Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sementara itu, Jessica berada di dalam mobil polisi bersama Max dan beberapa petugas lain. Mobil itu melaju di jalan menuju penjara.
Suasana di dalam mobil terasa sunyi.
Jessica yang duduk di kursi belakang akhirnya memecah keheningan.
“Detektif, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya pelan.
Max yang duduk di kursi depan menoleh sekilas melalui kaca spion.
“Hakim Li sedang merencanakan sesuatu,” jawabnya tenang. “Jessica Zhou, kau harus bersiap. Minggu depan akan ada persidangan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu. Kau harus tetap tenang.”
Jessica menundukkan kepalanya sejenak.
“Apakah Hakim Li sudah menemukan pelakunya?” tanyanya lagi.
“Mungkin sudah… mungkin juga belum,” jawab Max. “Karena itu Hakim Li akan menggunakan caranya sendiri untuk mengungkap pelaku yang sebenarnya.”
Jessica menarik napas pelan.
“Aku percaya pada Hakim Li. Beliau pasti akan menegakkan keadilan untuk papa dan mamaku.”
Ia terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.
“Dan… bagaimana dengan permintaanku sebelumnya? Apakah kakak-kakakku tidak menyetujuinya?” tanyanya hati-hati.
Max terdiam sesaat. Rekannya yang duduk di sebelahnya juga menoleh ke arah Jessica dengan tatapan simpati.
“Katakan saja,” ujar Jessica lirih. “Aku tidak apa-apa.”
Petugas di samping Max akhirnya berbicara.
“Jessica Zhou… mereka menolak bertemu denganmu.”
Jessica tersenyum pahit.
“Menolak karena mereka percaya aku adalah pelakunya,” ucapnya pelan. “Padahal kami tumbuh bersama. Bagaimana sifatku, mereka yang paling tahu. Tapi kenapa mereka tidak memberiku kesempatan untuk membuktikannya?”
Max kembali berbicara dengan suara hati-hati.
“Ada satu hal lagi.”
Jessica mengangkat kepalanya.
“Mereka akan mengkremasi jenazah kedua orang tuamu… dan tidak mengizinkanmu hadir.”
Jessica langsung menatapnya dengan kaget.
“Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. “Mereka juga orang tuaku. Kenapa aku tidak boleh hadir?”
Max menghela napas pelan.
“Hingga saat ini mereka masih membencimu. Karena itu mereka tidak ingin bertemu denganmu.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Mengenai wasiat, aku mendapat informasi bahwa Catty Zhou dan Nico Zhou sudah menghubungi pengacara pribadi ayahmu.”
Jessica tertawa pelan, tetapi terdengar pahit.
“Papa dan mama bahkan belum dikremasi… tapi mereka sudah tidak sabar berebut harta keluarga kami.”
Matanya mulai memerah.
“Detektif… tolong bantu aku,” pintanya dengan suara bergetar. “Aku ingin hadir.”
“Jessica Zhou, aku tidak bisa memutuskan sendiri. Kau masih berstatus tahanan. Jika ingin menghadiri kremasi orang tuamu, kami harus meminta izin dari Hakim Li,” kata Max dengan nada serius.
Max menoleh sedikit ke arah Jessica, wajahnya terlihat serius.
“Tapi kau tenang saja,” ujar Max. “Untuk sementara ini mereka tidak akan bisa melakukannya. Karena akan ada sesuatu yang mengejutkan terjadi pada mereka.”
Jessica mengerutkan kening, tidak sepenuhnya mengerti maksud perkataan itu.
Max kembali melanjutkan dengan nada lebih tegas.
“Apa pun yang kau lihat saat persidangan nanti, kau harus tetap tenang. Jangan mengatakan apa pun… kecuali menjawab pertanyaan dari jaksa atau hakim.”
Jessica mengangguk pelan.
“Iya… aku mengerti,” jawabnya.
***
Penangkapan Nico Zhou dan Catty Zhou langsung menggemparkan publik. Para wartawan berbondong-bondong mendatangi kantor polisi, berusaha mendapatkan informasi dari para petugas yang menggiring kedua saudara itu dengan tangan diborgol.
Berita tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh kota. Publik semakin penasaran dengan perkembangan kasus keluarga Zhou.
Nama Hakim Li pun menjadi topik utama dalam berbagai pemberitaan.
Selain menahan dua saudara Zhou itu, polisi juga bergerak menuju rumah sakit tempat JJ dirawat. Mereka datang untuk menahan Jeff Zhou.
Siang itu, Jeff sedang duduk di samping tempat tidur anaknya. Televisi di kamar pasien menyiarkan berita tentang penangkapan Nico dan Catty Zhou.
Jeff menatap layar televisi dengan kening berkerut.
“Bagaimana mungkin Nico dan Catty yang ditahan?” gumamnya pelan, merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Di tempat tidur, JJ yang terbaring tiba-tiba menggerakkan pupil matanya.
Beberapa detik kemudian, kelopak matanya perlahan terbuka.
Napasnya terdengar pelan dan tidak teratur.
Ia mulai sadar, tetapi masih kebingungan.
Tatapannya kosong ketika menatap langit-langit kamar rumah sakit selama beberapa menit, seolah mencoba memahami di mana dirinya berada.
Di sampingnya, Jeff masih menatap layar televisi, sama sekali tidak menyadari bahwa putranya yang selama ini dianggap masih koma… telah membuka matanya.
Jeff yang sedang duduk menonton berita perlahan menoleh ke arah ranjang.
Tiba-tiba matanya membulat besar.
Ia melihat jari putranya bergerak… lalu kelopak mata JJ perlahan terbuka.
Jeff berdiri dengan cepat.
“JJ?” serunya hampir tidak percaya.
Bibir JJ bergerak pelan.
“Pa…” ucapnya dengan suara lemah.
Wajah Jeff langsung dipenuhi kegembiraan.
“JJ, akhirnya kau sadar!” katanya dengan suara bergetar. “Baguslah. Papa akan memanggil dokter.”
Jeff segera bergegas keluar kamar.
Beberapa saat kemudian seorang dokter datang dan mulai memeriksa kondisi JJ dengan teliti. Setelah selesai, dokter itu tersenyum.
“Selamat,” kata dokter itu. “Putra Anda sudah sadar sepenuhnya. Namun kondisinya masih lemah dan harus banyak beristirahat. Jika dalam seminggu ke depan kondisinya terus membaik, dia sudah boleh pulang.”
Jeff menghela napas lega.
“Terima kasih, Dokter!” ucapnya dengan wajah gembira.
Dokter itu mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Tidak lama kemudian, pintu kamar pasien kembali terbuka.
Max masuk bersama dua rekannya.
Langkah mereka tegas saat mendekati tempat tidur.
“Tuan Zhou,” kata Max dengan nada serius, “Anda ditahan atas dugaan pembunuhan terhadap kedua korban, Tuan Zhou Yang dan Nyonya Zhou.”
Jeff langsung terkejut.
“Apa?” serunya. “Membunuh? Ini tidak benar! Mana mungkin aku membunuh kakakku sendiri!”
JJ yang masih terbaring ikut menatap mereka dengan bingung.
“Detektif… mungkin ada kesalahpahaman,” katanya lemah. “Papa saya tidak mungkin membunuh.”
Kemudian JJ menoleh ke arah ayahnya.
“Pa… apa yang sebenarnya terjadi pada paman?” tanyanya.
Jeff menghela napas berat.
“JJ… mereka telah dibunuh,” jawab Jeff dengan suara pelan. “Dan Jessica dituduh sebagai pelakunya. Sekarang dia sedang ditahan.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Bukan hanya dia… Nico dan Catty juga sudah ditahan.”
Wajah JJ langsung berubah kaget saat mendengar kabar itu.