telah tumbang menyisakan aku yang sudah berlumuran darah, dan dia Si Jas Merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!