NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang yang melankolis di antara deretan nisan yang membisu. Azzalia melangkah perlahan di atas rumput yang masih basah sisa hujan semalam. Di tangannya, seikat bunga sedap malam—kesukaan ibunya—tergenggam erat.

Ia berhenti di depan dua pusara yang berdampingan. Bapak dan Ibu.

Lia berlutut, meletakkan bunga itu dengan lembut. Tangannya mengusap batu nisan yang dingin, seolah sedang menyentuh pipi orang tuanya yang telah tiada sejak ia masih berjuang di tahun-tahun SMA mengejar beasiswa agar bisa masuk di universitas favoritnya. Di tempat inilah, satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu memakai topeng wanita sukses atau guru yang tegar.

"Pak, Bu... Lia pulang," bisiknya, suaranya pecah oleh angin sore.

Air mata yang sejak pagi ia tahan di depan Elena dan Regas, kini tumpah tanpa kendali. "Lia kira, kalau Lia punya gelar tinggi dan pekerjaan bagus, Lia tidak akan diremehkan lagi. Tapi ternyata... dunia mereka tetap tidak menerima Lia."

Lia menundukkan kepala, membiarkan isakannya terdengar di antara sunyi pemakaman. Ia bercerita tentang beasiswa yang ia selesaikan demi janji pada bapaknya, tentang kesepian di London, hingga pertemuan kembali dengan Regas yang kini terasa seperti kutukan daripada berkah.

"Lia takut, Bu. Lia takut hati Lia goyah lagi hanya karena dia ada di samping unit Lia. Padahal ada wanita lain yang sedang hamil anaknya. Lia tidak mau jadi orang jahat... tapi kenapa takdir selalu membawa Lia kembali ke laki-laki itu?"

Lia memejamkan mata, teringat bagaimana dulu Regas juga pernah ikut berziarah ke sini. Saat itu, Regas berjanji di depan pusara orang tua Lia bahwa ia akan menjaga putri mereka selamanya. Janji yang ternyata hanya bertahan empat bulan setelah Lia pergi.

Cukup lama Lia bersimpuh di sana, hingga langit berubah menjadi jingga keunguan. Saat ia hendak berdiri dan merapikan pakaiannya, ia menyadari sebuah bayangan tinggi berdiri tak jauh dari tempatnya, di bawah pohon kamboja besar.

Laki-laki itu mengenakan setelan hitam, berdiri diam dengan karangan bunga mawar putih di tangannya. Regas.

Lia membeku. "Bahkan di sini pun... kamu mengikutiku?" suaranya serak karena baru saja menangis.

Regas melangkah mendekat, meletakkan bunga mawar putih itu di antara pusara bapak dan ibu Lia. "Aku tidak mengikutimu, Lia. Ini hari peringatan delapan tahun Bapak pergi. Aku selalu ke sini setiap tahun, bahkan saat kamu tidak ada di Indonesia."

Lia tertegun. Kalimat Regas menghantamnya lebih keras daripada tamparan Elena. Lima tahun? Selama itu dia datang ke sini tanpa sepengetahuan Lia?

Lia segera menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang nyaris runtuh. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki yang telah memberikan hatinya pada wanita lain.

"Simpan bungamu, Regas. Bapak dan Ibu tidak butuh kiriman dari orang yang tidak bisa menepati janji," ucap Lia, suaranya bergetar namun tajam.

Lia bergegas berdiri, menyampirkan tasnya dan melangkah lebar menjauhi pusara. Ia tidak peduli jika harus tersandung akar pohon kamboja, yang ia inginkan hanyalah lari dari tatapan Regas yang seolah ingin menelannya dalam rasa bersalah.

"Lia, tunggu! Biarkan aku menjelaskan satu hal saja tentang Elena!" seru Regas, langkah kakinya terdengar mengejar di atas rumput kering.

Lia berhenti mendadak, berbalik dengan mata yang berkilat marah. "Penjelasan apa lagi? Bahwa pernikahanmu itu kesalahan? Bahwa kamu terpaksa? Regas, lihat kenyataannya! Elena sedang mengandung. Ada nyawa di dalam perutnya yang merupakan darah dagingmu. Apakah penjelasanmu bisa menghapus fakta bahwa kamu telah membangun ranjang dengan wanita lain sementara aku berjuang sendirian di negeri orang?"

Regas terdiam, wajahnya mengeras. "Itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Lia. Aku—"

"Cukup!" potong Lia telak. "Jangan jadikan aku alasan untuk kamu berkhianat lagi pada istrimu. Kamu sudah memilih jalanmu lima tahun lalu saat kamu membiarkan orang tuamu mendikte hidupmu. Sekarang, jalani pilihan itu. Jangan datang ke makam orang tuaku seolah kamu masih bagian dari keluarga ini."

Lia memutar tubuh dan setengah berlari menuju gerbang pemakaman. Ia segera masuk ke dalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang, memerintahkan sopir untuk berangkat bahkan sebelum pintu tertutup sempurna.

Dari kaca spion, Lia melihat sosok Regas yang berdiri mematung di tengah hamparan nisan, tampak kecil dan kesepian di bawah langit yang kian menggelap. Lia meremas tangannya sendiri, mencoba meredam detak jantungnya yang menyakitkan.

Pulanglah pada istrimu, Regas. Jangan buat aku menjadi alasan kamu menjadi ayah yang buruk, batinnya perih.

Sesampainya di apartemen, Lia mendapati sebuah kejutan lain. Di depan pintu unitnya, berdiri Abimana dengan wajah yang sangat serius, memegang sebuah map besar.

"Azzalia, aku tahu kamu tidak mau bicara dengan Regas. Tapi demi keselamatanmu di sekolah, kamu harus membaca dokumen ini sebelum Elena bertindak lebih jauh," ucap Abimana tanpa basa-basi.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!