NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Sumpah di Puncak Arcapada

Begitu Wira menjejakkan kakinya di daratan putih ini, ia merasa seolah-olah seluruh dunia sedang berusaha menolaknya.

Gravitasi di sini terasa tiga kali lebih berat, dan energi alamnya yang seharusnya bisa diserap justru terasa sangat menggigit dan mencoba membekukan aliran energi dari dalam.

Wira berjalan menembus kabut putih yang pekat, menggendong Siwa yang kini ia bungkus kembali agar tidak terlalu mencolok.

Ia baru saja berjalan beberapa mil dari pantai ketika telinganya yang tajam menangkap suara dengungan rendah, seperti ribuan lebah yang terbuat dari es.

Tiba-tiba, dari balik gundukan salju raksasa, belasan bayangan putih melesat keluar.

Mereka adalah para ksatria yang menunggangi serigala es berukuran sebesar sapi.

Pakaian mereka terbuat dari kulit binatang purba yang dilapisi pelat-pelat kristal biru.

Senjata mereka, tombak panjang yang ujungnya berpendar cahaya langsung mengarah tepat ke tenggorokan Wira.

"Berhenti, Orang Asing!" teriak salah satu ksatria dengan suara yang menggema.

"Hanya mereka yang memiliki darah beku yang boleh menginjakkan kaki di tanah suci Suku Es Kuno!" lanjut teriaknya.

Wira mengangkat kedua tangannya, tetap tenang meski ia bisa saja merobohkan mereka dalam sekejap.

"Aku datang dengan damai. Aku mencari Jantung Kristal Es untuk menyelamatkan seseorang." ucap Wira apa adanya.

Mendengar kata Jantung Kristal Es, para ksatria itu tertegun. Mereka saling berpandangan dan salah satu dari mereka, yang tampaknya adalah pemimpin patroli, melihat ke arah cincin di jari Wira.

Cahaya ungu tipis dari batu misterius di dalam cincin itu ternyata merembes keluar, menciptakan aura yang sangat murni.

"Cahaya itu... Aura Penyeimbang?" gumam sang ksatria. Ia segera turun dari serigalanya dan berlutut.

"Maafkan kami, Utusan Langit! Kami telah menanti kedatangan pembawa cahaya yang diramalkan dalam prasasti es kami!" ucapnya kemudian dengan hormat.

Wira mengerutkan kening.

"Utusan Langit? Lagi-lagi salah paham," batinnya. Namun, ia tidak membantah karena ia butuh akses masuk ke wilayah tersebut.

Wira digiring menuju pusat pemukiman mereka, sebuah kota yang terpahat langsung di dalam gunung es raksasa yang disebut Benteng Arcapada.

Di sana, ia disambut oleh seorang pria tua yang tubuhnya tampak transparan seperti kristal.

Pria itu adalah Datu Froya, ketua suku yang telah hidup selama tiga ratus tahun.

Begitu Wira memasuki aula besar, Datu Froya menatapnya dengan mata biru yang mampu menembus sukma.

"Selamat datang anak muda, aku Datu Froya, ketua suku di Suku Es Kuno ini." ucapnya memperkenalkan diri.

"Salam ketua Froya, aku Wira," jawab Wira dengan senyuman pertemanan.

Wira pun juga seketika merasakan tekanan energi yang sangat asing namun tidak membahayakan, jadi ia hanya membiarkannya saja.

Datu Froya ternyata berada di ranah kultivasi Kristal Es Abadi tahap akhir, sebuah tingkatan di mana tubuh fisik mulai menyatu dengan elemen es.

Sambil berjalan menuju singgasana esnya, Datu Froya menjelaskan bahwa ranah kultivasi di benua ini dimulai dari,..

Napas Beku, meningkat menjadi Tebasan Salju, lalu Inti Es Kristal, hingga yang tertinggi yang diketahui penduduk adalah Kristal Es Abadi.

"Kau membawa aura yang sangat besar, anak muda," ucap Datu Froya dengan suara yang terdengar seperti es yang bergesekan.

"Namun, aku juga merasakan ada beban yang sangat berat di dalam cincin dimensimu itu. Seperti jiwa yang redup." lanjutnya dengan tenang.

Wira terdiam, lalu dengan satu gerakan, ia membawa Sekar keluar dari cincin dimensi.

Tubuh Sekar yang terlihat sangat lemas dibaringkan di atas altar es yang sejuk.

Datu Froya pun mendekat, meletakkan tangannya yang sedingin kutub di atas kening Sekar.

Ia memejamkan mata selama beberapa saat, lalu menghela napas panjang yang mengeluarkan uap tebal.

"Kasihan sekali," ucap Datu.

"Gadis ini melakukan Pengorbanan Inti Suci. Di benua ini, kami menyebutnya Sumpah Langit. Dia memindahkan seluruh akarnya kepadamu. Masalahnya, inti energinya tidak hanya pecah, tetapi jiwanya telah terkunci dalam momen pengorbanan itu. Dia tidak akan pernah bangun hanya dengan energi biasa, karena ia telah menyerahkan haknya yang di berikan alam semesta demi dirimu."

Wira mengepalkan tinjunya.

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Wira dengan nada yang mulai gemetar.

"Hanya Jantung Kristal Es yang bisa merajut kembali takdirnya. Tapi..." Datu Froya menatap Wira tajam.

"Meski ramalan mengatakan kau adalah Utusan Langit, hukum suku kami tidak mengenal kata pengecualian. Untuk membuktikan bahwa kau layak menyentuh pusaka suci kami, kau harus mengalahkan jawara terbaik kami dalam duel kehormatan." lanjut ucapnya menjelaskan.

Tak berselang lama, dari balik bayang-bayang aula, muncul seorang pemuda dengan rambut putih perak yang berdiri tegak.

Ia membawa sebuah pedang tipis yang terbuat dari es hitam.

Namanya adalah Karna, sang jawara suku yang dikenal memiliki kemampuan yang paling ditakuti di Benua Salju, Kekuatan Membekukan Waktu.

"Aku tidak percaya pada ramalan," ucap Karna dengan nada dingin.

"Jika kau benar-benar Utusan Langit, buktikan di atas arena Arcapada." lanjutnya dengan tatapan sinis.

Beberapa saat kemudian, duel pun dimulai di tengah alun-alun kota yang dikelilingi ribuan warga suku es. Udara mendadak menjadi sangat sunyi saat Karna mencabut pedangnya.

Wira memegang Siwa dengan erat. Ia merasakan getaran aneh dari sekeliling Karna.

Begitu duel dimulai, Wira melesat maju dengan kecepatan cahaya, namun tiba-tiba...

DREK!

Wira merasa tubuhnya membeku. Bukan karena es, melainkan dunia di sekitarnya berhenti bergerak. Ia melihat butiran salju menggantung di udara, tidak jatuh. Ia melihat burung es di langit terpaku. Hanya pikirannya yang masih bergerak.

"Bocah! Dia membekukan aliran waktu dalam radius sepuluh meter!" teriak Siwa di dalam batinnya.

Karna melangkah dengan tenang di antara aliran waktu yang berhenti itu.

Ia kemudian mengayunkan pedang es hitamnya perlahan ke arah leher Wira.

Di mata penonton, gerakan itu terjadi dalam sekejap mata, namun bagi Wira yang kesadarannya masih bergerak, itu terasa seperti maut yang datang merayap.

Tepat sebelum pedang itu menyentuh kulitnya, Wira memaksakan inti energinya yang telah diperluas oleh pengorbanan Sekar untuk meledak.

Ia menggunakan Batu Penahan Suhu di dalam cincinnya untuk menciptakan getaran panas yang sangat tinggi di permukaan kulitnya.

BUM!

Waktu yang membeku itu pecah seperti kaca yang dihantam palu. Wira pun berhasil menghindar dengan selisih satu inci.

"Kau... bisa bergerak di dalam Zona Nol?" tanya Karna terkejut.

"Aku tidak punya waktu untuk diam, Karna!" balas Wira dengan senyuman yang tersungging.

Wira menyerang balik. Ia tidak menggunakan kekuatan kasar. Ia mengingat penjelasan Siwa tentang memperluas wadah inti energinya.

Ia pun mencoba menyerap hawa dingin yang dikeluarkan oleh teknik waktu Karna, menjadikannya bahan bakar untuk serangannya sendiri.

Siwa memancar cahaya ungu dan biru yang menyatu dan kemudian Wira memutar tongkatnya itu, menciptakan pusaran yang menarik seluruh salju di arena.

"Jika kau bisa menghentikan waktu, maka aku akan membuat waktu mengalir terlalu cepat untuk kau tangkap!" ucap Wira dengan senyuman yang aneh.

Wira menggunakan teknik Langkah Penyeimbang. Ia bergerak bukan hanya dengan kecepatan fisik, tetapi dengan memanipulasi frekuensi energi di sekitarnya.

Bagi Karna, Wira mendadak menjadi ribuan bayangan yang menyerang dari segala arah secara bersamaan.

Karna mencoba membekukan waktu lagi, namun setiap kali ia melakukannya, Wira selalu berhasil menghancurkan zona tersebut dengan getaran yang telah menyatu dengan energi alam benua itu.

Akhirnya, dalam satu gerakan yang menentukan, Wira menghantamkan ujung Siwa ke lantai es, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan Karna hingga pedang es hitamnya terlepas.

Ujung Siwa kini berada tepat di depan dada Karna.

"Cukup," ucap Datu Froya dari tribun.

"Duel berakhir. Wira, kau telah membuktikan bahwa kau bukan hanya sekadar nama dalam ramalan, tapi kau adalah kekuatan yang nyata." ucap Datu Froya dengan tatapan bangga dan bahagia.

Karna menarik napas panjang, lalu membungkuk hormat kepada Wira.

"Kau... memang layak. Maafkan ketidaksopananku tadi." ucap Karna dengan hormat.

Setelah duel berakhir, Datu Froya mendekati Wira. Ia memberikan sebuah kunci kecil yang berbentuk kristal air mata.

"Jantung Kristal Es berada di puncak tertinggi Gunung Arcapada. Namun, ada satu hal yang harus kau ketahui, Wira," ucap Datu dengan nada serius.

"Pusaka itu dijaga oleh sisa-sisa kesadaran Dewi Es masa lalu yang jatuh ke bumi. Dia tidak akan menyerahkannya padamu hanya karena kau menang duel. Kau harus menunjukkan padanya bahwa tujuanmu lebih besar dari sekadar keinginanmu." lanjut Datu Froya menjelaskan dengan pelan.

Wira pun mengangguk paham, ia segera memasukkan Sekar kembali ke dalam cincin dimensi agar tetap hangat.

Sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk bermeditasi sebentar di dalam kamarnya yang sebelumnya sudah di siapkan oleh Datu Froya.

Di dalam kesunyian meditasi itu, Wira kembali mengingat kata-kata Siwa tentang Ranah Nirwana.

Ia menyadari bahwa kekuatannya saat ini, meski sudah sangat besar, masihlah mentah.

Di Benua Salju ini, ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang menghancurkan, tapi tentang bagaimana menyelaraskan diri dengan hukum-hukum semesta seperti waktu dan ruang.

"Siwa, menurutmu apakah aku bisa mencapai Nirwana sebelum entitas kuno itu turun sepenuhnya ke bumi?" tanya Wira penasaran.

"Jalan menuju Nirwana adalah jalan kematian bagi mereka yang ragu, Wira," jawab Siwa.

"Kau harus mengumpulkan semua pusaka elemen. Jantung Kristal Es hanyalah langkah awal. Setelah ini, kita harus menuju ke pusat Bumi untuk mencari Lava Jati, lalu ke Langit untuk mencari Inti Badai. Setiap pusaka yang kau lebur akan memperluas wadah sukmamu dan inti energimu, hingga suatu saat nanti, tubuhmu tidak lagi menampung energi, melainkan tubuhmu adalah energi itu sendiri." lanjut Siwa menjelaskan dengan detail dan panjang, membuat Wira mendapat pencerahan.

Wira membuka matanya. Tekadnya kini tak tergoyahkan. Ia melihat ke arah puncak gunung yang tertutup awan hitam. Di sana, obat untuk Sekar dan kunci untuk kekuatan sejatinya berada.

"Sekar, Ratnawati, Arum... tunggu aku. Aku akan membawa pulang kemenangan, bukan hanya untuk kalian, tapi untuk seluruh dunia yang sedang terluka ini." gumamnya penuh tekad.

Wira melesat keluar dari Benteng Arcapada, mendaki tebing-tebing es yang tegak lurus menuju puncak.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!